Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Dua Pria


__ADS_3

Firlan berinisiatif memesankan minuman dingin untuk kedua orang yang sama-sama sedang menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Permisi, pesanan anda..." ucap seorang pelayan saat menaruh minuman di meja Satya.


Sontak Kenan dan Satya menoleh ke arah Firlan, mereka kompak berdecak.


"Silakan Tuan, supaya tenggorokan anda tidak kering!" jawab Firlan cuek.


Satya kembali menatap Kenan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kenan.


"Aku mau tanya, apa tujuanmu mrmbantu perusahaanku dengan menggunakan nama Irwan Maulana?"


"Oh, itu..." Kenan tersenyum, tangannya mengangkat gelasnya dan meminum minumannya dengan santai.


"Kenapa? memangnya tidak boleh?" lanjut Kenan.


"Kenapa kau harus menggunakan orang lain dan apa sebenarnya tujuanmu?" tanya Satya.


"Tidak ada. Tujuan apa?" Kenan malah bertanya balik pada pria yang kini menjadi suami dari mantan istrinya.


"Tidak mungkin jika kau tidak mempunyai tujuan tertentu!" tuduh Satya.


"Perusahaanmu sedang tidak stabil bukan saat itu? aku hanya tidak ingin Amartha sampai merasa sedih karena melihat suaminya yang sedang kesulitan," jawab Kenan.


"Aku tidak menyangka hal ini akan terbongkar secepat ini! padahal aku sudah bermain sangat rapi selama ini," lanjut Kenan.


"Sudahlah, aku berterima kasih karena bagaimanapun kau sudah membantuku. Tapi hal itu tidak serta merra membuatmu bisa bertemu dengan Amartha dengan leluasa," kata Satya.


"Aku tidak berhutang budi, bisnis adalah bisnis. Kita sama-sama memperoleh keuntungan, jadi aku harap kau tidak perlu lagi menggunakan nama Irwan setelah ini..." kata Satya.


"Oke, kalau begitu! deal!" kata Kenan.


"Lan, besok kau urus semua!" ucap Satya pada Firlan.


"Maaf saya tidak bisa, Tuan!" tegas Firlan.


"Kau berani membantahku?"


"Besok hari libur, Tuan! jadi saya tidak bisa, besok jadwal saya untuk healing!" seloroh Firlan.


"Hahahahahahaha," Kenan tertawa puas melihat Satya yang kesal dengan asistennya.


.


.


.


Vira yang sudah selesai dengan kegiatannya pun mengernyit heran.


"Kenapa ayang embe nggak nelpon? jangan-jangan dia lupa kalau udah ninggalin aku disini?" Vira mulai gelisah.


Vira menempelkan ponsel di telinga kanannya, beruntung panggilannya tersambung walaupun belum diangkat.


"Tadi dia bilang mau ketemu bosnya ya, tapi biasanya diangkat kok ya..." Vira bicara sendiri.


"Coba lagi deh..." wanita itu menempelkan lagi ponselnya ke telinganya.


"Halo, Ay...." sapa seorang laki-laki yang sudah Vira tunggu daritadi.


"Kamu dimana?" tanya Vira.


"Ini aku di mobil lagi mau ke tempat kamu, Ay. Kamu udah selesai?"


"Baru aja selesai," sahut Vira.

__ADS_1


"Ya udah, tunggu bentar. Aku bentar lagi nyampe kok," kata Firlan.


Dan sambungan telepon itu pun berakhir, Vira segera membayar semua perawatan yang sudah ia lakukan dengan kartu ajaib milik Firlan.


Vira menunggu di sofa, sambil menjelajah dunia maya. Dia sedang asik melihat orang mukbang bakso.


"Duh, bakso kuah pedes enak banget kayaknya deh..." ucap Vira.


Dan ternyata ketika Vira sedang fokus pada layar ponselnya, Firlan masuk dan duduk di sampingnya.


"Nonton apaan? serius banget?" tanya Firlan sambil melirik apa yang sesang dilihat kekasihnya.


"Ya ampun, Ay! bikin kaget tau, nggak?"


"Kamu yang terlalu fokus sama hape! udah selesai, kan? kita pulang sekarang!" Firlan mengajak Vira untuk meninggalkan tempat itu.


Mereka berdua pun melangkah pergi menuju mobil Firlan yang terparkir disana.


.


.


.


Pagi harinya, Vira bangun lumayan pagi. Badannya terasa lebih segar daripada sebelumnya.


Ketika ia membuka pintu depan, ia melihat Gusti berdiri di depan pintu gerbang.


"Emh, apa yang harus aku lakukan?" Vira bertanya di dalam hati.


Karena Vira sudah terlanjur menampakkan diri, tidak mungkin jika ia berpura-pura tidak melihat sosok Gusti. Akhirnya, Vira berjalan ke arah pintu gerbang dan membukakan pintunya.


"Sudah lama, Mas?" tanya Vira, dia bingung harus bertanya apa.


"Baru aja, kebetulan aku lewat daerah sini dan aku pikir aku bisa mampir sebentar..."


"Makasih, aku ganggu kamu ya, Vir?" tanya Gusti basa-basi karena ia menangkap raut wajah tidak nyaman dari Vira.


"Nggak. Emh, aku ... aku ke dalam sebentar," kata Vira.


Vira masuk ke dalam kamarnya dan ia menggelengkan kepalanya.


"Aku mandi dulu aja deh, nggak enak nerima tamu masih crumut..." ucap Vira. Wanita itu pun segera membersihkan dirinya, walaupun hanya beberapa menit saja tapi lumayan agar tidak terlihat berantakan.


Dan ketika Vira berada di dalam kamar, ternyata Firlan juga datang. Ia mengernyit heran saat melihat mobil lain terparkir di kontrakan kekasihnya.


"Mobil siapa ini?" gumam Firlan seraya melepas sabuk pengamannya.


Firlan segera keluar untuk mengetahui siapa yang bertamu pagi ini. Firlan sedikitbterkejut saat melihat seorang pria sedang duduk di salah satu kursi tamu milik Vira.


"Hemmm..." Firlan berdehem, membuat Gusti yang sedang duduk sambil melihat ponselnya pun mendongak melihat siapa yang datang.


Dan disaat yang bersamaan, Vira datang ke ruang tamu dengan membawa dua cangkir teh panas. Ia tak kalah terkejut melihat kehadiran Firlan juga disana.


"Ay, kamu datang..." lirih Vira.


"Lagi ada tamu?" tanya Firlan seraya duduk dan menatap Gusti.


Sesangkan Vira bingung harus bagaimana, dia meletakkan npan diatas meja dan menaruh cangkir masing-masing di depan kedua pria itu.


"Ay..." panggil Vira.


"Duduk disini," ucap Firlan seraya menunjuk satu kursi di sampingnya. Vira pun hanya bisa menuruti apa yang diminta Firlan, dia takut Firlan akan salah paham dengan kehadiran Gusti di kontrakannya sepagi ini.


Sedangkan Gusti hanya melihat Firlan dengan tatapan yang tenang.


"Sebenarnya mas Gusti tadi nggak sengaja lewat kesini dan sekalian mampir..." ucap Vira mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Benar kan, Mas?" Vira menatap Gusti.


"Ya, betul..." jawab Gusti.


"Oh, begitu. Aku kira kamu sengaja menemui pacarku..." celetuk Firlan.


"Pacar?" Gusti mengerutkan keningnya, pasalnya dia tidak mengetahui pasti Vira sedang dekat dengan siapa.


"Oh, aku kira kalian sudah putus..." ucap Gusti.


"Itu tidakungkin, bahkan kami akan segera menikah..." kata Firlan.


"Oh ya? menikah?" Gusti menatap Vira yang tersenyum canggung, sebenarnya dia tidak ingin pertemuan seperti ini terjadi. Walaupun dia tahu kalau Gusti ada kemungkinan menyukainya, Vira pikir bisa menjelaskannya nanti.


"Iya menikah, aku dan Vira akan menikah. Kalau tidak keberatan aku akan mengundangmu juga," ucap Firlan seraya menggenggam tangan Vira.


"Apa benar Vira mempunyai hubungan serius dengan pria ini? aku memang tau dulu mereka memiliki hubungan, tapi aku kira mereka sudah selesai. Tapi ternyata aku salah," batin Gusti.


Gusti mengangkat cangkirnya dengan santai, ia meminum teh yang dibuatkan untuknya. Lalu ia meletakkannya lagi.


"Kalau begitu aku pamit, Vira..." ucap Gusti seraya bangkit dari duduknya, suasana hatinya sedang kacau dan ia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu.


"Mas Gusti..." Vira melepaskan tangan Firlan dan mengikuti Gusti yang kini keluar dari rumahnya.


Vira menghentikan langkahnya dan hanya melihat sosok ayah Gia itu masuk ke dalam mobilnya. Dan mobil berwarna hitam itu perlahan pergi dari pelataran rumahnya.


"Sering kesini?" ucapan Firlan membuyarkan lamunan Vira. Vira menoleh dan menggeleng.


Ia berjalan ke arah Firlan.


"Tapi feelingku kalian sering ketemu!" tuduh Firlan.


"Kalau itu memang iya, karena aku mengajar anaknya melukis..." jawab Vira jujur.


Firlan tak menyangka Vira akan mengiyakan apa yang dia tuduhkan, walaupun ada alasannya. Tapi tetap saja, ternyata Vira bertemu pria lain yang jelas-jelas terlihat sangat menyukainya.


"Ternyata kamu sering menemuinya di belakangku...." ucap Firlan seraya bangkut dari duduknya dan berniat pergi.


Namun Vira segera mencegahnya.


"Aku ... aku nggak seperti itu. Maksudnya, aku ... aku nggak mempermainkan hubungan kita..." ucap Vira.


"Aku nggak tau aku harus percaya atau..."


"Harus! kamu harus percaya kalau kamu masih ingin kita bersama-sama..." ucap Vira sembari menatap Firlan.


Sementara di mobil, Gusti merasakan gejolak yang aneh di dalam dirinya. Hatinya merasa kecewa mendengar Vira akan menikah, padahal baru saja ia membuka hatinya setelah istrinya meninggal.


Mendadak Gusti ingin sekali mengunjungi makan Putri. Ia membeli bunga, dan menghentikan mobilnya di depan sebuah pemakaman.


Gusti turun dari mobil dengan membawa bunga di tangannya. Ia berjalan menyusuri area pemakaman dan berhenti di sebuah gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama istrinya.


Gusti meletakkan bunga di atas tanah makam yang selalu dirawat. Gusti membacakan doa untuk almarhum istrinya dengan khusyu, setelah selesai ia membelai nisan dengan tangannya.


"Pagi, Sayang. Maaf aku jarang datang kemari..." ucap Gusti.


Rasanya ia sangat merindukan sosok Putri, Gusti tersenyum getir.


"Kau tau, Sayang. Putri kita sudah besar, namun dia sering sekali merindukan dirimu. Bahkan sekarang putri kita sudah bisa melukis, dia bahkan membuatkanmu satu lukisan. Jika kamu masih hidup, kamu akan sangat senang..." ucap Gusti sembari mengusap nisan milik Putri.


"Aku akan berusaha memberikan kasih sayang yang utuh untuk Gia. Aku akan berusaha sangat keras, kamu harus percaya itu..."


Gusti menghela nafas panjang, sebelum ia mengatakan kalimat selanjutnya.


"Aku akan datang lebih sering, sekarang aku pergi dulu..." ucap Gusti seraya bangkit dan pergi meninggalkan pemakaman.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2