Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Calon Mertua


__ADS_3

Setelah sarapan, Vira ke kamar untuk memastikan kembali penampilannya.


"Astaga, deg-degannya kayak mau sidang skripsi ajah!" gumam Vira sembari melihat pantulan dirinya di cermin. Firlan sudah menunggu di luar, Vira segera menyambar tas nya dan melesat pergi.


"Ay..." panggil Vira setelah berada di luar.


Pria itu menoleh, "Akhirnya kamu keluar juga!"


"Pergi sekarang?" tanya Vira.


"Taun depan! ya sekarang lah, ayok!" Firlan menarik Vira untuk masuk ke dalam mobilnya.


Mobil pun melaju meninggalkan kontrakan yang disewa Vira. Selama di perjalanan, Vira terlihat sangat gugup.


"Nggak usah tegang kayak gitu..." Firlan meraih tangan Vira dan menciumnya sekilas.


"Nggak tegang cuma..."


"Cuma gugup? sama aja kali!" serobot Firlan.


"Kita beli sesuatu dulu buat Ibu. Mungkin cake atau semacamnya," ucap pria yang kini melepaskan tangannya dari Vira.


"Mau beli dimana?"


"Deket sini aja, kayaknya ada toko kue..." ucap Firlan.


Pria gagah dengan kemeja denim itu pun menghentikan mobilnya di sebuah toko kue.


"Beli disini aja," kata Firlan, ia melepas seat belt dan keluar dari mobil.


Firlan segera membukakan pintu untuk kekasihnya, Vira.


Mereka berdua berjalan memasuki toko kue, aroma vanilla dan cake yang sedang dipanggang pun menyapa indera penciuman keduanya.


"Silakan, Kak..." ucap seorang pelayan toko menyapa pelanggannya.


"Saya mau cake yang ini, Red Velvet dengan less sugar," Firlan menunjuk sebuah kue berbentuk bulat berwarna merah.


"Oke, ada lagi, Kak?"


"Apa lagi ya, Ay?" tanya Firlan pada Vira.


"Ada puding, Ibu kamu suka puding nggak?" tanya Vira.


"Suka suka aja sih kayaknya..." sahut Firlan.


"Puding Vanilla cookies-nya satu," ucap Firlan pada pelayan toko.


"Ada lagi, Kak?" tanya si pelayan.


"Udah itu aja, take away ya..." kata Firlan.

__ADS_1


"Baik, kami packing dulu. Silakan ke kasir disebelah..." kata pelayan.


Firlan pun menggandeng Vira menuju kasir untuk membayar kue dan puding yang dibelinya.


"Silakan, Kak..." ucap petugas kasir menyerahkan satu keresek bening berukuran besar yang berisi dua box besar.


"Terima kasih," ucap Firlan.


Firlan pun mengajak Vira untuk keluar dari toko kue tersebut. Pria itu membukakan pintu untuk Vira dan ia pun menaruh box cake dan puding di jok belakang.


Firlan pun masuk dan duduk di kursi kemudinya, menyalakan mesin dan memasang sabuk pengaman. Firlan pun segera menekan pedal gasnya menuju kediaman ibunya. Lumayan lama perjalanan yang harus ditempuhnya, Vira yang sedang gugup pun merasa waktu bergulir begitu cepat hingga mobil yang ditumpanginya kini sudah berhenti di depan rumah yang besar namun sangat manis.


"Ini rumah ibuku, kita turun..." ajak Firlan.


"Nggak usah takut, ibuku nggak gigit!" kata Firlan yang segera keluar dan berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Vira.


"Ayo..." Firlan mengulurkan tangannya, Vira menghela nafas sesaat sebelum akhirnya ia menyambut tangan Firlan dan keluar dari mobil.


Firlan segera mengeluarkan kue dan puding yang ada di jok belakang.


"Relax aja, Ay..." Firlan menggenggam tangan Vira dan mengecupnya singkat, Vira mengangguk kecil.


Bagaimana tidak deg-degan, dia sama sekali tidak tahu karakter ibunya Firlan. Bagaimana jika ibunya tak menyukainya, apa yang harus ia perbuat. Hal negatif terus saja berputar di kepala Vira. Bahkan saat Firlan mengetuk pintu rumahnya itu, Vira semakin tak bisa mengontrol rasa gugupnya.


"Tenang aja ada aku," lirih Firlan yang tahu kalau Vira sangat gugup.


"Iya..." sahut Vira singkat.


"Eh, Mas Firlan. Mari masuk, Mas..." ucap seorang ART paruh baya yang memberi ruang Firlan untuk masuk ke dalam.


"Ibu dimana, Bik?" tanya Firlan.


"Ada di taman belakang lagi merawat bunga kesayangannya..." ucap Bik Nem.


Firlan pun mengajak Vira untuk masuk ke dalam menuju taman bunga milik ibunya.


"Assalamualaikum, Bu..." Firlan mengucapkan salam pada ibunya.


Ratna menoleh dan melihat putra semata wayahnya berdiri disamping seorang wanita muda. Mata Ratna langsung menelisik dari kaki sampai kepala Vira sebelum menjawab salam dari putranya.


"Waalaikumsalam," jawab Ratna.


"Kapan datang, Lan?" tanya Ratna sembari bangkit dari duduknya dan mencuci tangannya di keran yang ada di sana. Ia mengambil tisu dan mengelap tangannya, Firlan mengajak Vira untuk mendekat ke arah ibunya. Firlan segera mencium punggung tangan ibunya.


"Baru aja, Bu. Oh ya, kenalkan ini Vira pacarnya Firlan, Bu..." ucap Firlan sembari memperkenalkan Vira pada Ratna.


Vira pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Firlan, namun ibunya tak mengatakan apapun pada wanita yang dibawa anaknya.


"Vira, Tante..." ucap Vira lembut.


"Kita ngobrol di ruang tengah saja," kata Ratna seraya berjalan ke arah ruang tengah. Vira menghela nafasnya, sepertinya calon mertuanya ini tipe yang sulit ditaklukan.

__ADS_1


"Bik, tolong buatkan minuman dingin..." suruh Ratna pada Bik Nem yang sudah bekerja di rumah itu belasan tahun.


"Siap, Nyah!" kata Bik Nem.


Firlan menggandeng Vira berjalan mengikuti kemana ibunya pergi.


"Duduk, Lan!" ucap Ratna setelah mendudukkan dirinya di sofa.


"Oh, ya Bu ... ini aku bawakan cake dan puding..." kata Firlan seraya menaruh satu keresek besar berisi box puding dan cake.


"Cake dan puding kan mengandung banyak gula, Lan..." kata Ratna.


"Ini less sugar kok, Bu. Tenang aja, dijamin aman. Kan Firlan tau kalau ibu sangat menjaga pola makan..." ucap Firlan.


"Oh ya sudah, nanti ibu coba. Jadi, ini pacar kamu?" tanya Ratna pada Firlan.


"Iya, Bu. Kan Ibu kemarin minta calon menantu?" tanya Firlan.


"Ini beneran pacar kamu atau pacar bohongan?" tanya Ratna, pasalnya belum ada wanita yang pernah diajak Firlan untuk dikenalkan padanya sehingga ia menjadi sangsi terhadap wanita muda yang kini duduk dihadapannya.


"Pacar beneran lah, Bu. Masa iya pacar bohongan, Ibu kebanyakan nonton sinetron nih pasti," kata Firlan.


Tak lama Bik Nem datang dengan membawa 2 gelas minuman dingin berwarna merah, dengan daging kelapa ada di dalamnya. Sedangakan minuman yang disajikan untuk Ratna satu gelas teh hijau dingin.


"Makasih, Bik..." ucap Firlan saat Bik Nem menyediakan minuman untuknya.


"Bik Nem, tolong bawa cake ini ke belakang," perintah Ratna.


"Baik, Nyah!" sahut Bik Nem seraya membawa dua box besar ke dapur.


"Ayok, diminum..." suruh Ratna. Vira pun meneguk minumannya begitu juga dengan Firlan.


"Berapa lama kalian pacaran?" tanya Ratna.


"Lumayan lama, Bu..." sahut Firlan.


"Ck, jawaban macam apa itu?" decak Ratna.


"Hahaha, lebih dari dua tahun, Bu..." ucap Firlan.


"Bekerja atau kuliah?" tanya Ratna.


"Bekerja, Bu!" sahut Firlan.


"Ibu nggak nanya sama kamu! ibu tanya sama pacar kamu!"


"Bekerja, Tante..." ucap Vira gugup.


"Lagian ibu ini nanyain ke calon menantu udah kaya lagi bu dosen yang lagi sidang mahasiswanya!" celetuk Firlan.


"Haduh, kamu ke sini malah bikin kepala Ibu sakit!" Ratna memegang kepala bagian belakangnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2