
Di dalam mobil Gusti berusaha untuk tetap tenang, dia berusaha secepat mungkin untuk segera sampai di kediamannya.
"Kamu kenapa, Sayang? bukannya tadi pagi kamu baik-baik saja?" Gusti tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya terhadap putri semata wayangnya itu.
Gusti semakin cepat melajukan mobilnya, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Gia.
Setelah adegan slaip menyalip kendaraan di jalan raya, akhirnya Gusti sampai juga di rumahnya. Pria itu memarkirkan mobilnya asal dan segera berlari masuk ke dalam rumah.
"Tuan..." ucap seorang pelayan yang membukakan pintu untuk Gusti.
"Apa dokter Anala sudah datang?" tanya Gusti tak sabaran.
"Sudah Tuan, dokter sedang memeriksa Nona di kamar..." jawab pelayan itu.
Tanpa berkata apa- apa lagi, Gusti segera berlari dan naik ke lantai dua. Pria gagah itu membuka pintu kamar Gia dengan nafas yang terengah- engah.
"Hahh ... hhh ... bagaimana keadaan putriku?" tanya Gusti pada dokter Anala, wanita cantik dengan rambut lurus itu menengok dan melepaskan stetoskop dari telinganya. Dia baru saja memeriksa keadaan Gia.
"Tidak apa-apa, Gia hanya kelelahan dan kemungkinan besar penyebabnya adalah virus.
.." jelas dokter Anala.
"Lalu bagaimana? apa itu sesuatu yang berbahaya? karena putriku jarang sekali sakit dan kau tau itu..." ucap Gusti pada Anala yang sudah menjadi dokter yang kepercayaannya.
"Tidak, Tuan. Dia hanya perlu istirahat dan minum obat, diminumkan setiap 4 jam sekali, dan tidak perlu diminum kalau demamnya sudah reda..." ucap dokter Anala dia mengambil obat dari tasnya dan menyerahkannya pada Gusti.
Penny juga ada disitu, pengasuh Gia itu yakut jika dia dinilai lalai dalam menjaga nona kecilnya itu. Padahal dia sudah berusaha memberitahu Gia kalau dia tidak boleh membeli makanan di pinggir jalan. Apalagi makanan itu seperti diberi sauce yang begitu terang.
"Astaga, andai saja tadi sepulang sekolah, aku bisa mencegah nona Gia membeli makanan pinggir jalan itu, pasti tidak jadi begini!" batin Penny.
"Kalau begitu saya permisi, Tuan..." ucap dokter Anala.
"Terima kasih, Dok!" ucap Gusti.
"Penny, tolong kamu antar dokter Anala spai ke depan..." perintah Gusti.
"Baik, Tuan..." sahut Penny menunduk hormat.
"Mari dokter..." Penny membuka pintu kamar untuk dokter Anala.
Sebenarnya pria itu menangkap sesuatu yang aneh dari pengasuh anaknya itu. Tapi Gusti tak mau mencecar wanita itu sekarang, dia lebih memilih fokus pada kesembuhan Gia.
Setelah Penny dan dokter Anala meninghalkan kamar Gia, Gusti meletakkan obat di atas nakas dan duduk di tepi ranjang putrinya.
"Kamu kenapa, Sayang? wajahmu begitu pucat..." kata Gusti sembari menempelkan punggung tangannya di kening Gia kemudian ia beralih menggenggam tangan mungil putrinya itu.
"Mam ... mam-mi ... Mam..." ucap Gia lirih, sedangkan matanya masih tertutup.
__ADS_1
"Gia, Sayang..." Gusti mengelus pipi anaknya.
"Gia, papi disini, Sayang. Ada papi disamping Gia..." ucap Gusti.
"Tan ... tante ... taaan..." keringat mengucur dari kening gadis kecil itu.
"Gia ... Sayang bangun Sayang, minum obat dulu, yuk?" Gusti mengambil tisu dan mengelap kening Gia yang basah keringat.
Perlahan sentuhan Gusti membuat mata Gia terbuka sedikit demi sedikit.
"Papiiiih..." ucap Gia dengan suara yang sangat lirih.
"Papiiiiih..." ucap Gia lagi.
"Iya Sayang, papi disini..." Gusti mengelus punggung tangan anaknya.
"Sekarang Gia minum obat, ya? biar kuman- kumannya cepet pergi dan Gia bisa cepet sembuh..." kata Gusti sambil mengambil obat, tapi Gia menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? kenapa nggak mau? kan biar Gia cepet sembuh, kalau Gia nggak minum obat bagaimana demam di tubuh Gia bisa turun?" ucap Gusti.
Gusti mulai berpikir bagaimana caranya membujuk Gia minum obat. Gadis kecilnya malah menutup matanya lagi.
Pria itu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Vira.
"Mungkin dia bisa membujuk Gia," gumam Gusti sambil memperhatikan wajah putrinya yang masih pucat.
"Halo, ada apa, Mas?" tanya Vira.
"Vira, aku bisa minta tolong nggak? Gia sakit demam, dan nggak mau minum obat. Aku minta tolong buat kamu jengukin Gia dan bujuk dia supaya mau minum obat," ucap Gusti yang terdengar sangat cemas dengan keadaan anaknya.
"Sakit? ya, emhh ... ya aku sekarang kesana..." ucap Vira.
"Kamu dimana? biar aku jemput?" tanya Gusti.
"Aku lagi di rumah temen, nggak apa-apa, aku kesana sendiri. Mas Gusti temenin Gia aja," ucap Vira.
"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu..." ucap Gusti.
Akhirnya dia bisa bernafas lega, karena Vira mau datang untuk melihat keadaan Gia.
.
.
.
Sementara di rumah Amartha, Vira yang baru selesai menerima telepon segera beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Ta, aku udah selesai. Aku kayaknya harus pergi sekarang..." ucap Vira seraya meminum lemon teanya. Cimol dan takoyaki yang dibelinya sudah ludes tak tersisa, bahkan tempatnya sudah di taruh di dapur.
"Mau kemana? buru- buru banget?" tanya Amartha.
"Gia sakit," ucap Vira.
Dan berbarengan dengan Vira yang menaruh kembali gelas di atas meja, bik Surti datang membawa Evren yang ada di gendongannya.
"Nyonya, Non Evren bangun..." ucap bik Surti.
"Bawa kesini, Bik..." kata Amartha yang juga sudah menyelesaikan makannya, ia mengelap mulutnya dengan tisu sebelum mengambil Evren dari gendongan bik Surti.
"Tolong bereskan ya, Bik..." ucap Amartha menunjukkan mangkok kotor bekas makannya dengan Vira.
"Baikk, Nyonya..." jawab bik Surti.
"Hai, Sayang. Yah, kamu bangunnya nggak daritadi, sih. Jadi tante Vira nggak bisa ngajakin main deh, tante Viranya mau pergi dulu..." ucap Vira seraya menowel pipi gembul evren.
"Neh ... neh ... neh..." ucap Evren yang masih belum lancar bicara.
"Iya, nanti kapan-kapan tante Vira main lagi, ya? sekarang tante mau pamit, oke...?" ucap Vira.
"Ta? aku pamit, yah?" ucap Vira.
"Eh, tadi berapa cimol ama bobanya?" tanya Amartha.
"Halah kayak sama siapa aja, nggak usah. Ya udah ya, aku pergi dulu..." ucap Vira yang pergi begitu saja, ia tak lupa untuk membawa kembali bunga yang ia taruh di kantong kain.
Ketika Vira sudah oergi barulah Amartha teringat tujuannya mengundang Vira datang ke rumahnya.
"Astaga, ngobrol ngalor ngidul, aku jadi lupa cerita kalau mas Kenan ngirimin aku krmbang banyak banget dan minta aku buat ketemu..." Amartha menghela nafasnya. Ia pun membawa Evren ke taman dan melihat begitu banyak buket bunga yang dikirimkan Kenan untuknya.
Sementara Vira sudah menancapkan gasnya menuju kediaman Alvaro. Vira mengendarai motor matic-nya. Dengan penuh kehati-hatian, wanita itu menembus jalan raya. Setelah memacu kendaraannya cukup lama, akhirnya ia sampai juga di rumah megah itu ya walaupun lagi-lagi di depan gerbang dia harus melapor dulu, dan pintu gerbang pun dibuka untuknya.
Vira segera memarkirkan motornya di pelataran rumah yang sangat luas itu.
Wanita itu mengetuk pintu beberapa kali sebelum pintu utama terbuka secara perlahan.
"Mbak Vira? silakan masuk, Mbak..." ucap Penny yang kebetulan membukakan pintu untuk Vira.
"Gia..."
"Ada di kamarnya, Mbak. Mbak dudah ditunggu diatas..." ucap Penny.
"Kalau begitu saya langsung ke atas, ya?" ucap Vira.
Penny mengangguk dan segera menutup pintu kembali. Vira pun segera berjalan menaiki anak tangga dan menuju kamar Gia.
__ADS_1
...----------------...