
Setelah mendapatkan semua yang dipesan sahabatnya, Vira segera meluncur ke kediaman Amartha. Wanita itu menantang matahari yang menyengat luar biasa.
Namun, Vira yang secara pribadi memang lebih suka mengendarai kendaraan sendiri daripada harus naik taksi online pun tak pernah masalah jika harus bersinggungan dengan sang surya walaupun di siang bolong seperti ini.
Sesuai janjinya, dia tidak mengebut di jalanan. Lagi pula wanita itu masih sayang dengan nyawanya. Akhirnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih 35 menit, akhirnya Vira sampai juga di rumah super mewah itu.
Mang Tatang, satpam di rumah itu yabg sudah diberitahu majikannya kalau Vira akan datang dengan segera membukakan gerbang saat wanita itu membuka helmnya.
"Silakan, Mbak Vira..."
"Makasih, Mang!" seru Vira yang melajukan motornya sampai ke depan pelataran rumah sahabatnya itu.
Mang Tatang dengan segera memberitahu pelayan di rumah untuk membukakan ointu untuk Vira.
Perlahan wanita itu membuka semua atribut berkendaranya. Dan mengambil belanjaannya yang dia cangkolkan di motor. Dia bawa semua tanpa terkecuali.
"Silakan Mbak Vira..." ucap Sasa.
"Makasih, Sa..." ucap Vira lemas.
"Saya bantu, Mbak!" dengan sigap Sasa meraih belanjaan dari tangan Vira.
"Amartha dimana?" tanya Vira.
"Ada di ruang tengah, silakan, Mbak..." ucao Sasa. Vira pun berjalan ke arah ruang tengah.
Vira memang sengaja tidak terlalu setjng datang ke rumah sahabatnya, karena bagaimana pun dia merasa canggung dengan Satya yang notabene bos dari Firlan.
"Hai, Taaaaa..." sapa Vira pada sahabatnya.
"Hai, Vir. Lemes amat?"
"Vanasssh tau diluar, lemakku pada meleleh..." celetuk Vira yang langsung glosoran di bawah, merebahkan dirinya di karpet super lembut. Betuntung ruangan itu dilengkap dengan pendingin ruangan, sehingga Vira yang semula kepanasan menjadi lebih baik setelah masuk ke dalam rumah.
"Belanjaannya, Mbak..." ucap Sasa seraya menaruh apa yang dibawa Vira di atas meja.
"Pesananku?" tanya Amartha pada Vira.
__ADS_1
"Ada,"
"Sa ... ambilin mangkok atau wadah apapun bawa kesini..." suruh Amartha.
"Evren dimana, Ta?" tanya Vira karena ia tak melihat Evren di ruang tengah.
"Lagi tidur, ditungguin sama bik Surti..." jawab Amartha.
"Kamu beli apa aja? kok ya banyak banget?" tanya Amartha sementara Vira langsung bangkit dri glosorannya dan membuka satu persatu apa yang dia bawa.
"Ada cimol, takoyaki sama boba..." sahut Vira.
Tak lama datanglah Sasa dengan membawa bowl dengan ukuran besar, piring oval dan juga piring kecil beserta sendok dan garpu.
"Ini Nyonya..." ucap Sasa seraya menaruh apa yang diminta majikannya.
"Bantu aku untuk memindahkan cemilan ini, Sa..." ucap Amartha.
Dan setelah semuanya sudah dipindahkan ke tempat yang seharusnya, Amartha ojn geleng-geleng kepala.
"Ini mah kita mau mukbang cimol, Vir!" ucap Amartha.
"Sa, kamu juga ambil, ya? kasih buat yang dibelakang juga, Mang Tatang, Mang Anto, Dian sama bik Surti. Semua harus kebagian..." ucap Amartha seraya menunjuk cimol yang berwarna merah dan juga takoyaki.
Setelah Sasa mengambil camilan itu secukupnya, ia pun undur diri dan meninggalkan majikannya mengobrol dengan sahabat karibnya.
"Nah, kalau ini apa, Vir?" tanya Amartha melihat sebuah kantong lain. Karena penasaran, Amartha pun melihat isi di dalamnya.
"Bunga? kamu beli bunga? sejak kapan kamu nyemilin kembang?" tanya Amartha.
"Sembarangan aja kalau ngomong! mana ada aku nyemilin kembang?" ucap Vira sembari menaruh beberap cimol yang dilumuri serbuk berwarna merah dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Oh, pasti dikasih sama kak Firlan nih ... ciye dapet kembang!" Amartha menyenggol lengan Vira.
"Astaga, hampir aja nih cimol keluar dari mulut!" ptotes Vira.
"Sorry, sorry ... ciyeeee uhuuuy, yang baru dapet bungaaaaa..." Amartha kbali menggoda Vira.
__ADS_1
"Bukan, itu bukan dari Firlan tapi dari Gusti..."
"Gusti? Gusti duda yang pernah kamu ceritain itu?" tanya Amartha, dia melongo.
"Nggak usah layak giti amat kali, nih minum!" Vira mencoblos minuman boba dan menypal mulut sahabatnya dengan sedotan.
Amartha pun refleks menyedot minuman dinginnya.
"Kamu pacaran sama dua orang? kamu sama kak Firlan udah balikan kan?" Amartha memastikan dugaannya.
"Ya ampun, masa iya aku pacaran sama dua orang? ya nggak lah! aku emang udah balikan sama Firlan, dan aku nggak ada hubungan apa-apa sama Gusti, kita pure temen. Lagian anaknya murid di les privatku. Intinya kita nggak ada apa-apa..." jelas Vira ia pun mengambil satu cup large boba dan mencoblosnya dengan sedotan besar, wanita yabg mulai kepedesan itu pun meminum minuman yang sangat disukainya dan Amartha.
"Nah, kalau temen masa iya sih sampai ngasih bunga kayak gini? please, kamu udah gede, Vir. Kalau cowok kasih-kasih kayak gini tuh sinyal kalau dia tertarik sama kamu, masa kamu nggak ada feeling kesitu, sih?" Amartha yang gemas dengan sikap Vira pun memasukkan satu cimol ke dalam mulutnya.
"Ya kalau suka hak dia lah, Ta. Ya sabar aja aku mah, ya gimana resiko cewek cantik, iya kan?" celetuk Vira.
"Terus kak Firlan mau kamu kemanain?" tanya Amartha.
"Ya nggak dikemana-manain, orang kita aja belum dapet restu dari ibunya, kok! kamu tuh beruntubg banget tau, ketemu tante Sandra terus tante Sandranya welcome dan nerima kamu di keluarganya. Nah kalau aku? beda cerita, tau! ibunya Firlan tuh kayak nggak welcome sama aku, dan feeeling ku kayaknya hubungan ini nggak akan semudah yang aku bayangkan..." tutur Vira.
"Kamu yang sabar, kamu pasti bisa meluluhkan hati ibunya kak Firlan. Jadi kapan kamu ketemu? kok nggak cerita sama aku, sih?"
"Gimana mau cerita? nyonya Satya aja sibuk ngurus anak suami, hahahahha. Aku belum sempet cerita karena baru sabtu kemarin aku ketemu dan aku masih shock gitu loh," ungkap Vira.
"Oh, baru ketemu camer ceritanya. Ya udah, kamu kan orangnya ceria kau pasti bisa lah bkkin ibunya kak Firlan suka sama kamu, Vir..."
"Nah itu masalahnya, kalau di deket dia tuh aku langsung kicep, gitu. Auranya beda gitu, Ta ... kayak ada judes-judesnya gitu. Takut salah ngomong terus ibunya jadi ilfeel sama aku, arrgghhh susah ternyata buat ngedeketin camer pokoknya!" Vira pasrah dan memakan lagi cemilannya, walaupun bibirnya merah karena menahan pedas.
"Baru sekali kan ketemunya?" tanya Amartha.
"Iya baru sekali..."
"Ya baru sekali, wajar kamu masih coba jaga image, tapi coba deh pas pertemuan kedua kamu lebih rileks dan jadi diri kamu apa adanya. Vira yang mode pasrah begini tuh bukan Vira yang aku kenal, Vira yang aku krnal tuh orangnya keukeuh dan apa ya mau berusaha lebih keras, jadi jangan nyerah cuma karena kayak gini aja. Aku yakin ibunya Firlan setelah kenal sama kamu, dia pasti bisa dekat dan sayang sama kamu. Percaya, deh..." Amartha menyemangati Vira.
"Udah makan dulu, nih takoyaki, enak!" ucap Vira mengalihkam pembicaraan.
"Betewe, kamu beli cimolnya banyak banget, tapi ini enak loh nggak cepet kempes gitu cimolnya..." Amartha memuji cimol yang dibeli oleh Vira.
__ADS_1
"Ya lah, udah aku audisi dulu yang jual, mana yang cimolnya paling the best!" seloroh Vira.
...----------------...