Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Ngambek atau Sibuk?


__ADS_3

"Kok nggak diangkat, ya? ngambek apa emang lagi sibuk, nih?" Vira mencoba menebak kenapa Firlan tak juga mengangkat telepon darinya.


"Ya udah lah, yang penting aku udah nyoba ngehubungin dia. Udah sore mending aku mandi..."


Vira pun beranjak dari tempat tidur dan melesat ke dalam kamar mandi. Nyeri perutnya sudah lumayan berkurang setelah dibawa istirahat cukup lama.


Sedangkan di tempat lain, Firlan memang sengaja mengubah pengaturan di ponselnya ke mode senyap.


Firlan yang datang 15 menit lebih awal, mencoba melihat lihat meja yang kosong.


Dan dari jauh, dia melihat sosok pak Irwan sedang mengobrol dengan seseorang yang sepertinya tidak asing baginya.


Firlan mencoba bersembunyi untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan pak Irwan dengan orang itu.


"Sepertinya aku tidak asing dengan yang ditemui pak Irwan ... tapi siapa, ya?" gumam Firlan yang masih kurang jelas melihat wajah pria yang duduk nembelakanginya, sayangnya Firlan tak dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka.


Dan tak lama kemudian kedua orang itu berdiri, Firlan melihat gelagat aneh dari pak Irwan yang sedikit menunduk hormat pada sosok yang di depannya.


"Siapa orang itu dan kenapa...?" ucapan Firlan terhenti saat melihat sosok pria yang bicara dengan pak Irwan berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Bukankah itu Tuan Kenan?" Firlan terkejut saat melihat sosok Kenan yang pak Irwan temui. Kenan merupakan mantan suami dari Amartha, teman Vira sekaligus istri dari bosnya, Satya Ganendra.


"Sepertinya aku harus mencari tau..." lirih Firlan. Namun, ia tak ingin memberitahu Satya sebelum ia mendapatkan sebuah fakta mengenai hubungan Irwan dengan Kenan, karena melihat dari gestur dari pak Irwan jelas pria itu sangat menghormati sosok Kenan.


Setelah Firlan memastikan semua aman, barulah Firlan muncul seolah-olah dia mengetahui pertemuan pak Irwan dan juga tuan Kenan.


"Selamat sore, maaf saya terlambat..." ucap Firlan saat pak Irwan akan duduk. Pria yang usianya masih muda itu mempersilakan Firlan untuk duduk.


"Ah, tidak terlambat. Tapi saya yang sengaja datang lebih awal..." jawab pak Irwan.


"Sebelumnya, tuan Satya meminta maaf karena beliau tak bisa datang dan beluau mengutus saya untuk menemui anda, Tuan..." jelas Firlan.


.


.


.


Vira yang sudah segar berjalan ke lrmari pendingin. Ia mrngeluarkan cake dan juga puding yang ia dapat dari Gusti.

__ADS_1


Wanita itu membawa kedua makanan itu ke atas meja makan, dia menggeser kursin dan duduk untuk menikmati desert yang sangat menggiurkan.


"Hmmm, gila pudingnya lembut banget..." Vira merasakan lidahnya sangat dimanjakan saat memakan puding rasa coklat vanilla yang ada di sebuah wadah berbentuk gelas, dengan kucuran vla vanilla yang membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Suwer, ini bikin nagih banget nggak sih! apalagi vlanya juara banget," ucap Vira. Ia memasukkan kembali puding ke dalam mulutnya.


Secepat kilat wanita itu menghabiskan puding itu kemudian sekarang ia beralih pada sebuah cake berwarna hijau.


"Baunya kayak es teller..." ucap Vira.


Vira pun segera mencicipi cake dengan rasa minuman yang sangat familiar. Wanita itu tak berhenti memuji makanan yang ia makan.


"Ini mah enak banget, cake nya suwer! aku yakin harganya nggak kaleng-kaleng," Vira sepertinya sangat ketagihan dengan apa yang sedang dinikmatinya.


Bahkan tak butuh waktu lama dan tanpa adegan keseretan, Vira sudah menghabiskan makanannya. Ketika sedang ada tamu bulanan, Vira akan kalap makan. Rasanya tubuhnya membutuhkan asupan yang banyak untuk mrnggantikan energi yang terkuras karena menahan sakit seharian.


Sementara Vira yang masih duduk di mrja makan mulai melihat makanan yang ia taruh diatas meja. Karena Gusti membelikannya cukup banyak makanan, jadi rasanya mubadzir kalau tidak dimakan.


"Ada nasi juga ternyata..." ucap Vira yang melihat raice bowl dengan ayam krispi saus mentai.


Padahal perutnya sudah memuat cake dan puding, tapi melihat makanan yang ada di hadapannya saat ini membuatnya ingin melahap makanan itu lagi.


.


.


"Anda sepertinya sedang sangat bahagia, Tuan?" tanya Vandra, asisten Gusti di kanto, menyodirkan sebuah dokumen untuk Gusti tanda tangani.


"Hahahaha, apakah terlihat seperti itu, Ndra?" tanya Gusti, ia pun membaca sekilas dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas.


"Semua orang juga bisa menebak seperti itu ketika melihat senyum di wajah anda, Tuan..." ucap Vandra sembari mengambil lagi dokumen dari atas meja.


"Kau ini ada-ada saja!" kata Gusti.


"Sudah jam pulang kantor, kau pulanglah jangan terlalu sering lembur..." lanjut Gusti yabg bersiap akan pulang.


"Baiklah, saya permisi..." ujar Vandra yang berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.


"Apakah sangat terlihat kalau aku begitu senang hari ini?" gumam Gusti.

__ADS_1


Pria itu pun segera bersiap untuk pulang, ia menutuskan untuk pulang tepat waktu hari ini. Dia ingin makan malam diluar bersama Gia, dia ingin meluangkan sedikit waktunya untuk putri kecilnya.


Di dalam mobil, Gusti sempat berpikir untuk membelikan Gia sesuatu. Namun ia mengurungkan niatnya itu, karena sudah pasti dia akan sampai di rumah lebih lama dan itu sama saja dia tidak pulang tepat waktu.


"Semoga tuhan membukakan jalan aku buat lebih dekat dengan kamu, Vira. Aku yakin Gia akan bahagia jika kamu mau menjadi ibu sambungnya..." Gusti bermonolog dengan dirinya sendiri.


Pria itu mrlajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mobilnya kini bergabung dengan kendaraan lain yang membuat jalanan semakin macet.


Gusti menyetir sambil menikmati lagubyang mengalun di dalam mobilnya, sementara matahari terus bergerak ke arah barat dengan meninggalkan semburat jingga di angkasa.


Sejenak ia teringat pada mendiang istrinya yang suka sekali dengan langit jingga.


"Lihatlah Sayang, itu langit jingga kesukaanmu..." tanpa sadar Gusti mengucapkan itu yang ditujukan pada seseorang yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Gia.


Dan setelah lumayan lama berkendara, akhirnya Gusti sampai juga di rumahnya.


"Silakan, Tuan!" ucap kang satpam yang segera membukakan gerbang yang menjulang tinggi untuk majikannya.


Gusti pun segera memarkirkan mobilnya di pekataran rumahnya, dan supir pribadinya segera menghampirinya setelah mengetahui majikannya telah datang.


"Tolong pindahkan..." ucap Gusti pada supir pribadi Gia, ia menyerahkan kunci mobilnya.


"Baik, Tuan..." ucap si supir seraya menerima kunci dan segera masuk ke dalam mobil itu.


Gusti segera masuk ke dalam rumah, ia melihat jam di arlojinya masih menunjukkan pukul 5 sore.


"Silakan, Tuan..." ucap salah seorang pelayannya saat membukakan pintu untuk sang majikan


"Bik, Gia dimana?" tanya Gusti.


"Ada pinggir kolam renang, Tuan..."


"Bersama dengan Penny, kan?" tanya Gusti, memastikan keamanaan putrinya.


"Benar, Tuan. Nona sedang makan buah disana bersama dengan Penny..." jawab pelayan itu.


"Baiklah, terimakasih, Bik..." ucap Gusti.


"Oh, ya buatkan saya minuman dingin ... bawa ke kolam renang," suruh Gusti, pria itu pun berjalan menuju temoat dimana putri kecilnya berada.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2