Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Sebentar lagi


__ADS_3

"Ya ampun panas tau di luar..." Vira mengibaskan tangan di dekat wajahnya. Firlan hanya menyunggingkan senyumnya sekilas.


"Masa sih? nggak, ah!"


"Masa sih masa sih? orang panas kayak gini, dah ah, aku mau masuk!" Vira berjalan melewati Firlan begitu saja, namun pria itu segera mencegah wanita itu.


"Sewotan mulu, deh!" kata Firlan.


"Aku cuma mau bilang, kamu cantik!" lanjut Firlan yang berbisik di telinga Vira.


"Baru nyadar?"


Vira yang malu melengos meninggalkan Firlan yang masih berdiri di teras rumahnya, pria itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekasihnya.


Biasanya wanita kalau dipuji cantik wajahnya akan bersemu dan malu-malu kucing. Berbeda dengan Vira yang main pergi saja meninggalkannya.


Firlan pum kembali masuk ke dal rumah mengikuti kekasihnya.


Sementara di tempat lain.


"Lagi sakit?" tanya seoeang wanita yang duduk berhadapan dengan Gusti.


"Nggak, emang kenapa?" tanya Gusti.


"Nggak apa-apa tapi pucet. Raut wajah nggak ada bahagia-bahagianya," sindir wanita itu.


"Memangnya wajah bahagia itu yang bagaimana, Kay? kayak kamu ngerti aja," Gusti mengaduk minuman panasnya dan menyeruputnya sedikit.


"Tumben balik ke sini? ada apa?" tanya Gusti.


"Nggak ada apa-apa, cuma pengen jalan-jalan sekalian liat salah satu temen yang masih betah menduda setelah sekian tahun,"


"Kita berdua sama. Kamu juga belum menikah sampai sekarang," kata Gusti.


"Astaga, kalau ngomong suka bener ya! hahaha, kalau aku kan belum menikah karena terlalu banyak kandidat," Kaylee tertawa.


Gusti hanya tersenyum tipis, pikirannya menjauh dari tempat itu. Karena saat ini yang ada dipikirannya hanya ada Vira.


"Tuh kan ngelamun!" Kaylee menggerakkan tangannya di depan Gusti.


"Nggak ngelamun, cuma lagi kepikiran sesuatu..."


"Ngeles aja! muka udah keliatan begitu, ada apa sih? masalah cewek?" Kaylee tanpa basa-basi menyenggol urusan pribadi temannya.


"Bener kan masalah cewek?" Kaylee mendesak.


"Hem..." Gusti hanya berdehem.


Mungkin saat ini yang dia butuhkan teman bercerita. Mungkin dengan menceritakan masalahnya itu akan sedikit mengurangi beban yang ada di hati dan perasaannya.


"Cewek mana sih yang bikin seorang Gusti Alvaro bisa cekit-cekit kayak gini?" tanya Kaylee lagi, wanita ini sungguh sangat cerewet.


"Ada lah,"


"Ya siapa?"


"Kamu nggak kenal, Kay..." ucap Gusti seraya menyeruput minumannya.


"Ya pengen tau aja, siapa dan kenapa. Kamu itu kebiasaan menyimpan semuanya sendirian," kata Kaylee.


"Jadi aku suka sama perempuan, dan perempuan ini sangat dekat dengan Gia..."

__ADS_1


"Ya bagus dong, terus apa masalahnya?" tanya Kaylee mengerutkan keningnya.


"Masalahnya ternyata dia hari ini bertunangan dengan oranglain,"


"Terus?"


"Ya terus aku udah nggak ada kesempatan buat..."


"Buat bikin dia jadi ibunya Gia?" Kaylee melanjutkan ucapan Gusti.


"Masih ada kesempatan, sebelum janur kuning melengkung, apa pun bisa terjadi. Kecuali kamu udah pasrah dan terima nasib ajah, ya beda acara..." kata Kaylee.


"Ajaranmu sesat, Kay...!"


"Ini namanya perjuangin cinta, haiiishhh kamu itu payah!" kata Kaylee.


.


.


Sore itu juga Firlan dan keluargamya telah meninggalkan rumah Vira. Gadis itu sekarang memandang dirinya di depan cermin.


"Walaupun calon ibu mertua kayaknya belum sepenuhnya meridhoi, tapi aku akan berusaha meluluhkan hatinya!" Vira bicara sendiri.


Gadis itu menghapus riasannya dan mengganti pakiannya. Ia melepas kalung namun tidak dengan cincin. Vira tertegun melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Ternyata tinggal sebentar lagi..."


Ia tidak menyangka pada akhirnya ia akan menerima Firlan menjadi calon suaminya. Padahal dulu mereka sempat putus dan renggang beberapa waktu, tapi ternyata takdir berkata lain. Dulu Firlan yang setengah mati berusaha mendapatkan hati Vira kembali dan sekarang gadis itu yang kini harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati mertuanya.


Vira bisa menangkap kalau sebenarnya tadi Ratna hanya sekedar menuruti kemauan Firlan, eskpresi yang ditunjukannya sangat datar tidak ada rona kebahagiaan selayaknya ibu yang mendapati anaknya sedang melamar seorang wanita untuk dijadikan istri.


"Tiap orang ternyata punya jalannya sendiri-sendiri buat mencapai kebahagiaan..." ucap Vira yang kini sedang rebahan, ia merasa lega saat semua pakian itu dan riasan sekarang sudah terlepas.


Dia memakai baju yang longgar dengan celana pendek, ketika memejamkan matanya ia teringat pada sosok Gia.


Gadis kecil yang beberapa waktu yang lalu sempat menjenguknya di rumah sakit.


"Anak itu apa kabar, ya? udah lama nggak ketemu, dan aku tiba-tiba kangen..." gumam Vira.


.


.


.


Keesokan harinya. Vira sudah pergi dari rumahnya menuju kota yang sama dengan Firlan menggunakan kereta.


"Halo?" Vira menyapa orang yang meneleponnya pagi-pagi seperti ini.


"Kenapa nggam nunggu aku jemput aja, sih?" tanya Firlan.


Ya, memang sebelum berangkat Vira sempat mebgabari kekasihnya itu melalui chat. Siapa sangka dia secepat itu menghubunginya, padahal Vira mengirimnya chat jam 3 pagi.


"Kenapa nggak nunggu aku jemput aja?" Firlan mengulangi ucapannya.


"Nggak apa-apa, lagi pengen naik kereta. Lagian nyaman banget kok kereta sekarang,"


"Bukan masalah nyaman atau nggaknya, tapi kamu sendirian," ucap Firlan.


"Aku nggak sendirian, nih banyak penumpang lain juga..." jawab Vira.

__ADS_1


"Astaga, maksudku..."


"Iya iya aku ngerti! aku bisa jaga diri kok, beneran!" serobot Vira.


"Kamu semakin kesini semakin menyebalkan!" kata Firlan.


"Kamu juga!" sahut Vira.


"Ada penumpang lain di samping kamu nggak?" tanya Firlan penasaran.


"Disamping aku?"


"Iya di samping kamu," Firlan mulai gregetan.


"Sabar, Pak ... sabar..." Vira malah cengesan.


"Di samping aku asa orang kok," kara Vira.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Firlan.


"Hemmmm..."


"Jawab, Vira! laki-laki apa perempuan..."


"Laki-laki..." jawab Vira singkat.


"Umur berapa?"


"Aiiih, sedetail itu?"


"Sydah jawab saja!" desak Firlan.


"Bentar aku tanyain ke orangnya, ya?" kata Vira.


"Nggak usah pakai ditanya, Vira! kan bisa dikira-kira..." Firlan nampaknya sangat kesal.


"Kira-kira umurnya..." ucap Vira menggantung,


"Berapa?"


"Ya kira-kira 8 taunan lah! kalau pengen jelasnya aku tanyain sama emaknya nanti, dia duduk di seberang aku kebetulan..." jawab Vira.


"Astaga, kenapa tadi nggak bilang anak-anak? kamu bikin aku emosi aja!"


"Lah, kenapa aku yang disalahin? kan tadi nanya laki-laki atau perempuan, masa aku jawab anak-anak? nggak nyambung dong!" Vira tidakau kalah.


"Ya sudah, masih ini masih subuh. Kalau kamu sudah mau sampai telfon aku, nanti aku jemput!" kat Firlan.


"Yuppps, mas pacar..." kata Vira seraya menutup panggilan teleponnya..


"Dasar! marah-marah mulu kerjaannya..." gumam Vira.


Wanita itu kembali menyandarkan punggungnya di kursi exsecutive yang sengaja ia pesan untuk keberangkatannya hari ini.


"Masih subuh, merem bentar ah!" gumam Vira sambil memejamkan matanya setelah memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


Dan tidak jauh berbeda dengan Vira, Fitlan pun melakukan hal yang sama. Dia memejamkan matanya, dia akan menjemput Vira ke stasiun sebelum pergi ke kantor. Sebenarnya dia sangat khawatir wanita itu melakukan perjalananenggunakan transportasi umum. Apalagi dia kereta itu berangkat sekitar jam 4 pagi.


Namun Firlan lagi-lagi tak bisa apa-apa, wanitanya sangat keras kepala.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2