
Firlan melakukan panggilan ke ponsel Vira, sialnya benda pipih yang ada di genggaman Vira masih dalam mode dering. Sehingga benda itu mengeluarkan bunyi.
"Vira! aku tahu kamu ada di dalam, cepat buka pintunya!" seru Firlan yang mendengar sayup-sayup dering telepon Vira.
Karena ada panggilan yang masuk, menu senter yang ada di ponsel Vira tiba-tiba mati. Dan wanita itu langsung gelagapan mencoba mencari saklar lampu.
Nafasnya mulai memburu, ponsel terus saja berdering. Firlan yang merasa ada yang tidak beres langsung mencoba mendobrak. Dia sudah melakukan ancang-ancang, namun seketika ia menghentikan langkahnya saat ia teringat sesuatu.
"Aku belum mencoba menarik handle-nya, bodoh!" kata Firlan seraya melirik handle pintu.
"Untung saja belum aku dobrak! ternyata tidak terkunci," Firlan membuka pintu dan dia mendengar nafas Vira yang seperti orang yang sedang sesak nafas.
"Vira...!" seru Firlan seraya mencari saklar lampu dengan bantuan cahaya dari ponselnya.
"Hhh, hhh..."
Dan klik...
Lampu menyala dan Firlan melihat Vira yang terduduk dengan wajah yang panik dan nafas yang berat.
"Vir ... Vira? kamu kenapa?" tanya Firlan yang tak mengetahui jika mantan kekasihnya mengidap phobia ruangan gelap.
Firlan menaruh barang bawaannya asal, ia merengkuh tubuh Vira. Namun wanita itu malah mendorongnya.
"Pergi..." lirih Vira dengan nafas yang berat.
"Kita ke dokter,"
"Ak-kuh nggakh b-butuh bantuan kamu," ucap Vira yang mencoba untuk bangkit. Wanita itu berdiri dan berjalan meninggalkan Firlan.
"Pergilah ... hh hhh..." ucap Vira yang mencoba masuk ke dalam kamarnya.
"Vir, aku ... aku minta maaf, aku nggak bermaksud..."
"Simpan sajah a-alasanmu ituh, karena aku t-tidak ingin mendengarnya," kata Vira dingin. Firlan segera bangkit dan mencekal lengan wanita yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tahu kamu marah, tapi aku punya penjelasan kenapa aku sampai terlambat membeli obat untuk kamu. Aku bertemu dengan Alia di apotik, dan dia kesakitan karena penyakit lambungnya yang kambuh. Aku membawanya ke rumah sakit, dan sialnya dia pingsam di sana. Jadi..." belum selesai Firlan menerangkan, Vira sudah memotong.
"A-aku tidak peduli. Pulanglah, karena aku ingin istirahat," kata Vira yang melepaskan tangan Firlan dari lengannya dan masuk ke dalam kamar, ia segera menyalakan lampu.
"Vira..." lirih Firlan saat melihat pintu kamar yang segera ditutup.
Firlan duduk di ruang tamu. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia melihat ke arah pintu Vira.
Sedangkan di dalam kamar. Vira menangis sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
"Kau membalasku berkali-kali lipat. Jika kamu menyukainya kenapa kamu buat hubungan ini semakin sulit?" ucap Vira.
__ADS_1
"Aku tidak memintamu untuk datang" ucap Vira dengan air mata yang menetes dari kedua mata yang sangat indah.
"Huuufhhh, huufhhh..." Vira mencoba menenangkan dirinya.
Vira duduk di depan pintu, ia mendengar suara Firlan yang sepertinya memekik kesal.
Pria itu tak mengerti apa yang harus ia lakukan pada Vira. Dia tak mungkin meninggalkan wanita itu dalam keadaan seperti itu.
"Harusnya tidak meluncur kata-kata break dari mulutku waktu itu! dia menganggap hubungan ini sudah berakhir, tapi bukan itu maksudku..." gumam Firlan.
Firlan bangkit dari duduknya dan bergerak menuju pintu kamar Vira.
"Vira..." ucap Firlan.
"Aku ada di depan, jika kamu butuh sesuatu aku ada di mobil..." kata Firlan.
Firlan yang semuka ingin menjelaskan pada Vira malah tak mengeluarkan kata-kata yang berlawanan dengan apa yang dia pikirkan.
"Wanita membuatku menjadi orang terbodoh yang pernah ada," gumam Firlan seraya memukul kepalanya sendiri.
"Kenapabaku malah bicara seperti itu!" pria itu merutuki kebodohannya.
Beberapa saat kemudian Vira mendengar suara langkah menjauh dari depan kamarnya. Ia pun mendengar suara pintu di tutup.
Vira bangkit dan melihat Firlan yang berjalan menuju mobilnya dari tirai yang ia sibak sedikit.
"Astaga, kenapa aku tak membujuknya? kenapa aku malah bilang kalau aku akan menunggunya disini! bodoh sekali kau Firlan!" Firlan membenturkan kepalanya pada benda yang berbentuk lingkaran itu.
Sesaat kepalanya terangkat, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Kenapa dia begitu ketakutan? apa yang aku tidak tahu tentang dia?" Firlan mengingat bagaimana mantan kekasihnya itu duduk dengan nafas yang terengah-engah.
Kali ini ia memenuhi janjinya. Firlan tidur di dalam mobil walaupun badannya menjadi sakit semua dan tentu mobilnya cepat mengalami pengurangan volume bahan bakar.
.
.
.
Burung-burung berkicau dan matahari mulai terbit dari timur. Firlan mengerjapkan matanya, ia menegakkan sandaran kursinya. Pria itu melihat arlojinya.
"Setengah 6 pagi, hoaaamph..." gumam Firlan dengan suara khas bangun tidurnya.
Ia membuka aplikasi chat. Dan mengirim Vira sebuah chat.
💬 Aku harap kamu sudah lebih baik, aku pualng karena hari ini aku harus menemani tuan Satya meeting. Jika ada sesuatu yang mendesak segera telfon aku.
__ADS_1
Setelah mengirim itu Firlan perlahan menjalankan mobilnya dan melaju meninggalkan rumah kontrakan Vira.
Tentu hal itu tak luput dari sepasang mata milik Vira. Ia membuka chat itu setelah mobil Firlan sudah tak terlihat lagi.
Vira hanya tersenyum getir membaca aoa yang dikirim oleh Firlan. Tak lama ada panggilan masuk.
"Ya, halo?" sapa Vira.
"Pagi, Vir..." ucap seorang pria.
"Pagi, Kak. Ada apa?" tanya Vira.
"Nggak ada apa-apa hanya ingin tahu kabarmu saja,"
"Aku baik, Kak. Kak Ricko bagaimana?" tanya Vira.
"Aku baik juga. Oh, ya? aku akan mengenalkanmu pada seseorang. Apa kamu ada waktu?" tanya Ricko.
"Seseorang? siapa?" tanya Vira penasaran.
"Seorang perempuan cantik yang akan menjadi istriku," ungkap Ricko.
"Wah, selamat! tentu saja aku akan punya waktu, tapi mungkin nggak hari ini..." ucap Vira menyesal.
"Nggak masalah. Kabari aku jika kamu sudah punya waktu luang," ujar Ricko.
"Oke, Kak..."
"Ya sudah, aku akan bersiap berangkat kerja. Kamu jangan lupa sarapan, ya? bye!"
"Bye.." ucap Vira sebelum memutus sambungan telepon itu.
Vira memijit sedikit kepalanya. Dan meregangkan otot-ototnya.
"Untung semalam aku tidur cukup jadi bisa lumayan enakan nih badan," ucap Vira. Ketika ia sudah menyambar handuk dan melilitkan di lehernya. Ponselnya kembali berdering.
"Gia?" gumam Vira saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo Tante ... ini Gia," begitulah sapaan yang oertama kali didengar Vira jika gadis kecil itu meneleponnya.
"Iya, Gia ... tumben pagi-pagi telfon?"
"Tante, hari ini main ya ke rumah Gia?" pinta gadis itu.
"Hem, bagaimana ya? tante hari ini ada beberapa kelas melukis dan menyulam. Jadi mungkin tante nggak bisa main ke rumah Gia. Mungkin lain kali ya anak cantik?" ucap Vira memberi pengertian.
"Oke deh, Tante..." kata Gia dengan nada tidak bersemangat. Dan gadis kecil itu memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Vira yang tahu jika Gia ngambek pun hanya mengendikkan bahunya dan melenggang menuju kamar mandi.
__ADS_1