
Malam menjelang. Vira sudah memesan makanan lewat aplikasi.
Tok.
Tok
Tok
"Deliverry!" seru seorang pria dari luar rumah.
Vira yang tengah menonton tivi pun langsung mengecilkan volume dan beranjak. Ia berjalan ke ruang tamu dan membuka pintu.
"Delivery atas nama Vira Anugrah," ucap si kang deliverry.
"Sebentar, Mas! saya ambil uang dulu ke dalam," ucap Vira. Vira pun mengambil dompetnya di ruang tivi, ia memang sengaja menunggu deliverry makanan sambil nonton acara kesukaannya.
Tak lama Vira pun kembali dengan uang di tangannya.
"Ini Mas uangnya, dihitung dulu barangkali kurang," kata Vira seraya menerima bungkusan makanan pesanannya.
"Kelebihan 20 ribu ini, Mbak..." ucap pria itu.
"Oh, nggak apa-apa, anggap aja tips dari saya..." Vira pun melongok isi dari keresek yang ia pegang.
"Semua lengkap sesuai pesanan, Mbak!" kata pria itu tanpa diminta.
"Oke, Makasih ya..." ucap Vira.
"Permisi, Mbak..." ucap pria tadi yang kemudian berjalan menuju motornya dan pergi meninggalkan rumah Vira.
Sedangkan Vira segera menutup pintu, dan berjalan ke arah dapur. Namun ketika ia sudah sampai di ruang tivi, Vira berpapasan dengan Dewi.
"Kamu bawa apa itu, Sayang?" tanya Dewi.
"Ayam bakar, Ma. Aku pesen di tempat langganan aku sama Kak Firlan, ini ayamnya enak banget, Mama harus coba..." ucap Vira.
"Dari baunya sih bikin laper, ya..." ucap Dewi.
"Vira siapin dulu ya, Ma...." ujar Vira.
"Ya udah, Mama panggilin Papa dulu. Kayaknya sih tadi lagi terima telfon dari Ricko. Mama ke kamar dulu, ya?" ucap Dewi yang berbalik menuju kamar Vira yang kini ia tempati bersama Raharjo.
Vira berjalan menuju dapur yang merangkap ruang makan. Ia menaruh keresek hitam di atas meja, dan beralih mengambil piring dan mangkok untuk meletakkan makanannya.
Selesai menata makanan di meja, Vira pun mengambil jug air di dalam kulkas dan mengambil 3 gelas. Ia menaruhnya diatas meja.
__ADS_1
"Wah ada ayam bakar, nih!" ucap Raharjo.
"Iya, Pa. Ini Ayam bakar favorit aku, dijamin enak. Apalagi sambelnya, dijamin mantap!" ucap Vira.
"Ayo duduk, Pa ... Ma, biar Vira ambilkan nasi," ucap Vira seraya menarik kursi untuk Dewi dan juga Raharjo.
Vira menaruh nasi ke dalam wadah cekung yang dari kaca. Lalu ia menaruhnya di atas meja berdekatan dengan ayam bakar dan juga cah kangkung kesukaannya.
"Kamu yang duduk, biar Mama yang mengambilkan nasi buat kamu dan Papa..." perintah Dewi.
Vira pun menarik kursinya dan duduk. Dewi mengambilkan Raharjo dan Vira nasi.
"Pah, ayamnya..." Vira menaruh ayam di piring ayahnya.
"Dari wanginya sih enak," kata Raharjo.
"Banget, Pa!" ucap Vira, ia juga menaruh ayam di piring Dewi.
"Oh ya, gimana usaha kamu, Vira? kamu sudah tidak ingin menjadi perawat lagi?" tanya Raharjo.
"Vira udah nyaman kayak gini, Pa. Punya usaha sendiri dan nggak diatur-atur. Alhamdulillah semakin kesini semakin banyak anak yang masuk les juga, bahkan sekarang Vira udah bisa mempekerjakan dua pegawai, Pa..." jawab Vira.
"Syukur alhamdulillah kalau pekerjaan kamu lancar, papa sama mama hanya bisa mendoakan supaya apa yang kamu impikan bisa terwujud," kata Raharjo.
"Sudah, sudah bicaranya nanti saja. Sekarang kita makan dulu, Mama sudah nggak sabarbpengen nyicipin ayam bakar sama sambalnya..." ucap Dewi.
Vira sangat senang, karena malam ini dia bisa merasakan hangatnya makan bersama keluarga.
Setelah makan malam, Vira sudah menata bantal dan selimut tebal di depan ruang tivi.
Di kontrakan Vira memang ada dua kamar, namun yang dipergunakan hanya satu. Selain belum pernah ada yang menginap, kedatangan Raharjo dan Dewi yang mendadak membuat Vira juga akhirnya tidak sempat membersihkan kamar yang kosong itu. Tubuhnya terlalu lelah hanya untuk beres-beres.
Ceklek.
Dewi membuka pintu kamar dan berjalan mendekati Vira.
"Kamu jadi tidur di luar ya, Sayang..." kata Dewi.
"Eh, Mama ... belum tidur? nggak apa-apa kan aku sambil nonton tivi," jawab Vira yang kini duduk bersila sambil menutupi kakinya dengan selimut.
"Besok Mama sama Papa mau pulang, Vir.a sama Papa nggak bisa lama-lama disini, kamu tau sendiri kan kita baru merintis lagi usaha dibidang kuliner ... ya walaupun sudah ada pegawai, tapi tetap saja kan hatus tetap kita pantau juga," jelas Dewi yang duduk disamping Vira.
"Padahal aku masih kangen loh, Ma..." kata Vira.
"Makanya kamu sering- sering pulang," celetuk Dewi.
__ADS_1
"Iya deh, nanti Vira gantian yang pulang. Rasanya udah lama nggak ngerasain pulang kampung," seloroh Vira.
"Kamu jaga diri baik-baik, ya? Mama percaya kalau kamu bisa menjaga kepercayaan ma dan papa. Kamu ngerti kan maksud mama?" kata Dewi.
"Vira ngerti kok, Ma..." sahut Vira.
"Ya udah, udah malem Mama mau tidur dulu. Kamu juga jangan tidur kemaleman, ya?" ucap Dewi yang kemudian beranjak.
"Iya, Ma..." jawab Vira.
Dewi pun masuk kembali ke dalam kamar. Tak lama, ponsel Vira berdering menampilkan nama Firlan di layar benda pipih yang ia taruh diatas bantal.
"Halo," ucap Vira setelah mengusap layar ponselnya.
"Halo, Ay ... lagi ngapain?" tanya Firlan.
"Lagi nonton tivi,"
"Kamu udah makan?" tanya Firlan.
"Udah tadi pesen delivery, kamu udah makan Ay?" tanya Vira yang sepertinya sudah kembali nyaman menyebut Firlan dengan panggilan Ayang.
"Aku baru aja selesai makan," sahut Firlan.
"Udah jam 10 malem dan baru selesai makan? emang berapa baskom kamu makan nasinya, Ay? perasaan pulang dari sini kan masih sore," Vira menautkan kedua alisnya.
"Sembarangan berapa baskom, aku tuh pulang dari rumah kamu mampir ke kantor dulu, nyelesein dokumen buat besok. Aky baru nyampe rumah jam 9 malem dan sebelum pulang aku makan dulu di jalan," jelas Firlan.
"Ya ampun kerja mulu yang dipikirin. Selain dokumen, perut juga penting kali buat di urusin," celetuk Vira.
"Makanya jadi istri aku cepetan, jadi aku ada yang ngurusin," kata Firlan.
"Bocah kali diurusin, makanan mah kan tinggal pesen. Emangnya kamu baru bisa makan kalau kamu punya istri? nggak usah ngadi-ngadi, deh.
"Aiiish, kamu ini nggak bisa banget buat dikode," gumam Firlan.
"Oh ya, besok mama sama papa mau pulang," kata Vira.
"Loh kok cepet banget? ya udah jam berapa pulangnya biar aku yang antar," kata Firlan.
"Nganter?"
"Iya nganter sampai ke kampung halaman kamu, masa iya naik kendaraan umum? lagian naik jalan tol jadi lumayan cepet juga, besok aku ijin sama tuan Satya..." ucap Firlan.
"Ah, ntar ngerepotin..."
__ADS_1
"Apa sih yang ngerepotin? aku kan calon suami kamu, jadi udah kewajiban aku juga memperlakukan orangtua kamu dengan sebaok mungkin. Pokoknya besok aku yang anter, titik! Ya udah aku mau mandi dulu, bye!" ucap Firlan