
Gusti segera mengejar Vira yang sudah keluar dari rumahnya. Wanita itu memakai jas hujan yang di selalu ia simpan di dalam jok motor ya.
"Lumayan dingin, ya? padahal udah pakai jaket plus jas hujan..." gumam Vira yang kini sedang mengatur sling tasnya yang kini sudah diselempangkan ke depan. Beruntung tasnya bisa memakai sling atau strap jadi bisa dicangkolin di bahu.
"Nasibnya nih kembang gimana, ya? masukin ke jok aja dah!" Vira membuka jok motornya dan memasukkan bunga yang dibawanya.
Vira menyalakan mesin motornya dan segera menembus hujan yang kini mulai kembalu deras padahal baru beberapa saat tadi sedikit mereda, sedangkan Gusti yang kalah cepat segera mengejar Vira dengan mobilnya.
"Astaga, hari sudah gelap ditambah hujan deras, wanita ini sungguh nekat..." gumam Gusti sembari terus menyetir.
"Coba kalau aku anter, kamu nggak akan merasa kedinginan karena kulitmu nggak akan tersentuh tetesan hujan, Vira..." Gusti menyetir mobilnya mengejar Vira yang sudah terlebih dahulu pergi.
Sementara Vira dengan tangguhnya menerjang hujan yang cukup deras.
"Ya ampuuun, dingin cuy!" Vira tetap melaju dengan kecepatan sedang. Dia harus berhati-hati, apalagi dalam keadaan hujan deras seperti ini.
"Perasaan tadi udah tinggal dikit ujannya, nah aku pulang malah deres lagi, gimana sih?" gerutu Vira, saat ini dia menghentikan laju motornya karena lampu merah.
"Mana masih jauh, lapar juga..." Vira lumayan ngenes. Karena jelas di rumah tak ada makanan, mentok mie instant.
"Ngemie lagi aja deh..." Vira pasrah, kini ia menarik gas motornya lagi ketika lampu hijau menyala.
Sedangkan Gusti yang kini sudah menemukan Vira, merasa lega karena wanita itu sejauh ini berkendara dengan aman.
"Aku harus pastiin dia selamat sampai ke kontrakannya, astaga dia pasti kedinginan!" ucap Gusti sambil terus memperhatikan gerak-gerik Vira.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kini Vira sampai juga di depan kontrakannya. Dia meninggalkan motornya begitu saja di pelataran setelah mengunci stang terlebih dahulu tentunya. Di teras barulah dia melepas helm dan juga jas hujan.
"Masih aja ada yang basah!" Vira membersihkan air yang mengenai wajahnya.
Dengan segera ia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, sedangkan Gusti yang melihat Vira sudah sampai pun merasa bersyukur karena ternyata perempuan itu sudah sampai dengan selamat.
"Dia pasti lapar," ucap Gusti.
Pria itu menekan layanan menu pesan antar, dia mengirimkan beberapa makanan untuk Vira. Yang pasti yang berkuah dan panas. Sekarang pria itu perlahan melajukan mobilnya meninggalkan kontrakan Vira.
.
.
.
Vira yang sudah mandi dikagetkan dengan suara ketukan pintu dari luar.
"Ya sebentaaaaar!" teriak Vira.
__ADS_1
Dan ketika dibuka ternyata kang kurir makanan yang datang ke rumahnya.
"Dengan Mbak Vira?"
"Ada apa ya, Mas?" tanya Vira.
"Mau antarkan makanan, Mbak..." ucap si kurir sambil menyerahkan makanan yang ada di kantong kresek berwarna bening.
"Saya nggak pesen loh, Mas. Mungkin Masnya salah alamat," kata Vira.
"Bener kok, Mbak ini alamat rumahnya. Disini pesanan untuk Mbak Vira Anugrah..." kata si kurir yang mengecek kembali detail pemesanan.
"Dari pak Gusti, Mbak..." lanjut kurir tadi.
"Mas Gusti? kok dia tau aku udah nyampe di kontrakan? jangan-jangan dia ngikutin aku..." gumam Vira sambil matanya mencari mobil milik pria itu, namun tidak ada.
"Gimana, Mbak? ini pesanannya..." ucap mas kurir.
"Eh, iya Mas! maaf," kata Vira yang kemudian menerima paket makanan itu dan sang kurir pun segera pergi.
Vira masuk ke dalam rumah, ia mengunci pintu sebelum pergi ke dapur.
"Dari baunya sih enak ya, pas laper juga..." ucap Vira.
"Kwetiaw goreng?" Vira sudah membuka satu pack makanan yang masih sangat panas. Lalu ia membuka makanan yang lainnya ada gyoza, dimsum dan sup mochi. Semuanya masih panas, Vira pun menuang sup mocholi jahe ke dalam mangkuk kecil.
"Astaga, aku enak-enak makan apakabar mas pacar?" Vira pun segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya dan kembali lagi ke meja makan untuk menikmati makanannya.
Dan ternyata setelah dihubungi nomor Firlan sedang diluar jangkauan.
"Dia ada dimana emang? kok nggak ada sinyal?" gumam Vira.
"Providernya suka ngadi-ngadi emang. Udahlah, nanti juga nelfon kalau udah pulang..." kata Vira.
Wanuta itu dengan lahapnya memakan kwetuaw dengan menggunakan sumpit. Dia menghentikan makanannya saat seseorang menelfonnya.
"Halo," ucap Gusti.
"Ya, halo Mas..." sahut Vira saat mengetahui yang menghubunginya pria gagah yang menyandang status duda di usia muda.
"Makanannya sudah sampai?" tanya Gusti.
"Sudah, makasih. Padahal nggak perlu repot-repot..." ucap Vira yang merasa masih canggung dengan Gusti.
Dia tidak mungkin membuang makanan yabg sudah dikirimkan, karena akan sangat mubadzir, sementara di luar sana ada banyam orang yang kesulitan untuk mencari sesuap nasi. Anggap saja ini rezeki dari tuhan lewat dompetnya mas Gusti, pikir Vira.
__ADS_1
"Makasih kamu udah mau nemenin Gia..." ucap Gusti.
"Iya, sama-sama..." jawab Vira.
"Kalau begitu selamat makan..." ucap Gusti.
Dan sambungan telepon pun berakhir, Vira krmbali menyantap makan malamnya. Perutnya malam ini dimanjakan dengan makanan yang enak.
Setelah menghabiskan semua makanannya, Vira memasukkan motornya ke dalam rumah dan mengunci pagar dan juga pintu.
Haru semakin larut, namun Firlan tak kunjung menghubunginya. Perasaannya mulai kalut.
"Nggak biasanya nggam ngabarin sama sekali," lirih Vira sambil melihat ponselnya.
Ketika wanita itu menghubungi pria yang berstatus kekasihnya itu, hanya suara operator yang menjawab panggilannya.
"Hah, kemana dia? apa sesibuk itu?" gumam Vira sambil melempar asal ponselnya diatas ranjang. Vira pun kini mulai rebahan, sementara matanya menatap langit-langit kamar.
Sementara di tempat lain, seorang pria sedang bersama seorang wanita di daerah pegunungan.
"Ada apa? hanya bicara tidak perlu sampai kesini juga kan?" tanya pria itu.
"Aku hanya menginginkan situasi yang tenang dan tempat yang tepat untuk membicarakan ini..." ucap wanita itu, dia memeluk sang pria dari belakang.
"Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan, Andini. Hubungan kita sudah selesai..."
"Ya dan kita bisa memulainya kembali, Firlan..." kata wanita yang sudah menjadi mantan kekasih Firlan.
Pria itu melepaskan tangan yang melingkar di perutnya. Dan berbalik menatap wanita itu dengan tatapan yang tajam.
Firlan yang sudah lelah karena mengikuti Irwan pun pulang ke apartemennya dengan mengantongi sebuah fakta yang menarik tentang pria yang beberapa tahun ini sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan Ganendra. Saat dia menuju unitnya, pria itu dikagetkan dengan munculnya seorang wanita di masa lakunya, Andini.
"Andini?" Firlan mengerutkan keningnya.
"Firlan kita perlu bicara, penting!" kata Andini.
"Aku lelah, aku ingin istirahat. Besok kau datang lagi saja..." ucap Firlan ketus.
"Sebentar saja, Lan. Please..."
Dan ya Firlan pun akhirnya menghela nafasnya dan berniat membuka unitnya, namun tangannya dicegah wanita itu.
"Bukan disini..." ucap Andini.
...----------------...
__ADS_1