Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Bos Suka Seenaknya Sendiri


__ADS_3

"Loh, pak Firlan?" ucap wanita yang matanya indah tanpa bingkai kacamata.


"Alia?" cicit Firlan saat melihat seorang wanita berdiri di samping mejanya. Wanita dengan softlens berwarna cokelat hazel yang kini tersenyum menampilkan lesung pipitnya.


"Aku boleh duduk?" tanya Alia sedikit canggung.


"Silakan," kata Firlan. Dia bingung untuk menolak, beralasan akan pergi pun sepertinya tidak sopan. Wanita itu meletakkan sebuah cangkir yang masih panas diatas meja.


"Sendirian?" tanya Alia setelah mendudukkan dirinya tepat dihadapan Firlan


"Ya begitulah, kamu sendiri?"


"Saya juga, kebetulan tadi lewat dan rasanya ingin mampir sebentar untuk minum cokelat panas..." jelas Alia, Firlan hanya tersenyum tipis. Firlan menyadari ada perubahan pada diri Alia, namun pria itu memilih tak mengomentarinya.


Alia memegang cangkirnya yang masih mengeluarkan asap putih yang berasal dari cokelat yang masih panas. Perlahan Alia menyeruput minumannya.


Firlan yang siang ini hanya ingin makan caramel cake pun mulai menyendokkan sebuah kue spons lembut dengan krim berwarna putih ke dalam mulutnya.


"Oh, ya ... untuk yang waktu di bioskop, Saya minta maaf. Saya tidak sengaja..." kata Alia.


"Uhukkk!" Firlan terbatuk saat Alia mengingatkannya pada kejadian beberapa waktu yang lalu.


Alia yang melihat itu langsung meletakkan minumannya dan menyodorkan minuman dingin milik pria itu.


"Thanks!" ucap Firlan yang kini meminum minumannya.


"Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi?" tanya Alia.


"Hem, tidak ada. Aku hanya tidak berhati-hati..." ucap Firlan.


"Untuk yang dibioskop, tidak perlu dipikirkan. Saya tau kamu tidak sengaja..." kata Firlan mencoba biasa saja.


"Syukurlah, kalau begitu..." Alia tersenyum manis pada pria yang ada di depannya.


"Oh ya, sekarang aku membuka sebuah kedai makanan. Mampirlah kalau kamu tidak sibuk..." ucap Alia pada Firlan.


"Oh, ya? kamu mulai mencoba bisnis makanan?" tanya Firlan.


"Ya, masih kecil-kecilan. Tapi oke kok rasanya, aku buka kedai bakmi nggak jauh dari sini..." kata Alia.


"Oke, nanti kapan-kapan saya mampir..." ucap Firlan.


Firlan melihat ke arlojinya, waktu istirahatnya sudah selesai dan ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan saat ini.

__ADS_1


"Oh, ya Alia. Saya duluan, karena saya kebetulan masih banyak pekerjaan..." ucap Firlan seraya bangkit dari duduknya.


"Oh, gitu ya?" Alia memcoba mebyembunyikan raut wajah kecewanya, padahal dia ingin mengobrol lebih lama dengan pria itu.


"Sukses buat bisnis baru mu, see you!" ucap Firlan yang kemudian berjalan menjauh dari tempat duduknya tadi.


Firlan kembali ke kantor dengan wajah yang sedikit lebih segar, bukan karena bertemu dengan Alia tapi karena sudah mengisi perutnya dengan makanan dan minuman kesukaannya.


"Akhirnya kau kembali juga, Lan? saya kura kamu makan siang di planet mars!" celetuk Satya saat tak sengaja bertemu dengan Firlan di depan lift.


"Saya juga pengennya ke planet mars, hanya saja bos saya itu cerewet mana bisa saya makan siang dengan tenang di planet lain!" sahut Firlan.


"Aiish, menyebalkan sekali!" gumam Satya yang mendengar celetukan dari sang asisten laknat.


Dan Ting, pintu lift terbuka. Dua pria dengan kadar ketampanan berbeda itu pun masuk ke dalam satu kotak besi yang sama.


"Sudah kamu cek isi perjanjian kontrak dengan pak Irwan?" tanya Satya.


"Sudah, sore ini saya atau anda yang akan menemuinya?" tanya Firlan.


"Kamu saja, saya ada janji mau jalan dengan anak dan istri saya..." kata Satya sambil memasukkan tanfan ke dalam saku.


"Tapi kan biasanya anda yang bertemu dengan beliau," kata Firlan.


"Aiih dasar bos suka seenaknya sendiri!" gerutu Firlan yang kini ikut keluar dari lift.


Firlan langsung berjalan ke arah ruangannya. Beruntung dia sudah menyiapkan segalanya, jadi dengan permintaan Satya yang serba dadakan tak membuat kepalanya mendadak migrain sebelah.


Firlan mencoba menghububgi kekasihnya tapi tak kunjung diangkat.


"Dia tidur atau pingsan, sih?" gerutu Firlan yang tak kunjung mendapat kabar dari Vira.


"Pulang kerja aku samperin aja deh. Takut kenapa-napa anak orang!" gumam Firlan seraya memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.


Melihat waktu yang semakin dekat dengan janji temu dengan pak Irwan, Firlan memikih untuk segera membawa dokumen yang dibutuhkan.


Firlan segera menyambar sebuah kunci mobil yang tergeletak diatas meja. Pria itu sengaja datang lebih awal agar tak mengecewaka orang yang akan dijumpainya sore ini. Dengan badan yang tegap, pria itu berjalan ke arah lift yang akan membawanya menuju lantai basement.


.


.


.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, Vira baru saha terbangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya beberapa kali.


"Hoooaaam, aku tidur ternyata!" gumam Vira dengan suara khas bangun tidurnya.


Bukannya bangun, Vira malah memeluk bantalnya semakin erat. Rasa nyeri di perutnya berkurang sedikit demi sedikit, tak sesakit tadi pagi.


Namun, saat ini dia masih ingin bermalas-malasan sambil mengumpulkan nyawa.


"Ah, lumayan udah mendingan. Walaupun masih kram kayak gini, tapi lumayan lah..." ucap Vira.


Mata wanita itu terpejam lagi, soal tidur Vira memang jagonya bahkan sejak dia masih kuliah. Begitu rebahan dan bertemu dengan kasur dan bantal, maka dia akan mudah sekali mengantuk. Ini penyakit atau kutukan, entahlah semua ini masih menjadi misteri.


Vira hampir saja terlelap lagi, kalau saja tak ada yang telfon dari Fidya yang menggangu tidurnya, sudah dipastikan Vira akan terlelap lagi.


"Halo, ada apa, Fid?" tanya Vira.


"Kakak sedang istirahat ya? maaf saya mengganggu," kata Fidya yang merasa bersalah saat mendengar suara serak dari bosnya.


"Saya baru bangun. Kenapa, Fid?" tanya Vira yang kini bangun dari posisi tidurnya.


"Tadi siang ad yang mencari kak Vira namanya pak Gusti..." ucap Fidya.


"Oh, iya. Eh, gimana?"


"Tadi siang ada yang datang kemari namanya pak Gusti, dia mencari kakak. Saya bilang kakak sedang sakit jadi ya nggak datang kemari..." ucap Fidya.


"Oalah, dia ternyata dateng ke tempat privat..." batin Vira.


"Tapi dia nggak nitip pesan apa-apa, keburu saya lupa jadi saya telfon kakak," kata Fidya.


"Oh, iya. Makasih Fid, saya sudah ketemu kok..." ucap Vira.


"Ya sudah kalau begitu, Kak. Assalamualaikum," ucap Fidya.


"Waalaikumsalam," sahut Vira.


Dan setelah panggilan dari Fidya berakhir, matanya membulat saat dia melihat ada banyak chat dan missed call dari ayang.


"Hadeuh, ayang nelpon kok aku nggak denger, sih? kebiasaan kalau tidur suka kebluk nih, jadi ada telfon nggak denger nih kuping," gumam Vira.


Karena sewaktu Firlan telfon Vira sedang tidur nyenyak-nyenyaknya maka dari itu dia tak menyadari kalau ayang embeb telfon berkali-kali.


"Kacau, pasti ada yang ngambek habis ini..." gumam Vira sambil menempelkan ponsel ke telinganya mencoba menghubungi Firlan.

__ADS_1


__ADS_2