
Awalnya Firlan ingin memasakkan sesuatu untuk Vira. Tapi masak sendiri terasa kyrang bersemangat, akhirnya ia pun memilih untuk memesan makanan dan diantarkan langsung ke apartemennya.
"Astaga, dia tidur atau pingsan, sih? udah malem loh..." ucap Firlan.
Pria itu pun melangkah untuk mandi di kamarnya. Dia melihat Vira masih terlelap dengan posisi tidur yang sama, sepertinya dia tak bergerak dari posisinya.
"Terlalu nyaman apa gimana, sih?" Firlan gelebg-geleng kepala, sebelum melesat ke kamar mandi.
Dia cuek saja mandi sementara ada wanita di kamarnya. Firlan sengaja berendam denfan air hangat untuk merilekskan kembali otot-ototnya yang terasa tengang.
Karena teringat Vira, pria itu pun segera membilas tubuhnya dan mengakhiri acara mandinya. Dia keluar dengan bathrobe putih, dengan handuk kecil yang ia gosokkan di kepalanya.
"Ya ampun, senyenyak itu ya kamu, Sayang...?" ucap Firlan.
Tanpa bisa dihalangi, ada satu dua tetes air yang jatuh dari rambut Firlan yang masih basah.
Vira pun mengerutkan keningnya, dia mengusap wajahnya yang terkena air. Perlahan ia membuka mata dan melihat satu sosok tampan tepat di depannya.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap Firlan lirih.
Bukannya menjawab, Vira malah terpaku pada wajah yang ada di hadapannya. Tangan Vira terangkat dan menyentuh wajah yang sangat segar.
"Kok mimpinya kayak nyata gini, ya?" Vira yang masih setengah sadar, mengira kalau dirinya masih berada di alam mimpi.
Dia menatap dua bola mata yang terkadang memandangnya dengan sangat tajam. Tangannya yang semula menyentuh pipi, kini menyentuh bagian yang lain. Vira menggerakkan satu jarinya dari dahi, hidung hingga bibir.
Dan satu tetes air dari rambut Firlan membuatnya mengelap lagi pipinya. Namun, Firlan segera mencegahnya, pria itu menahan tubuhnya dengan satu tangan sedangkan tangan satunya menyeka air di wajah Vira. Dan dia mengecup lembut kening wanitanya.
Menyadari semuanya seperti nyata, Vira segera mendorong tubuh Firlan. Dia segera mencubit pipinya sendiri.
"Aaaaaaawkkjh! sakit!" Vira mengaduh kesakitan.
"Astaga, berarti aku lagi nggak mimpi? ah, coba sekali lagi!" Vira kini mencubit tangannya.
"Aaaawkkjh! sakit juga, emh jadi ... ini qku udah beneran bangun?" Vira mencoba mengembalikan kesadarannya.
Dia yang kini duduk melihat ke atmrah Firlan yang hanya memakai bathrobe.
"Kamu mau ngapain? kok pakai kayak gitu?" Vira menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Aku? ngapain? aku nggak ngapa-ngapain. Kayaknya kamu masih ngelindur," Firlan mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Vira.
__ADS_1
Pria itu mendekat dan menarik wajah Vira mendekat padanya.
"Aku mau ganti baju, sebaiknya kamu keluar..." ucap Firlan setengah berbisik.
Vira yang merinding dengan ucapan Firlan langsung turun dari ranjang dan kabur keluar. Sedangkan pria itu tertawa melihat Vira yang begitu ketakutan.
.
.
"Astaga, nggak tau malu banget emang! udah tau ada aku malah pakai kayak gitu doang!" Vira mengomel di ruang tivi.
Namun sesaat wanita itu baru teringat, "Tapi bukannya terakhir aku ada disini ya? kenapa jadi tidur di dalam? apa Firlan yang bawa aku kesana?" Vira bertanya pada dirinya sendiri.
Vira mengedarkan pandangannya dan ia memicing saat melihat korden yang super tinggi itu.
Wanita cantik itu menyibak sedikit korden berwarna cokelat, keningnya mengerut.
"Udah malem? berarti aku tidur lama banget dong?" gumam Vira yang kemudian berjalan kembali menuju sofa.
Tapi baru saja ia ingin duduk, perutnya berbunyi.
Kruuuukkk.
"Ya ampun, baru juga majikan baru bangun yang di dalem perut udah minta jatah aja. Sabar napa, bos!" gumam Vira pada cacing di perutnya.
Karena tuntutan perut yang sudah meminta sesuatu untuk di cerna, Vira melangkah ke dapur. Namun ia terpaku pada satu box pizza berukuran besar.
"Kak Firlan yang pesen?" gumam Vira sambil membuka box pizza itu.
"Iya aku yang beli, kamu udah laper? biar aku panasin dilulu di microwave..." ucap Firlan yang sudah selesai memakai bajunya dan kini berjalan mendekat pada Vira.
"Keburu laper!" kata Vira yang mengambil satu potong Vira dan melahapnya.
"Mana enak kalau dingin seperti itu?" kata Firlan.
"Aku panasin dulu yang lainnya..." kata Firlan yang memindahkan isi pizza dan memasukkannya ke dalam microwave. Sedangkan Vira sedang duduk dan menikmati sepotong pizza dengan toping daging dan keju kesukaannya.
"Pelan-pelan aja, nih minum jangan sampai keselek!" Firlan menyodorkan satu gelas minuman rasa jeruk.
"Makasih, tau aja udah seret!" kata Vira yang kini menyambar minuman orange-nya.
__ADS_1
"Nah, gitu. Nggak usah diet-diet. Kalau laper ya makan," kata Firlan, Vira hanya mengangguk.
Semenjak berbaikan dengan Firlan gadis itu kini terlihat lebih segar daripada biasanya. Mungkin karena jadwal makannya yang mulai teratur tidak seperti biasanya yang amburadul dan lebih sering makan makanan selain nasi.
"Kamu tidur lama banget tau, Ay!" kata Firlan yang mengeluarkan pizza dari mesin pemanas makanan miliknya.
"Nggak tau, capek kali..."
"Capek atau terlalu nyaman tidur di kamarku? ssh, baru kamarnya, apalagi kalau ada aku disamping kamu? kayaknya kamu bisa tidur seharian..." kata Firlan seraya menaik turunkan alisnya.
"Uhuukkk!" Vira tersedak karena mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Hahahahaha, nggak perlu salah tingkah seperti itu, Vira..."
"Dih, pede banget! emang kasurnya empuk dan nyaman itu aku akui, tapi kalau sama orangnya aku nggak yakin..." Vira membantah ucapan Firlan.
"Buktinya aku pandangin aja kamu udah terhipnotis, udah nggak bisa bedain kenyataan dan mimpi. Iya kan?" Firlan tersenyum dan menaruh pizza di piring dan berdiri di samping Vira.
"Dih pede banget!"
Pria itu menarik tangan Vira yang sudah tak memegang pizza, dia menyuruh Vira berdiri. Dan secepat kilat ia mengambil alih tempat duduk Vira dan memaksa wanita itu untuk duduk dipangkuannya.
"Makanya aku pengen cepet nikah sama kamu, supaya kamu bisa liat wajah ganteng aku setiap hari..." ucap Firlan.
"Wajah jutek kali," celetuk Vira.
"Apa kamu bilang? wajah jutek? sini, coba liat baik-baik, wajah bak malaikat seperti ini kamu bilang jutek?" Firlan mengangkat tangan Vira agar menyentuh wajahnya.
"Kalau malaikat wajahnya kayak gini, manusia pada kabur. Takut, takut dimarahin..." ledek Vira.
"Udah berani ngeledek rupanya ya?" Firlan menggesekkan hidungnya dengan hidung Vira, ia gemas dengan wanita yang ada di pangkuannya saat ini.
"Kamu masih laper nggak?" Firlan mengambil satu pizza dan mengarahkannya pada mulut Vira.
"Masih lah, kan baru makan satu potong!" ucap Vira seraya menggigit pizza yang ada di depannya.
"Kamu juga makan," Vira mengarahkan pizza yang ada di tangan Firlan ke mulut pria itu.
"Lebih enak rasanya karena makannya berdua sama kamu!" ucap Firlan.
"Heleeeeehhh, dasar kang ngerayuuu!" ucap Vira seraya melingkarkan tangannya ke leher Firlan, wanita itu tak bisa menyembunyikan senyumannya.
__ADS_1
...----------------...