Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Kelas Khusus Untuk Nona Kecil


__ADS_3

Gia tak berselera untuk sekedar menyentuh makanannya. Gusti yang melihatnya pun menautkan kedua alisnya.


"Gia..." panggil Gusti.


"Gia nggak mau makan," kata Gia seakan sudah tahu apa yang dikatakan Gusti padanya


"Kenapa? bukannya ini makanan kesukaan Gia? omelet dengan taburan keju,"


"Gia maunya tante Vira..." Gia memandang Gusti dengan tatapan berharap.


"Tunggu, tunggu. Tante Vira? maksudnya?" Gusti masih belum mengerti apa yang anaknya inginkan.


"Ya Gia maunya tante Vira..."


"Iya, tapi nggak mungkin kan Gia minta tante Vira untuk pagi-pagi kesini?" kata Gusti sambil menyuapkan satu potong hot cake ke dalam mulutnya.


"Astaga papi, bukan itu maksud Gia..." Gia merajuk. Gusti terkekeh melihat Gia yang sangat menggemaskan itu.


"Hahahahah, lalu sebenarnya apa yang ingin Gia sampaikan pada papi? katakan pelan-pelan supaya papi mengerti apa yang Gia inginkan," kata Gusti lembut.


"Gia sudah minta tante Vira untuk datang. Tapi tante Vira katanya nggak bisa, karena ada kelas melukis..." jelas Gia.


"Gia mau ... Gia mau juga ikut melukis di tempat tante Vira," lanjut gadis itu yang melipat tangannya di depan dadanya.


"Oh, begitu ya? baiklah jika itu keinginan Gia. Papi akan mengabulkannya," ucap Gusti.


"Benarkah? yeyyy! Gia sayang, Papi..."


"Hahaha, tapi ada syaratnya..." kata Gusti.


"Syarat? apa itu, Pih?"


"Gia harus makan makanan yang sudah ada di atas piring Gia. Papi nggak mau Gia sakit karena nggak mau sarapan," kata Gusti.


"Hu'um!" Gia mengangguk mantap.


Gusti tersenyum melihat Gia yang makan makanannya sengan lahap. Bahkan gadis kecil itu meminta pelayannya untuk mengambilkan tumis baby kaylan untuk ditambahkan ke dalam piringnya.


Gusti menghela nafas. Pikirannya berkecamuk.


"Ternyata kasih sayangku saja tidak akan cukup. Gia tetap merindukan sosok ibu. Maafkan Papi, Gia..." kata Gusti dalam batinnya. Gia yang melihat sang papi menatap dirinya pun tersenyum.


Setelah sarapan roti kemasan dan teh hangat, Vira pun berangkat ke tempat ia les yang bertempat di salah satu Ruko bangunan satu lantai.


"Alhamdulillah, kepalaku nggak seberat kemarin..." kata Vira seraya membersihkan. tempat ia mengais rezeki.


Namun pikirannya malah berbelok ke arah Firlan. Vira menggelengkan kepalanya. ia berusaha mengusir apa yang ada di kepalanya saat ini.

__ADS_1


"Ngapain aku mikirin dia. Hubungan kita udah selesai, Vira! ngapain juga kamu masih mikirin orang itu! Astagaaa..." Vira memukul kepalanya sendiri.


Disaat yang bersamaan ada seseorang yang mengetuk pintu mengagetkan Vira.


"Permisi, Nona..." sapa pria itu yang ada di depan pintu.


"Oh, iya. Emh ... silakan masuk, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vira.


"Saya ingin mendaftar untuk kelas painting dan seni clay..." ucap pria itu.


"Oh, tapi maaf kelas ini diperuntukkan untuk usia 4 sampai 10 tahun, Tuan. Bukan untuk orang dewasa," jelas Vira sopan.


"Oh, maksud saya. Bukan untuk saya tapi untuk untuk anak bos saya, namanya Gia Putri Alvaro..." kata pria itu.


"Oh, begitu, ya? heheh," Vira tersenyum canggung.


Vira pun mempersilakan pria itu masuk dan menerangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk dua privat yang diambil.


"Kalau begitu ini terimalah, Nona..." ucap pria itu seraya memberikan sebuah amplop. Vira kedap-kedip, ia menerima amplop itu dengan canggung.


"Hitung saja, Nona. Tidak perlu sungkan,"


"Ehem, baiklah..." kata Vira.


Vira pun membuka amplop itu dan menghitung jumlah lembaran berwarna merah yang lumayan banyak.


"Maaf, tapi..."


"Bukan, bukan. Tapi ini terlalu banyak bahkan ini cukup untuk biaya kelas 1 tahun," ucap Vira, ia memberikan amplop itu kembali.


"Ambil saja, Nona. Kami akan membayar dengan jumlah yang sama setiap bulan, berikan saja nomor rekening Nona. Karena bos kami ingin lebih privat. Anda hanya mengajar nona kecil kami dalam setiap pertemuan yang dijadwalkan," kata pria itu.


"Tapi hanya ada dua hari yang tersisa dalam satu minggu. Bagaimana?" tanya Vira.


"Tidak masalah. Tapi saya harap maksimalkan pertemuannya, atau berikan extra tambahan waktu..." kata pria itu lagi.


"Baiklah kalau begitu. Besok jam 1 sampai dengan jam 3 siang, jadwal perdananya..." ucap Vira mengiyakan permintaan pria itu.


Vira pun menulis di sebuah buku catatan jadwal kelas. Ia menandai dua hari yang baru saja ia berikan pada pria yang ada di hadapannya itu.


"Kalau begitu saya permisi," ucap pria berjas hitam.


"Baik. Terima kasih, Tuan..."


Vira segera berdiri dan mengantar pria itu sampai ke depan pintu.


Vira menutup kembali ruangan yang dilengkapi dengan pendingin ruangan.

__ADS_1


"Gia Putri Alvaro?" gumam Vira.


"Nggak mungkin Gia anaknya mas Gusti, kan?" tanya Vira.


Wanita itu sekarang membiasakan diri memanggil Gusti dengan sebutan 'mas'. Karena selain dia lebih tua beberapa tahun dari Vira tapi karena rasanya tidak sopan menyebut Gusti dengan nama saja dihadapan Gia.


Hari ini Vira mengajarkan 3 orang anak yang mengikuti kelas menyulam.


"Hati-hati, kau harus memperhatikan jarimu. Jangan sampai tertusuk," kata Vira pada seorang anak permpuan yang mengepang rambutnya seperti udang.


"Kakak, aku tidak bisa memasukkan benang ke dalam jarum ini," ucap seorang gadis berumur 10 tahun.


"Kakak bantu, kau harus perlahan dan fokus memasukkan ujung benang ini ke dalam lubang itu. Jangan terburu-buru. Nah, jadi..." kata Vira yang menjelaskan sambil mempraktekan memasukkan benang ke dalam jarum.


"Dah, lanjutkan. Ikuti polanya," ucap Vira yang memakai masker berwarna putih.


Selama kelas berlangsung, Vira tak akan pernah meninggalkan mereka dengan jarum yang kini ada di tangan anak-anak itu.


.


.


Sedangkan di kantor, Firlan nampak tak begitu berkonsentrasi. Dia masih memikirkan kesalahannya pada Vira.


"Kenapa wajahmu seperti itu?" kata Satya yang kini akan beranjak dari kursi kebesarannya.


"Tidak ada apa-apa,"


"Aku perhatikan selama rapat sepertinya kamu tidak konsentrasi. Apa ada masalah?" tanya Satya yang tidak biasanya.


"Tidak ada,"


"Kalau tidak ada, tolong handle perusahaan selama aku pergi. Karena akunakan mengajak Amartha dan Evren berlibur ke Turki," ucap Satya.


"Astaga, bisa aja nih mulut pakai salah jawab segala!" gumam Firlan yabg menabok mulutnya sendiri.


"Kenapa, Lan?" tanya Satya.


"Sudah jam makan siang, saya permisi..." kata Firlan.


Pria itu mempercepat langkahnya berniat untuk membelikan Vira makan siang.


Firlan segera masuk ke dalam mobilnya. Ia memacu kendaraannya membelah jalanan. Ia memilah apa yang akan ia beli untuk wanita yang sudah pasti sedang kesal padanya.


"Ujung-ujungnya makanan cepat saji," kata Firlan yang tak ingin menunggu lama


Pria itu memilih memesan makananya dengan layanan drive thru. Dia membeli banyak makanan, karena dia tidak tahu apa yang Vira inginkan.

__ADS_1


Setelah ia mendapatkan semua pesanannya, pria itu pun memacu kembali kendaraannya menuju kontrakan Vira.


...----------------...


__ADS_2