Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Diluar Dugaan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pagi ini dia menyempatkan mendatangi kontrakan Vira sebelum ia pergi ke kantor. Pria itu keluar dari mobilnya dan berdiri di depan gerbang kontrakan Vira yang masih terkunci.


Dan tampa disangka-sangka seorang wanita dengan rambut masih acak-acakan keluar fari rumah dan mengeluarkan motornya.


Namun langkahnya terhenti saat melihat satu sosok pria gagah yang sudah rapi dengan setelan jasnya berdiri di depan mobilnya. Vira segera memarkirkan motornya dan mengucek matanya dan menepuk pipinya.


"Masih ngantuk nih pasti, jadinya aku halusinasi!" gumam Vira.


Dan ia melihat lagi ke depan dan pria itu masih terlihat berdiri di sana. Bahkan dia tersenyum sambil bersandar di badan mobil.


Samperin atau kabur ke dalam ya? Batin Vira.


Dengan ragu, Vira berjalan mendekat ke arah gerbang.


"Ada apa?" tanya Vira. Dia tidak pede dengan penampilannya seperti ini.


"Buka gerbang dulu, disuruh masuk baru ditanya-tanya. Bukankah seperti itu adab menerima tamu?" ucap Firlan.


Aiiish, kamu bukan tamu. Tapi kamu ayang aku, tapi aku lagi males ketemu sama kamu tau, nggak? Batin Vira.


Vira mengeluarkan kunci dari dalam sakunya dan membuka pintu gerbangnya.


"Nggak usah repot-repot, aku bisa dorong gerbangnya sendiri..." ucap Firlan.


Vira balik badan meninggalkan Firlan begitu saja. Vira hanya bisa garuk-ngaruk kepalanya. Kenapa dia tidak mengecek keadaan sekitar lewat jendela dulu. Kalau sudah begini kan mau tidak mau dia harus menerima Firlan di rumahnya.


Firlan memasukkan mobilnya di pelataran rumah dengan gaya minimalis itu. Rumah yang tidak begitu besar namun manis jika dilihat dari luar.


"Assalamualaikum," ucap Firlan.


"Waalaikumsalam," seru Vira dari dalam.


"Tunggu aja dulu, aku mau mandi!" lanjut wanita itu.


Tanpa dipersilakan, Firlan duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


Dia melongok sedikit ke dalam karena lumayan lama dia menunggu sendirian tanpa ada kepastian si penghuni rumah akan muncul dan menyapanya dengan senyum yang sudah lama ia rindukan.


"Astaga, berantakan sekali. Apa dia nggak sempat bersih-bersih?" gumam Firlan.


Pria itu pun duduk kembali saat melihat Vira muncul dan berjalan ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Vira ia menaruh secangkir teh yang batu saja diseduh dan mengeluarkan asap.


"Nggak ada apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengan calon istriku yang beberapa waktu ini seperti hilang ditelan bumi!" ucap Firlan.


"Kamu nggak nanyain kabar aku?" tanya Firlan.


"Nggak usah ditanyain juga keliatan kamu baik dan sehat-sehat aja, iya kan?" ucap Vira.


"Sehat iya tapi yanh di dalam sini nggak lagi baik-baik aja..." Firlan menunjuk dadanya.


"Mau diminum nggak? kalau nggak aku bawa ke dalam lagi!" Vira menunjuk cangkir yang sedari tadi belum tersentuh oleh Firlan.


"Ya diminum, tapi kan masih panas!" kata Firlan.

__ADS_1


"Iya, iya nih aku minum!" Firlan mengangkat cangkir itu ketika melihat tatapan Vira sangat sinis padanya.


Bukannya sayang-sayangan, ini malah kayak lagi musuh-musuhan. Batin Firlan.


.


.


.


Sedangkan di tempat lain. Seorang wanita berambut panjang sudah berada di sebuah rumah besar. Dia mengetuk pintu itu.


Tok.


Tok.


Tok.


"Ya, sebentar!" seru seorang wanita dari dalam.


Ceklek. Pintu pun terbuka.


"Maaf, anda mencari siapa ya, Nona?" tanya bik Nem.


"Saya Andini, mau bertemu dengan tante Ratna..." kata wanita itu.


Oh, iya ini kan wanita yang waktu itu nangis-nangis di depan Nyonya dan bikin mas Firlan dituduh yang macam-macam. Batin bik Nem.


"Silakan masuk, Nona..." Bim Nem memberi akses agar Andini bisa masuk ke dalam rumah.


"Silakan duduk, Nona dan tunggu sebentar..." kata bim Nem yang tidak begitu suka dengan wanita yang mencari majikannya.


"Itu, Nyonya. Ada Nona Andini mencari Nyonya..." ucap bik Nem.


"Dimana dia?"


"Ada di ruang tamu, Nyonya..." jawab bik Nem.


"Panggil saja kemari, saya mau sarapan..." suruh Ratna.


"Baik, Nyonya..." sahut bik Nem.


Wanita paruh baya itu kembali lagi ke depan untuk memanggil tamu dari majikannya itu dan mengantarnya ke ruang makan. Ratna sedang menyendokkan makanan ke dalam piringnya.


"Duduklah," ucap Ratna datar.


"Ada apa pagi-pagi datang kemari?" tanya wanita yang sudah berumur tapi masih terlihat cantik diusianya itu.


"Ah, saya ... kebetulan..."


"Jangan bilang kebetulan," serobot Ratna.


"Maksud saya, saya mau menanyakan kabar tentang Firlan..."


"Mungkin dia akan mengabarimu ketika pikirannya sudah lebih baik,"


"Tapi perutku semakin lama akan semakin membesar, bagaimana jika orang-orang mulai mempertanyakan terlebih lagi keluargaku..." ucap Andini sendu.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menuruti keinginannya..." ucap Ratna


"Tapi..."


"Firlan anak yang keras kepala. Dia akan meyakini apa yang dia anggap benar, lakukan saja apa yang dia minta!" tegas Ratna.


"Baiklah kalau begitu..." ucap Andini.


"Kau sudah makan? kalau belum makanlah," kata Ratna, Andini menggeleng.


"Setidaknya makanan itu untuk anak yang kau kandung," ucap wanita yang kini mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Teh hangatnya, Nyonya..." ucap bik Nem.


"Terima kasih, Bik..." kata Ratna.


"Silakan, Nona..." bik Nem menyuguhkan juga teh untuk Andini, wanita itu hanya tersenyum tipis.


"Minumlah, kalau tidak ingin makan..." kata Ratna, dia melanjutkan maknnya kembali.


Sedangkan Andini tak berselera untukakam, namun tak bisa dipungkiri perutnya keroncongan. Akhirnya dia pun mengisi piringnya dengan nasi dan lauk yang tersedia.


Selama menikmati makamam, tak ada petcakapan sedikitpun diantara wanita beda generasin ini. Dalam hati Andini menyesal, mengapa ia datang sepagi ini kalau ternyata tak mendapatkan apa yang dia inginkan.


Perasaan kemarin-kemarin dia begitu iba padaku, tapi kenapa sekarang malah jadi ketus begini! ah, menyebalkan. Batin Andini.


Andini melihat Ratna sudah menyelesaikan sarapannya. Dia pun ikut mendaratkan satu suapan terakhir ke dalam mulutnya.


"Berapa usia kandunganmu itu?" tanya Ratna.


Mampus! berapa minggu, ya? kenapa aku nggak mempersiapkan jawaban ini. Gerutu Andini dalam hati.


"Ehm, berapa ya? saya tidak tau pasti berapa minggu..." sahut Andink takut-takut, dia kini meneguk minumannya agar tidak terlihat gugup.


"Apa kau tidak pernah memeriksakan kandunganmu?" tanya Ratna, Andini pun menggeleng.


"Lalu bagaimana kau yakin kalau kau sedang hamil?"


"Maksud saya, saya belum memeriksakannya lagi ... dan saya lupa sekarang sudah berapa minggu..." sahut Andini.


"Kau ceroboh sekali. Datanglah ke dokter dan lihatlah perkembangan janin yang ada di rahim mu itu..."


"Andai saja Firlan mau..."


"Dia tidak akan mau kecuali jika kalian akan tes DNA, mungkin dia mau mengantarmu!" ucap Ratna.


"Tes DNA?"


"Ya bukankah waktu itu Firlan sudah mengatakannya?" ucap Ratna.


"Tapi, itu berarti dia tidak akan menikahiku sampai anak ini lahir, Tante? lalu bagaimana nasib kami? bagaimana kata orang?" tanya Andini cemas.


"Tante kasihanilah kami berdua, Tante ... mana mungkin dia bisa melakukan hal itu?" lanjut Andini.


Aku bisa gila kalau menunggu selama itu, tidak. Tidak bisa, dia harus menyelamatkanku dari situasi ini, bagaimanapun kita berdua harus menikah. Batin Andini.


"Itu resiko, dan seharusnya kau memikirkan ini sebelum semuanya terjadi..." kata Ratna.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2