
Firlan menatap wanuta yang berdiri di sampingnya ini dengan sorot mata yang tajam. Wanita yang di depannya ini merupakan mantan kekasihnya dulu, Andini.
"Astaga, kenapa dasiku ada sama dia!" batin Firlan.
Dan pria itu baru ingat dia sempat membuka dasinya sewaktu di dalam mobil saat perjalanan pulang. Seingatnya dia menaruhnya di dalam dashboard, mungkin ketika dirinya fokus menyetir.
Sedangkan Vira ingat betul dasi berwarna gelap yang ada di tangan wanita yang kini sedang tersenyum itu memang milik Firlan.
"Oh, ya terima kasih. Maaf kami sedang makan siang, jadi bisakah kamu tinggalkan meja kami sekarang?" kata Firlan sembari mengambil dasi dari tangan Andini.
"Oke, have fun!" kata Andini seraya pergi.
Dan ya, sudah bisa dipastikan ada amarah yang tergambar daru wajah Vira. Jadi semalam kekasihnya itu bersama dengan Andini, mantan kekasihnya.
"Aku bisa jelasin..."
"Nanti aja, daripada aku nggak selera makan!" kata Vira.
Makan siang mereka tak seperti yang diharapkan. Firlan dan Vira makan dengan tenang sampai-sampai hanya ada suara denting garpu dan pisau yang sesekali beradu.
"Aku udah selesai," ucap Vira.
"Desertnya bahkan belum kamu sentuh..." kata Firlan.
"Mendadak jadi hambar..." ucap Vira.
"Ya sudah kalau gitu..." Firlan pun menghentikan makannya dan mereka pulang setelah membayar semua makanan itu.
Di dalam mobil pun Vira masih diam. Dia memikirkan apa tang dilakukan Firlan, kenapa dasi pria itu sampai di tangan Andini.
"Jangan diam..." kata Firlan.
"Lalu?"
"Katakan apa yang kamu katakan dan tanyakan apa yang membuatmu..."
"Aku hanya ingin diam sesaat, fokus nyetir aja. Jangan pedulikan aku..." serobot Vira.
"Semalam aku memang ketemu sama Andini, dia bilang mau membicarakan sesuatu yang penting. Dia memaksa untuk menyetir, aku nggak nyangka kalau dia bakal bawa mobil itu ke sebuah resort yang jauh dari kota, tidak ada sinyal..." Firlan menjelaskan tanpa diminta.
"Sampai disana, aku nggak nginep nggak. Kita hanya bicara sebentar, pembicaraan yang sebenarnya hanya omong kosong. Dia ingin aku kembali, dia menginginkan semuanya kembali. Tapi aku sudah menolaknya karena aku sudah memiliki kamu, kamu jangan berpikir kalau aku menginap dengan Andini. Nggak sama sekali, untuk masalah dasi itu. Seingatku aku melepasnya dan menaruhnya di dalam dashboard, dan aku nggak tau kapan dia mengambilnya..." lanjut Firlan panjang lebar.
Vira menoleh, melihat wajah pria yang kini sedang bicara namun matanya fokus ke jalan raya.
"Hem..." Vira hanya berdehem.
"Kamu nggak percaya?"
__ADS_1
"Percaya," jawab Vira singkat.
"Lalu kenapa kamu..."
"Lagi males ngomong," kata Vira.
"Tadi masalah mawar dan sekarang masalah dasi, aih kenapa hari ini begitu menyebalkan!" batin Firlan.
Firlan mengelus puncak kepala Vira, paling tidak dengan sikap Vira saat ini menunjukkan kalau wanita itu memang mencintainya, kalau tidak mana mungkin dia cemburu seperti itu.
"Sebaiknya kita memang segera menikah, sebelum banyak penyusup yang siap menghancurkan hubungan aku sama Vira..." batin Firlan.
"Kamu mau ke kontrakan atau..."
"Ke rumah Amartha..." ucap Vira.
"Kalau gitu nanti motornya aku suruh orang anter ke kontrakan aja, ya?" kata Firlan berbaik hati.
"Emang kamu liat motor aku ngejogrog disitu? aku nggak bawa motor, aku ngojek tadi pagi..." jawab Vira.
"Astaga, kenapa dia jadi galak begini?" batin Firlan.
Firlan pun menuruti apa yang Vira inginkan, dia mengantar kekasihnya itu ke rumah sahabatnya yang merupakan istri dari bosnya. Namun saat mereka sudah setengah jalan, Vira tiba-tiba saja bilang kalau dia ingin pulang ke kontrakan.
"Ya ampun, tadi bilangnya mau ke rumah nyonya Amartha dan sekarang minta ke kontrakan, apa semua wanita ketika marah jadi labil seperti ini?" Firlan menggerutu dalam hati.
.
.
.
"Ay? kamu ada jadwal sampai jam berapa?" tanya Firlan.
"Sore lah, biasanya aku pulang juga jam segitu..."
"Ya sudah, aku jemput di kontrakan jam 7 malam. Aku banyak kerjaan tapi aku pengen ngajak kamu nonton," kata Firlan.
"Ini kan malam jumat, nonton apaan jangan ngadi-ngadi, deh!"
"Nah ya, mal jumat kita nonton film horor, pasti suasananya beda. Kamu berani nggak?" tantang Firlan.
"Ngapain malem jumat, kayak nggak ada malem lain aja..."
"Halah, bilang saja kamu itu takut!" kata Firlan.
"Nggak ya, enak aja. Cuma aneh aja gitu, emang nggak bisa malem minggu?"
__ADS_1
"Nggak lah, aku pengen malam ini kok. Pokoknya aku jemput kamu jam 7 malem, aku mau meeting dulu, bye!" Firlan buru-buru mematikan sambungan teleponnya.
Firlan yang sudah selesai bicara dengan Vira lewat telepon langsung menemui Satya di ruangannya. Lebih cepat lebih baik jika bosnya itu mengetahui fakta tentang Irwan Maulana.
Tok.
Tok
Tok
"Masuk!" seru Satya.
"Pagi, Tuan..."
"Kau duluan saja ke ruang meeting, katakan aku mundur 10 menit lagi," kata Satya yang sedang memijit pangkal hidungnya.
"Anda kenapa lagi, Tuan?"
"Tidak ada apa-apa, hanya ada pengganggu di masa lalu yang sekarang nongol dan membuat aku rasanya terbakar dan sulit berpikir..." ucap Satya.
"Apa ada hubungannya dengan Kenan Pradipta?" tanya Firlan sembari menarik kursi dan duduk di hadapan bosnya.
"Ya, siapa lagi. Aku kesal karena dia mengirim bunga pada istriku setiap hari," kata Satya.
"Anda jangan mau kalah, Tuan. Anda belikan juga istri anda seratus buket bunga atau bahkan lebih. Anda akan terlihat jauh lebih keren,"
"Heh, bukannya memberi solusi kau malah meledrk! dasar asisten laknat!" Satya melempar bolpoin pada Firlan dan dengan sigap pria itu menangkapnya dan meletakkan kembali bolpoin itu di atas meja.
"Anda masalah bunga saja bisa uring-uringan, saya yakin setelah anda mendengar apa yang ingin saya katakan, anda tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini..." Firlan menaikkan satu sudut bibirnya.
"Cepat katakan!"
"Anda tau, kalau pak Irwan Maulana itu tangan kanan dari mantan rival anda? Kenan Pradipta..." ucap Firlan.
"Maksud kamu?"
"Saya kira anda cukup mengerti apa yabg saya katakan barusan, Tuan. Jadi, secara tidak langsung orang yang bekerja sama dengan perusahaan ini selama beberapa tahun terakhir adalah Kenan," ucap Firlan dengan tenang.
"Kenapa bisa? apa tujuannya melakukan itu?" gumam Satya.
"Mungkin dia takut kalau mantan istrinya hidup susah bersama anda, Tuan?" seloroh Firlan.
"Sialan kamu, Lan!"
"Hahahahahha, anda jangan marah-marah. Menurut saya, selama kerjasama itu menguntungkan perusahaan ini kenapa tidak?" Firlan tersenyum penuh arti.
"Diam kamu, Lan!" kata Satya seraya menatap asistennya tidak suka.
__ADS_1
"Sudah 10 menit, saya mau ke ruang meeting sekarang!" Satya langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan Firlan seorang diri di ruangan itu.
...----------------...