Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Emang Aku Burik?


__ADS_3

Benar juga apa yang dikatakan Amartha, pikir Vira. Ya bagaimanapun saatnya dia yang berusaha bagaimana cara meluluhkan hati calon mertuanya.


"Huuuufhhh..." Vira membuang nafas seraya menyambar boba miliknya.


"Udah deh, percaya aja kalau pintu restu dari ibunya kak Firlan akan segera terbuka buat kalian..." kata Amartha seakan membaca pikiran Vira.


"Heh, kamu belum liat aja sih gimana ekspreai ibunya waktu liat aku. Beeuuh, liatnya dari ujung kaki sampai ubun-ubun aku, tau!"


"Ya mungkin mastiin ubun-ubun kamu ada pakunya apa nggak, gitu!"


"Heh, sembarangan! dikira aku mbak kun, apa! nggak ada tuh mbak kun rambutnya pendek, nggak ada sejarahnya, yaaaa!" Vira sewot.


"Ya elah, baper amat, Vir! hahahahah..." Amartha malah tertawa melihat wajah kesal Vira.


"Eh, Ta. Emang aku burik banget gitu, ya? padahal sebelum aku ketemu camer aku tuh udah perawatan sebadan-badan loh, nih bulu kaki aja aku nggak ada nih..." Vira menunjukkan betisnya.


"Hahahhaaha, astaga! kamu bener-bener totalitas tanpa batas banget ya, Vir! top lah, nggak main-main..."


"Heh! aku tuh nanya aku burik nggak? secara aku udah perawatan berjam-jam, pake mandi krmbang segala loh!" Vira menunjukkan wajahnya.


"Perawatannya kapan, Jeng? kalau sekarang ya udah kucel lagi, orang kamu habis panas-panasan naik motor..." kata Amartha.


"Tapi mungkin pas ketemu camer kamu, kamu lebih bercahaya, kan baru aja digosok-gosok, ya kan? pasti nggak ngecewain lah!" lanjut Amartha.


"Apa mungkin si ayang sebenernya udah dijodohin sama emaknya?" Vira mulai berpikiran yang aneh-aneh.


"Ya kalau itu aku nggak tau, Vir! kan aku bukan dukun!"


"Astagaaa, ini mulut bisa banget ngejawabnya! ketularan suami kamu nih pasti!" Vira menjejalkan takoyaki ke mulut Amartha yang bersiap menimpali ucapannya.


Dan dengan susah payah istri dari Satya Ganendra itu pun menelan makanan yang dimasukkan ke dalam mulutnya.


"Ya ampun ... kejem banget kamu Vir! untung aku nggak keselek!" ucap Amartha yang kini menyeruput minumannya.


"Eh, perut kamu masih aman kan makan jajanan kayak gini?"


"Maksudnya?" Amartha tak mengerti apa yang dimaksud Vira.


"Ya kan kamu udah jadi horang kaya, cimol kan nggak dijual di restoran, jadi aky belinya di pinggir jalan. Ini kamu nggak bonjrot kan makan makanan kaki lima?" tanya Vira jaga-jaga, kalau nanti Amartha diare karena makanan yang dia bawa.


"Ya nggak lah! perut aku mah kan udah biasa makan kayak gini, itu mah bisa-bisanya mas Satya aja. Takut banget makan pinggir jalan, makanya aku minta kamu kesini sekalian ngobrol sekalian aku udah kangen jajanan anak sekolahan kayak gini, Vir..."

__ADS_1


"Wah, aku sih kasian itu gimana nasibnya si Evren!" Vira mebatap Amartha serius. Tiba- tiba saja obrolan mereka sudah beralih topik.


"Nasib Evren gimana? kamu ngomong apaan sih, Vir!"


"Ya iya, anak kamu Evren alamat nggak bakal bisa ngerasain enaknya cimol, cilok, cireng, telur gulung, batagor, ceker dower, pokoknya jajanan yang dijual di depan sekolahan..." kata Vira.


"Jangan-jangan dia nggak bakalan tau rasanya seblak!" lanjut Vira.


"Hahahhaha, ya pun aku kira nasib apaan, ternyata nasib mengenal jajanan sekolah?" Amartha malah tertawa.


"Ya iya, kalau nasib yang lain mah aku yakin bapaknya udah nyiapin semua buat nih anak sultan!"


"Ah, ada-ada aja kamu, Vir. Bisa banget mikir sampe kesitu. Oh ya, kita makan siang, Yuk? aku udah suruh Sasa nyiapin makanan buat kita..."


"Aku lagi males makan nasi, Ta. Aku lagi pengen mie korea yang pedes itu loh!" kata Vira.


"Oh, mie itu. Ada kok, ntar aku suruh Sasa buatin..." ucap Amartha.


Dan mereka berdua pun berpindah ke mejaakan dengan Vira membawa sisa cimol yang masih ada di dalam bowl.


"Sa ... tolong buatin mie pedes ya 2, buat saya sama Vira. Kasih telur dan keju mozarella diatasnya, jangan lupa daun bawang dan crab stick!" suruh Amaryha saat melihat Sasa sedang menyiapkan makanan di meja makan.


"Baik, Nyonya..." ucap Sasa seraya pergi untuk membuatkan mie yang diinginkan majikannya.


"Kamu beneran nggak mau makan nasi? ada udang saos padang sama rolade, terus ada capcay juga nih..." kata Amartha.


"Nggak lah, nanti kalau belum kenyang makan mie, baru deh aku makan nasi..." ucap Vira.


Sedangkan di tempat lain, Gusti sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia duduk di kursi kebesarannya sambil matanya mengecek laporan keuangan perusahaan.


Dan tiba-tiba saja ponselnya berdering.


"Rumah?" Gusti mebgerutkan keningnya. Ia pun segera mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.


"Halo?" ucap Gusti saat panggilan tersambung.


"Ya, h-halo, Tuan!" ucap Penny yang terbata-bata.


"Ada apa?"


"Non Gia, Tuan. Non Gia..." ucap Penny lagi.

__ADS_1


"Ada apa dengan Gia?" Gusti langsung meletakkan dokumen yang ada di tangannya ke atas meja.


"Itu..."


"Ada apa, katakan yang jelas Penny...!" desak Gusti.


"Non Gia demam, Tuan. Dan setelah di cek suhunya mencapai 39 derajat!" tutur Pennya, takut.


"Kaamu tunggui, Gia. Saya akan cepat pulang, segera telfon dokter Anala..." perintah Gusti.


"B-baik, Tuan!" Penny segera menutup telepon itu.


Sedangkan Gusti langsung panik, karena Gia jarang sekali sakit. Gia mempunyai daya tahan tubuh yang sangat baik, karena anak itu tak pernah makan makanan sembarangan, namun itu tak menjadikan Gia menjadi anak yang kebal akan sakit. Padahal tadi pagi, Gia tak menunjukkan tanda-tanda pucat atau semacamnya.


Tak pikir panjang, Gusti segera menyambar kunci mobilnya. Namun, terdengar suara pintu diketuk sebanyak 3x.


"Masuk!" sahut Gusti, ternyata yang datang Naila, sekretarisnya.


"Permisi, Tuan. Rapat hari ini..." ucap sang sekretaris dengan sebuah tablet yabg ada di tangannya.


"Cancel! kosongkan semua jadwal saya hari ini," serobot Gusti.


"Tapi, Tuan..."


"Anak saya sakit, dan saya tidak bisa membiarkannya begitu saja! cancel semua rapat dan reschedule semuanya!" perintah Gusti.


Pria itu segera berjalan engan terburu-buru keluar dari ruangannya. Meninggalkan Naila di ruangannya.


Gusti dengan tak sabaran menekan tombol lift yang masih tertutup, dan ting...


Pintu lift terbuka, tanpa disangka di dalam kotak besi itu ada Vanya.


"Varo..." panggil Vanya.


Dan Vanya pun segera melangkah keluar namun, dengan cepat Gusti malah masuk ke dalam lift.


"Varo, kamu..." belum selesai Vanya bicara, pintu lift sudah tertutup.


"Sial! kemana lagi dia...! aku datang dia malah pergi, menyebalkan!" Vanya menghentakkan kakinya di lantai, dia kesal sekali dengan sikap Gusti yang dinilainya sangat cuek.


Vanya pun berinisiatif untuk lari menuju tangga darurat untuk mengejar Gusti. Dia harus tau kemana perginya pria itu.

__ADS_1


"Ah, sialan! kenapa aku memakai high heels setinggi ini..." keluh Vanya saat merasakan tumit dan betisnya sakit saat menuruni anak tangga.


Dia baru turun satu lantai tapi rasanya ia sudah tidak kuat akhirnya dia memilih keluar di lantai itu dan mencari lift.


__ADS_2