
Dan benar saja, Firlan sampai di tempat itu dengan waktu tak kurang dari 15 menit.
Pria itu sangat senang karena bisa bertemu dengan Vira sore ini.
"Vir..." Firlan menyentuh pundak Vira dari belakang.
"Hemmm," Vira hany berdehem.
Vira menyodorkan vanilla latte pada Firlan yang duduk di hadapannya.
"Makasih. Habis belanja bulanan?" tanya Firlan.
"Udah tau pake nanya,"
"Aku nggak nanya tapi mastiin," Firlan ngeles aja.
"Udah makan belum, aku laper nih. Makan, yuk!" Firlan menepuk perutnya dari luar jas.
"Makan aja, aku masih kenyang..."
"Ya ampun, Vir! teganya dirimu teganya teganya teganya..."
"Dih, najong!" Vira memasang muka masamnya.
"Ditinggal bos tuh kerjaan numpuk, sampai lupa kalau belum makan siang tau-tau udah sore aja," Firlan nyerocos.
"Kenapa nggak lupa napas sekalian?" Vira nyeletuk.
"Kalau ngomong suka nggak dipikir nih bocil, sabar ... sabar ya Allah!" Firlan hanya bisa bergumam dalam hatinya.
"Vira ... balikan, yuk?" Firlan langsung aja nembak Vira.
"Balik aja sendiri,"
"Ba-li-kan, bukan balik!" Firlan mulai tak bisa menahan emosinya, sedangkan Vira tersenyum tipis.
"Tuh kan emang masih emosian, mau ditutupi kayak gimana juga pertahanan itu akhirnya jebol juga!" batin Vira melirik Firlan yang sedang menyeruput coffee latte-nya.
"Baru pulang ngajar langsung belanja?" Firlan nanya, Vira bisa melihat bagaimana usaha pria itu yang berusaha bertanya dengan suara selembut mungkin.
"Ya begitulah," Vira menjawab singkat, ia tidak memberitahu bahwa dia habis bertemu dengan Ricko dan calon istrinya, apalagi tentang makan siangnya bersama Gusti dan Gia. Bisa runyam urusannya.
"Recruit-lah satu atau dua pengajar lain, supaya kamu nggak kecapean," usul Firlan.
"Bagaimana caranya?" kali ini Vira berpikir sepertinya ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan Firlan. Ia sudah sangat membutuhkan seseorang yang bisa membantunya.
"Nanti aku akan bantu, itu urusan yang kecil buatku. Kamu tinggal menyeleksi orang yang sekiranya layak menurutmu," ucap Firlan.
"Baiklah, terima kasih..."
Dan setelah perbincangan itu, Firlan memaksa Vira untuk menemaninya makan di restoran pizza.
__ADS_1
"Kamu nggak makan? bukannya ini menu kesukaan kamu?" Firlan menunjuk pizza dengan lelehan keju mozarella diatas nya.
"Ayolah, nggak usah malu-malu ngeong!" Firlan menjejalkan satu potong pizza ke mulut Vira.
"Aku bisa makan sendiri," Vira mengambil pizza yang ada di tangan Firlan.
Pria itu tersenyum saat melihat Vira yang ikut makan bersamanya, dia juga menyodorkan minuman berwarna biru kesukaan wanita itu.
"Vira? bagaimana keadaan Om dan Tante?" tanya Firlan yang sudah lama tidak bertemu dengan Raharjo dan juga Dewi, orangtua Vira.
"Baik,"
"Kalau hati kamu?"
"Sakit! apalagi kalau deketan sama kamu," jawab Vira.
"Aku nggak ada apa-apa sama Alia, Vira. Ya emang dulu aku sempat minta bantuan dia, tapi itu semua supaya bikin kamu cemburu, biar kamu nggak deket sama Ricko..." jelas Firlan.
"Masa, sih?"
"Apa aku perlu suruh Alia datang kesini buat jelasin sama kamu?" tantang Firlan.
"Nggak usah, males..." sahut Vira yang kemudian menyuapkan pizza ke dalam mulutnya dengan tenang.
"Bukannya ini break yang kamu mau? dan kayaknya emang kita lebih baik kayak gini, iya kan?" Vira menaik satu sudut bibirnya.
"Aku yakin kamu masih ada rasa sama aku, dulu aja kamu sebucin itu. Aku yakin bisa ngedapetin hati kamu lagi, Vira. Aku jamin itu!" ucap Firlan dalam hatinya.
"Terserah aku dong, bibir-bibir aku..." jawab Firlan.
"Kayak orang gila senyum sendiri," celetuk Vira.
"Ngomong aja mulai perhatian," goda Firlan.
"Ngimpi..."
Firlan tak bisa menyembunyikan senyumnya saat Vira ternyata diam-diam memperhatikan dirinya. Sedangkan Vira yang melihatnkelakuan Firlan yang diluar kebiasaan pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Udah mulai sarap nih orang!" lirih Vira.
Setelah makan siang yang sudah kesorean itu, Firlan mengantar Vira pulang ke kontrakan.
Dia turun untuk membantu membereskan belanjaan wanita itu.
"Kamu belanja sebanyak ini nggak ada bahan mentah sekalipun?" tanya Firlan ngoceh saat mengobrak-abrik belanjaan Vira.
"Udah tau nggak bisa masak, masih juga nanyain kenapa nggak beli bahan mentah!" Vira misuh-misuh.
"Jajanan banyakan ciki-cikian, kamu tuh udah gede kali Vira..." ucap Firlan.
"Nggak ada larangannya orang gede nggak boleh makan ciki!" Vira ngegas.
__ADS_1
"Udah ah, sana sana pulang. Bikin rusuh aja..." Vira mendorong badan Firlan.
"Nggak, kan aku mau bantuin kamu ngeluarin belanjaan," Firlan keukeuh tidak mau pulang.
"Kalau masih nyerocos aku plester tuh mulut!" Vira mencapit bibir Firlan.
"Nggak baik tau makan makanan instant terus," kata Firlan saat melihat mie instant di dalam kantong keresek.
"Ini cuma buat keadaan darurat, Bambang!" Vira mulai emosi.
"Namaku Firlan bukan Bambang! perlu aku tunjukkan buku nikah kita?" Firlan seolah mengambil sesuatu dari saku jasnya dan menunjukkannya pada Vira.
"Dasar halu!" cibir Vira.
Firlan tertawa melihat Vira yang kesal dengan dirinya.
Firlan membuka jasnya dan melonggarkan dasinya, ia pun mengambil minuman kopi kaleng di dalam kulkas.
"Bukan berarti kamu bayarin nih kontrakan, lantas kamu bisa seenaknya gratakan di kulkas aku!"
"Astagaaaaaaa, sama calon suami nggak boleh galak-galak! dosaaaa!" kata Firlan mengusap dadanya kaget mendengar suara Vira yang naik satu oktaf.
Dengan enaknya Firlan meminum minuman kopi terasa dingin di tenggorokan.
Glek.
Glek.
"Aaah..." Firlan meletakkan kopi kaleng di atas meja makan. Sementara Vira masih menata belanjaannya.
Vira menaikkan satu sudut bibirnya, sebal dengan sikap Firlan yang seenaknya sendiri.
"Vira? kamu nggak pengen kursus masak gitu?" tanya Firlan.
"Nggak,"
"Terus nanti kalau kita nikah dan punya anak, anak kita mau kamu kasih makan apa kalau kamu masak aja nggak bisa?" tanya Firlan.
"Siapa juga yang mau nikah sama kamu? Alia mau dikemanain, Pak Firlan?"
"Dih kok Alia, sih? nggak ada hubungannya juga sama Akia, kan yang pacaram kita..."
"Nanti deh aku bilangin Amartha supaya suaminya jangan banyakin kamu kerjaan, otak kamu agak geser sepertinya ya akibat tekanan pekerjaan yang berlebihan. Aku sangat prihatin ... tenang, aku akan bantu kamu," ucap Vira yang kini sudah menyelesaikan tata menata barang yang sudah dibelinya.
Vira mengambil buah apel yang sudah dicuci di dalam keranjang buah di dalam kulkas.
"Siapa bilang aku mau nikah sama kamu? bisa mati berdiri aku punya suami galak kayak situ!" ucap Vira sambil mengingit apel miliknya.
Dan apel yang sudah digigit itu sekarang berpindah ke tangan Firlan.
"Aku yang bilang! mulut kamu bisa saja berkata lain, tapi di dalam hati kamu cuma ada Firlan Anggara! aku bisa pastikan itu!" kata Firlan yang mencium pipi Vira sekilas sebelum ngeloyor pergi begitu saja dengan menyampirkan jas di pundaknya.
__ADS_1
...----------------...