
Namun yang dikatakan wanita itu hanya di bibir saja, nyatanya sekarang dia sudah tidur dengan nyenyak. Firlan hanya bisa melengkungkan senyumnya sekilas.
"Bilangnya cuma merem, tapi nyatanya dia udah tidur dan bisa jadi udah nyampe ke alam mimpi..." Firlan yang dulu jarang sekali tersenyum, kini semenjak kehadiran wanita super cerewet ini sedikit banyak mengubah kehidupannya.
Firlan masih mengerjakan pekerjaannya sambil sesekali memperhatikan kekasihnya.
Drrrt...
Drrtt...
Ponsel Firlan bergetar, menampilkan nama si bos.
"Halo, ada apa, Tuan?" tanya Firlan.
"Lan? kamu ada di kantor?" tanya Satya.
"Ya, tapi sebentar lagi saya mau pergi, Tuan..." jawab Firlan.
"Ke ruanganku sebentar," titah sang CEO.
"Baik..." ucap Firlan, ia segera bangkit dan pergi dari ruangannya meninggalkan Vira sendirian di ruang kerjanya.
"Maura, di dalam ada tunangan saya. Jangan ada yang masuk ya, dia lagi ketiduran di sofa soalnya..." kata Firlan.
"Ciyeee tunangan...! udah go public nih ceritanya..."
Firlan hanya menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan ke ruangan si bos laknat, sedangkan Maura masih cekikikan sendiri karena berhasil membuat si asisten kulkas yang sering sekali berdebat dengan bosnya itu pergi dengan wajah yang merah.
"Wanita yang di dalam itu pasti spesial. Pak Firlan yang workaholic dan jarang senyum itu sampai bisa jatuh cinta, ckckckck diam-diam menghanyutkan nih!" gumam Maura seraya duduk kembali.
Sementara Firlan oergi, Vira masih tertidur di ruangan bahkan dia semakin nyenyak saja. Vira mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Bangun sebelum jam 3 pagi dan melakukan perjalanan yang cukup jauh membuat Vira sangat lelah. Di dalam kereta ia bermain game dan sesekali berselancar di dunia maya, jadi sangat wajar kalau wanita utu sekarang merasakan kantuk yang amat sangat.
Firlan segera kembali lagi ke ruangannya setelah urusannya sudah selesai dengan Satya.
"Astaga, dia masih tidur..." Firlan menekuk kakinya dan melihat Vira dari jarak yang cukup dekat.
"Dimanapun dia bisa tidur, dasar...." Firlan mengelus pipi Vira sekilas lalu ia berdiri dan kembali ke meja kerjanya lagi.
Tak lama, Vira pun terbangun dan mendapatj Firlan yang tengah sibuk dengan pekerjaaannya.
"Emmh! hoaaaam..." Vira mengucek matanya.
"Ay, jam berapa?" tanya Vira yang kini masih mengumpulkan nyawanya.
"Jam berapa, ya?" bukannya menjawab tapi Firlan malah berbalik bertanya.
"Aku nanya kamu loh, malah balik nanya!" kata Vira sebal.
"Udah cukup siang, pokoknya, kenapa?" tamya Firlan sembari menghentikan aktivirasnya.
"Kenapa nggak bangunin aku?" tanya Vira.
"Kamu tidurnya nyenyal banget! mana mungkin aku banginin buat sekedar bilang kalau aku mau nganter kamu," jawab Firlan.
"Hemm, lagian nggak enak kalau ada yang masuk ruangan kamu," kata Viea seraya menyisir rambutnya dengan jari, ia sekarang duduk menghadap ke arah pria itu.
__ADS_1
"Nggak ada yang bakal kesini, aku kan udah bilang bukan?" Firlan menghentikan pekerjaaannya dan mulai meregangkan otot-otot yang rasanya mulai kaku.
"Arrgh, aku juga sebenarnya udah ijin hari ini. Tapi berhubung kamu tidur dan malah nyenyak banget, akhirnya aku lanjutin kerjaan..." lanjut Firlan.
"Ya udah, sekarang anterin pulang aja," kata Vira.
dan Firlan tentu saja menuruti keinginan Vira, mereka keluar dari perusahaan itu dan bergerak menggunakan mobil untuk pergi ke kontrakan Vira.
"Nggak usah ngebut, aku masih pengen hidup!" Vira mengingatkan Firlan.
"Iya calon istriku! ini nggak ngebut, cuma agak cepet aja dikit jalannya..." kata Firlan ngeles, dia memelankan laju mobilnya lagi bahkan sangat pelan.
"Astaga, nggak segini juga kali. Segini mah kayak naik odong-odong," protes Vira.
Pria itu menaikkan dua sudut bibirnya ke atas, setelah berhasil membuat Vira mengomel.
Setelah sekian puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di kontrakan Vira.
"Dah sampai..." kata Firlan.
"Iya tau..." Vira membuka sabuk pengaman dan langsung keluar tampa menunggu dibukakan pintu oleh Firlan, karena dia harus membuka gembok pintu gerbang agar mobil Firlan bisa masuk.
Setelahemarkurkan mobilnya, Firlan pum mengikuti Vira ke dalam.
"Mau bikin minum apa?" tanya Vira basa-basi.
"Apa aja,"
"Berarti air kobokan mau ya?"
"Ya nggak kobokan juga kali, Ay! sadis banget sih jadi calon istri!" protes Firlan.
"Ya yang manusiawi dikit lah, Viraaaa!" Firlan duduk sambil melipat tangannya.
"Kopi sasetan aja ya? adanya itu!"
"Jangan lupa kasih creamer!" ujar Firlan.
"Ya...!" Vira ngeloyor pergi. Dia langsung membuatkan kopi untuk sang calon suami yang sekarang jadi ikut-ikutan rewel.
Sementara di tempat lain. Gia menelepon sang papi. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Vira.
"Halooo, Papiiii..." suara Gia menyapa telinga Gusti.
"Halo juga, Sayang ... ada apa?"
"Papiiiih, Papiih kan sudah janji mau mengantar Gia menjenguk tante Vira. Apa hari ini sudah bisa?" tanya Gia penuh harap.
"Hari ini ya? emhhh..." Gusti nampak menimbang-nimbang perkara permintaan sepele dari Gia namun sulit untuk dikabulkannya.
"Halo ... halooo, Papiiiii?" Gia memanggil ayahnya lagi.
"Emh, ya halo, Gia..."
"Gimana, Piiiiiih? kita bisa kan jengukin tante Vira hari ini?" tanya Gia lagi.
__ADS_1
"Ya, Sayang...."
"Assiiiiiiikkk, Gia ke kantor Papi sekarang, ya ya ya?" Gia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Iya, Sayang..."
Gia langsung menutup panggilan telepon itu.
"Bagaimana, Non?" tanya Pennya penasaran.
"Banti aku bersiap-siap, Penny!" Gia menarik-narik baju Penny.
"Iya iya, Non!"
"Ayo, kita harus cepat! aku mau ke kantor Papiiii..." Gia menarik Penny agar mau mengikutinya menuju lemari pakaian.
Gia yang baru saja pulang sekolah, mengganti bajunya. Dia juga meminta Penny menata ulang rambutnya. Dia ingin rambut panjangnya dibiarkan diurai.
"Ayo, kita ke kabtor papi, sekaraaaaaang..." Gia merengek ingim cepat-cepat pergi.
"Sebentar dulu, Non. Ini rambutnya lagi disisir dulu. Biar nggak berantakan, biar nggak kayak rambutnya singa..." jawab Penny yang masuh menyisiri rambut nona kecilnya itu.
"Nah, sudah rapi..." ujar Penny, ia meletakkan sisir di tempat semula.
Tanpa aba-aba Gia bangun dari duduknya dan segera menarik pengasuhnya itu untuk keluar dari kamarnya. Gadis kecil yang sudah rapi dan wangi itu mengajak pengasuhnya untuk naik mobil dan pergi ke perusahaan sang Papi.
Selama di perjalanan, Gia tak banyak bicara. Namun dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Tak lama mereka sampai juga di perusahaan milik Gusti Alvaro. Gia tak sabar ingin bertemu dengan sang papi. Dan saat ointu dibuka, tiba-tiba ia melihat sosok wanita lain berada di dalam ruangan ayahnya.
"Papiiiiiih..." panggil Gia.
"Gia, sudah datang, Sayang..." Gusti menghampiri putri kecilnya dan menggendongnya.
"Kenapa ada dia, Piiih?" bisik Gia.
"Papih tidak tau, Sayang..." ucap Gusti yang juga berbisik.
"Wah, ada Gia. Kebetulan dong ... kita makan siang bareng aja sekalian," kata wanita itu.
"Kami sudah ada acara sendiri, tante Vanya!" kata Gia menginterupsi sang papi yang baru saja ingin menjawab ajakan Vanya.
"Acara apa? kan kita bisa pergi bersama-sama..." kata Vanya.
"Gia sedang ingin jalan berdua dengan papinya, mungkin lain waktu lagi, Van..."
"Kamu selalu bilang lain kali, Varo!" Vanya mulai kesal dengan Gusti.
"Ayo, Papiiiih..." Gia merengek terus.
"Maaf ya, Van ... mungkin lain kali,"
"Baiklah, baiklah ... lain kali," Vanya berjalan ke arah Gusti dan sekilas mengecup pipi pria yang sedang menggendong anaknya itu.
"Aku pergi..." ucap Vanya.
__ADS_1
...----------------...
...----------------...