
"Gia nggak suka sama tante itu, Piiihhh!" kata Gia melingkarkan tangannya di leher Gusti posesif, sementara pria itu mengusap pipinya yang dia khawatirkan terkena noda lipstik milik Vanya.
"Namanya tante Vanya..." ucap Gusti.
"Iya tante yang tadi pokoknya, Gia nggak suka..." kata Gia polos, dia merasa jika wanita tadi ingin merebut papinya
"Ya sudah, sekarang kita pesan makanan dulu baru kita ke rumah tante Vira..." kata Gusti sembari menaruh Gia di atas meja kerjanya.
Putri kecilnya itu duduk di meja dengan kaki yang menjuntai, dia sesekali memainkan kakinya. Gusti menelepon orang kepercayaannya dulu, memastikan kalau Vira sudah ada di kontrakannya.
"Dia sudah kembali ke kota ini?" tanya Gusti pada orang kepercayaannya.
"Sudah, Tuan!"
"Baiklah, terima kasih!" ucap Gusti seraya menutup sambungan telepon itu. Gia mengernyit mendengar percakapan yang sangat singkat antara papinya dengan seseorang.
"Sebentar, kita pesan makanan atau pesan buah saja ya?" tanya Gusti pada anaknya.
"Makanan saja," ucap Gia.
"Baiklah, kita pesan makanan yang enak..." kata Gusti. Ia kembali menelepon seseoeang kali imi asistennya untuk memesankan makanan dari restoran. Gusti juga berpikir ingin membelikan bunga untuk Vira.
Sementara di tempat lain, Firlan yang tadi ditelepon oleh Satya harus kembali ke kantor.
"Haiiiishhh, padahal aku udah ijin. Dasar bos suka seenaknya sendiri!" kata Firlan yang habis mendapat perintah untuk segera kembali ke kantor.
"Kenapa? manyun-manyun kayak gitu?" tanya Vira setelah menaruh secangkir kopi cream diatas meja.
"Suami temen kamu itu! kan aku udah bilang ijin hari kni, dia malah nyuruh aku balik ke kantor! katanya ada meeting mendadak," jelas Firlan.
"Ya udah sih, tinggal turutin aja. Udah resiko kerjaan jadi asisten! lagian udah nganterin aku pulang juga, kan?" ucap Vira.
"Iya sih, tapi kan..."
"Tapi-tapi apa? udah sana ngantor lagi, keburu di telfon lagi!" kata Vira.
"Ya ampun, sabar dulu napa sih! ini kopi aja belum aku minum," Firlan menunjuk kopi yang masih mengeluarkan asap putih.
"Ya maksudnya minum dulu, terus baru ngantor!" kata Vira.
"Padahal dulu tuan Abiseka nggak gini-gini amat. Parah banget anaknya, nyusahin mulu! dari mulai kerjaan sampai urusan percintaan,"
Bukannya menyeruput kopinya, Firlan malah curhat pada kekasihnya.
"Ya beda orang beda kepemimpinan, Ay! lagian, kalian itu cocok. Sama-sama nyebelin, jadi pas!" kata Vira.
__ADS_1
"Astaga, pacar sendiri dibilang nyebelin!" Firlan yang tadinya mau mengambil cangkir yang berisi kopi tidak jadi dan malah mencubit pipi Vira.
"Ampuujjn! nyubit mulu, dikira mochi kali!" Vira mengusap pipinya, Firlan tersenyum tipis dan menikmati kopinya sedikit demi sedikit.
Fitlan sangat menyukai kopi buatan Vira, menurutnya rasa manisnya sangat pas di lidahnya. Ya minimal masih ada nilai plus dari wanita itu untuk menutupi kepayahannya dalam hal masak-memasak.
"Katanya ditungguin?" tanya Vira.
"Kok kamu ngusir?" tanya sinis Firlan.
"Bukannya ngusir tapi ngingetin,"
"Sama aja!" ucap Firlan, dia masih menikmati minumannya, rasanya sangat tudak rela untuk meminumnya buru-buru.
"Aku ke kantor dulu, ya? nanti aku kesini kalau udah selesai urusan, mungkin agak sorean ya..." kata Firlan yang sudah mebghabiskan minumannya dan kini mencondongkan badannya, ia mengecup kening Vira sebelum ia beranjak pergi.
Ada sensasi hangat, dari bibir pria yang menempel di keningnya itu.
"Hati-hati, nggak usah kebut-kebutan di jalan, itu jalanan pemerintah bukan nenek moyang!" kata Vira mengingatkan.
"Aku ini sudah sangat ahli dalam menyetir," kata Firlan, menepuk dadanya sendiri.
"Malaikat maut nggak pilih kasih, nggak ngeliat mana yang ahli nyetir aman yang masih amatir. Jangan aneh-aneh!"
"Kamu istirahat ya," kata Firlan yang memeluk hangat Vira kemudian melepaskannya.
"Iya, nanti aku istirahat. Hapeku batrenya low, mau aku charge. Jadi mungkin nggak bisa di telfon," kata Vira.
"Ya, nggak apa-apa. Nanti sore aku langsung kesini aja," ucap Firlan yang kemudian pergi dan hilang dari pandangan Vira.
Setelah Firlan pergi, Vira membawa cangkir bekas minum kekasihnya itu ke wastafel yang ada di dapur.
"Ya ampun, badanku pegel-pegel semua!" Vira memijit lengannya sendiri. Kini wanita itu masuk ke dalam kamarnya, dan segera men-charge ponselnya.
Bajunya yang sudah ia kenakan dari pagi pun sekarang ia ganti. Dia menggunakan baju yang lebih nyaman. Dia melempar tubuhnya ke atas ranjang, rasa nyaman segera menyapa tubuhnya yang lumayan merasakan lelah setelah berjam-jam melakukan perjalanan jauh.
Meskipun tadi sempat tertidur di ruangan Firlan, namun nyatanya dia masih sangat lelah.
"Naik kereta aja capek, ya! heran, perasaan dulu nggak ginj deh ... aduh emang udah mylai berumur apa ya?" Vira menertawakan dirinya sendiri.
Matanya kini semakin mengantuk, namun ketika dia akan terbang ke alam mimpi, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.
"Astaga, ngapajn lagi si ayang embe datang lagi? apa ada yang ketinggalan?" Vira berdecak kesal karena istirahatnya yang merasa terganggu.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
Beberapa kali pintu ketuk dan otomatis Vira harus turun dari ranjangnya untuk membukakan pintu untuk tamunya.
"Selamat siang, Tanteeeee..." seru Gia saat pjntj sudah terbuka lebar. Gadis itu membawa bunga mawar merah dan memberikannya pada Vira.
"Gia?" kening Vira berkerut mebdapati Gia ada di depan rumahnya dan juga ia melihat sosok Gusti bersama anak itu.
"Maaf mengganggu waktu iatirahat kamu, Vira. Aku dan Gia kesini mau menjenguk kamu," kata Gusti.
"Oh gitu. Emh, ayo masuk dulu Gia ... Mas..." ycap Vira memberi akses kedua orang itu untuk masuk.
"Oh, ya ini ada makanan buat kamu..." kata Gusti.
"Padahal nggak usah repot-repot karena aku udab sembuh kok. Tapi amaksih sebelumnya. Silakan duduk. Sebentar akh buatkan minuman..." kata Vira.
"Gia ingin minuman dingin?" tanya Vira.
"Boleh, tanteeeee..." sahut Gia, ia tersenyum manis.
"Ya sudah, tante buatkan dulu. Gia tunggu disini dulu ya sama papi..." kata Vira.
Hati Gusti sangat senang kala Vira menyebut dirinya dengan sebutan papi, meskipun itu saat bicara dengan Gia, anaknya. Tapi mendengar kata itu meluncur dari mulut Vira, hatinya menghangat.
"Papi, inj rumah tante Vira?" tanya Gia setengah berbisik.
"Iya, ini rumah yang dia sewa..."
"Kenapa harus disewa?" tanya Gia.
"Ya karena rumah ini milik orang lain, dan tante Vira mengontrak di rumah ini..." jelas Gusti pelan-pelan.
"Kenapa tidak tinggal di rumah kita saja?" tanya Gia.
"Ehm, itu karena..." ucap Gusti menggantung.
Ketika Gusti akan menajwab pertanyaan dari anaknya, Vira muncul dengan minuman yang
dia letakkan di atas nampan.
"Silakan diminum, Gia ... mas Gusti..." kata Vira.
...----------------...
__ADS_1