Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Lamaran


__ADS_3

"Bukannya Kaylee tinggal di Syney? ada urusan apa dia kembali lagi ke tanah airnya?" gumam Gusti.


Pria itu menyandarkan badannya pada tumpukan bantal yang kini menopang punggungnya.


"Aku sedang malas bertenu siapapun sebenarnya!" kata Gusti seraya menaruh ponselnya di atas nakas dan memijit tulabg hidungnya yang mancung.


"Dia bilang siang, kan? masih ada waktu aku untuk istirahat..." Gusti mengubah posisinya, ia meletakkan kembali bantal-bantal ke tempat semestinya, lalu ia mulai menaruh kepalanya diatas benda yang sangat empuk itu. Ia berusaha untuk memejamkan matanya


Sementara di dalam mobil Firlan baru saja mengabari calon mertuanya kalau sebentar lagi ia akan segera sampai.


"Kamu benar-benar sudah yakin, Lan?" tabya Ratna.


"Ibu sudah menanyakan hal ink berkali-kali, Bu. Dan jawabanku akan tetap sama, aku yakin dan sangat yakin..." jawab Firlan.


"Ya barangkali saja kamu goyah, ibu hanya mengetes keseriusan kamu sebagai seorang laki-laki. Apakah mudah berubah atau tidak," ucap Ratna.


"Aku serius bahkan kalau besok aku harus menikah sama dia aku siap, Bu..."


"Ibu yakin saja dengan pilihanku, Bu. Vira akan menjadi menantu yang baik buat ibu..." lanjut Firlan.


"Kita sudah sampai, itu rumahnya," kata Firlan yang kini menghentikan laju kendaraannya. Ia melepas sabuk pengaman sedangkan Ratna masih memperhatikan rumah calon besannya dari dalam mobil.


Firlan yang sudah berada di luar membukakan pintu untuk ibunya.


Kebetulan mereka juga mengajak bik Surti untuk menemani Ratna.


"Bik tolong bawakan satu set perhiasan itu..." kata Ratna.


"Baik, nyah..." jawab bik Surti yang mrmang sepanjang perjalanan memangku satu set perhiasan yang akan diberikan pada calon istri anak majikannya itu.


Bi Surti pun keluar mengikuti Ratna dan Firlan yang berjalan menuju teras rumah.


Raharjo dan Dewi serta beberap orang lainnya menyambut kedatangan mereka.


Dan sekarang mereka semua duduk di ruang tamu.


"Perkenalkan saya Ratna, kedatangan saya hari ini ke rumah Bapak dan Ibu, ingin melamar putri kalian untuk anak saya, Firlan Anggara. Saya sebenarnya baru mengetahui hubungan mereka beberapa waktu yang lalu, dan ternyata kedua anak ini sudah siap untuk saling mengikat dalam satu ikatan pertunangan," ucap Ratna yang sedikit terkesan dengan apa-apa yang disiapkan besannya. Bahkan ruang tamu saja dihias dengan bunga yang begitu cantik.


"Saya dan istri saya sebagai orangtua hanya bisa merestui dan mendoakan kebaikan Vira dan Firlan..." kata Raharjo sembari emnengok ke istrinya sekilas.


"Tolong panggilkan Vira kemari..." ucap Raharjo pada Dewi.

__ADS_1


Dewi segera beranjak dan berjalan ke lantai dua, menuju kamar Vira.


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk," seru Vira.


"Ayo, keluar. Firlan dan ibunya sudah datang..." kata Dewi.


Vira menghela nafasnya perlahan sebelum ia berdiri.


"Gugup?" tanya Dewi yang sekarang berada di hadapan putrinya.


"Wajar kalau kamu gugup, dulu mama juga begitu. Tapi sekarang kita harus segera keluar semua orang sudah menunggu di bawah," kata Dewi pada Vira, gadis itu hanya mengangguk.


Dia berjalan perlahan, karena memang kebayanyang ia gunakan tidak memungkinkan untuknya berjalan cepat, Vira terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna pink dengan bawahan rok yang dibuat dari jarik dengan belahan sebatas betis. Dewi sengaja membuatkannya sesaat setelah menerima berita dari Firlan kalau pria itu ingin melamar putri semata wayangnya.


Kini Dewi dan Vira sudah berada di bawah, mereka berjalan melewati ruang keluarga menuju ruang tamu. Firlan yang melihat sosok kekasihnya pun terpesona dengan penampilan Vira yang terlihat begitu anggun.


"Ya, bagus juga dia memakai kebaya seperti itu!" batin Ratna.


"Begini Vira, ibu Ratna datang kemari ingin melamar kamu untuk putranya, Firlan. Apa kamu menerima lamaran ini?" tanya Raharjo.


Vira tersenyum sekilas, "Vira menerimanya, Paa..."


Dan Firlan tak dapat menyembunyikan senyuman dari wajahnya saat mendengar Vira mengucapkan itu. Meskipun mereka sama-sama sudah tahu akan rencana lamaran ini, tapi tetap saja hati keduanya berdebar selama acara berlangsung.


"Baiklah, karena putri Bapak menerima lamaran kami. Jadi, saya akan memberikan satu set perhiasan ini sebagai tanda pengikat diantara keduanya..." Ratna beranjak mendekati Vira.


"Berdiri, Sayang..." bisik Dewi pada Vira, Vira pun segera berdiri.


Ratna memakaikan cincin di jari manis calon menantunya dengan wajah yang datar tanpa ekspresi. Wanita yang merupakan ibu dari Firlan itu juga memakaikan kalung pada Vira. Sedangkan ia biarkan anting-anting masih di tempatnya karena Vira sudah memakai anting dan ribet kalau harus mencopot dan memasang kembali.


Vira mencium tangan Ratna, wanita itu hanya mengelus sekilas. Lalu ia duduk kembali ke tempat duduknya.


"Baiklah, Nak Firlan. Sekarang kalian sudah resmi bertunangan dan sekarang mungkin kita bisa menentukan kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan..."


"Lebih cepat lebih baik, Om..." sahut Firlan.

__ADS_1


"Hahahah, ternyata Nak Firlan rupanya sudah tidak sabar. Baiklah, kita tentukan saja hari baiknya bagaimana bu Ratna?" tanya Raharjo pada ibu dari Firlan


Wanita itu hanya bisa mengiyakan permintaan anaknya, dan hari itu mereka segera menentukan kapan hari pernikahan antara Vira dan Firlan akan dilaksanakan.


Pembicaraan kini beralih ke meja makan, Dewi menjamu tamunya sebaik mungkin. Ratna yang semula tidak begitu menyukai Vira, kini menyambut baik jamuan makan siang yang disiapkan besannya itu.


"Rupanya mereka sangat menghargai tamu," batin Ratna.


"Silakan, Bu..." ucap Dewi seraya menawarkan berbagai macam makanan.


"Ayo, Nak Firlan..." ucap Dewi pada Firlan.


"Mau makan apa? biar aku ambilkan..." kata Vira.


Mejaakan yang semula menyatu dengan dapur kini di pindah ke ruang tengah yang lebih luas. Dewi menghias meja makannya dengan bunga dan taplak berwarna putih.


"Aku nggak nyangka ibu kamu bakal menyiapkan ini semua," bisik Firlan pada Vira.


"Ya memang, mama kan memang paling antusias dan nggak mau mengecewakan, dan semoga ibu kamu suka..." sahut Vira.


"Aku ambilkan ya," lanjut Vira yang mengambilkan makanan untuk Firlan. Dan hal itu tak luput dari sepasang mata milik Ratna.


Mereka menikmati makan siang bersama, tak ada cabda tawa hanya ada obrolan kecil antar sesama orangtua. Vira dan Firlan hanya bisa menyimak dan sesekali kaki pria itu menyenggol kakinya.


"Apa?" lirih Vira.


"Ke depan aja, yuk?" ajak Firlan.


"Nggak ah, nggak enak..." tolak Vira.


"Ayo, disini kita hanya jadi pendengar..." kata Firlan.


"Kalian kalau mau keluar, keluar saja. Tidak usah bisik- bisik seperti itu..." ucap Ratna to the point.


Firlan berdiri, " Ibu, Om, Tante ... kami sudah selesai, kami mau ke depan dulu," ucap Firlan, ia menengok sekilas pada Vira yang masih duduk di kursinya.


"Mereka pasti bosan mendengar percakapan orangtua," celetuk Raharjo.


"Pergilah," ucap Raharjo pada anaknya, Vira.


"Ayo, cepat!" bisik Firlan. Vira tersenyum tipis dan mau tak mau mengikuti kemana Firlan pergi.

__ADS_1


"Jalannya cepet banget, nggak pengertian aku pakai kebaya susah buat jalannya! dasar nyebelin!" gerutu Vira.


...----------------...


__ADS_2