Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Bukan Tante Vira


__ADS_3

Firlan dengan ragu dan malu mengambil barang itu. Dia memasukannya ke dalam koper dan segera menutupnya.


Pria itu keluar dari kontrakan dengan menarik koper seperti sebuah kontestan sebuah ajang pencarian bakat yang pulang karena tereliminasi. Pria itu tak lupa mengunci pintu dan segera memasukkan koper ke dalam mobilnya.


"Astaga, kenapa aku masih kepikiran!" Firlan menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh karena masukkan baju milik Vira.


.


.


Di kediaman milik Satya.


Amartha begitu heboh karena mendengar sahabatnya sakit sampai harus opname di rumah sakit.


"Aku nanti mau jenguk Vira, Mas..." ucap Amartha seraya memasangkan dasi pada suaminya.


"Iya, Sayang. Tapi Evren jangan dibawa, ya? kasian, titipin aja ke rumah Mami..." ucap Satya.


"Titipin? emangnya Evren barang?" Amartha kesal dengan ucapan suaminya itu.


"Ya bukan barang, maksudnya biar Evren ditinggal di rumah mami aja, mami juga kan seneng main sama cucu..." kata Satya.


"Mas? pokoknya biaya rumah sakit Vira nggak boleh keluar sepeser pun, kamu yang bayarin ya?" ucap Amartha seraya memakaikan jas abu-abu pada suaminya.


"Iya, Sayang. Aku yang bayar dan dia nggak akan jeluar uang sepeser pun, oke?"


"Oke, maksih, Sayang!" kata Amartha.


"Manggil sayang kalau ada maunya aja," gumama Satya.


"Tadi kamu bilang apa, Mas?" tanya Amartha.


"Nggak ada, Sayang. Aku haya bilang aku hari ini akan sangat sibuk, jadi aku nggak bisa ngantar kamu ke rumah sakit," ucap Satya.


"Nggak apa-apa, aku akan kesana diantar Damian. Sudah siap," ucap Amartha ketika selesai mendandani suaminya yang semakin hari semakin tampan saja.


"Aku berngkat, love you!" ucap Satya seraya mengecup kening istrinya.


"Hati-hati, Mas..." ucap Amartha, ia melambaikan tangan pada suaminya yang krmudian hilang dibalik pintu.


Amartha mengambil ponselnya dan menelepon mertuanya, Sandra.


"Assalamualikum, Mam..." sapa Amartha saat panggilannya tersambung.


"Waalaikumsalam, ada apa, Sayang?"


"Mam, pagi ini Amartha ada perlu nengok temen ke rumah sakit, tapi mas Satya nggak boleh kalau Evren diajak. Kalau Mami nggak repot, gimana kalau Evren main dulu di rumah Mami?" tanya Amartha.


"Boleh, Sayang. Atau mami aja yang ke rumah kalian? kebetulan semalam mami habis belanja baju-baju ubtuk Evren. Nanti mami kesana, ya?"


"Makasih ya, Mam. Maaf jadi ngerepotin mami..." ucap Amartha.


Walaupun di rumah ada pelayan tapi Satya selalu berpesan kalau Evren tidak boleh ditinggal hanya dengan pelayan. Suaminya itu mamang sangat protective dengan anaknya.


.


.


.

__ADS_1


Sementara di tempat les milik Vira. Fidya sibuk menshare info tentang jadwal libur mendadak.


Zanna mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan hari ini dia terlihat begitu lesu.


"Zanna? rambutmu?" Fidya mengernyit, karena tadinya ia mengira yang datang dengan potongan rambut pendek itu adalah Vira. Namun nyatanya ia salah, orang yang kini berada di dalam satu ruangan dengannya bukan Vira melainkan Zanna.


Zanna tak merespon pertanyaan Fidya, dia mengeluarkan ponselnya dan membaca broadcast dari Fidya.


"Kenapa diliburkan?" tanya Zanna, Fidya hanya mengendikkan kedua bahunya. Diaadih memperhatikan penampilan Zanns yang sangat berbeda.


Sedangkan pikiran Zanna melayang pada kejadian kemarin sore.


"Apa ada hubungannya dengan kejadian itu?" gumam Zanna lirih, namun Fidya masih bisa mendengar apa yang Zanna ucapkan.


"Kejadian apa, Zan? emang kemarin ada apa?" tanya Fidya.


"Nggak ada apa-apa, Fid. Aku siapin alat-alat melukis untuk anak-anak dulu, hari ini cuma sesi 2 kan...?" ucap Zanna ngeloyor pergi ke arah tempat penyimpanan alat dan bahan.


Sementara Fidya menatap Zanna dengan tatapan menyelidik, dia yakin ada yang disembunyikan oleh Zanna.


"Apapun yang tersembunyi pasti akan terbongkar suatu saat nanti," batin Fidya tanpa melepaskan pandangannya dari Zanna.


Firlan yang sudah sampai di rumah sakit menarik dua koper.


"Mari saya bantu, Tuan?" ucap seorang perawat yang melihat Firlan sangat kerepotan.


"Terima kasih..." ujar Firlan seraya berjalan menuju ruang perawatan Vira.


Ketika Firlan masuk, rupanya Vira sedang tertidur.


"Taruh disitu saja, Sus. Terima kasih..." kata Firlan lirih.


Firlan meletakkan koper yang ada di tangannya, dan berjalan ke arah ranjang dimana Vira berbaring.


"Baru sakit sehari aja udah keliatan kurus," batin Firlan.


Pria itu kini beralih ke sofa, ia menyadarkan punggungnya. Lumayan, dia menikmati cuti yang jarang dia ambil. Lagipula dia tidak akan tenang meninggalkan Vira sendirian di rumah sakit.


.


.


Matahari semakin naik ke atas. Gia yang sudah diijinkan untuk kembali belajar melukis begitu senang karena akan kembali bertemu dengan Vira.


Dan gadis kecil itu biasa datang lebih awal agar bisa mengajak Vira untuk makan siang.


Tok.


Tok.


Tok.


Penny mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam ruangan itu.


"Hai..." sapa Fidya. Gia melihat sosok wanita berambut pendek refleks ia memanggilnya dengan senang.


"Tante Vira..." Gia berlari menuju wanita yang berdiri membelakanginya namun setelah wanita itu berbalik, termyata bukan tante Vira yang sebenarnya.


"Kamu bukan tante Vira!" Gia kecewa.

__ADS_1


"Maaf, dimana mbak Vira, ya? karena Gia ada kelas khusus dengan mbak Vira..." ucap Penny, sebenarnya Fidya maupun Zanna sudah hafal dengan jadwal khusus itu tanpa harus dijelaskan ulang.


"Begini, bu Vira nya tidak berangkat. Dan malah mulai besok kelas akan diliburkan untuk sementara waktu," ucap Fidya.


"Kira-kira kenapa ya, Mbak? soalnya nona kecil kalau tidak ada alasan yang masuk akal, dia akan mencari mbak Vira terus..." ucap Penny.


"Kebetulan bu Vira lagi sakit. Dan kami akan infokan lagi setelah ada instruksi selanjutnya dari bu Vira..." jelas Fidya.


"Jadi dia tidak berangkat karena sakit?" batin Zanna.


"Oh begitu, ya. Baiklah kalau begitu..." ujar Penny.


"Bagaimana, Penny? dimana tante Vira?" tanya Gia.


"Non, mbak Vira lagi sakit. Jadi mbak Vira tidak berangkat kesini..." kata Penny.


"Sakit? sakit apa? ayo kita jenguk sekarang?" ajak Gia.


"Hem, mbak Vira dirawat di rumah sakit atau?" tanay Penny pada Fidya.


"Kalau itu saya kurang tau ya, Kak. Soalnya bu Vira hanya berpesan tidak berangkat karema sakit, hanya itu saja..." jawab Fidya jujur.


"Ya sudah kalau begitu kami permisi," ucap Penny seraya mengajak Gia untuk keluar.


Gia merasa kesla dengan Penny, dia cemberut saat masuk ke dalam mobil.


"Aku mau telfon papi!" ucap Gia, dia meminta Penny untuk menghubungi Gusti.


"Apa tidak mengganggu tuan, Non?" Penny ragu untuk menghubungi majikannya.


"Aayo telfon saja, papi nggak akan marah kalau aku yang telfon!" suruh Gia.


"Iya iya, baik Non. Sebentar, biar saya hubungi dulu..."


Penny segera melakukan apa yang nona kecilnya minta, ia segera menelepon majikannya.


"Ini, Non..." ucao Penny lirih saat panggilanbya sudah tersambung.


"Halo, Papiii. Ini Gia Piiiih..." ujar Gia manja.


"Hai, Cantik. Ada apa?" tanya Gusti.


"Papi, Gia nggak les hari ini..."


"Loh, kenapa? kan papi sudah mengijinkan..." tanya Gusti.


"Katanya tante Vira sakit, Gia ingin ketemu tapi Gia nggam tau tante Vira dimana..." ucap Gia.


"Oh, tabte Viranya sakit? hem, begini saja. Nanti papi cari tau dulu, sekarang Gia pulang dulu saja, ya?" bujuk Gusti.


"Baiklah, Papi..." ucap Gia pasrah.


Gadis kecil itu menutup panggilannya dan menyerahkannya lagi pada Penny.


"Bagaimana, Non?" tanya Penny.


"Aku mau pulang..." kata Gia.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2