Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Kecewa


__ADS_3

"Kok bikin sakit kepala sih? harusnya ibu seneng kalau Firlan sekarang dateng bawa calon menantu buat ibu," kata Firlan.


Sedangkan Vira hanya bisa tersenyum tipis saat mendapat tatapan dari Ratna.


"Memang kamu sudah sangat yakin? menikah itu sekali, Lan. Jangan gegabah memilih calon istri," ucap Ratna, ia kini menyeruput kinumannya. Rambutnya yang disanggul ke belakang membuat tampilannya sangat rapi walaupun berada di dalam rumah. Kemudian wanita paruh baya itu membenarkan kacamatanya.


"Loh, kemarin ibu sendiri yang minta aku buat menikah, dan sekarang ibu ngomong jangan gegabah memilih istri? aku sama sekali nggak ngerti, Bu. Aku dan Vira sudah lama menjalin hubungan, aku berani bawa dia kesini berarti aku udah mantap buat serius sama dia..." jelas Firlan.


"Ya sudah, kalau memang dia yang menjadi pilihanmu, ibu bisa berbuat apa?" kata Ratna. Vira hanya bisa menghela nafas, sepertinya Ratna tidak menyukainya padahal mereka baru pertama kali bertemu. Apakah kesan pertamanya begitu buruk sehingga Ratna terlihat sangat tak menyukainya?


"Ibu belum mengenal Vira lebih jauh, nanti kalau ibu sudah akrab pasti ibu akan menyukainya, percaya deh, Bu..." Firlan berusaha meyakinkan ibunya.


"Orangtua masih ada?" tanya Ratna pada Vira.


"Masih, Tante..." jawab Vira.


Dan Ratna pun memulai interviewnya pada sang calon menantu, Firlan hanya bisa geleng-geleng kepala. Pria itu mencoba memaklumi dengan apa yang dilakukan ibunya, karena ia hanya mempunya satu orang putra dan pasti ingin putranya mendapatkan istri yang baik dan tidak asal-asalan.


Vira yang ditanya macam-macam pertanyaan pun hanya bisa menjawabnya dengan jujur tanpa ada yang ditutupi, termasuk mengenai orangtuanya yang merupakan pemilik sebuah restoran di daerah.


Tanpa terasa mereka mengobrol lumayan lama, tapi sikap Ratna masih sama. Dia belum begitu welcome dengan Vira. Vira juga tidak tahu, apa yang membuat Ratna kurang nyaman dengan sosok dirinya.


"Sudah waktunya makan siang, kita makan dulu..." ucap Ratna pada putranya.


"Kebetulan, Firlan juga udah laper, Bu! ada makanan apa, Bu?" tanya Firlan.


"Lihat saja apa yang ada di meja makan," jawab Ratna.


"Ayo, Vir..." ajak Firlan pada Vira. Pria itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Vira.


Wanita dengan rambut sebahu itu menyambut tangannya dan berjalan mengikuti langkah Firlan.


"Ibuku emang gitu, tapi aslinya baik kok!" lirih Firlan.


"Pantes aja kak Firlan jutek, ternyata udah turunan dari ibunya," batin Vira.


Mereka kini duduk di satu meja makan. Vira duduk disamping Firlan berhadapan dengan Ratna.


"Makan seadanya," kata Ratna.


"Ayo dimakan, nggak usah malu-malu..." lanjut wanita itu.

__ADS_1


Vira pun mengambilkan nasi untuk Firlan terlebih dahulu baru setelah itu mengambil nasi untuk dirinya.


Vira dengan telaten menaruh lauk untuk Firlan dan itu tak luput dari pandangan Ratna.


"Firlan ini anak yang keras, jika aku menolak pilihannya nanti dia malah akan membangkang. Aku biarkan saja, biar nanti aku didik perlahan-lahan supaya menjadi wanita yang luwes," batin Ratna.


Mereka makan dalam keheningan, tak ada yang berbicara. Makanan yang tersaji tidak terlalu banyak minyak tapi rasanya enak. Mungkin ibunya Firlan tipe wanita yang sangat menjaga kesehatan, pikir Vira. Ya bagus juga apalagi diusia yang tak muda lagi, wanita seusia Ratna memang sudah harus menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari penyakit.


"Sering-seringlah mampir kesini," ucap Ratna setelah menyelesaikan makanannya.


"Ini kita diusir apa gimana dah? kok tiba-tiba dia bilang sering-sering buat mampir?" gumam Vira dalam hatinya.


"Pasti, nanti aku pasti sering nengokin Ibu dengan Vira..." kata Firlan yang kemudian meneguk air putihnya.


"Iya kan, Vir?" Firlan menoleh pada Vira.


"Emh, iya. Kita pasti akan sering kesini," Vira tersenyum tapi tidak dengan Ratna raut wajah wanita itu datar-datar saja.


"Oh ya, ibu sebentar lagi mau ada arisan. Kamu ibu tinggal nggak apa- apa kan?" tanya Ratna.


"Kalau ini mah jelas kira diusir!" batin Vira.


"Lain waktu kita bisa ngobrol lagi, ibu lupa kalau hari ini ada arisan di rumah temen ibu..." kata Ratna.


"Gampanglah itu, Bu. Bisa diatur..." ucap Firlan seraya berdiri.


Vira pun ikut berdiri dan mengikuti pria gagah yang kini mendekat pada kursi ibunya.


"Firlan pamit, Bu..." ucap Firlan sembari menyalami Ratna.


"Saya pamit, Tante..." Vira pun mencium punggung tangan calon mertuanya.


"Hati-hati di jalan..." ucap Ratna.


Dan kini Firlan pun mengajak Vira untuk pergi dari kediaman ibunya.


Vira pergi dengan perasaan yang kurang nyaman, ya bagaimana tidak pertemuan pertamanya dengan calon mertuanya bisa dianggap sangat mengecewakan.


"Ayo masuk..." ucap Firlan sewaktu membukakan pintu mobil untuk Vira. Pria itu kemudian masuk ke dalam kursi kemudi dan segera menyalakan mesin mobil. Perlahan Firlan menekan pedal gas dan melaju dengan kecepatan sedang.


"Kenapa?" tanya Firlan saat melihat raut wajah Vira tak seceria biasanya.

__ADS_1


"Kenapa apanya? nggak ada apa-apa..." jawab Vira.


"Jangan bohong. Pasti lagi ada yang dipikirin," kata Firlan.


"Nggak ada," kata Vira.


"Cerita aja, apa yang ganggu pikiran kamu. Apa imi tentang ibu?" Firlan menoleh sekilas kemudian kembali fokus pada jalanan.


"Kayaknya ibu kamu nggak suka deh sama aku," ucap Vira ragu- ragu.


"Apa iya? belum kenal aja, Ay. Nanti juga kalau sering ketemu kamu, sikap ibu akan berubah..." kata Firlan.


"Kalau ibu kamu nggak ngerestuin kita?" tanya Vira.


"Nggak akan, ibu nggak akan ngelakuin itu. Dan kalau itu terjadi, aku akan berusaha bujuk ibu supaya ngerestuin kita..." jelas Firlan.


Inilah salah satu alasan mengapa Vira sangat sulit untuk menerima ajakan Firlan untuk ke arah yang lebih serius. Dia takut menghadapi orangtua Firlan, dia takut kalau pada akhirnya mereka tidak direstui.


"Nggak usah mikir yang macem-macem, intinya aku bakal sama kamu apapun yang terjadi," kata Firlan.


"Apapun yang terjadi?" Vira mengernyitkan dahinya.


"Intinya kamu nggak boleh putus asa, kita akan berjuang bersama-sama buat dapetin restu dari ibuku," ucap Firlan.


"Semoga aja," ucap Vira lirih namun masih bisa didengar oleh Firlan.


Pria itu membelokkan mobilnya ke sebuah mall. Vira pun heran, kenapa Firlan mengajaknya ke mall bukannya mengantarnya pulang ke kontrakan.


"Kita ngapain kesini?" tanya Vira.


"Bikin kamu seneng," jawab pria itu.


"Bikin aku seneng? nggak ngerti sumpeh!" gum Vira saat melihat Firlan sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuknya.


"Udah, nggak usah bingung!" Firlan menarik Vira agar mengikuti kemana ia pergi.


"Dih kok malah nge mall sih?" gumam Vira yang berjalan disamping pria yang kini memeluk pinggangnya.


"Aku mau ngajak kamu kencan!" bisik Firlan ditelinga Vira.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2