
"Ya sudah, Aku yang antar kamu ke tempat tujuan, aku pastikan kamu sampai dengan aman dan nyaman..." ucap Gusti yang menyuruh Vira untuk masuk. Dan ia pun menaruh papper bag di tempat duduk penumpang bagian belakang.
"Hadeuh, susah amat buat nolak!" batin Vira.
Gusti pun masuk dan duduk di kursi kemudinya. Vira sudah memakai sabuk pengaman.
"Padahal aku bisa naik taksi online!" ucap Vira.
"Nggak apa- apa, lagian aku juga lagi senggang..." ucap Gusti yang sudah memasang sabuk pengamannya dan mulai menekan pedal gas di kakinya. Perlahan mobil mewah yang dikendarainya keluar dari pelataran rumah.
Vira mengutuk dirinya sendiri, harusnya dia tegas bilang tidak. Bisa kacau kalau Firlan melihatnya dan berpikir kalau dia jalan dengan pria lain. Vira jadi pusing sendiri.
"Kenapa, Vir? kok pegangin kepala?" tanya Gusti memecah kehenibgan diantara keduanya.
"Eh, nggak kok. Nggak apa-apa, cuma lagi ada yang dipikir aja..." jawab Vira.
"Andai aja kamu nggak nganter aku begini, aku jadi nggak pusing tau!" umpat Vira dalam hatinya.
"Mikirin apa kalau boleh tau?" tanya Gusti.
"Ah, nggak penting-penting amat kok..." jawab Vira ambigu. Gusti hanya mengerutkan keningnya mendengar jawaban Vira.
"Oh ya, ini kamu mau aku anter kemana?" tanya Gusti.
"Aduh, enaknya kemana ya? langsung ke tempat perawatan apa jangan ya?" batin Vira.
"Vira? kamu mau aku anterin kemana?" tanya Gusti lagi.
"Emh, ke jalan Pandawa..." kata Vira. Wanita itu mengatakan tempat perawatan yang akan ia kunjungi.
"Udah sore, nggak mungkin aku ngider-ngider lagi. Bisa gatot acaraku hari ini!" gumam Vira dalam hati.
"Berarti kamu udah nemu passion kamu ya, Vir?" tanya Gusti.
"Emh, gimana?"
"Kamu sekarang udah nemu passion kamu. Dulu kan kamu perawat dan sekarang jadi tutor anak-anak, termasuk anak aku..." ujar Gusti.
"Iya, tapi kayaknya aku nggak ngajar, deh. Aku tuh cuma nemenin anak-anak main lebih tepatnya, main yang lebih mendidik dan berfaedah..." kata Vira.
"Iya, Gia aja sampe bisa bikin lukisan yang bagus begitu. Ternyata caranya nggak kayak orang ngelukis pada umumnya ya, kamu pakai teknik lain..." ucap Gusti.
"Aku tuh belajar otodidak, dan aku mikir kalau nemenin anak-anak melukis harus punya metode yang bikin fun, biar mereka nggak cepet bosen..." kata Vira.
"Aku setuju banget, karena mereka akan tertarik dengan sesuatu yang menyenangkan..." ucap Gusti.
"Ternyata kita udah sampai, wah cepet banget ya? padahal aku masih pengen ngobrol sama kamu..." ucap Gusti seraya menghentikan laju mobilnya.
__ADS_1
"Makasih ya, Mas. Udah repot-repot nganterin sampai sini," kata Vira.
"Nggak repot sama sekali. Oh ya, makasih udah dateng nemuin Gia..." ujar Gusti yang melongokkan badannya ke belakang dan menyerahkan dua papper bag milik Vira.
"Iya, sama-sama. Aku duluan, Mas. Hati-hati di jalan..." ucap Vira sebelum keluar dari mobil Gusti.
"Iya," sahut Gusti.
Pria itu menurunkan kaca mobilnya sebelum pergi meninggalkan Vira di tempat itu.
"Wah udah jam setengah 5!" Vira segera masuk ke dalam bangunan yang akan mereleksasi otot-ototnya yang tegang.
Ketika Vira sudah selesai menentukan perawatan apa saja yang akan dilakoninya, ponselnya berdering.
"Halo, Ay?" sapa Vira saat panggilan itu sudah diangkatnya.
"Kamu jadi perawatan?" tanya Firlan.
"Jadi, ini aku udah sampai di tempatnya," kata Vira.
"Nanti pulangnya aku yang jemput," kata Firlan.
"Tapi aku masih lama, ini baru mau mulai soalnya..."
"Nggak nyampe setaun kan disitu?" celetuk Firlan.
"Masih di kantor, aku lembur..." ucap Firlan.
"Makanya, nanti pulangnya aku jemput, kamu share aja lokasinya dimana," kata Firlan.
"Iya ini aku langsung share lokasinya, ya udah aku mau masuk ke ruangan dulu, udah dipanggil nih!" ucap Vira.
"Oke, nanti kabarin aku lagi," suruh Firlan.
"Siap bos!" ucap Vira dan segera mematikan panggilan telepon itu secara sepihak.
"Nona Vira, silakan berganti baju..." ucap seorang pegawai disana yang menyerahkan kain seperti kemben pada Vira.
"Makasih," ucap Vira.
Vira oun segera mengganti bajunya, hari ini dia akan facial dan luluran. Vira harus tampil jauh dari kata burik di depan camer. Wanita itu tidak mau calon mertuanya itu kecewa dengan penampilannya saat bertemu nanti. Dan treatment pun dimulai, Vira merasakan otot-otot di wajahnya yang tegang kini bisa lebih relax, bahkan wanita itu malah tertidur padahal baru beberapa menit wajahnya mendapat sentuhan.
.
.
.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Firlan masih disibukkan dengan berkas-berkas penting. Karena besok weekend dan kemarin dia tidak masuk kerja, maka tugasnya pun menumpuk.
"Hadeuh, begini nih jadi budak perusahaan! untung jodohku udah deket, jadi aku nggak tua di jalan! tiap hari pulang kerja udah nggak pernah ketemu matahari," ucap Firlan, pria itu terus saja menggerutu sedangkan tangannya sibuk mengerjakan dokumen yang tak ada habisnya.
"Kan kalau aku cuti si bos bisa ngerjain ini gitu ya? sengaja banget ini dia main tumpuk-tumpuk aja!" Firlan masih saja mengoceh.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu ruangan Firlan diketuk seseirang dari luar. Yang jelas pasti bukan Satya, karena kalau bos nya yang tak berperi keasistenan itu yang masuk pasti dia akan main nyelonong saja.
"Masuk!" ucap Firlan.
Pintu pun terbuka, dan ternyata Maura yang mengetuk pintunya.
"Maura? ada apa, Ra?" tanya Firlan.
"Tidak, saya hanya mengecek pak Firlan masih lanjut lembur apa tidak. Soalnya kebetulan saya mau pulang..." ucap Maura seraya masuk dan membiarkan pintu ruangan terbuka
"Tumben kamu jam segini belum pulang Ra?" tanya Firlan.
"Iya, biasa lagi banyak tugas dari Tuan Satya. Mau lembur?" tanya Maura.
"Iya nggak sih, ini tinggal dikit lagi kayaknya, lagi pula ini udah hampir jam lebih dari jam 6," ucap Firlan.
"Oh..." Maura malah menarik kursi dan duduk di depan meja Firlan.
"Kamu nggak pulang?" tanya Firlan yang bingung dengan sikap Maura, dia sudah menenteng tas tapi sekarang malah duduk santai di ruangannya.
"Iya, tapi..."
"Tapi apa?" tanya Firlan.
"Aku takut naik lift sendirian jam segini," ucap Maura ragu.
"Astaga, kamu kan udah lama kerja disini Maura, masih aja takut naik lift di jam segini?"
"Lama kerja nggak jamin. Sepi banget di lantai ini, dan pasti orang-orang di bawah udah pada pulang, serem juga di lift sendirian. Pak Firlan udahan aja sih kerjanya," ucap Maura yang berharap ada teman untuk turun ke bawah.
"Aku baru tau kamu penakut, Maura! sebentar aku selesein ini dulu, tanggung!" kata Firlan.
Dan setelah menyelesaikan dokumen yang sekarang dipegangnya, Firlan pun bersiap pulang. Maura yang merupakan sekretaris Satya pun segera mengekor di belakang tubuh tegap Firlan keluar menuju lift.
...----------------...
__ADS_1