
Ada hal lain yang Ricko rasakan saat melihat Gia tertidur di pangkuan Vira. Dan saat ini mereka berada di dalam mobil yang bergerak menuju rumah Gusti.
"Vir? Gia sudah tidur? saya minggir dulu, ya? nanti saya pindahkan ke belakang," ucap Gusti.
"Nggak usah, kasihan. Lagi nyenyak banget kayaknya,"
"Nanti kamu repot, Vira..."
"Repot apanya cuma jagain tidur aja, kasihan lah kalau dipindah ... udah biarin ajah," kata Vira sambil membelai rambut Gia.
"Tapi kalau tangan kamu udah pegel ngomong aku, ya? jangan dipaksa, loh..."
"Iya, Mas..." jawab Vira.
Gia yang selesai makan siang mendadak ngantuk di tengah perjalanan menuju rumah.
"Saya antar Gia dulu ke rumah baru nanti saya antar kamu," kata Gusti.
"Aku bisa naik taksi online kok, Mas..."
"Nggak lah, masa aku biarin kamu naik taksi? nggak gentle banget aku jadi laki," kata Gusti.
"Terserah Mas aja kalau gitu..."
Dan mobil pun melaju ke kediaman Alvaro. Setelah sampai di pelataran rumah, Gusti berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Vira. Pria itu mengambil alih Gia dan berjalan ke dalam rumah diikuti Vira di belakangnya.
Dan saat pintu dibuka, ternyata ada seorang wanita yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Hai, Varo!"
"Vanya?" pekik Gusti yang kini di dekati oleh wanita cantik dengan pakaian super modis.
"Anakmu tidur? kenapa kau yang bawa sendiri? kenapa tidak pengasuhnya?" tanya wanita itu sambil menunjuk Vira dengan dagunya.
"Kau pasti pengasuh Gia, kan?" tanya wanita itu lagi dengan gaya angkuhnya.
"Bukan, dia bukan pengasuh Gia. Aku antar Gia ke kamarnya dulu, Vanya..." kata Gusti pada Vanya.
"Vira kamu tunggu disini dulu, aku akan segera kembali..." kini ucapa Gusti tertuju pada Vira.
Gusti pun membawa Gia ke kamar milik gadis kecil itu. Sementara di bawah, Vanya menatap Vira dengan tatapan menelisiknya.
"Kamu bukan pacarnya Varo, kan?"
"Varo? maksudnya mas Gusti?" tanya Vira.
__ADS_1
"Iya Gusti Alvaro,"
"Bukan," jawab Vira singkat.
"Ah, Ya! aku sudah yakin itu..." kata Vanya dengan senyum mengejek. Vira malas meladeni ucapan wanita itu, karena yang ada dia buang-buang energi
"Hey? kenapa masih disini?" tanya Vanya dengan tatapan songongnya.
"Anda tidak dengar kalau saya disuruh menunggu disini?" jawab Vira.
"Pergi dengan taksi, karena aku ada urusan dengan Gusti. Aku nggak tahu dan nggak mau tau apa keperluanmu dengan calon suamiku, yang jelas sekarang kamu pergi dari sini sekarang juga!" kata Vanya mendekat dan dan menyodorkan beberapa lembar uang di tangannya.
"Cih, anda kira saya tidak punya uang untuk naik taksi? saya tidak sekere itu, Nona! permisi," kata Vira yang memilih untuk pergi daripada berlama-lama satu atap dengan nenek sihir itu.
Vira melangkah pergi menuju pintu keluar sambil mengomel.
"Dasar wanita sombong, dia pikir aku semiskin itu," Vira melangkah sambil memesan taksi online.
Dan ting!
Pesanan taksi diterima, Vira melihat posisi mobil yang kebetulan sangat dekat dengan tempatnya saat ini. Tak butuh waktu lama, taksi yang dipeaan Vira pun datang.
Sementara ketika Gusti sampai di ruang tamu, dia hanya menjumpai sosok Vanya yang duduk di sofa.
"Vanya? mana Vira?" tanya Gusti.
"Iya wanita yang datang bersamaku tadi..." kata Gusti.
"Oh, dia sudah pulang. Katanya ada urusan mendadak," ucap Vanya berbohong.
"Oh, ya. Varo, aku datang kemari ingin mengajakmu makan siang..." kata Vanya yang berdiri dan mendekat ke arah pria yang dia panggil Alvaro.
"Lain kali saja ya, Vanya. Sekarang aku ada urusan," Gusti meninggalkan Vanya begitu saja.
"Varooooo!" teriak Vanya kesal, wanita itu menghentakkan kakinya kesal.
Sedangkan Gusti langsung masuk ke dalam mobil dan menekan pedal gasnya keluar dari kediamannya.
Sementara Vira yang adandi dalam taksi mendapat panggilan dari Gusti. Namun, Vira tak ingin mengangkatnya.
"Memang benar jangan sekali-kali berurusan dengan orang kaya, bikin hidup yang udah ribet tambah ribet dan pusing," gumam Vira.
Vira memilih tidak pulang ke kosan, melainkan ke pusat perbelanjaan. Dia ingin membeli cemilan dan beberapa kebutuhan lainnya.
"Terima kasih, Pak!" ucap Vira seraya membayar ongkos taksinya.
__ADS_1
Vira langsung berjalana ke area supermarket. Dan lagi-lagi panggilan dari Gusti membuat ponsel miliknya berdering.
"Aiih, males ah!" Vira menonaktifkan ponselnya dan kini dia bisa berbelanja dengan tenang.
"Aku mau beli sampo, ah. Botol sampo di rumah udah dua hari dikocok pakai air, udah nggak berbusa lagi..." gumam Vira seraya mencari rak khusus yang berisi persampoan dan persabunan.
Vira mengambil satu botol sampo dan memasukkan ke trolley yang di dorongnya.
"Sampo udah, sekarang sabun. Deuh kalau abis kenapa bisa barengan gitu, ya!" Vira mendorong trolley-nya. Matanya mencari sabun cair dengan butiran scrub kesukaannya.
Setelah mengambil beberapa kebutuhan personal care, Vira pun beralih mengambil roti jepang yang langganan dipakai kalau tamu bulananya datang.
"Lah, aku belum ambil cemilan satu pun! malam ini kan jatahnya nonton drakor, mana seru nonton nggak ada pop corn!" Vira menepuk jidatnya. Dia bergerak ke rak yang beriai makanan ringan. Dia mengambil keripik kentang, pop corn, dan makanan ringan lainnya. Dia sepertinya kalap kali ini.
"Menyenangkan diri sendiri juga perlu!" ucapnya penuh kemenangan saat melihat trolley yang di bawanya penuh dengan belanjaan.
Vira yang tidak bisa memasak, tidak membeli bahan mentah seperti sayuran. Dia hanya membeli mie instant, sosis dan beberapa kilo buah apel dan jeruk. Untuk urusan makan dia biasa beli, daripada dia nekat masak dan dapur malah jadi berantakan, kan repot juga nantinya.
Setelah puas berbelanja, Vira pun membayar di kasir. Dia membayar dengan uang cash, dan ia membawa dua kantong super besar keluar dari area supermarket.
"Capek juga, ya!" Vira mengeluh dengan dua tangan yang penuh dengan tentengan.
Dia berhenti di sebuah kedai kopi ternama dan memesan satu chocolate frappe dan satu potong caramel cake.
Vira duduk sembari menyeruput minuman dinginnya, dia mengeluarkan benda pipih yang digunakan untuk telekomunikasi orang jaman now.
Dia menekan tombol power, dan kini layar ponselnya kini menyala.
Ada panggilan masuk dari Firlan, Vira mengangkatnya.
"Astaga, kenapa hape kamu susah banget buat dihubungi?" Firlan langsung nyerocos tanpa mengucapkan salam.
"Iya, sinyalnya eror kali," jawab Vira bohong.
"Kamu dimana?" tanya Firlan.
"Habis belanja sekarang lagi nongki,"
"Sama siapa?" tanya Firlan.
"Sendirian, kenapa emang? jangan bilang kalau mau nyamperin kesini?"
"Nah itu udah tau, tunggu aku. 15 menit lagi aku sampai..." Firlan langsung menutup panggilan telepon itu.
"Harusnya nggak aku angkat tadi!" gumam Vira memasukkan ponselnya ke dalam tas.
__ADS_1
...----------------...