Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Kalut


__ADS_3

"Mungkin Ibu tidak menyukaiku, mungkin aku bukan calon menantu yang Ibu harapkan. Tapi satu hal yang aku yakini, kalau Firlan tidak akan melakukan hal seperti itu..."


Ucapan Vira terngiang-ngiang di dalam pikiran Ratna.


"Wajahnya begitu tenang, tidak ada raut ketegangan sedikitpun. Aku memang tidak begitu menyukainya sejak awal, dan aku tidak tau mengapa aku sulit sekali menerimanya sebagai calon menantu..." gumam Ratna sembari menatap langit-langit kamarnya.


Kini bayangan Vira tergantikan oleh bayangan Andini, wanita yang tadi siang menemuinya. Dia menangis bersimpuh di bawah kakinya.


"Hey, apa yang kamu lakukan!" seru Ratna.


"Tolong saya, Tante..."


"Kamu siapa, saya tidak mengenalmu. Jangan seperti ini, bangunlah...!" Ratna berusaha menyuruh wanita itu berdiri.


"Duduklah, dan jelaskan kamu siapa dan aa tujuanmu datang kemari. Hapus air matamu dan bicaralah dengan jelas!" suruh Ratna.


Andini mengambil beberapa lembar tisu, dan mulai menceritakan kisah pilunya. Ratna yang mendengar kalau wanita yang ada di depannya ini mengandung anak dari putranya, punerasa dunia sedang dijungkir balikkan. Saat itu, Ratna tidak bisa berpikir. Dia hanya ingin secepatmya mendapatkan penjelasan dari putra semata wayangnya.


"Bagaimana saya bisa percaya kalau kamu memiliki hubungan dengan anak saya?" tanya Ratna.


Andini pun membongkar isi ponselnya, dia memperlihatkan beberapa foto yang sengaja ia ambil sewaktu dia dan Firlan bersama dalam satu mobil, waktu itu Firlan sakit dan Andini memaksa untuk membantu menyetir.


Ratna merasa kepalanya sangat pening, dan memutuskan untuk menyuruh Firlan datang selepas pulang kerja. Sementara Andini menunggu dan istirahat di kamar tamu.


Dan akhirnya pertemuan itu terjadi pada malam harinya, Ratna tidak menyangka Firlan akan membawa serta Vira bersamanya. Namun, karena amarah yang sudah memuncak Ratna pun mengatakan hal yang seharusnya ia bicarakan berdua dengan putranya di hadapan Vira.


Namun, siapa sangka gadis yang ia remehkan itu justru tidak terbakar emosi. Dia bahkan dengan tenang mengatakan jika ia percaya penuh pada Firlan dan bersedia untuk melepas hubungan mereka jika apa yang Andini katakan itu terbukti kebenarannya.


Ratna kini mencoba memejamkan matanya dan berusaha untuk beristirahat.


Sedangkan di tempat lain.


Vira sudah berada di dalam kamar kosannya, tal ada pembicaraan lanjutan antara dirinya dan Firlan di dalam mobil.


"Aku yakin, Firlan itu pria baik-baik. Selama ini dia menghormatiku sebagai wanita, dia dengan gentle meresmikan hubungan kita di depan keluarga, dan itu tandanya dia nggak main-main..." gumam Vira di depan cermin. Dia seakan berdialog dengan dirinya sendiri.


"Aku yakin nih pasti akal-akalan si mantan nggak indah itu! lagian, kalau cinta kenapa dulu dia malah milih pria lain? aneh!" Vira kini beranjak dan berjalan menuju ranjangnya.


"Kalau calon mertua restunya setengah- setengah jadinya kayak gini," Vira menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang empuknya.


Vira berusaha untuk tetap percaya dengan Firlan.


"Kalau orang mau nikah, ada aja cobaannya..." Vira menghela nafasnya, mengeluarkan semua beban yang ada di hatinya.

__ADS_1


Bayang-bayangnya tertuju pada pria yang sudah ia yakini setia padanya.


Sementara Firlan menelepon seseorang untuk mengikuti dan menyelidiki Andini.


"Ikuti kemanapun dia pergi, dan beritahu aku siapa saja yang dia temui. Jangan lupa, jika ada yang mencurigakan segera hubungi aku!" perintah Firlan.


"Siap, Tuan!" ucap orang diseberang telepon.


Firlan memutus panggilan itu secara sepihak. Pria itu memijit keningnya.


"Apa yang diinginkan wanita itu? aku yakin ada sesuatu yang menjadi tujuannya, tidak mungkin dengan tiba-tiba dia datang dan ingin kembali!" Firlan membuka pintu balkonnya. Dia memandang ke langit sambil berpegangan pada besi yang mengelilingi balkonnya.


"Jika dia pikir dia bisa memisahkan aku dan Vira dengan cara bodoh seperti itu, dia salah besar!" rahang Firlan mengeras, rasanya tidak sabar untuk menampar wanita itu dengan bukti-bukti yang dia temukan nantinya.


.


.


.


Beberapa hari berlalu. Vira membatasi pertemuannya dengan Firlan untuk sementara waktu.


Siang ini dia tidakengajar, dia malah dudum di cafe sendirian sedang ditemani iced coffee latte kesukaannya.


Wanita itu tak mengerti bagaimana cara Firlan meminta restu dari ibunya sehingga waktu itu Ratna mau datang ke rumah dan memintanya menjadi menantu.


"Dijalani berat, ninggalin apalagi? terus aku harus ngapain sekarang?" Vira mengaduk-aduk minumannya.


"Huuuuuuufhhhh, makin nggak jelas kayak gini. Nasib ... nasib..." kata Vira.


Vira nenjadi kurang bersemangat, dia bahkan kurang fokus ketika mengajar. Makanya dia pergi dan mencari angin di luar, setidaknya bisa mengurangi sedikit beban pikirannya saat ini. Menikmati musik, minum kopi dengan sepotong kue di piring.


"Sendirian?" tanya seseorang yang terdengar familiar.


"Mas Gusti?" Vira mengernyitkan keningnya.


"Boleh aku duduk?"


"Duduk aja," sahut Vira.


Gusti melambaikan tangannya pada seorang pelayan untuk memesan minuman.


"Lagi nunggu temen atau gimana?" tanya Gusti.

__ADS_1


"Nggak sih, aku emang sengaja kesini buat mibum es kopi. Kalau Mas Gusti sendiri?" tanya Vira yang sedang banyak pikiran, namun berusaha menutupinya.


"Aku habis ketemu sama rekan bisnis, aku duduk disana dan kebetulan liat kamu disini sendirian. Aku kira aku salah liat, tapi ternyata emang beneran kamu..." jelas Gusti.


Tak lama pesanan Gusti pun datang.


"Lemon tea-nya, Tuan...".


"Terima kasih," kata Gusti pada pelayan yang mengantarkan minuman untuknya.


Gusti memin sedikit ice lemon tea miliknya.


"Kayaknya lagi ada yang kamu pikirkan..." tebak Gusti.


"Siapa? aku? aku, nggak ada kok. Nggak ada yang lagi dan akan dipikirin. Sejauh ini aku nggak ada rencana buat mikirin sesuatu... " sahut Vira, dia mencoba tersenyum.


Bibir kamu bilang kamu tidak sedang memikirkan sesuatu, tapi sorot mata kamu berkata lain, Vira. Kamu payanh dalam urusan berbohong, batin Gusti.


"Aku baru tau kalau mikirin sesuatu perlu direncanain? jangan-jangan kalau aku mau mikirin kamu juga harus ijin sama kamu. Boleh nggak hari ini kau mikirin kamu, Vira?" ucap Gusti.


Vira tertawa kecil, "Ya nggak gitu juga kali..."


"Nah gitu dong ketawa! daritadi asem banget tau mukanya," kata Gusti.


"Mas nggak balik ke kantor? bukannya jam makan siang udah habis, ya?" tanya Vira.


"Jadi kamu ngusir aku nih ceritanya?"


"Nggak, nggak kok! bukan maksud aku buat..."


"Hahahah, nggak usah panik gitu juga kali, Vir! aku lagi males balik ke kantor. Hari ini kebanyakan jadwal ketemu orang di luar, lagian supaya nggak bosen juga..." kata Gusti.


"Bos mah bebas, ya?"


"Ya kayak kamu ini. Kamu juga ninggalin tempat les, kan? dan malah mojok disini sendirian..." Gustiembalas perkataan Vira.


"Iya juga, sih. Bedanya kamu bos di perusahaan besar dan aku bos di tempat privat yang kecil..." kata Vira.


"Eits, jangan salah. Sesuatu yang besar berawal dari sesuatu yang kecil bahkan mungkim yang dianggap remeh oleh orang lain. Jadi jangan pernah minder dengan apa yang kita punya, kita malah harus bangga dan yakin kalau dengan kerja keras, usaha kita akan semakin berjaya..." kata Gusti.


"Betul, terkadang di mata kita hal itu begitu sederhana tapi di mata orang bisa jadi itu sesuatu hal yang sangat berarti, aku benar kan?" ucap Vira mencari dukungan.


"Ya bisa jadi seperti itu..." ucap Gusti.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2