Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Atur Saja


__ADS_3

Vira menarik Firlan untuk duduk kembali.


"Seperti aku percaya sama kamu waktu kamu mau nolongin Alia yang waktu itu harus ke rumah sakit. Aku berusaha buat percaya, walaupun aku cemburu..." kata Vira.


"Aku nggak tau! jujur aja suasana hati aku lagi kacau, padahal tadinya aku mau ngajak kamu ke rumah ibu. Tapi berhubung..."


"Ya udah kita ke sana sekarang, kan aku juga harus deket sama ibu kamu kan?" serobot Vira.


"Aku itu serius, kalau nggak. Aku nggak bakalan mau balikan lagi sama cowok jutek dan suka maksa kayak kamu, Ay..." lanjut Vira.


"Lanjut aja jelek-jelekin terus!"


"Ya nggak jelekein aku cuma ngomong jujur. Udah jangan lama-lama marahnya, sekarang aku siap-siap ya..." kata Vira.


Namun tangan Firlan segera menarik Vira hingga wanita itu jatuh di pelukannya.


"Aku nggak suka ya kamu deket sama dia, walaupun dia lebih kaya atau apapun itu hanya aku yang berhak milikin kamu! ngerti?" ucap Firlan.


"Siap, Pak!" sahut Vira, lalu mencium Firlan sekilas.


"Aku siap-siap dulu, jangan lupa diminum tehnya..." kata Vira yang kini sudah melesat ke kamarnya.


"Kadang dia begitu berani disaat yang tidak terduga!" gumam Firlan


Sementara Vira segera mengganti bajunya dengan yang lebih sopan, dia juga memblow rambutnya agar terlihat lebih rapi.


"Kalau cantik mah cantik aja, iya kan?" gumam Vira seraya melihat pantulan dirinya di cermin.


Selesai bersiap, Vira segera keluar dari kamarnya. Dia memakai dress dibawah lutut dengan warna hijau botol.


"Cepet banget? tumben?" tanya Firlan.


"Iya kan tadi udah mandi, cuma ganti baju aja sama poles-poles dikit pakai amplas!" ucap Vira ngawur, dia mengambil cangkir yang ada di meja dan membawanya ke dapur, lalu ia menemui Firlan lagi.


"Yuk?" Vira mengajak Firlan untuk bangkit. Padahal wanita itu sebenarmya belum siap menerima sikap jutek dari ibu Firlan tapi mau bagaimana lagi keadaan tadi sudah sangat genting. Kalau tidak dengan cara ini, Firlan berpikir hatinya sudah terbagi dengan yang lain dan itu sangat salah.


Gusti memang baik, jika dia bertemu Gusti terlebih dahulu daripada Firlan, mungkin itu bisa dipertimbangkan. Tapi sayangnya, cintanya sudah terlanjur berlabuh pada seorang pria yang sedang memperjuangkannya dihadapan keluarganya.


"Kok diem aja? sariawan?" tanya Vira saat Firlan menyetir namun dia hanya diam saja.


"Lagi nggak pengen aja," kata Firlan.


"Kenapa lagi dah, moodnya susah amat dibalikin!" batin Vira.


"Masih sebel sama aku?" tanya Vira.


"Nggak juga," kata Firlan.


"Kalau masih ngambek mending aku turun, terus aku mau pulang aja ke kontrakan..." Vira sudah melepas seatbelt-nya.


"Iya iya, nggak usah pake ngancem kayak gitu juga kali!" kata Firlan.


"Ya abisnya, diturutin udah tapi itu muka masih asem ajah, jadi kan aku males!" kata Vira.


"Pasang lagi seatbelt-nya!" perintah Firlan, Vira pun menurutinya. Akhirnya ayang embe mau juga berhenti ngambek dan Vira bisa bernafas lega. Dan sekarang detik-detik menghadap calon mertua semakin dekat. Wajah Vira jelas terlihat tegang.

__ADS_1


"Kenapa?" giliran Firlan yang bertanya.


"Nggak apa-apa, cuma lagi deg-degan aja..." jata Vira yang menoleh pada Firlan dan kembali menatap jalanan.


"Slow aja, nggak usah takut. Ibu ku nggak galak..." kata Firlan.


"Ya kata kamu nggak galak, liat aku udah kayak macan betina kok!" batin Vira.


Dan jantung Vira semakin berdegub kencang saat mobil Firlan masuk melewati gerbang rumahnya.


"Bismillah aja udah, semangat Vira!" Vira berucap dalam hati.


"Udah, tenang aja..." kata Firlan seraya mengulurkan tangannya, pria itu ternyata sudah turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya.


Kini mereka berdua masuk le dalam rumah milik Ratna, ibu dari Firlan.


"Aku mau ketemu Ibu..." ucap Firlan pada pelayan ibunya.


"Sebelah sini Mas Firlan," kata wanita yang menyuruh Firlan untuk mengikutinya.


"Makasih, Bik Nem..." ucap Firlan ketika melihat Ibunya ada di ruang tengah sedang menonton televisi.


"Assalamualaikum, Bu..." seru Firlan mengagetkan Ratna.


"Waalaikumsalam," ucap Ratna refleks.


"Astaga, kau ini ingin membuat Ibumu jantungan?" tuduh Ratna.


Mata Ratna kemudian tertuju pada wanita yang ada di samping anaknya.


"Duduklah," ucap Ratna setengah hati.


"Selamat siang, Tante..." Vira menyalami Ratna.


Ratna yang sudah terlanjut berjanji pada Firlan kalau ia akan merestui hubungan anaknya itu pun tak bisa banyak berkata apa-apa.


"Ya, siang..." ucap Ratna menjawab sapaan dari wanita yang dicintai Firlan.


"Tante apakabar?" Vira memberanikan diri untuk bertanya.


"Baik," sahut Ratna.


"Ayo, duduk, Ay..." Firlan menyuruh Vira untuk duduk di sampingnya.


"Jam segini yang ditonton apaan, Bu? nggak mungkin kartun, kan?" tanya Firlan.


"Sembarangan, masa ibu nonton kartun? yang benar saja kamu, Lan!"


"Becanda, Bu..." kata Firlan.


"Aku ke toilet dulu, ksmu disini temenin ibu ya?" ucap Firlan seraya meninggalkan Vira dan jyga ibunya.


Vira tersenyum pada Ratna, walaupun Ratna tak membalas senyuman itu.


"Apa kamu mencintai putraku?" tanya Ratna pada Vira.

__ADS_1


"Sangat, Tante..."


"Kalau begitu buat dia bahagia, dan jangan membuat aku menyesal telah memberi restuku pada kalian..." kata Ratna.


"Saya akan berusaha agar tidak mengecewakan, Tante..." jawab Vira.


Walaupun sikap Ratna begitu dinginn, Vira yakin lambat laun dia akan bisa merubah itu semua. Yang terpenting sekarang, Vira tak boleh mengecewakan.


"Tanyakan pada orangtuamu, kapan mereka siap menerima kunjungan saya dan Firlan? karena anak bodoh itu ingin segera menikah," ucap Ratna.


"Baik, nanti saya tanyakan pada orangtua saya, Tante..."


Dan ketika pembicaraan antara Vira dan Ratna sudah selesai, Firlan datang.


"Lagi ngobrol apa, nih?" tanya Firlan.


"Tidak ada," sahut Ratna.


Vira hanya tersenyum mendengar ucapan Ratna yang sangat jutek pada Firlan.


"Nyonya, minumannya silakan..." ucap Bik Nem yang datang dengan beberapabminuman dan juga camilan.


"Terima kasih..." ucap Vira.


"Terima kadih, Bik..." kata Firlan.


"Minumlah, biar tenggorokanmu tidak kering!" ucap Ratna pada kedua sejoli di depannya.


Baik Vira dan juga Firlan masing-masing mengangkat gelasnya untuk meminumnya.


"Oh ya, Bu ... bagainana kalau minggu depan kita ke rumah orangtua Vira? aku ingin segera melamarnya," ucap Firlan tanpa basa- basi.


"Kenapa kau terburu-buru sekali, hah? kau tanyakan dulu kapan mereka punya waktu, jangan seenaknya menentukan hari!" tegas Ratna.


"Maksudku itu kalau orangtua Vira setuju," kata Firlan.


"Kau atur saja semuanya..." ucap Ratna.


"Terima kasih, Bu..." ujar Firlan.


"Entahlah, aku belum bisa menyukai gadis pilihan anakku. Tapi mau bagaimana lagi? Firlan sangat keras kepala, dia semakin memvangkang jika terus saja ditentang. Semoga saja wanita itu bisa merubah tabiatnya yang jelek itu..." batin Ratna.


"Aku yakin, cepat atau lambat ibu mertua pasti bisa menerimaku, aku harus berusaha sebaik mungkin!" ucap Vira dalam hatinya.


"Sudah siang kalian makanlah dulu di ruang makan, Ibu ingin istirahat di kamar!" ucap Ratna seraya bangkit.


"Apa Ibu sedang sakit?" tanya Firlan.


"Beraninya kamu ntumpahin ibu sakit!" Ratna memukul bahu Firlan dengan kipas lipatnya.


"Astafa, aku kan cuma bertanya, Bu! kenapa Ibu malah pukul? sungguh terlalu!" kata Firlan.


Ratna pun meninggalkan ruangan dan berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya, sedangkan Firlan mengajak Vira untuk makan di ruang makan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2