
Gusti yang mendengar Vira sakit pun mendadak khawatir. Ternyata ini yang membuatmya semalam tidak bisa tidur.
"Sakit? sakit apa dia?" gumam Gusti.
"Selamat siang, Tuan. Ini dokumen yang harus anda tanda tangani," ucap Andra setelah mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan bosnya.
"Mana? yang ini?" Gusti membubuhkan tandantangannya diatas dokumen penting itu.
"Ndra, tolong cari info tentang Vira Anugrah. Katanya dia sedang sakit, tolong cari tau sekarang dia ada dimana," ucap Gusti.
"Vira Anugrah?" Andra mengernyit.
"Guru les melukis putriku," sahut Gusti.
"Oh, itu. Baik, akan saya laporkan secepatnya. Kalau begitu, permisi, Tuan..." ucap Andra seraya pergi dari ruangan bosnya.
Gusti yang kurang tidur pun merasakan kepalanya sedikit pusing. Dia menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, dia berharap bisa memejamkan matanya setidaknya selama 5 menit tanpa ada yang mengganggu.
.
.
Di rumah sakit.
Vira sedang disuapi Firlan sedangkan Amartha senyam senyum melihat keduanya yang terlihat salah tingkah.
"Perasaan waktu aku baru masuk, lagi mesra-mesranya. Tapi kenapa sekarang malah jadi canggung begitu?" Amartha berusaha menahan tawanya, sedangkan mata Vira melotot padanya.
"Deuh si Iyem kenapa pakai melotot begitu, lagi sakit jangan galak-galak!" lanjut Amartha.
"Kamu sakit apa, sih? lambung?" tanya Amartha.
"Kayaknya iya," jawab Vira.
"Bukan kayaknya lagi, memang itu penyakitnya!" celetuk Firlan serayaemasukkan satu sendok bubur ke mulut Vira yang akan protes.
Vira dengan cepat mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Baru kali ini ada orang sakit dijejelin makanan sebanyak itu! nggak mikir banget suwer!" Vira melirik Firlan dengan sinis.
"Jangan banyak tingkah makanya, udah bener dikasih makan yang banyak biar cepet sembuh!" Amartha membela Firlan.
"Kok kamu belain dia sih, Ta. Temen kamu itu aku bukan nih orang..." tunjuk Vira pada Firlan.
"Nih, aku bawain makanan kesukaan kamu, aku bawa buah juga. Tapi aku nggak bisa lama-lama, lagian udah ada mas pacar kan ya?" ujar Amartha sembari melirik Vira dan Firlan secara bergantian.
"Iya makasih, udah dijenguk aja aku makasih banget. Paling bentar lagi juga aku keluar dari rumah sakit," ucap Vira.
"Ya udah, aku pamit ya. Cepet sembuh jangan bandel, dengerin kata dokter..." kata Amartha.
"Iya siap..." jawab Vira.
"Kak Firlan, aku pamit. Tolong jagain nih makhluk yang satu ini ya? antik soalnya..." ucap Amartha.
__ADS_1
"Siap, Nyonya..." sahut Firlan.
"Assalamualaikum," ucap Amartha seraya keluar dari ruang rawat Vira.
"Waalaikumsalam," jawab Vira dan Firlan.
Setelah Amartha keluar, Firlan menyodorkan satu sendok bubur ayam pada kekasihnya itu.
"Buka mulutnya lagi..."suruh Firlan.
"Udah, ah. Udah begah, daritadi juga banyak, kalau ngasih makan orang ya kira-kira lah," protes Vira.
"Ya udah kalau kamu udah kenyang, biar aku yang ngabisin..." ucap Firlan seraya menyuapkan bubur yang dikhususkan untuk pasien ke mulutnya dan bertepatan dengan itu ada seorang perawat yang masuk ke dalam ruangan Vira dengan membawa sebuah cairan infus di tangannya.
Dia melongo melihat Firlan yang sedang memakan makanan pasien. Firlan pun mendadak tersedak, melihat ada perawat yang memandangnya tanpa berkedip.
"Uhuk!" Firlan terbatuk.
Sementara Vira yang melihat itu pun ingin tertawa, namun sekuat tenanga ia tahan.
"Permisi, Nona. Saya mau mengganti cairan infus anda..." ucap perawat tadi sembari mengganti cairan infus Vira yang hampir habis.
"Silakan, Sus..." sahut Vira. Sedangkan Firlan merasa ragu untuk melanjutkan makannya, dia berhenti sejenak sampai perawat itu pergi meninggalkan ruangan.
"Hahahahha, astaga..." Vira tak kuat menahan tawanya.
"Tertawa saja sampai puas, sampai perutmu sakit!" ucap Firlan.
Paling tidak hal.receh seperti itu bisa mengembalikan senyum Vira yang hampir musnah karena adegan peluk-pelukan antara dirinya dengan Zanna.
"Astaga, kalau masih lapar mending telfon kantin dan suruh antar kesini, daripada makan bubur yang nggak seberapa itu..." kata Vira sambil mengahapus air mata di salah satu sudut matanya, karena tertawa dengan puas.
"Nggak lah, ini juga udah cukup..." kata Firlan yang sudah selesai memakan bubur yang sebenarnya diperuntukkan untuk Vira.
Firlan beralih ke sofa, dia meluruskan kakinya, mungkin ia merasa pegal karena duduk berjam-jam.
"Kalau capek pulang aja," kata Vira. Tapi sepertinya ucapan wanita itu sama sekali tak ditanggapi Firlan.
"Cepet banget tidurnya, tumben..." Vira menyamankan kembali posisi tidurnya.
Vira sengaja menonaktifkan ponselnya, ia ingin benar-benar istirahat. Bahkan dia belum mengabari orangtuanya kalau sekarang dia sedang berada di rumah sakit.
"Nggak usah ngasih tau mama papa lah ya, kasian mereka nanti khawatir. Padahal aku cuma sakit kayak gini aja..." ucap Vira.
Dunia tanpa ponsel ternyata tak seburuk yang dipikirkan Vira. Dia bolak balik memgganti channel tivi dan perlahan matanya terpejam dengan sendirinya.
.
.
.
Di rumah Raharjo.
__ADS_1
Raharjo yang memdapat telfon Firlam tang akan datang dengan membawa keluarganya pun mulai beberes rumah. Dia mengecat rumahnya lagi.
Namun, Raharjo melihat ada sesuatu yang lain dengan istrinya.
"Ada apa, Mah? ada yang sedang dipikirkan?" tanya Raharjo.
"Nggak tau, Paah. Rasanya sedikit memcaskan sesuatu, tapi nggak ngerti juga mencemaskan apa..." jawab Dewi yang sedang membuatkan teh untuk suaminya. Mereka sedang duduk di meja makan.
"Teh nya, Pah..." kata Dewi sembari menyodorkan teh yang masih mengeluarkan uap panas.
"Mungkin karena mau ketemu calon besan, atau mungkin gugup karena sebentar lagi Vira akan menikah..." ucap Raharjo.
"Iya mungkin ya, Pah..."
"Istighfar saja, Mah. Minta supaya hatinya ditenangkan insya allah semuanya akan dilancarkan..." ujar Raharjo.
"Kira-kira Vira kapan pulang ya, Pah? mama belum ngasih tau dia supaya pulang ke rumah..." kata Dewi.
"Telfon saja, mumpung inget. Takutnya besok lupa lagi..." ucap Raharjo, kemudian mengangkat cangkir dan menyeruput sedikit demi sedikit teh yang masih panas.
Dewi mengambil.ponselnya danencoba menghubungi Vira, namun suara operator yang menjawabnya dan mengatakan nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.
"Gimana?" tanya Raharjo.
"Nggak aktif nomornya,"
"Mungkin hapenya lowbat, atau sinyal sedang buruk. Kirim pesan saja, suruh dia menghubungi mama setelah hapenya aktif," saran Raharjo.
Dewi pun mengetik sebuah pesan untuk Vira, dan mengatakan kalau dia disuruh menghubunginya setelah nomornya aktif kembali.
.
.
.
Ternyata Firlan dan Vira masing-masing terlelap sampai sore. Mungkin karena kelelahan atau memang berdua suka sekali tidur. Firlan yang lebih dahulu bangun mengerjapkan matanya sambil meregangkan otot-otot yang begitu tegang.
Firlan beranjak dari duduknya untuk segera mandi di kamar mandi. Firlan melihat Viraasih tidur, dan pria itu tidak ingin mengganggu. Karena Vira dianjurkan untuk banyak istirahat.
"Hoaaamph, masih ngantuk padahal..." gumam Firlan seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Gusti yang menyuruh seseorang untuk mencari tau bagaimana keadaam Vira pun akhirnya menemukan titik teramg.
Orang kepercayaannya mengatakan kalau Vira sedang dirawat di sebuah rumah sakit.
"Kamu beneran sakit?" ucap Gusti, pasalnya pria itu tak bisa menghubungi wanita yang selalu dicari anaknya itu.
"Gia pasti senang ketika aku mengetahui dimana tante Viranya berada, tapi aku takut kalau kedatangan kami akan mengganggu istirahatnya..." Gusti sedang mepertimbangkan apa yang seharusnya dia lakukan.
"Mungkin tidak hari ini, iya ... biarkan Vira beristirahat dan aku akan menjenguknya besok pagi saja bersama dengan Gia.
...----------------...
__ADS_1