
Dan sekarang Firlan dan Vira sudah berada di dalam mobil, berniat menuju kediaman Satya. Kebetulan hari sudah sore, Vira kini tengah tertidur di dalam mobil 10 menit setelah mobil bergerak membelah jalan raya.
Firlan menepikan mobilnya, ia berinisitif untuk mengatur posisi kursi agar Vira lebih nyaman.
"Dasar tukang tidur," Firlan kembali ke tempatnya saat sudah selesai mengatur posisi duduk Vira.
"Hadeeuh, hati kamu kapan cairnya sih, Ay? aku kan kangen ... aku pengen kamu yang dulu, yang bucin sama aku," gumam Firlan sambil mengusap kepala Vira sekilas.
"Aku emang suka kelewatan sama kamu, suka cemburu nggak jelas. Tapi sekarang kan aku udah mulai berubah, Vir. Masa kamu nggak mau kasih kesempatan buat aku?" Firlan menghela nafasnya, dan perlahan ia menekan gas mobilnya, melanjutkan perjalanan.
Tanpa Firlan ketahui, Vira hanya pura-pura tidur. Dan dia mendengar semua apa yang dikatakan Firlan. Terbersit rasa bersalah, tapi dia juga masih bingung dengan hatinya saat ini.
"Kalau kita berjodoh, pasti hati aku terbuka lagi buat kamu, Lan!" batin Vira.
Vira masih memejamkan matanya, selain lelah dia juga menghindari percakapan yang mengarah pada bahasan hubungan mereka.
Firlan nampak fokus dengan jalanan, sesekali ia melirik Vira yang masih terpejam.
Setelah berkendara beberapa puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah Satya. Firlan segera melepaskan sabuk pengamannya. Dia memutar badannya ke arah Vira.
"Vira ... Vira ... bangun..." Firlan menggoyangkan bahu wanita itu.
"Emmh, hhoaam..." Vira pura-pura menguap dan mengucek mata.
"Udah nyampe," kata Firlan.
Klik.
Firlan membantu Vira melepaskan sabuk pengaman, pria itu segera keluar dan membukakan pintu untuk Vira yang sedang merapikan rambutnya dengan jari-jari tangan.
"Yuk..." ajak Firlan.
"Hemm..." Vira pun keluar dari mobil, berjalan berdampingan dengan Firlan.
Firlan beberapa kali memencet bell. Dan tak lama pintu pun terbuka.
"Haii cantik!" kata Vira pada bik Surti yang membukakan pintu untuknya.
"Iish, Mbak Vira ini! suka manggilnya cantik-cantik, malu tau, Mbak!" kata bik Surti.
"Hahahhaha, ngapain malu, Bik?" ucap Vira setelah masuk ke dalam ruang tamu.
"Mbak Vira sudah di tunggu di kamar Non Evren," kata bik Surti.
"Aku ke atas dulu, ya?" kata Vira pada Firlan.
"Aku tunggu disini, jangan lama-lama..." ucap Firlan.
__ADS_1
"Nggak janji," jawab Vira.
"Bik, tolong kasih minum nih asistennya bos Satya. Biar nggak krik krik sendirian," ucap Vira pada bik Surti.
"Siap, Mbak!"
"Mas Firlan mau minum apa?" tanya bik Surti.
"Apa aja, Bik..." sahut Firlan.
"Tunggu sebentar ya, bibik ambilkan..." kata Bik Surti.
Vira pun meninggalkan Firlan di ruang tamu, perlahan menaiki satu persatu anak tangga, menuju kamar Evren.
Tokk.
Tokk.
Tokk.
Vira mengetuk pintu, dan tak lama muncul sosok Amartha seiring dengan pintu yang terbuka perlahan.
"Masuk, Vir. Evren lagi tidur..." Amartha setengah berbisik.
"Oh, oke!" jawab Vira.
Vira masuk ke dalam kamar bayi itu. Amartha menghampiri Vira setelah menutup pintu.
"Pilih mana aja yang kamu suka," kata Amartha.
"Kenapa nggak bawa cowok tampan dari sana sekalian buat jodoh aku, Ta?" ucap Vira lirih.
"Hadeuuuh, itu Firlan mau kamu kemanain, Vira?"
"Kemanain enaknya, ya?" Vira naikin alisnya sambil cengar-cengir.
"Jangan mainin perasaan orang, ntar kena karma baru tau rasa..." ucap Amartha.
Setelah memilih oleh-oleh yang disukainya, Vira pun berniat pamit. Bukan apa-apa, tapi Firlan sedari tadi sudah clang-clung kirim chat minta Vira buat turun.
"Ta? aku pamit pulang, ya?" kata Vira.
"Loh kok cuma bentar? kan belum main sama Evren..."
"Lain kali aja, noh si Firlan udah chat mulu dari tadi..." jelas Vira yang memasukkan hape ke dalam tasnya.
"Astaga, jadi kamu kesini bareng Firlan?"
__ADS_1
"Ya gitu, deh ... hehehehehe," Vira menjereng giginya.
"Masih jalan berdua aja gayanya minta jodoh dari Turki, dasar!" Amartha mencubit pipi Vira.
"Aawhhh! pipi aku bisa jadi bakpao ini kalau dicubitin mulu," kata Vira yang mengusap pipinya.
"Makasih ya, Ta ... aku pulang, salam buat Evren dari onti Vira yang cantik jelita, ya?"
"Aku anter ke bawah..."
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Dijamin nggak bakalan nyasar," ucap Vira yang perlahan membuka pintu dan keluar dengan membawa satu papper bag besar.
"Ya udah, hati-hati, ya? yang akur sama calon imam," ledek Amartha sebelum menutup pintu.
Vira cuma geleng-geleng kepala mendengar ledekan dari Amartha, ia kini berjalan menuruni anak tangga dan menemui Firlan di ruang tamu yang ternyata sedang duduk berhadapan dengan bos nya, Satya.
"Sore..." Vira menyapa Satya sambil tersenyum seadanya.
"Sore juga, Vir. Oh, jadi Firlan bolos abis kencan sama kamu, Vir?" tanya Satya sambil melihat asistennya, Firlan.
"Ehm..." Vira bingung harus bilang apa. Dan untungnya secepat kilat Firlan menyambar.
"Kan saya sudah ijin ada keperluan, jadi saya tidak bolos, Tuan. Anda ini masih muda tapi sudah pikun..."
"Saya kira ijin buat keperluan lain, Lan. Ngurus berkas misalnya, bukan ijin buat pacaran di jam kerja," celetuk Satya.
"Hadeeuhh, pengen gue iket nih mulut si bos!" batin Firlan.
Vira bingung harus menjawab apa, dia masih saja berdiri. Firlan mengedipkan matanya pada Vira sebagai kode kalau mereka akan secepatnya pergi dari rumah bos sableng itu.
"Jangan kelamaan ngegantungin nasibnya si Firlan, Vira. Bisa nyasar ke psikiater dia..." ledek Satya.
"Astaga, mulut andaaa, Tuan!" Firlan geleng-geleng kepala.
"Ngapain kamu geleng-geleng kepala? lagi wiridan? saya tuh lagi bantu kamu loh, Firlan. Kamu duduk dulu, Vira ... kita ngobrol sebentar," kata Satya menyuruh Vira untuk duduk di salah satu sofa. Vira pun akhirnya menjatuhkan dirinya di sofa panjang lumayan jauh dari Firlan.
"Loh, kok duduknya jauh-jauhan gitu kayak lagi musuhan? deketan lagi, dong!" kata Satya.
"Astaga, anda ini kesambet setan darimana, Tuan? atau jangan-jangan setumpuk dokumen di meja yang membuat anda pulang dengan tidak membawa secuil kewarasan?" balas Firlan.
"Hahahahaha, dasar asisten kurang peka. Ini saya lagi bantuin kamu, loh! biar tidak jadi perjaka tong-tong!" kata Satya.
"Pembicaraan anda semakin ngawur, Tuan. Sebaiknya anda naik ke atas dan bertemu dengan istri anda, supaya sel-sel otak anda itu bisa kembali berfungsi dengan baik," kata Firlan yang kemudian berdiri.
"Kita pulang, Vir..." lanjut Firlan. Vira pun ikut berdiri
"Loh, loh sidang belum dimulai malah main bubar aja..."
__ADS_1
"Sidang tidak bermutu, kami permisi Tuan..." kata Firlan yang kemudian mengajak Vira untuk pergi meninggalkan Satya sendirian di ruang tamu.
...----------------...