
Firlan datang tepat pukul 4 sore, ketika Vira, Zanna dan Fidya sedang membereskan alat-alat melukis.
Ceklek.
Pintu dibuka, Firlan masuk dengan hanya memakai kemeja yang ia gulung sebatas siku.
"Loh, udah dateng..." Vira kaget, karena Firlan datang tepat waktu. Ia segera bangkit dan menghampiri pria yang kini duduk di sofa.
"Iya, sengaja biar kamu nggak nunggu lama," kata Firlan.
Sedangkan Fidya dan Zanna masih lanjut membereskan ruangan.
"Pulang sekarang," kata Firlan.
"Tapi aku belum selesai,"
"Apanya?" tanya Firlan.
"Beberesnya," Vira menunjuk area yang menjadi tempatnya mengajari anak-anak melukis.
"Kan ada mereka," Firlan hanya melirik kedua wanita itu sekilas.
"Nggak enak lah, masa nyuruh-nyuruh?" lirih Vira.
"Kenapa nggak? kan mereka pegawai kamu, lagi pula ngeberesin segitu doang nggak akan bikin mereka berdua pingsan," ucap Firlan.
"Astaga, ngomongnya dipelanin, kek..." Vira ingin sekali mengikat mulut Firlan dengan tali rapia, Vira tidak enak hati kalau sampai Zanna atau Fidya mendengar apa yang dibicarakannya dengan Firlan.
"Ayo, kita pulang sekarang," suruh pria yang kini sudah tidak sabar ingin pulang.
Vira berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambilkan Firlan minuman.
"Minum dulu, aku mau ambil dompet sama baju," kata Vira.
"Jangan lama-lama," ucap Firlan seraya membuka minuman kaleng rasa jeruk. Vira taj menjawab, wanita itu menghampiri Zanna dan Fidya.
"Saya pulang duluan, ya. Kalian juga kalau udah selesai cepetan pulang," ucap Vira.
"Baik, Kak..." ucap Fidya, kalau Zanna hanya tersenyum dan melempar pandangannya pada sosok pria jutek yang duduk di sofa.
Vira berjalan ke arah loker, ia mengambil dompet dan juga papper bag yang ia taruh di dekat loker.
Setelah mengambil barang bawaannya, Vira menghampiri Firlan.
"Yuk," ajak Vira.
Firlan mendongak dan segera berdiri.
"Udah habis apa belum?" Vira mengambil kaleng bekas minum Firlan.
"Ck, masih setengah," Vira mengambil kaleng itu dan membawanya dalam genggaman tangannya.
"Sini papper bag nya biar aku yang bawa," Firlan langsung menyambar papper bag yang dibawa Vira dan berjalan mendahului wanita itu.
"Fidya, Zanna aku duluan!" seru Vira sambil melambaikan tangannya.
"Iya, Kak!" jawab Zanna dan Fidya kompak.
__ADS_1
Vira segera menyusul Firlan yang sudah lebih dulu keluar dan meninggalkan pintu yang terbuka lebar. Vira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekasihnya yang mendadak bete itu.
"Kenapa lagi nih orang!" gumam Vira yabg melihat Firlan sudah membuka pintu mobil untuknya.
"Masuk," suruh Firlan. Wanita itu pun menurut, ia masuk dan duduk di kursi penumpang, sementara Firlan ia membuka bagasi mobil dan menaruh papper bag milik Vira sebelum ia duduk di kursi kemudinya.
Dan tak lama pria itu melajukan mobilnya menuju hotel tempat Raharjo dan Dewi menginap.
"Kenapa?" tanya Vira.
"Apa?" Firlan malah balik bertanya.
"Kamu kenapa?" tanya Vira.
"Kenapa apanya?" Firlan menaikkan satu alisnya.
"Astaga, kenapa mendadak masang muka bete?" Vira menahan emosi.
"Emang aku bete? perasaan nggak, deh..." Firlan melirik Vira sekilas.
"Tau akh! kalau nggak bete kenapa diam dan mendadak jutek kayak gitu, nggak ada senyum-senyumnya sama pegawaiku, aku kan nggak enak tau..."
"Kalau aku senyum dan ramah sama mereka yang ada mereka terpesona sama ketampanan aku ini," kata Firlan.
"Halah, alesan aja!"
"Aku udah punya kamu, dan aku nggak mau terlalu ramah sama perempuan lain. Aku kan ngerti kalau kamu cemburunya akut banget," kata Firlan.
"Beneran nggak ramah sama cewek lain?" sindir Vira.
"Nggak percayaan banget sih?" Firlan mencubit pipi kekasihnya.
"Pipi kamu kayak kue mochi soalnya," kata Firlan.
"Heh, sembarangan aja kalau ngomong!" Vira mengusap dan memberi pijatan pada pipinya agar pipinya tak mengendur.
"Ay, muka ku burik nggak?" tanya Vira.
"Burik? apaan itu burik?"
"Burik, kureng masa nggak ngerti?" Vira balik bertanya.
"Bahasa apaan nggak ngerti," ucap Firlan yang aneh dengan istilah yang digunakan Vira.
"Payah, burik aja nggak ngerti! burik ya buluk, kureng ya kurang maksudnya, intinya jelek lah.
.." ucap Vira.
Kemudian Firlan menepikan mobilnya. Dan memutar sedikit badannya menghadap Vira.
"Loh kok berhenti?" tanya Vira.
"Sini aku liat mana yang kamu bilang burik," kata Firlan. Pria itu memegang kedua pipi Vira dan...
Cup...
Cup...
__ADS_1
Firlan malah mencium kedua pipi Vira secara bergantian.
"Kamu mikirnya berlebihan, mana ada calon istriku burik!" ucap Firlan yang kemudian melajukan lagi mobilnya.
Vira memalingkan wajahnya mengalihkan pandangannya keluar jendela, pipinya kini mendadak panas.
"Dasar kang modus!" batin Vira.
Sedangkan Firlan hanya terkekeh melihat Vira yang salah tingkah.
"Tapi kalau kamu mau perawatan ya nggak apa-apa, Ay. Biar kamu juga rileks, kamu kan capek ngadepin anak-anak setiap hari. Sesekali memanjakan diri juga nggak ada salahnya, apalagi mau ketemu calon mertua," kata Firlan sambil menusuk-nusukkan bahu Vira dengan jarinya.
"Ih, apaan sih..." kata Vira yang menepis tangan Firlan.
Firlan hanya menarik satu garis senyumnya, ia senang akhirnya harapannya kembali dengan Vira akhirnya terwujud, walaupun menghilangkan sifat keras dari dalam dirinya sangat sulit dilakukan. Tapi sejauh ini dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk lebih lentur pada Vira.
Akhirnya mereka pun sampai di hotel tujuan. Vira segera membuka sabuk pengamannya. Firlan sudah terlebih dahulu keluar dan membukakan pintu untuk wanitanya.
"Yuk," Firlan mengulurkan tangannya pada Vira.
Brukk.
Firlan menutup pintu mobil dan menguncinya. Kemudian mereka berdua menaiki lift menuju lantai 5. Firlan menggenggam erat tangan Vira, jari jemari mereka saling bertautan.
"Jangan gandengan, emang kita mau nyebrang?" ucap Vira.
"Memangnya gandengan hanya kalau nyebrang jalan? aturan dari mana itu?" kata Firlan.
"Aiiishhh, malu lah!" Vira melepaskan tautan tangan mereka. Firlan malah memeluk Vira dari samping dan keluar dari lift saat pintunya terbuka.
Mereka berjalan melewati lorong yang dilapisi karpet berwarna merah.
Ting tong.
Firlan menurunkan tangannya dari tubuh Vira dan menekan bell.
Dan pintu pun terbuka.
"Eh udah dateng, ayo masuk..." kata Dewi saat melihat putrinya datang bersama Firlan.
"Sore, Tante..." sapa Firlan.
"Sore, Nak Firlan..." jawab Dewi.
Firlan dan Vira masuk ke dalam.
"Kita check out sekarang," kata Vira.
"Kamu nggak duduk dulu? bikin teh buat Firlan, dia pasti capek kan habis pulang kantor..." kata Raharjo.
"Duduk dulu, biar mama buatin teh..." kata Dewi.
"Dia udah minum kok, Ma. Nggak usah..." kata Vira.
"Iya benar, Tante. Saya sudah minum tadi di tempat les Vira, sebaiknya kita check out sekarang saja..."
"Ya sudah kalau begitu, ayo Pah..." ajak Dewi pada Raharjo.
__ADS_1
...----------------...