Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Udah Sampai!


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan selama berjam-jam akhirnya mobil Firlan kini melambat saat memasuki pelataran rumah calon mertuanya.


Sementara Vira tentu saja sudah memejamkan matanya sejak satu jam pertama mereka berkendara. Bahkan suasana hujan yang deras membuat tidurnya makin nyenyak saja.


Firlan yang sudah hafal tingkah laku kekasihnya itu hanya bisa tersenyum dan sesekali menjahilinya dengan menowel-nowel daun telinga Vira. Namun, nyatanya wanita itu hanya terganggu sebentar dan dia lanjut tidur sampai akhirnya sudah sampai di depan rumahnya sendiri.


"Ay ... ayamku, kita udah sampai, nih!" ucap Firlan seraya melepas seatbelt yang membelit tubuhnya. Tapi yang dibangunkan hanya membenarkan posisi duduknya dan menyamankan dirinya kembali.


"Ya ampun, jangan-jangan kalau gempa datang dia juga nggak akan bangun!" Firlan geleng-geleng kepala melihat kelakuan kekasihnya.


"Vira .... Viraaaaaaaa!" Firlan menggoyang-goyangkan badan wanita yang duduk disampingnya.


"Ya ampuuun, ada apa sih, Aaaaaay! nfantuk tau, udah nyetir aja yang bener! bangunin kalau aku udah nyampe rumah!" Vira ngegas, dan malah duduk menyamping membelakangi Firlan.


"Astaga, aku bangunin juga kan karena udah nyampe di depan rumahbya dia!" gumam Firlan.


"Ay, ini udah nyampe, Ay! ya ampuuuun!" Firlan menepuk-nepuk pipi Vira, supaya wanita itu bisa membuka matanya


"Eeeemmh," Vira mengucek matanya. Ia mengedip beberapa kali untuk memastikan kalau yang apa yang ada di depan matanya.


"Itu rumah aku?" tanya Vira.


"Bukan, itu rumah tetangga!" celetuk Firlan sambil membuka seatbelt yang membelit Vira.


Ia menjulurkan badannya ke belakang untuk mengambil payung. Hujan gerimis membasahi kota di siang itu, Firlan keluar dari mobil, ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Vira.


"Awas licin," Firlan memperingatkan.


Vira keluar dari mobil dan segera bergabung dalam satu payung dengan Firlan. Mereka berjalan menuju teras rumah.


Tok.


Tok.


Tok.


Vira mengetuk pintu dan juga memencet bell rumahnya.


"Lagi pada tidur siang apa, yah?" gumam Vira.


"Mungkin," sahut Firlan.


Vira memencet bell rumah dan jyga mengetuk pintu.


Ting nong!


Tok.


Tok.


Tok.


"Astaga, Vira. Mencet bell nggak usah ngetuk pintu juga," kata Firlan.


Dan tak lama pintu pun terbuka.

__ADS_1


"Eh, Sayang. Udah sampe, udah lama ya? masuk-masuk ... tadi mama lagi beres-beres di belakang..." kata dewi.


"Ayo, Nak Firlan..."


"Terima kasih, Tante..." sahut Firlan sopan.


Mereka duduk di ruang tamu. Dewi yang terakhir masuk segera menutup pi tu, diluar masih gerimis.


"Gerimisnya awet daritadi," ucap Dewi.


"Di jalan malah deras banget, Tante..." sambung Firlan.


"Tante kebetulan habis bikin wedang jahe, sebentar tante ambilkan..."


"Aku nggak ditawarin juga, Maa?" tanya Firlan.


"Kamu bikin sendiri..." kata Dewi.


"Nah, bener! sana bikin sendiri..." kata Firlan.


"Aku mau bikin es kopi, awas kalau minta!" Vira segera beranjak meninggalkan Firlan sendirian di ruang tamu.


"Loh kok kamu kesini?" tanya Dewi.


"Mau bikin es kopi," kata Vira.


"Dingin-dingin kayak gini kok minumnya es? nggak boleh. Nanti kamu flu, besok mau ada acara penting. Jangan aneh-aneh!" kata Dewi yang merebut kopi sachet dari tangan Vira.


"Nih, kamu bawa wedang jahe ke depan buat calon mantu mama. Kasihan dia habis nyetir," kata Dewi.


"Mama mau bikin tahu goreng dulu," kata Dewi.


Furlan yang melihat Vira datang pun tersenyum.


"Katanya mau bikin es kopi? mana?" tanya Firlan menaikkan satu alisnya.


Vira menaruhinuman dimeja dengan lirikan sinis.


"Nggak dibolehin, takut kena flu!" jawab Vira seraya mendudukkan dirinya disamping Firlan.


"Lagian, kamu tuh ya baru keluar dari..."


"Sssssuuuut!" Viraenaruh telunjuknya di depan mulut Firlan.


"Jangan keras-keras, mama nggak tau soalnya!" lanjut Vira.


"Kamu itu ada sakit..."


"Sssssuuuuuuuttt! dibilangin jangan ngomong itu juga!" Vira kini membekap mulut Firlan hingga badan pria itu terhuyung ke belakang. Mata mereka bertemu.


"Kalian lagi apa?" tanya Raharjo yang tiba-tiba saja muncul.


"Eh, Papa! ini Paaa, kak Firlan liat kecoa terus mau teriak, jadi aku bekap tadi mulutnya biar nggak berisik!" Vira berbohong, dia melotot pada Firlan seraya melepaskan tangannya dari pria itu.


"Kecoa? mana mungkin ada kecoa. Rumah inj habis di bersihkan. Liharlt saja semuanya kinclong, tembok saja dicat ulang!" Raharjo melihat ke seluruh sudut rumah.

__ADS_1


"Tadi kecoanya udah pergi, Paa. Udah Vira usir tadi," kara Vira.


"Lagian masa kamu takut kecoa sih, Lan?" tanya Raharjo.


Firlan melirik Vira, wanita itu benar-benar membuat citranya buruk di depan calon mertua.


"Ah itu,"


"Iya, tau nih! masa laki-lkai takut kecoa, kan aneh ta Paaa..." serobot Vira seraya melihat ke arah Firlan dengan tatapan penuh arti.


"Ada apa ini? kok kayaknya ngobrolnya seru..." tanya Dewi. Dia meletakkan sepiring tahu crispy di meja dan ikut bergabung duduk di samping suaminya.


"Ini katanya tadi ada kecoa, dan Firlan ternyata takut kecoa," jelas Raharjo.


"Mana ada kecoa, orang rumah habis di bersihkan semuanya, kok!" Dewi ikut menelisik setiap sudut rumahnya.


Firlan hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Nggak ada kok udah, udah pergi..."kata Vira.


"Minumannya, Nak Firlan!" kataa Dewi menawarkan minuman yang masih mengepulkan asap berwarna putih.


"Terima kasih, Tante..." Firlan mengangkat cangkir dan meminumnya.


.


.


.


Firlan rencananya akan istirahat sebentar setelah tadi sudah diajak makan bersma di meja makan bersama dengan orangtua Vira. Sebenarnya dia tidak masalah dan cukup kuar menyetir pulang pergi, dia sudah biasa. Namun biasalah orangtua khawatir, paling tidak dia disuruh istirahat selama 1 sampai 2 jam kedepan.


"Padahal udah biasa lebih dari ini!" gumam Firlan sembari melipat tangannya dibelakang kepala, ia sedang rebahan di kamar tamu.


"Awas saja si ayam berani-beraninya dia bilang kalau aku takut kecoa, bener-bener bocah nakal!" Firlan masih kesal perkara dituduh takut kecoa oleh Vira.


Ting...!


ada notifikasi chat masuk.


Udah tidur?


Sebuah pesan dari Vira. Firlan menaikkan satu sudut bibirnya ke atas. Dia membalas.


Ada apa?


Ting! Vira mengiriminya pesan lagi.


Nggak ada apa-apa, nanya aja!


Firlan membaca balasan Vira, namun dia tak berniat membalas pesan itu. Dia malah memejamkan matanya, membiarkan ponselnya menerima pesan lain entah dari siapa saja.


"Biarin aja lah, meremin bentar!" gumam Firlan.


Sementara Vira yang pesannya tak dibalas hanya bisa memandangi ponselnya. Dia mengetik beberapa balasan, namun tak ada satupun pesannya yang dibaca oleh Firlan.

__ADS_1


"Udah molor nih jangan-jangan!" Vira menaruh pi selnya di atas kasur. Dia lalu rebahan sambil memeluk guling kesayangannya.


...----------------...


__ADS_2