
Pagi harinya Firlan meminta ijin pada bosnya. Dia bilang kalau calon istrinya sakit dan tidak ada yang mengurus. Vira yang mendengar percakapan Firlan di telepon hanya bisa geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya dia bilang tidak ada yang mengurus di rumah sakit sebesar ini, lalu dia anggap apa para suster dan dokter?
"Ya sudah, Tuan. Saya harap anda memaklumi, karena saya tidak mungkin membiarkannya sendirian..." ucap Firlan sambil menempelkan ponsel di telinganya.
"Baik, terima kasih..." ucap Firlan sebelum mematikan sambungan telepon dengan bosnya, Satya.
"Kenapa nggak berangkat. Berangkatbaja aky disini nggak sendirian, masih ada suster yang bisa ngebantu aku," kata Vira.
"Jadi ngusir nih ceritanya?" tanya Firlan.
"Ya nggak ngusir, cuma aku bilang disini ada banyak suster, dan aku nggak akan kekurangan orang untuk membantuku lagian aku cuma rebahan disini," kata Vira.
"Aku akan pulang sebentar, tapi bukan mau ngantor. Aku mau ganti baju, nanti aku kesini lagi. Tapi setelah aku.meyuapi kamu sarapan..." ucap Firlan.
"Untuk sementara waktu kamu nggak boleh makan yang pedes dan dingin, kamu harus makan makanam yang sehat dan bergizi," kata Firlan seraya mengangkat mngkok yang berisi bubur sumsum.
"Makan dulu," Firlan mulai menyuapi Vira.
"Aku bisa sendiri kok," Vira berusaha meraih sendok yang dipegang Firlan.
"Walaupun selang oksigen kamu sudah dilepas, tapi itu selang infus masih nancep di tangan. Jadi kalau makan sendiri akan susah, biar aku aja yang melakukan ini..." Firlan tidak mau dibantah.
"Makan pelan-pelan, aku nggak akan minta kok!" lanjut Firlan.
"'Astaga, makin kesini nih orang makin cerewet!" batin Vira.
"Hapeku dimana?" tanya Vira.
"Nih, buat apaan? kan aku ada disini?" tanya Firlan.
"Cih! yang jelas aku bukan mau menghubungimu, tapi Fidya. Aku harus memberitahunya kalau aku tidak masuk untuk beberapa hari..."
"Makan dulu baru telfon!" suruh Firlan.
Dan sesuai perintah Vira mebghabiskan satu mangkok bubur sumsum sebelum menelepon Fidya.
"Halo, Fidya?" sapa Vira.
"Halo, Kak. Ada apa, Kak?" tanya Fidya.
"Fidya, saya tidak akan dagang beberapa hari ke depan, ya? mungkin kamu bisa share info kalau tempat kita tutup untuk beberapa hari ini..."
"Kalau boleh tau kenapa ya, Kak? Kak Vira sakit?" tanya Fidya.
"Iya begitulah. Kamu bagaimana? demam kamu sudah turun?" tanya Vira yang malah menanyakan kabar Fidya.
"Aku sudah sehat, Kak. Kak Vira istirahat saja, biar soal anak-anak nanti saya infokan kalau seminggu ini mereka diliburkan..." ucap Fidya.
__ADS_1
"Ya sudah, terima kasih ya, Fid!" kata Vira.
"Sama-sama, Kak..."
Vira pun tenang setelah memberitahu Fidya. Karena hari ini sudah mepet, mungkin mulai besok mereka akan mulai diliburkan.
"Sudah?" tanya Firlan, Vira mengangguk.
"Aku pergi dulu, aku mau ambil baju ganti. Kamu mau nitip apa?" tanya Firlan.
"Nggak ada," ucap Vira.
"Nanti aku akan mampir ke kontrakan buat ngambil baju kamu juga," kata Firlan.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Diam dan istirahat," pesan pria itu sebelum pergi meninggalkan Vira di ruang perawatannya.
.
.
Sedangkan di rumah Gusti, Gia sarapan dengan mendiamkan sang papi.
"Gia? kok diam saja? nggak suka rotinya? mau bikin yang baru? hem? mau rasa apa? kacang, cokelat, strawberry, bulberry? atau keju?" tanya Gusti.
"Penny buatkan aku sandwhich!" ucap Gia pada Penny.
"Sayang, Gia? Gia masih marah sama papi? walaupun papi akan mengijinkan Gia masuk les hari ini?" tanya Gusti.
"Gia nggak ngerti..." ucap Gia yang tidak mengerti apa yang diucapkan sang papi.
"Maksud papi, papi akan mengijinkan Gia berangkat les hari ini..."
"Papi nggak usah bercanda, nggak lucu..." ucap Gia.
"Lih, siapa yang bercanda? Gia hari ini boleh berangkat les di tempat tante Vira..." ucap Gusti.
"Benarkah?" Gia turun dari kursinya dan naik ke pangkuan Gusti.
"Iya, Sayang..." sahut Gusti.
"Terima kasih, Papiiii. Gia sayang papi..." Gia melingkarkan tangan mungilnya di leher Gusti. Ia memberi beberapa kecupan di pipi sang papi.
"Baiklah, aku akan sarapan yang banyak. Supaya aku cepat besar dan dewasa..." ucap Gia antusias, dia turun dari pangkuan Gusti dan berpj dah ke kursinya semula.
"Kamu begitu senang hanya karena papi mengijinkan mamu untuk tetap bisa datang di tempat les milik Vira..." gumam Gusti dalam hatinya.
Setelah selesai sarapan, Gia berangkat sekolah dan Gusti akan pergi ke kantornya. Mereka menggunakan dua mobil yang berbeda, karena tujuan mereka memang berlawanan arah.
__ADS_1
Sedangkan Firlan yang kini sudah spai di apartemennya di kejutkan dengan kemunculan Andini.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi," kata Andini.
"Kau sudah sarapan? aku baru saja akan mengetuk pintumu dan menawarkanmu sarapan bersama. Kebetulan aku memasak nasi goreng ayam kesukaanmu, Lan..." kata Andini.
"Untukmu saja. karena aku sudah sarapan. Aku masuk duluan..." kata Firlan yang sudah menekan pasword unitnya.
"Tunggu, Lan! sarapanlah sebentar, aku sudah masak pagi-pagi, kamu kan paling suka nasi goreng buatanku..." kata Andini.
"Itu duku sebelum kita putus," Firlan melepaskan tangan Andini.
"Permisi..." Firlan membuka pintu dan segera menutup.pintunya dari dalam.
"aada saja ketemu dengan orang yang tidak diharapkan!" ucap Firlan seraya pergi ke dalam kamarnya.
Yang pertama kali ia lakukan yaitu membersihkan tubuhnya, dia merasa tidak nyaman dan ingin menyegarkan tubuhnya dengan kucuran air dari shower. Firlan tidak membuang waktu terlaku lama, begitu selesai dia langsung mengeringkan badan dan segera berganti baju. Dia membuang nasi yang kemarin dia masak untuk Vira.
"Aku lapar," ucap Firlan, ia membuka lemari pendingin dan mengambil sebuah apel.
Firlan dengan cepat menghabiskan buah yang terasa sangat segar dan manis di mulutnya, setelah itu dia meneguk air dan segera pergi dari unitnya dengan membawa satu koper berisi baju yang mungkin ia butuhkan selama menjaga Vira di rumah sakit.
Firlan segera keluar sebelum bertemu lagi dengan Andini, dia malas meladeni wanita itu. Sekarang pria itu berjalan tergesa-gesa menuju basement. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan memasukkan kopernya.
"Aku kenkontrakan Vira dulu, aku ambil beberapa baju buat dia ganti nanti," ucap Firlan seraya menekan pedal gas dan melesat keluar menuju jalan raya.
Di tengah perjalanan, ponselnya berdering.
"Halo, Kak Firlan? ini Amartha..." ucap istri dari bosnya, Satya.
"Memangnya Vira sakit? sakit apa? dirawat dimana? apa sakitnya parah? aku tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan mas Satya
..."
"Ah, itu. Iya, Nyonya. Vira sakit dia di rawat di rumah sakit milik anda. Kondisinya saat ini belum begitu baik, tapi semuanya sudah tertangani," kata Firlan.
"Ya sudah, aku akan segera menemuinya. Maaf soalnya ponselnya Vira tidak bisa dihubungi. Maksih ya Kak..." ucap Amartha.
"Kalau bos dengar dia memanggilku Kakak, bisa-bisa tanduknya keluar..." gumam Firlan.
Pria itu semakin menambah kecepatannya, kini tujuannya kontrakan Vira. Beruntung dia memiliki kunci duplikatnya jadi, dia tidak perlu repot-repot meminta kunci dari Vira.
Setelah sampai, dia segera keluar dan mencoba masuk ke dalam. Firlan membuka kamar Vira dan melihat isi lemari kekasihnya itu. Dia mengambil beberapa baju dan memasukannya ke dalam koper milik Vira yang berukuran kecil.
"Apa aku perku memasukkannya juga?" Firlan melihat beberapa benda yang seharusnya tidak ia lihat.
...----------------...
__ADS_1