
Andini keluar dari kediaman Ratna dengan hati yang kesal.
"Astaga, menyebalkan sekali. Bukannya membantuku, dia malah menyuruhku mengikuti tes DNA, yang benar saja!" gumam Andini ketika sudah masuk ke dalam mobilnya.
Tak lama ponselnya berdering.
"Ya, kenapa?" tanya Andini.
"Siang ini bisa bertemu?" tanya seorang wanita.
"Emh, aku ... aku ada urusan di luar kota..."
"Jangan berbohong! karena kau selalu saja beralasan seperti itu, aku tunggu di tempat biasa jam 1 siang. Jangan sampai terlambat! mengerti?" ucap wanita itu.
"Ya ya ya, terserah kau saja!" kata Andini makin kesal.
"Aiih, apa yang harus aku katakan padanya. Akkh! menyebalkan!" Andini memukul stir mobilnya saat sudah mengakhiri panggilannya dengan wanita itu.
Andini menekan pedal gasnya dan keluar dari kediaman Ratna. Kali ini dia memilih untuk krmbali ke apartemen yang ia sewa yang bersebelahan dengan unit milik Firlan.
Sedangkan Firlan yang pagi ini memaksa numpang sarapan di kontrakan Vira pun tersenyum puas. Setidaknya pagi ini dia bisa menghabiskan waktunya dngan wanita itu walaupun hanya sarapan mie instant kuah dengan telor rebus setengah matang.
"Kenapa? mienya nggak enak?" tanya Vira yang melihat Firlan diam dan hanya mengaduk mienya, sedangkan tatapannya tertuju pada Vira yang sedari tdi makan dengan lahapnya.
"Enaklah, apalagi yang buat kamu, Vir..." ucap Firlan.
"Tapi aku yang nggak enak soalnya pagi-pagi liat kamu disini," celetuk Vira.
"Jangan kamu-kamu terus, Vira. Katanya kamu percaya sama aku, kenapa kamu malah ngejauhin aku kayak gini?"
"Aku nggak mau bahas itu sekarang, bikin aku nggak selera makan!" kata Vira.
Firlan pun hanya bisa menurut, dia juga mulai memakan mie instantnya dengan menambahkan saus cabai agar sedikit ada rasa pedas.
Vira beranjak mengambil air putih hangat buat mereka berdua, tentunya tanpa banyak bicara wanita itu segera membereskan bekas makannya sedangkan Firlan masih belum menyelesaikan sarapannya hanya bisa melihat wanitanya berdiri menghadap wastafel untuk mencuci piring.
Firlan mengelap mulutnya dengan tisu dan membawa mangkoknya ke wastafel, dia mau menggulung kemejanya, namun segera dihentikan Vira.
"Nggak usah, nanti baju kamu basah. Disini nggak ada gantinya," kata Vira.
"Duduk aja disana minum dengan tenang," lanjut Vira.
"Nanti siang mau ikut aku ke runah sakit nggak?" tanya Firlan.
"Buat apa?"
"Ke dokter kandungan," jawab Firlan.
__ADS_1
Vira menghentikan aktivitasnya, ia mengeringkan tangannya dan berbalik badan.
"Ke dokter kandungan?" Vira mengerutkan keningnya, pikirannya tertuju pada Andini.
Untuk apa mengajakku ke dokter kandungan? apakah untuk memeriksakan kehamilan Andini? Batin Vira.
"Nggak mau, kamu aja sana sama Andini! nggak perlu ngajak aku juga kan?" kata Vira sinis.
"Ngapain aku ngajak dia? kayak nggak ada kerjaaan aja! lagian, aku rasa otak dia sedikit bermasalah..."
"Tapi dia berani ke rumah kamu, berarti dia yakin dong kalau anak itu ya anak kamu. Pantesan aja, dia nggak ragu buat dateng ke unit kamu dengan pakaian seperti itu, iya kan?" Vira memancing Gusti.
"Demi apa, itu pertama kali dia begitu. Aku nggak ngomong kalau ada mantan yang tinggal di samping unitku, karena aku pikir itu nggak penting dan aku nggak ada apa-apa sama dia. Aku berani bersumpah demi apapun," kata Firlan.
"Nggak usah pakai sumpah-sumpahan segala, ngeri tau, nggak?" Vira menyumpal mulut Firlan dengan buah apel yang kebetulan ada di tempat buah dan habis dicuci. Firlan menggenggam apel yang sudah dia gigit sedikit.
"Ya kan biar kamu percaya sama aku,"
"Kita liat aja hasil dari tes DNA, aku kan udah bilang kalau ... kalau memang hasil test itu menyatakan kalau dia..."
"Nggak ada kalau-kalau, aku yakin dia hanya mengada-ada! aku bakal buktiin ke kamu kalau ucapan dia semuanya bohong!" Firlan memegang bahu kiri Vira.
.
.
.
Baru saja akan beranjak dari duduknya, ada panggilan telepon dari seseorang.
"Halo, Tuan!"
"Bagaimana? ada perkembangan?" tanya Firlan tanpa basa-basi.
"Target sedang berada di luar, sepertinya dia akan menemui seseorang..."
"Ikuti dan rekam pembicaraannya," suruh Firlan
"Baik, Tuan!" ucap pria itu yang kemudian memutus sambungan telepon itu.
Firlan segera keluar dari perusahaan menuju srbuah rumah sakit yang terkenal di kota itu. Dia akan menemui seorang dokter.
"Selamat siang, Dok!" sapa Firlan setelah masuk ke ruangan dokter itu
"Selamat siag, Tuan. Silakan duduk ... ada yang bisa saya bantu?" kata pria berkacamata itu.
"Begini, Dok. Saya ingin menanyakan tentang test DNA..." Kemudian Firlan pun mengatakan keperluannya dan untuk apa test DNA itu dilakukan.
__ADS_1
"Begini Tuan Firlan. Memang test DNA bisa dilakukan ketika kehamilan 10-18 minggu, tapi imi tentu sangat beresiko karena bisa mengakibatkan keguguran," kata Dokter Jerry.
"Beresiko tapi tidak menutup kemungkinan hal iti bisa dilakukan kan, Dok? karena ini menyangkut kehidupan saya, saya sangat yakin kalau saya bukan ayah dari anak yang dikandung wanita itu!" ucap Firlan.
"Tapi..."
"Tolong bantu saya, Dok. Saya akan bayar berapapun biayanya asal tes itu bisa dilakukan segera," serobot Firlan
"Bukan masalah biaya, Tuan..." ucap dokter Jerry.
"Baiklah, saya akan membantu anda semampu saya..."
"Terima kasih, Dok!" ucap Firlan.
Sedangkan di tempat lain, Andini memenuhi keingiman temannya untuk datang ke sebuah cafe.
"Hai Ren!" sapa Andini pada Reny.
"Gimana udah ada?"
"Astaga, aku baru juga dateng langsung ditanya gimana. Ditanyain minum apa , kek!" ucap Andini mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah mau minum apa?" ucap Reny, ia pun memesankan minuman untuk Andini.
"Gimana, udah ada belum uangnya?" tanya Reny.
"Ya ampun, Ren! mata duitan banget sih, kamu! aku minum dulu napa!" ucap Andini yang ingin berkelit lagi.
"Bukan aku yang mata fuitan, tapi kamu yang minjemnya kelamaan! lagian, aku udah butuh uang itu!" kaya Reny.
"Iya, tapi nggak sekarang. Aku baru aja dipecat dan..."
"Dan apa?" desak Reny.
"Bukannya pacar kamu itu orang kaya? ya walaupun udah tua, tapi bisalah diminta duit! lagian dia kn katanya royal sama kamu! pokoknya aku udah butuh banget, Andini!" kata Renny.
"Dia udah ninggalin aku, Ren!" sahut Andini frustasi.
"Emangnya kamu pikir aku nggak usaha? ini juga aku lagi usaha buat dapetin uang, Ren! yang jelas aku nggak bisa ngasih kamu sekarang, tapi aku janji aku bakal lunasin semua hutang-hutang aku!" Andini mengobral janji.
"Tapi kamu udah begitu terus, Ndin! pokoknya nggak mau tau, aku butuh dan tolong hububgin kalau kamu udah ada uang itu!" kata Reny.
"Aku pamit, oh ya tolong sekalin minumanku bayarin!" Reny beranjak dan meninggalkan Andini begitu saja.
"Astaga, pinjem 500 juta aja udah kayak di teror dept collector! nyebelin banget tuh orang! dulu apa dia nggak inget sering aku belanjain tas? temen lagi susah bukannya dibantu malah dimintai utang!" gerutu Andini.
"Pokoknya aku harus cepetan nikah sama Firlan! sebelum nih para dedemit pada nagih utang!" Andini mengomel terus.
__ADS_1
...----------------...