Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Lucu


__ADS_3

"Harusnya kamu nggak usah repot-repot, aku kesini buat jengukin yang abis sakit, eh jadinya malah ngrepotin..." kata Gusti, dia bisa melihat wajah lelah Vira.


"Aku udah sembuh kok," kata Vira tersenyum, dia bingung harus bersikap bagaimana. Disatu sisi dia merasa takut kalau-kalau Firlan mengetahui kedatangan Gusti di kontrakannya dan berpikiran macam-macam, disatu sisi dia juga kangen dengan gadis kecil yang datang bersama ayahnya.


"Tante sudah sembuh?" kata Gia menatap Vira yang kini duduk di hadapannya.


"Sudah, Cantik. Makasih ya udah jengukin kesini," kata Vira tersenyum hangat pada gadis kecil yang kini datang padanya dan duduk di sampingnya membawa bunga.


"Bunga buat Tante..." kata Gia, ia menyodorkan satu buket mawar merah. Gusti yang melihat interaksi anatara Vira dan Gia emndadak ingkn minum untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak melihat ke arah wanita itu terus menerus.


"Bunga? Gia yang beli?" tanya Vira sambil mengelus kepala anak itu.


"Bukan Gia tapi Papiii..." celetuk Gia.


"Uhukkkkk!" Gusti yang sedang minum jadi tersedak, karena jawaban yang keluar dari mulut Gia.


"Papi kenapa?" Gia melihat Gusti yang menaruh kembali cangkir diatas meja, wajahnya merah dan masih beberapa kali terbatuk.


Gusti menggeleng, sambil terusencoba meredakan batuknya.

__ADS_1


"Hanya tersedak, Sayang! uhuk!" ucap Gusti.


"Oh ya, Tante. Tadi Gia sama papi beliin tante makanan, nanti tante makan ya dan jangan lupa minum obat, biar bisaain sama Gia lagi..." kata Gia seperti orang dewasa.


"Oh ya, Cantik. Makasih ... nanti pasti tante makan," kata Vira.


"Gia haus..." ucap gadis cilik itu sambil menyentuh lehernya.


"Astaga, kamu sampai kehausan," Vira meletakkan bunga di atas meja dan mengambil minuman dingin untuk Gia.


"Gia boleh minum jus jeruk, kan?" Vira menunjukkan minuman untuk Gia.


"Kenapa?" Vira mengernyit sambil meminumkan air pada Gia.


"Ya kamu mubkasih Gia air jeruk aja minta ijin dulu sama aku," jawab Gusti.


"Udah, Sayang?" tanya Vira pada Gia, gadis kecil itu mengangguk kecil. Vira menaruh gelas tinggi itu ke atas meja kembali.


"Ya kan Gia nggak boleh makan/minum sembarangan, iya kan?" tanya Vira memastikan ingatannya masih berfungsi dengan baik.

__ADS_1


"Iya betul, tapi kan masa iya dia nggak boleh minum di tempat kamu? Gia itu nggak boleh jajan di pinggir jalan yang nggak jelas bahan dan pembuatannya," kata Gusti.


"Ya kan barangkali," Vira menyahut sambil memeluk Gia.


"Aku kangen bangetblih sama Tante..." kata Gia tiba-tiba.


"Ah, masa sih?"


"Iya, Tante jangan sakit lagi dan jangan masuk rumah sakit lagi..." kata Gia melepaskan pelukan Vira sambil ia gerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


"Oke, tante usakan nggak akan pernah sakit lagi," Vira mengusap kepala anak perempuan yang menatapnya dengan tulus.


Jika mengingat kalau Gia tidak memiliki ibu, rasanya Vira ingin mendekap anak itu sangat lama. Dia ingin memberikan kenyamanan dan kasih sayang pada Gia, dan itu terjadi secara alamai dan tidak dibuat-buat.


Sementara di luar kontrakan Vira ada sepasang mata yang menatap rumah itu dengan tidak suka.


"Oh, jadi mereka ke sini. Ke rumah wanita itu, wanita yang pernah mengerjaiku di butik? sialan! ternyata ini yang dimaksud ounya acara lain, dasar anak kecil menyebalkan! awas saja jika aku sudah menjadi Nyonya Alvaro, akan ku buat kau menurut padaku!" Vanya menatap sinis ke luar jendela mobilnya.


Wanita itu lalu tersenyum dan tertawa sendiri sambil membayangkan jika dirinya sudah menjadi istri dari Gusti Alvaro.

__ADS_1


"Dia akan berada dalam kendaliku, termasuk semua kekayaannya. Aku yakin, aku bisa membuat itu terjadi dalam waktu dekat! lihat saja nanti, untuk kali ini aku biarkan saja anak itu berbuat sesukanya. Tapi tidak untuk lain kali..." Vanya menekan pedal gasnya dan oergi menjauh dari kontrakan Vira


__ADS_2