
Dan tiba-tiba saja, pintu terbuka. Seseorang menyalakan lampu.
"Zanna?" pekik Vira saat melihat Zanna yang sedang berduaan dengan seorang pria dalam keadaan yang gelap.
Firlan yang menyadari kalau wanita yang ada di hadapannya bukan kekasihnya pun segera melapaskan wanita itu.
"Kamu...!" pria itu membulatkan matanya tak percaya. Ia segera berbalik ke belakang dan melihat Vira yang berdiri diambang pintu.
"Ayang?" ucap Vira tak percaya, ternyata sosok pria yang ia lihat sedang bersama Zanna dengan jarak yang cukup dekat, bahkan terlalu dekat itu adalah kekasihnya.
"Kalian sedang apa?" Vira menggeleng tak percaya.
"Ay, ini nggak seperti yang kamu lihat..." Firlan mencoba mendekat namun Vira segera berbalik dan segera pergieninggalkan tempat itu.
"Sial! kenapa penampilanmu ... argghh!" Firlan menunjuk wajah Zanna.
"Vira .... Viraaa!" Firlan memilih untuk mengejar Vira daripada harus memarahi Zanna.
Vira yang awalnya datang karena ingin mengambil tasnya yang masih tertinggal di toat lesnya pun merasa. sangat shock dengan apa yang ia lihat.
Vira berjalan keluar, dia mencoba menyetop taksi. Namun, Firlan segera mencegahnya.
"Vira ... Vira! ku salah paham..." kata Firlan.
"Awas, aku mau pulang..." Vira mencoba melepaskan tangam Firlan dari lengannya. Ia berusaha untuk menghentikan taksi yang sedari tadi tak ada yang mau berhenti.
"Aku anterin kamu pulang,"
"Nggak, aku mau sendirian. Kamu pulang aja sendiri..." kata Vira.
"Nggak! kamu harus pulang sama aku!" Firlan menarik paksa tangan Vira dan memasukannya ke dalam mobil.
"Buka, nggak?"
"Nggak!" jawab Firlan.
Vira berusaha membuka pintu mobil, namun sayang sudah dikunci lebih dulu oleh Firlan. Pria itu malah melajukan mobilnya dan meninggalkan seorang wanita dengan bunga lili di tangannya.
Zanna yang masih di ruangan pun hanya bisa menghela nafasnya.
"Kamu sendiri yang memelukku, mendekat padaku..." ucap Zanna sambil melihat bunga lili putih kemudian menciumnya, merasakan aroma harum yang menenangkan dari bunga itu.
__ADS_1
Sementara Vira memandang jalanan dari luar jendela.
"Ay?" panggil Firlan.
"Diem!" suruh Vira.
"Aku nggak pengen denger kamu ngomong," lanjut Vira.
Firlan hanya menghela nafasnya, dia sangat ingin menjelaskan dan menyudahi kesalahpahaman ini tapi jangankan bicara, Vira bahkan tidak mau melihat ke arahnya.
Firlan merasa sangat bodoh mengapa ia begitu ceroboh, beruntung dia hanya memeluk wanita itu.
Firlan membawa Vira ke apartemennya, walaupun Vira terus saja mencoba untuk kabur. Tapi pria itu segera menggendongnya sampai masuk ke unitnya.
"Lepas! kamu tuh nyebelin tau nggak!" ucap Vira saat mereka sudah di dalam unit milik Firlan. Pria itu menurunkan Vira di sofa kamarnya.
"Aku mau pulang..." Vira segera bangkit namun lagi-lagi ia dicegah Firlan. Pria itu bahkan mengunci pergerakannya.
"Mau apa?" tanya Vira.
"Mau jelasin semuanya,"
"Apa yang mau dijelasin?" tanya Vira.
"Vira..." Firlan memanggil nama Vira dengan lembut.
"Maafin aku, aku ceroboh. Harusnya aku pastikan dulu kalau itu kamu. Walaupun aku sempat curiga dengan wangi parfum yang berbeda, aku emang bodoh. Aku terlalu senang buat nyampein ke kamu kalau minggu ink aku mau datang ke rumah, aku mau ngelamar kamu di depan keluarga..." jelas Firlan, sedangkan Vira memejamkan matanya.
Vira memang tak bisa menyalahkan Firlan sepenuhnya karena tadi pagi juga dia sempat familiar dengan potongan rambut bahkan cara berpakaian Zanna yang sedikit berbeda.
"Vira..." panggil Firlan.
"Awas, aku engep tau!" Vira mendorong nadan kekasihnya yang terasa menghimpit.
"Janji dulu nggak bakal kabur!" kata Firlan.
"Iya, nggak. Awas, aku engep banget akh!"
Akhirnya Firlan melepaskan Vira dan sekarang mereka memperbaiki posisi duduknyaa. Hanya Vira sedang tidak mood dekat-dekat dengan Firlan untuk saat ini.
"Kemarin kamu sendiri yang bilang harus saling percaya, sekarang aku udah jelasin masa kamu nggak mau percaya sama aku, Vir?"
__ADS_1
"Percaya sih percaya, tapi aku masih kesel. Jafi mending aku pulang dan nenangin diri dulu, baru kita bicara lagi setelah itu..." ungkap Vira.
"Nggak, aku nggak mau biarin kamu pergi. Kamu tetep disini sama aku," Firlan bersikeras.
"Kalau kamu butuh waktu aku akan kasih. Tapi nggak dengan meninggalkan tempat ini..." Firlan bangkit dan berjalan ke arah pintu. Ia meninggalkan Vira di kamar miliknya sendirian.
"Astaga, kenapa jadi seperti ini?" Vira memijit keningnya, ia menyandarkan kepalanya di sofa.
"Kenapa dia memotong rambutmya seperti itu, dan kenapa dia diam saja ketika dipeluk? apa dia memang menyukai Firlan?" Vira bicara sendiri.
"Ck, padahal aku suka dengan cara kerja dia. Tapi kenapa malah ada krjadian kayak gini? terus aku harus gimana? aku pusing!" Vira berjalan ke arah tempat tidur sambil memegangi perutnya yang sakit. Keringat mulai bermunculan dan membasahi keningnya, dia lupa menjatuhkan obatnya dimana. Karena ketika masuk ke dalam mobil Firlan, dia thanya memegang dompet dan juga ponsel.
Sedangkan Firlan yang berada di ruang tengah, merasa sangat kacau.
"Kenapa dia berpenampilan seperti Vira! astaga, Firlan Firlan! baru kali ini kamu bisa terkecoh! kenapa aku begitu ceroboh!" Firlan mengumpat dirinya sendiri.
"Semoga Vira mau percaya sama aku dan hal ini nggak mengacaukan rencana aku dan Vira untuk bertunangan..."
Pria itu pergi ke dapur, ia ingin mengambilkan air untuk Vira.
"Aku akan buatkan dia makanan, mungkin itu akan membuat hatinya menjadi lebih baik..."
Firlan mengeluarkan semua bahan makanan yang ada di dalam lemari pendingin. Dia membuat rice bowl untuk dirinya dan Vira.
Dia memotong sayuran untuk ia jadikan salad dan juga mulai memasak chicken teriyaki. Belum ada tanda-tanda Vira keluar dari kamar, mungkin dia mamg benar- benar ingin sendiri.
Pria itu fokus dengan masakannya, dia mencoba membuat sesuatu yang mungkin bisa diterima oleh Vira.
Setelah makananya jadi, Firlan membawakan makanan dan minuman ke dalam kamar. Ia mengetuk pintu, namun tak ada jawaban.
"Apa dia sedang tidur atau..." gumam Firlan.
"Vir ... Vira...! aku masuk ya...?" seru Firlan. Perlahan ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Ternyata Vira sedang berbaring di ranjang, Firlan menaruh nampan di atas meja dekat sofa dan ia berjalan mendekat ke arah kekasihnya.
"Vir ... aku buatin kamu makanan," Firlan mencoba membangunkan Vira namun ia tak juga bergeming.
"Vira, bangun ... kita makan dulu," ucap Firlan membujuk supaya wanita itu mau makan.
Dan ketika Firlan mencoba untuk membalik badan Vira, wajah gadis itu sudah pucat. Bahkan keringat membasahi wajahnya, Firlan yang melihat kondisi Vira sedang tidak baik-baik saja pun akhirnya panik.
"Vira? Vira? bangun Vir!" Firlan menepuk pipi Vira berkali-kali.
__ADS_1
...----------------...