Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Setengah Memaksa


__ADS_3

"Hai putri cantik papi!" seru Gusti saat melihat Gia sedang duduk di kursi yang ada di dekat kolam renang dengan satu bowl berisi bermacam-macam buah potong.


"Papiiiii?" Gia terkejut, pasalnya jarang sekali Gusti sudah pulang di jam sore seperti sekarang ini.


"Duduk saja, Sayang. Biar papi yang kesana..." kata Gusti saat melihat Gia akan turun dari kursinya.


Dan secara otomatis Penny segera bangkit untuk memberikan ruang antara Gia dan juga papinya untuk bicara.


"Saya permisi ke dalam ya, Non..." ucap Penny, Gia pun mengangguk.


"Tumben papi udah pulang, biasanya malem kalau Gia udah tidur..." celetuk Gia.


"Ya, papi usahakan pulang lebih awal supaya bisa ketemu sama anak papi yang cantik ini..." ucap Gusti sembari mengusap kepala putrinya.


Tak lama seorang pelayan datang membawakan minuman dingin yang diinginkan Gusti.


"Minumannya, Tuan..." pelayan itu menaruh satu gelas di atas meja.


"Terima kasih, Bik..." sahut Gusti yang dengan segera mengambil gelas itu dan meminumnya.


"Gimana sekolahnya hari ini, Sayang?" tanya Gusti.


"Biasa aja, Pih..." jawab Gia.


"Biasa bagaimana?"


"Ya biasa aja. Ya seperti hari-hari sebelumnya..." kata Gia.


"Memangnya nggak ada yang menarik di sekolah? atau Gia ceritakan tentang sekolah hari ini?" tanya Gusti.


"Nggak ada yang menarik dan nggak ada juga yang ingin Gia ceritain, Piiiih..." pipi Gia menggembung, ia mebgunyah makanannya.


"Baiklah, kalau Gia nggak mau cerita. Oh, ya? bagaimana kalau malam ini kita makan di luar?" tanya Gusti.


"Gia lagi nggak mau keluar, Piih..." jawab Gia.


"Loh, memangnya kenapa? bukannya Gia suka makan di luar?" Gusti mebgerutkan keningnya heran.


"Iya, tapi nggak sekarang, Piiih. Gia pengen di rumah aja..." ucap Gia.


"Kalau kita barbeque-an di sini bagaimana?"


"Hemmmm?" Gia nampak berpikir.


"Papi akan buatkan Gia makanan yang enak, kita bisa menikmati makanan disini, ditemani bintang-bintang di langit..." ucap Gusti.

__ADS_1


Tak lama Gia kemudian mengangguk, Gusti pun merasa senang.


"Baiklah, nanti malam papi akan bikin Gia makan daging sampai kenyang..."ucap Gusti.


"Tapi aku juga mau udang dan jagung..." ucap Gia.


"Siap, sesuai permintaaan nona kecil..." ucap Gusti.


.


.


.


Sedangkan Firlan pulang metika langit berubah mrnjadi gelap. Ia baru saja mengecek ponselnya ketika dalam perjalanan pulang.


"Vira nelfon?" gumam Firlan.


"Nanti aja aku hubungi lagi, sekarang aku pengen ke rumah ibu..." ucap Firlan.


Firlan yang semula akan pergi ke apartemennya karena jarak dari tempat pertemuannya dengan pak Irwan lebih dekat ke apartemennya daripada ke rumahnya, mendadak pindah haluan.


Sekarang tujuannya ke rumah Ratna, ibunya. Firlan ingin mengetahui respon Ratna terhadap Vira, karena sejak pertemuan terakhirnya Firlan belum pernah menghubungi atau berbincang dengan Ratna.


Dan setelah menempuh perjalanann yang cukup jauh, akhirnya Firlan sampai juga di kediaman ibunya tepat pukul 8 malam.


"Bik Nem, ibu mana, Bik?" tanya Firlan saat pi tu sudah dibuka.


"Ada di meja makan mas Firlan..."


Firlan pun segera masuk dan berjalan ke arah meja makan.


"Assalamualaikum, Bu..." Firlan mengucapkan salam saat melihat Ratna yang duduk sendirian sedang menikmati makanannya.


"Waalaikumsalam, tumben kamu datang kesini, Lan?" tanya Ratna.


"Astaga, ibu. Anak dateng bukannya diayukuri malah dibilang tumben?" Firlan memeluk ibunya sesaat kemudian ia duduk tak jauh dari wanita paruh baya itu.


"Ya karena memang tumben, kamu kan jarang pulang ke rumah ini beberapa tahun terakhir..." sindir Ratna.


"Ya ampun, Firlan sering kan nengok ibu. Masa iya dibilang jarang sih?" Firlan mengelak apa yang dituduhkan ibunya.


"Ya memang kenyataannya seperti itu, lah kok ngeyel!" kata Ratna.


"Iya iya deh, aku mah ngalah aja sama ibu..." Firlan mengalah, ia tak mau membuat suasana hati ibunya mendadak menjadi buruk.

__ADS_1


"Kamu sudah makan belum?" tanya Ratna.


"Belum, kan kesini aku mau sekalian ikut numpang makan, Bu..."


"Beneran mau numpang makan atau ada hal lain?" selidik Ratna.


"Kita makan dulu saja, Bu. Aku sudah lapar..." ucap Firlan, ia segera mengambil piring yang ada di meja dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang sudah pasti menu sehat yang sedang dijalankan Ratna.


Mereka berdua makan dalam keheningan, Ratna memang menerapkan aturan seperti itu. Dan sampai saat ini Firlan masih mengingat apa yang disukai ibunya dan yang tidak. Maka dari itu, dia ingin secepatnya memastikan kalau Ratna akan menyetujui hubungannya dengan Vira. Dengan begitu, dia akan segera merencanakan lamaran untuk gadis yang sangat dicintainya itu. Ya supaya pernikahan bisa secepatnya terlaksana, dia tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk memiliki Vira seutuhnya.


Firlan yakin ibunya mengerti konsep cinta sejati, karena sampai detik ini Ratna masih mempersembahkan cintanya untuk mendiang ayah Firlan, walaupun maut telah memisahkan mereka.


Setelah makan malam berakhir, Ratna akan beranjak dari tempat duduknya namun segera dicegah oleh Firlan.


"Bu, ada yang ingjn Firlan bicarakan..." ucap Firlan sopan.


"Bicara tentang apa? jangan disini, kuta ke ruang tengah saja..." ujar Ratna yang kini berjalan mendahulii Firlan ke tuang tengah.


Wanita paruh baya itu mendudukkan dirinya di sofa.


"Ibu sudah bisa menebak, kalau kamu datang kemari pasti ada tujuan lain. Cepat katakanlah..." kata Ratna.


"Ya ampun Ibu gitu amat sama anak sendiri. Firlan datang juga kan pengen ketemu sama Ibu juga..." kata Firlan membela diri.


"Sudahlah, Ibu sudah paham tabiatmu. Katakanlah apa yang ingkn kau bicarakan..."


"Ini tentang Vira, Bu. Bagaimana menurut Ibu wanita pilihanku itu?"tanya Firlan.


"Ibu kira kamu akan mencari wanita yang luwes dan ayu. Ternyata tidak juga lebih baik dari Ajeng, anak teman ibu yang sudah pasti pas bibit bebet dan bobotnya..." ucap Ratna.


"Siapa lagi Ajeng? Firlan nggak ngerti..."


"Awalnya ibu ingin mengenalkan kamu dengan Ajeng, tapi berhubung kamu bilang sudah ounya calon sendiri ya apa boleh buat. Ibu mencoba untuk melihat bagaimana pilihanmu itu, dan ternyata hanya seperti itu..." ucap Ratna.


"Vira itu wanita yang baik dan penyayang. Dia juga wanita yang ceria, cuma kemarin mungkin karena gugup mau bertemu dengan calon mertua, makanya dia sedikit pendiam..." jelas Firlan.


"Lalu? apa yang kamu inginkan? tidak usah bertele-tele seperti itu, Firlan..."


"Ya aku pengen ibu merestui hubungan kami. Aku akan buat ibu melihat sisi lain dari Vira, aku yakin ibu pasti akan nyaman dengan wanita pilihanku," ucap Firlan setengah memaksa.


"Kita lihat nanti apakah pilihanmu itu adalah wanita yang tepat untuk kamu jadikan istri atau tidak..."


"Aku tidak mau nanti, Bu. Aku ingin Ibu bisa menerima kehadiran Vira sebagai calon menantu Ibu. Aku tidak ingin menikah dengan siapapun kecuali dengan Vira, kecuali jika Ibu ingin melihatku sendirian seumur hidup!" ancam Firlan.


"Dasar bocah gendeng!" seru Ratna setelah mendengar ucapan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2