Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Wife Material


__ADS_3

"Oke, tutup mata kalau gitu..." kata Vira.


"Ngapain pakai tutup mata segala?"


"Ya udah kalau nggak mau," tangan Vira sudah meraih papper cup berniat meminumnya.


"Nggak boleh!" Firlan merebut kembali soda yang baru sedikit ia cicipi.


"Ya udah, aku merem..." kata Firlan yang memejamkan matanya.


"Jangan ngintip..."


"Mana?" Firlan belum juga merasakan sesuatu yang menubruk bibirnya.


"Kerasa nggak?" tanya Vira yang menempelkan burger ke mulut Firlan.


Dan seketika pria itu membuka matanya.


"Aiiihhh, kamu mau ngerjain aku, ya!" Firlan mengelap mulutnya dengan tisu lalu menggelitiki pinggang Vira.


"Hahahahahah, ampun! ampuuuuun!" Vira meletakkan lagi burger yang ada di tangannya. Wanita itu berlari menghindari Firlan yang ingin menangkapnya.


"Sini jangan lari!"


"Nggak kena, wleeeeee!" Vira berlari menjauh dari Firlan, namun usahanya sepertinya gagal karena pria itu berhasil menangkapnya dan menjatuhkannya ke atas ranjang.


"Hhh hhh ... capek!" Vira berusaha bangkit dan melepaskan tangan Firlan yang ada di perutnya.


"Awas..." kata Vira.


Namun Firlan tak mau mengangkat tangannya, dia malah semakin mengeratkan pelukannya di perut Vira.


"Biarkan seperti ini sebentar," kata Firlan yang kini memeluk Vira dari belakang.


"Tapi aku haus," kata Vira yang beralasan karena jujur saja saat ini jantungnya berdegub lebih kencang ketika berada di posisi sedekat ini dengan Firlan.


"Sebentar aja, Ay. Aku kangen sama kamu..." kata Firlan yang mencium rambut Vira yang wangi.


"Munggu depan kita ketemu ibu, ya? selama kita pacaran kan kamu belum pernah ketemu sama ibu ku..." ucap Firlan.


"Aku belum siap,"


"Terus kapan? aku takut kalau kelamaan aku bisa hilaf, apalagi kalau deket sama kamu..." kata Firlan.

__ADS_1


"Aku pengen hubungan kita naik level keseriusannya, kamu mau kan?" lanjut pria itu yang kini membalik tubuh Vira, mata mereka beradu.


"Kamu mau kan?" Firlan bertanya lagi.


"Minggu depan apa nggak terlalu terburu-buru?" Vira masih saja berusaha untuk menghindar.


"Nggak, kan aku udah nungguin lama buat bikin hubungan ini jelas arahnya kemana..." Firlan menyelipkan rambut di telinga Vira.


"Kalau ibu kamu nggak setuju? kan aku nggak ada wife material sama sekali," kata Vira yang tidak yakin dengan dirinya sendiri.


"Ppfttt, apa? wife material? pusing banget mikirin kayak gitu, tenang aja. Ibu nggak bakal nolak permintaan anak tunggalnya," kata Firlan seraya mencium Vira dengan lembut.


Firlan menyatukan keningnya dengan Vira, "Aku serius dan aku pengen milikin kamu seutuhnya," ucap Firlan yang segera menghentikan apa membuatnya terbuai.


"Aku nggak bisa muter-muter buat cari kata romantis, intinya aku cinta kamu dan aku pengen kita bersama," ucap Firlan yang payah dalam urusan rayu merayu.


"Aku masih laper! aku mau makan..." Vira mendorong Firlan menjauh darinya dan wanita itu berjalan ke arah sofa dengan wajah yang merah merona.


"Hey, tunggu! aku juga masih lapar..." kata Firlan yang menyusul Vira.


Setelah makan, Firlan berniat untuk pergi ke kamarnya.


"Udah malam, sebaiknya aku ke kamarku sekarang..." kata Firlan. Vira hanya mengangguk.


"Dih, siapa juga yang nggak rela, aku tuh ydah ngantuk tau! makan banyak bikin mataku sepet," kata Vira.


"Ya sudah, aku pergi..." kata Firlan yang kemudian keluar dari kamar Vira.


Sementara Vira berjalan ke arah toilet untuk menyikat giginya. Wanita itu memandangi wajahnya sejenak.


"Nggak kebayang ketemu calon mertua, muka udah kureng kayak gini nggak ada glownibg-glowingnya, auto ilfeel dah tuh camer. Nggak siap sumpeh..." ucap Vira yang kemudian meletakkan pasta gigi di atas bulu sikatnya.


Setelah menyikat giginya selama 3 menit, Vira pun membasuh wajahnya dan mengelapnya dengan tisu.


"Perawatan dulu kali ya? kulit udah begini amat kena sinar matahari," Vira memoerhatikan wajahnya, dia merasa insecure berlebihan terhadap penampilannya yang menurutnya lumayan ketinggalan jaman.


Vira berjalan keluar dari toilet, dia melangkah menuju ranjangnya dan mematikan sebagian lampu, karena Vira tidak akan bisa tidur dalam keadaan gelap total. Wanita itu menyembunyikan dirinya dibalik selimut tebal.


"Berarti aku harus perawatan sebadan-badan, beli baju sama beli sepatu. Aku nggak boleh begadang, biar muka ku ini selalu fresh nggak kayak orang capek nguli cari duit," Vira ngoceh sendiri sebelum akhirnya matanya terpejam dan ia mulai terlelap.


.


.

__ADS_1


Pagi harinya, Vira sebfaja bangun pagi-pagi sekali karena dia ingat kalau harus mengajar jam 10 pagi nanti. Sekarang masih jam 7, dan masih ada kesempatan untuk sarapan dengan kedua orangtuanya.


"Mandi dulu aja, sebelum Firlan kesini..." Vira langsung ngibrit ke toilet. Dia menyalakan shower dan mengguyur badannya dengan rintik air hangat yang turun bagaikan hujan yang deras.


"Aiih, ngapain aku mandi kayak orang kesetanan. Kan krmarin aku udah nitipin kunci sama Zanna, dia pasti bisa dateng lebih awal buat beberes ruangan..." Vira bermonolog dengan dirinya sendiri.


Kini dia menikmati air yang mengguyur tubuhnya, membuat otot-otot yang tegang kini lebih rilex dan tentunya membuatnya lebih segar. Setelah selesai, wanita itu beralih ke wastafel, dia menyikat gigi dan setelah itu mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Apa kak Ricko nginep juga di hotel ini?" Vira sedang ngomong sendiri.


"Kalau iya, kayaknya canggung banget ketemu dia dengan status baru," kata Vira.


"Ah, mikir apa sih aku ini? kenapa malah pagi-pagi yang diinget suami orang!" Vira menoyor kepalanya dengan mesin pengering rambut.


"Aawhh, panas!"


Vira pun mematikan hair dryer dan menyisir rambutnya supaya lebih rapi.


Wanita itu keluar dari toilet dan mengambil baju baru yang belum dipakainya yang ada di dalam papper bag.


"Nggak nyangka pinter juga itu si asisten kaku nyariin baju buat aku, mana pas banget ukurannya..." ucap Vira yang mengingat Firlan yang setia menjadi asisten Satya suami dari Amartha.


Vira melihat pantulan dirinya dari balik cermin yang ada di ruangan itu.


"Manis banget sih, Viraaaa!" Vira cekikikan memuji diri sendiri.


Wanita berambut sebahu itu merapikan gaun yang semalam dia pakai dan juga dress yang teronggok di atas ranjang.


Ketika dirinya sudah selesai memasukkan baju ke dalam papper bag, ada seseorang yang memencet bell berkali-kali.


"Firlan nih mesti," gumam Vira.


"Yaaaa, tunggu bentar!" Vira bergegas berjalan menuju pintu dan memutar handle.


Ceklek.


"Udah mandi? aku kira masih tidur," kata Firlan yang melihat Vira sudah rapi dan wangi. Pria itu sudah rapi memakai kemeja semi formal.


"Kita sarapan sekarang," ajak Firlan.


"Bentar aku ambil hape dulu," ucap Vira yang ngeloyor ke dalam dan mengambil benda pipih berawarna hitam di tangannya.


"Om sama tante udah di resto di lantai bawah," kata Firlan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2