
"Ibu?" pekik Vira tak percaya.
"Maafkan ibu, Vira..."
"Kok ibu bisa datang kesini?" tanya Vira ia menengok ke arah Firlan.
"Aku yang minta ibu untuk datang, supaya ibu juga tau bagaimana hasil pemeriksaan. Tadi, dokter keluar untuk menjelaskan kondisi Andini yang sebenarnya..." ucap Firlan.
"Dan Ibu sebenarnya juga sempat mendengar percakapan kalian dengan Andini dari celah pintu yang tidak sengaja terbuka," sambung Ratna.
"Maafka ibu, Firlan. Ibu termakan oleh hasutan Andini, dan ibu sadar jika tidak ada alasan ibu untuk membenci calon istrimu. Dan ibu harap kalian mau memaafkan ibu..." ucap Ratna.
Firlan dan Vira memeluk Ratna bersama-sama.
"Semuanya hanya salah paham, Bu. Tapi aku bersyukur dengan kejadian ini, mata hati ibu terbuka. Gadis ini memang menyebalkan, Bu. Tapi ternyata anakmu ini tidak bisa hidup kalau sehari saja tidak berseteru dengan wanita ini!" ucap Firlan dan seketika tangan Vira mencapit pinggang Firlan.
"Aaaaaaaaaaakkkkkhhhh!" Firlan memekik.
"Rasain!" lirih Vira namun bisa didengar Firlan.
"Astaga dipeluk seperti ini kalian bikin ibu sesak napaassss!" protes Ratna.
Firlan dan Vira melepaskan pelukannya pada Ratna.
__ADS_1
.
.
Dan sekarang ini mereka sedang makan siang bersama di sebuah restoran.
"Kau apakan anak ini Vira? sampai dia begitu ngotot kalau dia tidak akan menikah kalau tidak dengan kamu?" ucap Ratna sebelum makanan terhidang di meja.
"Ibu...!" Firlan menatap kesal ibunya.
"Kau sudah berani melotot pada ibu, ya? dasar anak nakal!" Ratna tak segan-segan memarahi putranya di depa calon menantunya. Vira hanya tersenyum kaku.
Apa iya dia segitunya sama aku? Batin Vira.
"Ya sudah, berarti ibu tidak perlu memberi restu, ya? ternyata ucapan kamu kemarin tidak bisa dipercaya," ancam Ratna.
"Ah, bukan seperti itu, Buuuuu..." Firlan mengusap wajahnya.
"Silakan, Tuan, Nyonya..." ucap seorang pelayan yang membawakan berbagai macam makanan.
"Tidak usah dihiraukan lelaki itu!" ucap Ratna seraya memberikan lauk ke piring calon menantunya.
"Iya, Bu..." ucap Vira.
__ADS_1
"Astaga, apa-apaan ini? kenapa aku yang malah dicueki!" kata Firlan.
Vira hanya bisa menahan tawanya melihat wajah frustasi Firlan. Vira bersyukur, akhirnya restu bisa didapat walaupun dengan susah payah.
Vira melihat, Ratna begitu berusaha menerimanya dan ya dia akan berusaha semaksimal mungkin menjadi menantu yang baik.
Vira kembali ke kontrakannya dengan hati yang lebih baik, namun tidak dengan Gusti. Karena semua hal yang Vira lakukan sudah dipantau pria itu.
Dia sudah mendapatkan info tentang
masalah Firlan dan Andini dan juga tentang reatu yang diberikan Ratna pada kedua pasang sejoli itu.
"Apakah aku memang tidak bisa memiliki kamu, Vira?" lirih Gusti di dalam mobilnya. Ia melihat Vira baru masuk ke dalam rumah. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di stir mobil.
"Apa kamu benar-benar mencintai pria itu, Vira?" Gusti bermonolog dengan dirinya sendiri.
Bayangan Gia yang bercengkrama dengan Vira terngiang-ngiang dalam pikirannya. Dia sudah membayangkan betapa bahagianya Gia jika bisa memiliki Vira dalam hidupnya, bagaimana gadis kecil itu akan tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu. Tapi perlahan harapan itu seakan pupus.
Gusti menengok ke arah rumah yang kini mulai terang karena lampu sudah dinyalakan oleh pemiliknya.
Pria itu menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Vira dengan membawa sebingkai rasa kecewa.
...----------------...
__ADS_1