Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Kenapa Nggak Cerita?


__ADS_3

Setelah sampai di luar, Firlan mengajak Vira untuk menuju tempat kedua.


"Ay, kita mau kemana lagi?" tanya Vira sambil mencium bunga yang ada di tangannya. Wanita itu sedang dipakaikan sabuk pengaman oleh Firlan.


"Kejutan kedua, ada lah pokoknya. Kamu tinggal duduk dan ikuti aku," kata Firlan.


"Ya ampun, apalagi Ay..." kata Vira, wajahnya bersemu.


"Kalau aku kasih tau sekarang namanya bukan kejutan," jawab Firlan.


Vira hanya bisa mengangguk, walaupun jantungnya sekarang masih deg-degan gara-gara dilamar secara dadakan tanpa persiapan tapi semua itu membuat hatinya berkembang-kembang.


Rasanya senyum tak ingin luntur dari wajahnya. Seorang yang kaku seperti Firlan, sejarang mulai merubah dirinya, dan itu patut diapresisasi. Meskipun sikapnya sering menyebalkan dan suka memaksa namun semua itu menurun kadarnya deiring dengan berjalannya waktu.


Dan setelah membelah jalan raya di bawah langit malam, Firlan kini menghentikan mobilnya di sebuah gedung.


"Ngapain kita kesini?" tanya Vira seraya melepas sabuk pengamannya.


"Sudah ikut aja," ucap Firlan seraya keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Vira.


Vira meletakkan bunga di dashboard dan menyambut tangan Firlan yang terulur padanya.


Wanita itu hanya bisa mengikuti Firlan, pria yang menggandeng tangannya saat ini.


Dan ternyata, pria ini mengajaknya untuk sky dining. Menikmati makan malam dengan pemandangan taburan bintang di langit malam.


"Atas nama Firlan Anggara," kata Firlan menyebutkan namanya.


"Silakan, Tuan. Meja anda di sebelah sana..." ucap seorang pelayan.Kedua pasangan ini mengikuti pelayan tadi.


"Silakan, Tuan ... Nona..." pelayan wanita itu menarik kursi untuk kedua tamunya.


"Ay..." panggil Vira.


"Kamu suka nggak?" tanya Firlan.


"Banget, bagus banget, Ay ... aku nggak nyangka kamu bisa nyiapin kayak gini," kata Vira.


"Aku pengennya sih sewa tempat ini exclusive buat kita, Ay. Buat malam ini, tapi..." Firlan memegang satu tangan Vira.


"Tapi apa? terlalu mendadak ya waktunya? atau udah banyak pengunjung yang udah datrng dan nggak mungkin disuruh pulang?" tebak Vira, Firlan menggeleng.


"Terus kenapa?" Vira mengernyit heran.

__ADS_1


"Karena uangku nggak cukup!" jawab Firlan, sontak membuat Vira memukul lengan pria itu.


"Astaga, aku kira kenapa!"


Dan pesanan mereka pun datang, dimulai dari menu pembuka. Dan tiba-tiba saja, Firlan mengatakan sesuatu.


"Makasih ya, kamu udah nerima lamaranku. Kamu membuat keputusan yang tepat," kata Firlan.


"Hem, tapi ... aku kan maksudku kita belum dapat restu dari ibu kamu, Ay. Nanti gimana kalau..."


"Kalau apa? ibu udah kasih restu makanya aku berani ngelamar kamu, dan aku nggak mau menunda lebih lama..." kata Firlan, Vira kaget karena ternyata hubungan mereka sudah mendapatkan restu.


"Jangan bohong, Ay. Jangan ngasih harapan palsu kamu, Ay..."


"Ya ampun, masa aku bohong? malah rencananya aku sama ibu mau ke rumah kamu dan melamar kamu secara resmi, aku ingin kita segera menikah, dan sepertinya kamu harus recruit orang lagi untuk ngejalanin tempat privat kamu..." jelas Firlan.


Sejujurnya Vira ingin tetap menjalankan apa yang dimulainya dengan susah payah itu. Tapi ketika menikah nanti pasti Firlan menginginkan dirinya untuk lebih banyak di rumah mengurus anak dan suami.


Malam itu mereka berdua menikmati makan malam romantis dengan ditemanii pemandangan langit yang cantik. Dua orang yang berbeda, kini mempunyai satu tujuan yang sama. Kegigihan Firlan ternyata kini membuahkan hasil. Sebelumnya dia tak pernah menginginkan sesuatu melebihi ini. Dia akan melepaskan orang yang tak ingin bersamanya. Tapi entah mengapa dengan Vira rasanya berbeda, keinginannya sangat besar untuk memiliki wanita itu. Dan kini dia hanya butuh beberapa langkah lagi untuk membuat wanita itu menjadi miliknya.


.


.


.


Ponselnya berdering, kali ini dia lupa untuk mengubah pengaturan ponselnya ke mode senyap, alhasil benda itu mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring dan sangat mengganggu tidurnya saat ini.


"Ya ampun, nggak tau apa aku iniasih ngantuk!" gam Vira sambil mengusap layar ponselnya tanpa membuka matanya terlebih dahulu.


"Halooooo!" sapa Vira dengan suara seraknya.


"Iyeeeeeeeemmmmmm!" teriak suara sahabatnya di seberang telepon dengan menyebut panggilan legend diantara mereka.


"Astagaaaaa, woy...! ini kuping bisa budek mendadak, woy!" Vira kaget karena tiba-tiba saja ada yang mrmanggilnya Iyem.


"Ada apa sih, Jum? ngagetin aja? lagian kesambet apaan deh, manggil orang pakai nama legend?" Vira mengusap telinganya yang sakit.


"Heh, jangan bahas itu. Kamu dilamar kak Fitlan kenapa nggak cerita sih, Yeeeeeeem? kamu udah nggak nganggep aku sahabat lagi, iya?" tanya Amartha, ya orang yang sedang menghungi Vira adalah sahabatnya, Amartha


"Kamu dari mana, Jum? eh, Ta?" tanya Vira yang lupa menyebut Amartha dengan nama Juminten.


"Dari medsos! kalian Viral tuh, ngelamar di bioskop, ih to twiiit banget deh..." kata Amartha.

__ADS_1


"Medsos? aku nggak ngepost apa-apa loh, padahal..." batin Vira.


"Kok kamu nggak cerita, sih! jahat kamu, Vir!" lanjut Amartha.


"Bukannya nggak mau cerita tapi aku juga itu kan dadakan, dan emang belum sempet cerita aja," kata Vira pada Amartha yang sudah heboh sendiri.


"Terus gimana-gimana? kalian kapan nikah?" tanya Amartha.


"Jauh amat nanya nya? ketemu sama orangtua aja belum, Ta..." jawab Vira.


"Ya kan paling bentar lagi, kalian ketemu dan nanti bisa langsung nikah. Aku nggak nyangka kak Firlan bisa ngelakuin hal romantis kayak gitu. Emang cinta bisa mengubah apapun, ya? pokoknya aku ikut seneng dengan hubungan kalian. Semoga kamu dan kak Firlan memang berjodoh dan bisa cepat naik pelaminan..."


"Aaamin, aaamim, Ta. Doain aja semuanya lancar, nggak terhalang restu orang tua..." ucap Vira.


"Pokoknya aku ikut seneng, dan kamu ngomong aja kalau kamu butuh sesuatu, oke?'


"Iya iya bawel .... hahahaha," Vira tertawa kecil dan menutup panggilan dari sahabatnya.


Dan kebetulan sekali ketika matanya sudah ternuka ada panggilan masuk lagi seseorang, kali ini dari Gusti.


"Halo," sapa Vira.


"Aku ada di depan, kamu bisa buka pintunya?" tanya Gusti.


"Hah? gimana- gimana?" Vira masih belum loading.


"Aku ada di depan, kamu bisa buka gerbangnya? soalnya masih di gembok..." ucap Gusti.


"Duh, gimana, ya? bukain pintu nggak, ya?" batin Vira.


"Halo, Vira. Kamu masih denger aku, kan? atau suaraku putus-putus?" tanya Gusti.


"Ehm, aku ... aku lagi nggak di rumah. Aku lagi nginep di rumah temen," kata Vira samnbil mengintip dari jendela kamarnya, ia melihat pria itu sedang berdiri di luar.


"Aku kira kamu ada di rumah, karena aku bawa sarapan buat kamu. Sekalian aku mau ngajakin kamu ketemu Gia di rumah..." ucap Gusti.


"Iya nggak lagi di rumah. Salam aja ya buat Gia..." ucap Vira yang sebenarnya tak enak hati jika harus berbohong, tapi mau bagaimana lagi?


"Ya sudah kalau begitu..." ucap Gusti, ia menutup telepon dan segera meninggalkan kontrakan Vira. Sedangkan Vira yang melihat itu ada perasaan yang sedikit mengganjal, dia terus memandangi pria itu hingga ia masuk ke dalam mobilnya.


"Untung saja..." Vira menghembuskan nafasnya lega.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2