
Dan ternyata nggak lama setelah itu, Vira datang dan terkejut dengan kehadiran Zanna di tempat lesnya. Ya meskipun dia sudah memperkirakan hal akan ini tetjadi namun tetap saja, raut wajah terkejutnya tak bisa disembunyikan.
"Assalamualaikum," ucap Vira.
"Waalaikumsalam," jawab Zanna dan Fidya.
"Udah datang, Kak? bukannya masih pagi?" tanya Fidya.
"Kan mau bantuin kamu juga buat beres-beres..." ucap Vira yang pergi ke lokernya dan melihat semuanya sudah rapi.
"Kak, saya mau beli nasi rames dulu ya? tadi kesini belum makan. Kakak mau nitip tidak?" tanya Fidya.
"Saya sudah sarapan tadi di rumah. Buat kamu saja..." ucap Vira.
"Kamu mau nitip makanan juga nggak?" tanya Fidya. Zanna menggeleng.
"Ya sudah, aku tinggal dulu, ya?" Fidya menepuk bahu Zanna pelan sebelum bangkit dari sofa dan pergi meninggalkan dua orang yang sedang dalam keadaan canggung.
"Hem, ada yang mau saya bicarakan, Kak..." kata Zanna memberanikan diri.
"Oh, ya? apa itu?" Vira berjalan mendekat dan duduk tak jauh dari Zanna.
"Sebelumnya, saya minta maaf..."
"Untuk?" tanya Vira.
"Untuk semuanya..."
"Saya tidak paham dengan apa yang kamu bicarakan, Zanna..."
"Emh ... saya minta maaf karena sudah menyukai orang sangat berarti dalam hidup Kakak. Dan saya minta maaf, untuk krjadian tempo hari, saya juga minta maaf karena sudah membuat hubungan kalian bermasalah..." kata Zanna.
"Dan ini surat pengunduran diri saya, Kak..." lanjut Zanna menyerahkan sebuah amplop pada Vira.
Vira membuka amplop yang diberikan padanya dan membaca isi dari surat pengunduran diri Zanna. Wanita itu melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop.
"Sebenarnya saya suka kamu bekerja disini, terlepas dari semua yang sudah terjadi. Terkadang cinta datang tiba-tiba, bahkan mungkin pada seseorang yang sudah memiliki pasangan. Tapi semua itu harusnya bisa dikendalikan dengan akal pikiran, rasa yang tidak seharusnya itu bisa di enyahkan sebelum tumbuh dengan subur di hati kita..."
"Iya, Kak..." air mata keluar dari kedua mata Zanna.
"Aku maafkan kamu, dan jangan ulangi hal ini
Kamu bisa tetap bekerja disini," ucap Vira dengan nada lembut.
"Kami sudah bertunangan dan tidak akan lama lagi akan menikah," tambah Vira.
"Selamat, Kak ... maafkan aku..." Zanna memeluk Vira dengan erat.
"Sudahlah, yang sudah terjadi biarkan jadi bahan pembelajaran, bahwa tidak semua hal yang kita inginkan harus kita dapatkan," kata Vira mengusap punggung Zanna. Wanita itu mengangguk.
__ADS_1
"Jadi, saya tidak menerima surat pengunduran diri kamu. Dan cepat perbaiki riasanmu, jangan sampai kamu mengajar dengan mata yang sembab seperti itu..." kata Vira.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, seorang pria gagah sedang berjibaku dengan lebah-lebah. Yang terkadang menyengat kulitnya, walaupun dia telah memakai pelindung.
"Ya ampuuuuun! menyebalkan sekali lebah-lebah ini!" Firlan mengeluh.
"Ini bagaimana cara melepaskannya?" tanya Firlan menunjuk sebuah papan yang berisi sarang madu dengan kualitas premium.
"Ini tinggal dipotong, Tuan. Dan di-pack sesuai ukuran yang diinginkan..."
"Baiklah, bawa saja 20 papan. Jangan lupa madu yang sudah dikemas dalam botol. Pastikan semua terjaga kualitasnya dan juga kesterilannya,"
"Semuanya sudah sesuai standar, Tuan! Dan saya bisa jamin semua produk ini asli dan berkualitas tinggi," kata pria itu.
"Saya ingin mengecek langsung bagaimana pengemasannya," kata Firlan.
"Mari, Tuan sebelah sini..." ucap pria itu menunjukkan jalan pada Firlan.
Setelah berkeliling dan memastikan bagian produksi, Firlan pun dipersilakan menunggu di sebuah ruangan.
"Silakan, Tuan minumannya..." ucap seorang wanita yang menyuguhkannya sebuah minuman teh yang dicampur dengan madu.
Setelah wanita itu pergi, dia mengecek kulit tangannya.
"Astaga, lebah-lebah itu membuatku merah-merah. Bukannya lebah madu itu tidak menyengat ya? apa aku alergi dengan lebah?" pria itu mengecek kulutnya yang ada ruam merahnya.
"Tapi aku baik-baik saja kalau minum madu, atau hanya perasaanku saja tersengat lebah? tapi kenapa kulitku seperti ini?" Firlan menurunkan kembali lengan jasnya yang ia gulung sedikit tadi.
Dia merogoh saku jasnya dan mengambil obat anti alergi yang biasa dia bawa. Firlan segera meminumnya dengan air teh yang disuguhkan untuknya.
"Aku merasa lebih baik..." ucap Firlan seraya menyandarkan punggungnya di sofa.
Tak lama seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan itu.
"Semuanya sudah siap, Tuan..." ucap pria yang menemaninya selama berkeliling peternakan lebah.
"Masukkan ke dalam mobilku," Firlan menyerahkan kunci mobilnya.
Ia berjalan keluar mendahului pria tadi.
"Aargh, aku ingin segera pulang!" gumam Firlan. Ia merasa tubuhnya tidak begitu baik sekarang.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" ucap pria yang tadi diberikan kunci mobil.
__ADS_1
"Sudah selesai?" tanya Firlan.
"Sudah saya masukkan ke dalam mobil, Tuan..."
"Baiklah, terima kasih..." ucap Firlan.
"Kalau begitu hati-hati di jalan..." ucap pria itu dan beberapa pegawai yang berjejer di samping mobil hitam milik Firlan.
Selama menyetir, Firlan mengeluarkan keringat dingin.
"Astaga, aku kenapa, ya?" gumam Firlan. Pria itu berhenti sejenak, dan memejamkan matanya. Rasanya dia tak sanggup untuk menyetir dalam keadaan kurang fokus seperti ini.
Seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Firlan menurunkan kaca mobilnya itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya wanita yang kini menatap Firlan dengan wajah cemas.
"Pergilah," Firlan akan menaikkan kembali kaca mobilnya, namun Andini bergerak begitu cepat. Dia menekan tombol buka kunci.,
"Wajahmu begitu pucat!" ucap Andini yang mebyuruh Firlan untuk keluar dan berpindah ke kursi di sampjng kemudi.
"Heh, apa-apaan kamu! pergi dan tinggalkan aku sendiri!"
"Sudah jangan keras kepala! duduk dan diamlah disini," kata Andini yang kini menutup pintu mobil dan beralih ke kursi kemudi. Ia menghubungi seseorang.
"Jangan khawatir, ternyata benar ini mobil temanku. Fia sedang sakit, kau oergilah dulu. Aku akan mengantar temanku ini pulang!" ucap Andini pada seseorang dan ternyata sebuah mobil melewati mobil Firlan yang masih berhenti dengan memencet klakson sebagai tanda kalau mobil itu akan meninggalkan mereka.
"Aku tidak menyangka ternyata orang sepertimu bisa sakit juga, ya?" ucap Andini seraya menekan pedal gasnya.
"Diamlah dan turun dari mobilku!" kata Firlan.
"Lagi sakit aja masih galak! nggak usah sungkan, aku bakal ngurus kamu sampai sembuh!" kata Andini yang membawa Firlan pergi menuju apartemen.
Firlan berjalan sendiri, tak mau dibantu Andini.
"Pergilah, aku tidak butuh bantuanmu!" kata Firlan. Dia naik lift diikuti Andini. Wanita itu tetap saja mengikuti kemana pria itu berjalan.
"Aku bilang jangan mengikutiku!" bentak Firlan.
"Unitku juga di lantai ini, jadi aku tidak sedang mengikutimu pria galak!" jawab Andini.
Firlan dengan cepat menekan pasword unitnya dan pintu terbuka. Namun sebelum pintu ia tutup, Andini sudah masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
"Keluar!" teriak Firlan.
...----------------...