
Firlan langsung mengangkat tubuh Vira keluar dari unit apartemennya. Pria itu terlihat sangat panik.
"Bertahan ya, Sayang! kita akan ke rumah sakit!" ucap Firlan ketika sudah sampai di basement, dia memencet remot mobilnya dan mendudukkan wanita itu di kursi depan.
Pria itu segera berjalan memutar dan duduk di kursi kemudinya. Hari sudah gelap saat Firlan memacu kendaraaannya di jalanan satu arah.
Vira diam saja, dia masih saja terpejam namun dari raut wajahnya sangat terlihat kalau ia sedang menahan rasa sakit.
"Kamu sakit apa, Vira? tllong jangan bilin aku khawatir!" ucap Firlan.
Firlan semakin menambah kecepatan mobilnya, ia menyetir sambil sesekali melihat Vira yang sudah tak sadarkan diri.
Pria itu sekarang memperlambat laju kendaraannya dan berbelok memasuki area rumah sakit.
Firlan segera melepas seatbelt, dan ia segera keluar dan berjalan memutar untuk mengambil Vira dari pintu yang satunya.
"Kita udah sampai, bertahan ya..." ucap Firlan sembari berlari dengan menggendong Vira yang sudah semakin pucat.
"Tolong suster!" Firlan masuk ke ruang IGD untuk mencari bantuan.
Firlan meletakkan Vira di atas sebuah tempat tidur khusus pasien yang ada di ruang IGD.
"Permisi, Tuan. Sebaiknya anda menunggu di luar terlebih dahulu..." ucap suster yang kini sudah mempersiapkan alat infus dan selang oksigen untuk Vira.
Firlan pun mundur ke belakang, ia berbalik dan keluar untuk duduk di ruang tunggu.
Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, ia memijit pangkal hidungnya yang terasa sakit.
"Huufh, astaga. Semoga dia tidak kenapa-napa," gumam Firlan, dia mencoba tenang dan berpikir kalau Vira akan baik-baik saja.
Seseorang keluar dan memanggilnya untuk masuk ke dalam. Firlan segera bangkit dan masuk ke dalam untuk melihat kondisi Vira.
"Bagaimana kondisi tunangan saya, Dok?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia hanya terlalu stress dan ada masalah sedikit dengan lambungnya. Untuk sementara waktu biarkan Nona Vira untuk dirawat disini tetlebih dahulu sampai kondisinya mulai membaik," ucap dokter yang memeriksa Vira.
"Baik, Dok!"
"Kalau begitu saya permisi..." ucap dokter seraya meninggalkan sepasang kekasih itu di ruang IGD.
"Vira ... aku keluar sebentar, nanti aku balik lagi. Aku harus mengurus kamar supaya kamu bisa dirawat," Firlan mengecup kening Vira. Wanita itu bernafas dengan bantuan selang oksigen.
.
.
__ADS_1
.
Vira merasa kepalanya sangat sakit, perlahan ia membuka matanya yang wberadaptasi dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
"Emh, kepalaku!" gumam Vira dengan suara seraknya. Kepalanya terasa sangat berdenyut.
Sekarang ia mengedarkan pandangannya dan kini matanya tertuju pada seorang pria yang duduk disamping ranjangnya dengan kepala bersandar pada tepi tempat tidur. Bau khas obat dan selang yang tertancap di punggung tangannya sudah cukup menjelaskan dimana sekarang ia berada.
"Kenapa dia tidur seperti itu?" lirih Vira, dia masih berbarkng karena kepalanya berdenyut setiap kali dia melakukan gerakan kecil.
Menyadari ada yang menyentuh kepalanya, Firlan segera terbangun. Ia mengangkat kepalanya sedangkan Vira pura-pura tidur lagi.
"Sepertinya tadi ada yang menyentuh kepalaku," ucap Firlan. Dia meregangkan badannya yang terasa pegal.
"Astaga, ternyata pegal juga..." ucap Firlan seraya bangkit dari duduknya. Dia mengusap lembut kening kekasihnya dan berjalan ke toilet.
Vira membuka matanya ketika mendengar suara keran air yang dibuka di dalam kamar mandi.
"Semakin kita bergerak ke arah yang jelas, semakin banyak cobaannya," batin Vira.
"Aku lebih lama mengenal Firlan dan aku harus percaya kalau memang situasi tadi tuh bukan yang dia harapkan. Aku harus percaya, kayak dia percaya sama aku..." ucap Vira.
Dan ketika Firlan kembali dati toilet dengan wajah yang lebih segar, Vira pun tak lagi pura-pura tidur.
"Kamu udah bangun? kenapa? haus?" Firlan mencecar Vira dengan berbagai macam pertanyaan.
"Sebentar, aku ambilkan..." Firlan mengambil botol air mineral dan memasukan sedotan ke dalamnya
Ia mengatur posisi tempat tidur Vira setengah duduk.
"Minumlah," kata Firlan, Vira pun sedikit demi sedikit membasahi kerongkongannya yang kering dengan air putih.
"Udah," ucap Vira.
"Ini jam berapa? kenapa aku disini?" tanya Vira.
"Sekarang jam 2 pagi, kamu pingsan di apartemen. Sepertinya sakit lambung kamu kambuh, dan kata dokter ada bakteri di saluran pencernaanmu juga, jadi untuk beberapa waktu kamu harus istirahat dulu disini," kata Firlan.
"Aku pulang aja, kalau aku disini siapa yang ngajar anak-anak?"
"Istirahat dulu, kamu bisa meliburkan mereka untuk sementara waktu. Yang terpenting kesehatanmu, jangan pikirkan yang lain..." titah Firlan.
"Lalu bagaimana dengan..."
"Dengan apa?" Firlan mengernyitlan keningnya.
__ADS_1
"Dengan..."
"Pertunangan kita? kita bisa atur ulang kalau memang kondisimu belum membaik," kata Firlan.
"Memangnya aku bilang pertunangan? aku bahkan nggak memikirkannya sama sekali," kata Vira.
"Lalu apa yang mengganggu pikiranmu selain dua hal tadi?" tanya Firlan.
"Untuk kejadian hari ini aku minta maaf, aku sayang sama kamu dan aku serius. Kalau aku cuma mau mainin kamu, aku nggak mungkin sampai mengemis restu dari ibuku. Aku nggak pernah main-main dengan perasaan, soal Zanna aku nggak pernah berhubungan. Aku hanya tau dia karyawanmu, hanya sebatas itu..." jelas Firlan.
"Sudah, sudah kepalaku tambah sakit ngedengerin kamu ngoceh terus!" kata Vira.
"Astaga, bocah ini benar-benar, ya!" batin Firlan.
"Aku bukan tipe orang yang suka menjelaskan sesuatu, tapi untuk kali ini aku nggak akan tenang sebelum kamu mendengar penjelasanku tadi dan percaya sama aku. Aku nggak mau hubungan ini rusak gara-gara orang lain yang nggak jelas, kamu ngerti kan?"
"Ya ya ya," sahut Vira, padahal Vira sendiri sudah ingin melupakan kejadian itu.
"Ya sudah, masih malam ... lebih baik kamu istirahat, supaya bisa cepat sembuh. Aku akan tidur disana..." kata Firlan yang menunjuk sofa panjang berwarna cokelat.
Firlan mencium pipi dan kening Vira sebelum berjalan ke arah sofa dan merebahkan dirinya disana.
Pria itu mulai memejamkan matanya, sedamgkan pikiram Vira masih melanglang buana. Mengapa Zanna melakukan itu dan apakah Zanna menyukai kekasihnya layaknya wanita menyukai seorang pria?
.
.
.
Malam ini Gia mogok makan seperti biasa. Hal yang dilakukannya ketika sang papi mengatakan kalau dia akanendatanglam guru les ke rumah dengan alasan agar Gia tidak kelelahan.
Mal ini Gusti sulit tkdur, entah kenapa hatinya mengkhawatirkan sesuatu yang dia tidak tahu. Yang jelas, dia hanyaerasakan tidak nyaman dan sulit tidur.
"Astaga, kenapa aku daritadi gelisah terus?" Gusti bangun dari tidurmya dan menyalakan salah satu lampu tidurnya.
"Sudah hampir pagi, aku bahkan nggak bisa memejamkan mata walau hanya 5 menit! apa ada hal buruk yang akan atau sedang terjadi?" gumam Gusti.
"Atau aku hanya khawatir dengan Gia? baiklah aku akan memisahkan mereka secara perlahan, aku akan membiarkan dia datang ke tempat itu, ya hanya sekedar belajar melukis tidak lebih. Maafkan papa Gia ... papa hanya tidak ingin kamu kecewa, seperti yang papa rasakan saat ini!" Gusti berdialog dengan dirinya sendiri.
Gusti bangun dari tempat tidurnya, ia sengaja membuka pintu dan berdiri di balkon kamarnya. Gusti memandang langit malam yang kini bertabur bintang.
"Aku yakin saat ini kamu sudah berada di tempat yang indah, Sayang. Aku disini menjaga putri kita, apapun akan aku lakukan untuk membahagiakannya, walaupun tidak akan sehebat dirimu yang sudah bertaruh nyawa untuknya..." ucap Gusti.
Ia menikmati pemandangan yang indah malam ini, karena angin begitu kencang ia punasuk dan menutup pintu balkonnya dan kembali menyelinap dibalik selimut tebalnya.
__ADS_1
...----------------...