Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Suka Yang Kalem-Kalem


__ADS_3

"Gia, tante Viranya ganti baju dulu, nanti balik lagi kesini buat nemenin Gia..." kata Gusti yang membuat Vira menoleh padanya, Gusti hanya mengedipkan kedua matanya, ia meminta agar Vira menuruti keinginan Gia.


"Papi akan suruh Penny menemani Gia dulu sebentar," lanjut Gusti.


Dan pria itu memanggil pengasuh Gia untuk menjaga putrinya sementara waktu sampai Vira kembali lagi ke kamar itu.


Sedangkan Vira hanya mengikuti kemana Gusti membawanya pergi. Ternyata pria itu mengajak Vira untuk masuk ke dalam kamar yang tak jauh dari kamar Gia.


"Masuklah..." perintah Gusti.


Vira pun dengan langkah ragu masuk ke dalam kamar itu, sebuah ruangan yang sangat mewah dan luas.


"Kemarilah, Vir..." Gusti menggerakkan kepalanya menyuruh Vira untuk berjalan mengikuti langkahnya yang masuk ke dalam sebuah ruangan lain yang ternyata berisi lemari-lemari baju yang terdapat kaca yang super besar.


Gusti membuka salah satu lemarinya dan menarik tangan Vira untuk mendekat padanya. Ini kali pertama mereka bersentuhan secara fisik.


"Ini baju mendiang istriku, tenang saja baju ini baju yang belum pernah dia pakai. Aku memang selalu membelikannya pakaian, tapi aku lupa kalau saat itu dia sedang mengandung Gia dan perutnya semakin lama semakin besar namun aku membelikannya baju dengan ukuran biasa. Jadilah, nasib pakain-pakaian ini hanya tergantung disini tanpa pernah dipakai oleh pemiliknya. Aku memang payah, ya?" Gusti terkekeh jika mengingat kebodohannya itu.


"Apa nggak apa-apa kalau aku..."


"Baju ini selalu rutin di bersihkan, tenang saja. Aku sengaja merawatnya. Aku ingin Gia setidaknya mengenal barang-barang ibunya..." kata Gusti.


"Ah, bukan itu maksudku. Aku hanya ngerasa nggak enak kalau aku memakainya tanpa seizin pemiliknya..." kata Vira.


"Istriku sudah meninggal Vira, dan aku mengijinkanmu untuk.memakainya. Dan sepertinya tubuhmu tak jauh berbeda dengan putri, istriku. Carilah baju yang cocok untukmu... aku tunggu di luar..." kata Gusti yang mengelus punggung Vira sebelum ia pergia dan menutup ruangan itu.


"Huuuffhh, gimana nih? aku pilih yang mana?" Vira mulai melihat-lihat baju yang begutu banyaknya.


"Ini ruangan udah kayak butik aja, aku sampe bingung mau ngambil yang mana. Yang jelas disini isinya dress semua. Emmmmh, aku ambil ini aja deh..." ucap Vira seraya mengambil satu dress setinggi lutut dengan V neck dan dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru.


Vira segera mengganti bajunya dan mulai memakai dress lengan pendek itu. Warna broken white membuat Vira tampak sangat manis.


"Seleranya mas Gusti ternyata warna suka warna kalem-kalem kayak gini. Astaga, kok mas Gusti sih? hadeuuh otak akuuuuu!" Vira menoyor kepalanya sendiri.


Setelah selesai ia pun membuka pintu, ia melihat Gusti yang berdiri membelakanginya dan ia berbalik perlahan.


Setelah bertahun- tahun, baru kali ini ada seorang wanita yang masuk ke dalam ruang pribadinya selain para pelayan yang memang ditugaskan untuk membersihkannya setiap hari.


Tanpa sadar hati Gusti mulai menghangat, apalagi melihat Vira yang kini tampil berbeda di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa? nggak cocok, ya?" tanya Vira.


"Ahm, cocok cocok banget kok! kamu cantik banget pakai baju itu. Ah, maksud aku kamu selalu cantik memakai apapun!" ucap Gusti cepat.


"Gia pasti sudah menunggu," ucap Gusti, dan mereka pun keluar dari kamar milik Gusti dan berjalan menuju kamar Gia.


Dan ternyata gadis kecil itu sudah tertidur, Penny yang melihat kedatangan Vira dengan majikannya pun segera undur diri.


"Tunggu, Penny..." cegah Gusti.


"Ada apa, Tuan?" sahut Penny, wanita itu jelas merasa khawatir majikannya akan menanyakan perihal Gia.


"Kenapa Gia..." ketika Gusti akan bicara, tiba-tiba Gia membuat gerakan kecil seakan terganggu dengan tidurnya, Vira memberi isyarat kalau sebaiknya Gusti membicarakan ini nanti saja.


"Pergilah..." kata Gusti pada Penny.


"Permisi, Tuan..." Penny yang tak jadi interogasi pun merasa sangat lega. Ia segera pergi dari kamar Gia.


Vira duduk di sofa single yang berada di pinggir ranjang Gia.


"Tolong temani Gia dulu, tidurlah disamping Gia, aku yakin kamu sangat lelah..." kata Gusti.


Gusti berjalan ke arah pintu dan menutupnya dari luar.


Sekarang Vira perlahan bergerak naik ke atas ranjang Gia, dia menutup sebagian badanny dengan selimut.


.


.


.


Sementara Firlan hari ini sangat sibuk, karena dia sedang memata-matai pak Irwan. Dia mendapatkan informasi kalau pak Irwan sedang mengunjungi sebuah restoran.


Pria bernama Irwan Maulana itu tergolong masih muda bahkan usianya belum mencapai angka 30.


Firlan memakai outfit yang berbeda hari ini, lebih casual dengan sebuah topi yang membuat wajahnya agak samar.


"Sweet and savoury?" Firlan membaca nama restoran itu.

__ADS_1


Pria itu pun masuk dan segera duduk di salah satu sudut.


"Silakan, mau pesan sekarang atau mau lihat menu nya dulu, Kak?" tanya seorang pelayan.


"Bawakan saya dua menu rekomendasi kalian, dan untuk minumnya lemon tea..." ucap Firlan.


"Baik, ditunggu Kak..." kata pelayan tadi sambil membawa buku menu dan pergi meninggalkan Firlan seorang diri.


"Aku paling benci main kucing-kucingan seperti ini! apa daya, karena rasa penasaranku. Aku harus mencari tau semuanya sendiri sebelum aku memberitahu tuan Satya..." gumam Firlan.


"Perasaan tadi pak Irwan masuk ke dalam restoran ini, tapi kok dia tidak ada di segala sudut?" lanjut pria itu.


Firlan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Hey, kau yakin dia datang ke restoran ini? jangan-jangan kau hanya salah lihat orang?" tuduh Firlan pada orang yang ditugaskan untuk memata-matai pak Irwan.


"Benar, Tuan. Saya tidak mungkin salah, saya sangat yakin karena saya sendiri masih ada di restoran. Anda bisa melihat saya di arah jam 2..." ucap pria itu.


"Tapi kenapa dia tak ada disini? aku tak melihatnya duduk di kursi manapun, kau jangan bercanda denganku!" kata Firlan.


"Dia ada di dalam, maksudku, sepertinya dia sedang berada di dalam office restoran ini..." ucap pria yang memakai pakaian berwarna hitam.


"Baiklah, awasi terus. Karena makananku sudah datang, aku sudah lapar!" kata Firlan ketika melihat seorang pelayan sedang berjalan ke arahnya membawa makanan.


"Silakan, Tuan..." ucap pelayan itu sembari meletakkan satu piring maincourse dan satu piring desert serta lemon tea.


"Terima kasih," ucap Firlan pada pelayan.


Dan perutnya yang kini sudah lapar meminta untuk diisi, apalagi ini sudah melewati jam makan siang. Firlan begitu menikmati makanan yang ada di piringnya.


"Apa dia pemilik restoran ini? itu mengapa dia masuk ke dalam office," gumam pria itu.


Firlan mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan. Dan tak lama pelayan yang melihat Firlan meminta bantuan pun segera datang.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya pelayan wanita.


"Saya ingin bertemu dengan pemilik restoran ini," ucap Firlan dengan tatapan mengintimidasi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2