Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Sesuatu Yang Tersembunyi


__ADS_3

"Mau makan apa?" tanya seorang pria yang berdiri di belakang Vira.


"Eh, Kak Ricko. Ngagetin aja..." ucap Vira yang kaget melihat kemunculan Ricko di sampingnya.


"Kamu tuh kagetan, nggak berubah dari dulu, ya..."


"Prisha mana?" Vira celingukan mencari istri Ricko.


"Dia lagi ngambil makanan lain, tuh disana" jawab pria yang kini sudah menjadi bagian dari keluarga Ganendra.


"Mau ngambil dimsum?" tanya Ricko.


"Hu'um," Vira mengangguk.


"Awas panas, sebentar aku ambilkan..." Ricko mengambilkan dimsum yang panas dengan menggunakan penjepit makanan.


"Segini cukup?" tanya Ricko yang meletakkan dimsum 4 biji di atas piring putih milik Vira.


"Cukup, Kak..." sahut Vira.


"Mau apa lagi?"


"Makasih, tapi aku bisa ambil sendiri, kok..." kata Vira yang sebenernya menjadi canggung mengobrol dengan Ricko, dia takut kalau Prisha akan berpikir yang macam-macam.


"Oh, ya lusa aku akn oergi ke Aussie," kata Ricko tiba-tiba.


"Aussie?"


"Ya aku akan tinggal disana bersama istriku, aku harap kamu jaga diri baik-baik. Dan jangan lupa mengabariku jika kamu dan Firlan akan menikah," ucap Ricko sembari mengisi piringnya dengan beberapa dimsum.


"Pasti..." jawab lirih Vira.


"Maaf, Ay lama..." ucap Firlan seraya mengusap punggung Vira, wanita itu menoleh ke belakang.


"Sarapan, Lan!" kata Ricko yang mengambil dipping sauce untuk dimsumnya.


"Iya, ini juga mau sarapan..." kata Firlan.


"Kamu mau ommelet nggak? biar aku ambilin..." Firlan menawarkan menu lain untuk Vira.


"Boleh, tapi bareng aja aku juga pengen jus jambu disebelah sana,"


"Kak Ricko, kita sarapan dulu..." ucap Vira sebelum pergi mengajak Firlan untuk mengambil ommelete dan jus jambu.


Setelah mengambil apa saja yang diinginkannya Firlan dan Vira duduk di satu meja yang masih kosong. Sementara Raharjo dan Dewi sudah naik ke kamarnya lagi.


"Makan yang banyak, nggak usah diet-dietan segala..." kata Firlan seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Iya nih aku makan banyak kok," jawab Vira.

__ADS_1


Selain dimsum, Firlan sengaja mengambilkan sosis bakar, omelet, salad sayur, yogurt dan juga nasi plus lauk nya. Dan juga dia mengambil beberapa potongan buah dan juga cake.


"Sumpeh kita bisa dikira orang yang nggak makan selama sebulan," kata Vira gelengin kepala.


"Lagian urus banget omongan orang, kita udah bayar dan aku cuma pengen kamu kenyang. Aku nggak suka kamu bates-batesin makanan," kata Firlan yang kini mencocol dimsum dan memasukkannya ke dalam mulut Vira.


"Astaga, mulutku sampai penuh," ucap Vira dengan mulut penuh makanan.


"Kalau makan jangan sambil ngomong, Ay..." Firlan mengelap sudut bibir Vira yang terkena sauce dari dimsum.


"Minum dulu," Firlan menyodorkan jus jambu untuk Vira.


Glek.


Glek.


Glek.


Dinginnya jus jambu segera meluncur membasahi tenggorokan Vira.


"Tadi kenapa bos nyariin tadi?" tanya Vira pada Firlan.


"Oh, tuan Satya? biasa masalah kerjaan, dia kira hari ini ada meeting, dia lupa kalau dia sendiri yang minta reshedule meetingnya buat besok..." jelas Firlan.


Setelah having breakfast together, Vira kembali ke kamarmya untuk mengambil papper bag dan juga dompet. Vira segera membuka pintu kamarnya.


"Ay, Om sama Tante mau langsung ke kontrakan kamu atau gimana?" tanya Firlan pada Vira.


"Apa sebaiknya nggak disini dulu? nanti sore baru ke kontrakan, disini kan lebih nyaman..." ucap Firlan.


"Hmmm gitu ya? iya juga sih ... ya udah kita ke kamar mama papa dulu kalau gitu buat ngasih tau..." kata Vira.


Firlan juga masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil barang yang masih tertinggal dan mereka keluar secara bersamaan.


Vira dan Firlan berjalan menuju kamar Raharjo dan Dewi. Setelah menekan bell, pintu pun terbuka. Vira masuk ke dalam diikuti Firlan.


"Mah, Pah kayaknya Mama sama Papa di hotel dulu aja, pulang kerja Vira jemput..." ucap Vira.


.


.


.


Setelah menjelaskan pada Raharjo dan juga Dewi, Firlan segera mengantar Vira langsung ke tempat privatnya.


"Ini nggak apa-apa gitu ya aku ngajar pakai dress begini?" Vira kurang pede dengan penampilannya.


"Ya emang kenapa? kamu cantik pakai dress itu," kata Firlan enteng.

__ADS_1


"Ya kan biasanya aku pakai celana, ini pakai begini agak aneh kan aku duduk di bawah," kata Vira.


"Ya kalau mau ganti ke kontrakan waktunya nggak nyampe Vira. Udah pakai itu aja, duduknya yang rapi kan bisa," ucap Firlan yang beberapa kali melihat arloji di tangannya.


Vira mengerti kalau Firlan sedang diburu waktu, makanya dia tidak bisa mengantar Vira lagi ke kontrakan untuk sekedar ganti baju.


"Lagi ditunggu orang?" tanya Vira.


"Kalau ada janji atau meeting, aku turun aja di halte depan biar aku naik taksi," kata Vira.


"Aku anterin, masih ada waktu kok. Lagian ini bukan meeting jadi santai aja," kata Firlan.


"Oh ya, beneran minggu ini kita ketemu sama ibu kamu?" tanya Vira.


"Iya, Ay ... kenapa? nggak usah gugup, ibu pasti suka kok sama kamu," kara Firlan.


"Masa sih? kalau nggak suka gimana?"


"Kalau nggak suka aku akan tetep bikin ibu jadi suka sama kamu," Firlan melirik Vira.


"Hanya dengan ibu kamu?"


Firlan mengangguk, "Kalau ayah nanti kita ketemunya di makam,"


"Makam?"


"Maaf ya aku belum pernah cerita, kalau ayahku udah nggak ada sejak aku masih SD. Aku hanya hidup berdua dengan ibu..." kata Firlan.


"Maaf," ucap Vira seraya menggenggam satu tangan Firlan.


"Nggak apa-apa lagi, aku yang harusnya minta maaf. Selama ini aku nggak pernah cerita soal keluargaku, tapi karena kita akan melangkah ke jenjang yang lebih serius jadi aku akan terbuka sama kamu..." ucap Firlan.


"Aku nggak apa-apa beneran," Firlan melepas genggaman tangan Vira dan beralih mengelus pipi wanita itu.


Ada sedikit rasa bersalah di hati Vira, dia tidak tahu menahu soal Firlan. Rasanya Vira seperti orang yang bodoh, dia menjalin hubungan dengan Firlan tapi hanya sedikit yang ia tahu tentang pria itu. Begitu pun sebaliknya, banyak hal yang tidak Firlan ketahui tentang Vira.


Vira baru menyadari kalau hubungan mereka yang seperti ini karena mereka berdua yang brlum terbuka satu sama lain. Masih banyak hal ditutupi atau disembunyikan.


"Wanita mana pun akan gugup jika akan bertemu dengan calon mertua, kamu tenang aja aku yakin semuanya akan berjalan sesuai rencana kita," ujar Firlan membuyarkan lamunan Vira.


"Semoga ya..." kata Vira.


"Hey, sejak kapan kamu jadi wanita yang pesimis seperti ini?" ledek Firlan.


"Sejak kenal sama kamu," celetuk Vira.


"Nggak ah, masa iya setelah kenal sama aku?"


"Ck, ya udah kalau nggak percaya..." Vira melirik Firlan sinis.

__ADS_1


"Hahahhahahahah..." Firlan tertawa melihat wajah Vira yang meliriknya tidak suka.


...----------------...


__ADS_2