
"Ya kalau ibu nggak mau itu terjadi, ibu tinggal ngerestuin kita. Dan aku melamar Vira secepatnya," jata Firlan.
"Kamu terlalu terburu-buru, apa jangan-jangan kalian sudah..."
"Astaga, bukannya kemarin-kemarin ibu yang menginginkan aku untuk cepat menikah? dan sekarang aku ingin melamar dan menikahi Vira, ibu mengira kami sudah macam-macam. Vira wanita baik-baik, Bu. Selama ini kita menjaga satu sama lain, dan tidak melewati batas apapun..." jelas Firlan.
"Ya sudah kalau memang itu yang kamu mau, ibu akan melamarkan wanita itu untuk kamu. Dan semoga pilihanmu tidak mengecewakan..." kata Ratna.
"Terima kasih, Bu. Aku..." ucap Firlan seraya memeluk ibunya.
"Iya iya, ibu sesak nafas kalau kamu peluk terus seperti ini..." ucap Ratna.
"Ya sudah, aku pamit ya, Bu. Sudah malam," ucap Firlan sembari meraih tangan ibunya dan melesat pergi.
"Astaga, anak itu benar-benar membuat kepalaku pusing!" Ratna memegangi kepalanya saat melihat kelakuan anaknya, Firlan.
Sementara Firlan yang sudah mengantongi restu dari ibunya tentu sangat bahagia. Tapi untuk sementara ini, Firlan akan merahasiakan ini dari Vira.
"Alhamdulillah, akhirnya..." Firlan tak bisa menyembunyikan semburat bahagia di wajahnya, bahkan sepanjang perjalanan wajahnya begitu sumringah.
Firlan seketika teringat kalau dia belum mengabari Vira, wanita itu pasti mengira dirinya marah karena dia tak membalas lagi telfon yang tak sempat ia jawab tadi sore.
"Halo? Ay...?" ucap Firlan saat panggilannya tersambung pada Vira.
"Iya, Ay ... kamu dimana? kamu udah pulang kantor atau belum?" Vira mencecar Firlan dengan pertanyaan.
Yang ditanya bukannya langsung menjawab, malah senyam-senyum sendiri, karena merasa Vira sangat perhatian dengannya hari ini.
"Ay? kamu masih di kantor? kok nggak jawab sih?" Vira sewot.
"Eh, aku ... aku baru aja pulang, kamu udah makan belum?" tanya Firlan.
"Udah, aku tadi abis makan nasi goreng abang-abang yang lewat depan kontrakan..." kata Vira.
"Oh, aku kira kamu belum makan. Kalau belum kan aku kesana bawain kamu makanan..." kata Firlan, padahal posisinya sejarang lumayan jauh dari kontrakan Vira.
"Nggak usah, aku udah makan kok. Sekarang malah udah ngantuk..."
"Perut kamu gimana? masih sakit?" tanya Firlan.
"Sedikit, tapi jauh lebih baik..." jawab Vira.
__ADS_1
"Ya udah, Ay. Nggak baik nyetir sambil nelfon, kamu lagi nyetir kan?"
"Iya, aku lagi nyetir ... ya udah, aku tutup telfonnya. Jangan lupa kunci pintu dan semua jendela..." perintah Firlan.
"Siap, Bos! udah ya, ngantuk banget nih ... bye Ay..."
"Bye, Ayamku..." lirih Firlan, kemudian dia tertawa kecil saat menyebutkan kalimat itu.
.
.
.
Sementara di tempat lain, bau wangi daging yang di bakar memanjakan indera penciuman masing-masing.
"Jagung bakarnya sudah jadi," kata Gusti seraya menaruh tiga jagung bakar yang dioles dengan mentega dan sauce barbeque di atas piring.
Disini hanya ada Gusti dan Gia, tidak ada siapapun lagi. Gusti memang sengaja ingin menikmati sensasi bakar-bakaran dengan putrinya.
"Waaah, baunya lezaaat!" puji Gia.
"Sebentar lagi prawn skewers-nya matang," ucap Gusti saat menunjukkan beberapa tusuk udang kesukaan Gia yang dilengkapi dengan onion dan juga paprika, sangat menggugah selera siapapapun yang melihatnya.
Gusti juga memasak daging untuknya, di meja sudah ada beberapa tumisan baby kailan dan juga salad untuk melengkapi acara barbeque-an mereka.
"Minumannya, Tuan..." ucap salahbseorang pelayan yang membawa minuman es kelapa yang dipadukan dengan lemon dan juga potongan buah kiwi.
"Taruh disana, saja. Oh ya saya kalian bakar sendiri ya, prawn skewersnya masih banyak..." Gusti menunjuk satu box yang berisi prawn skewers yang masih mentah.
"Iya, Tuan..." ucap pelayan itu, yang kemudian mengambil beberapa tusuk udah yang di tusuk seperti sate.
Sedangkan Gusti sudah selesai dengan aksi bakar-bakarannya. Ia pun mengajak Gia untuk duduk untuk menikmati makan malam mereka.
"Kamu suka?" tanya Gusti.
"Suka, apalagi kalau ada tante Vira, pasti lebih seru, Piih..." seru Gia yang kini mengambil satu tusuk skeewers.
"Iya pasti lebih seru, kapan-kapan kita ajak makan seperti ini. Oh ya, hati-hati, masih panas Sayang..." ucap Gusti yang membantu Gia untuk memakan melepaskan udah dari tusukan sate yang terbuat dari stainless.
"Hummmm, yummy! enak ... enak, Piiih..." puji Gia, mata gadis kecil itu berbinar.
__ADS_1
"Makanlah, Sayang. Kalau kamu suka, papih akan sering-sering masakin kamu, biar kamu cepet gede..." kata Gusti sembari menyeruput minuman segarnya.
"Papi juga, ya?" Gia dengan susah payah menodongkan udang yang ditancapkan pada garpu.
"Terima kasih, Sayang..." Gusti melahap makanan yang ditujukan untuknya.
"Papi Gia pengen minum..." Gia menunjuk gelas yang sangat tinggi menurutnya dan susah digenggam.
"Minumannya enak dan segar, kamu pasti suka..." ucap Gusti seraya mengarahkan sebuah sedotan ke mulut anaknya.
Melihat Gia yang kini makan dengan lahap, mengingatkan dia dengan Vira yang lahap ketika menikmati makanannya. Pria itu pun tersenyum simpul saat mengingat pertemuannya dengan wanita yang diinginkan anaknya tadi siang. Dia tidak berani ceritabdengan Gia, bisa-bisa dia kena marah karena tak mengajaknya ikut serta.
"Papi kenapa?" tanya Gia yang melihat papinya senyam senyum tidak jelas.
"Kenapa? apanya?"
"Papi senyum sama siapa?" tanya Gia karena arah pandang papinya begitu aneh.
"Ah, itu. Papi senyum sama Gia, Gia makan dengan sangat lahap. Papi senang karena bisa membuat Gia juga senang..." jawab Gusti.
"Oh," hanya satu kata yang meluncur dari mulut gadis kecil yang lucu itu.
"Astaga, aku sampai tak bisa mengendalikan seny diwajahku seharian ini..." batin Gusti.
Malam semakin dingin, Gusti mengajak Gia masuk ke dalam. Pria itu menggendong anaknya di belakang punggungnya.
"Hahahaha, papiiiiii....!" Gia tertawa senang ketika Gusti menggendongnya setengah berlari menuju tangga.
"Bersiaplah, Sayang! kita akan melewati anak tangga itu, yihaaaaaaa!" Gusti seakan berperan seperti sebuah kuda.
Para pelayan yang sudah lama sekali tak melihat suasana rumah yang begitu ramai dengan gelak tawa Gia dan juga Gusti pun merasa senang. Mereka mengintip bagaimana ayah dan anak itu bermain dan tertawa lepas sampai ia tak melihat lagi sosok keduanya karena mereka sudah naik ke lantai dua.
"Tuan putri anda sudah sampai di depan kamar, ayo sekarang kita masuk ke dalaaam," seru Gusti sembari membuka pibtu dan menerobos masuk ke dalamnya sembari berlari dan berputar-putar.
"Hahahahhahaha, papi cukup papiiiiiii..." seru Gia dengan tawa renyahnya. Dan sekarang Gusti menurunkan gadis kecilnya di atas ranjang milik Gia.
"Hah ... hhh ... wah, Gia skarang berat juga ya? papi sampai ngos-ngosan begini..." ucap Gusti.
"Karena Gia makan sangat banyak tadi, Piiiihhh!" jawab Gia polos.
...----------------...
__ADS_1