Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Kontrakan Vira


__ADS_3

Setelah check out dari hotel, Vira pun mengajak Raharjo dan Dewi untuk bertandang ke kontrakannya dengan diantar oleh Firlan.


Ceklek.


"Masuk, Ma ... Pa..." kata Vira setelah pintu dibuka.


"Assalamualaikum," ucap Dewi.


"Waalaikumsalam," jawab Vira.


"Duduk dulu Ma, Pa. Biar Vira buatkan teh hangat," kata Vira. Raharjo dan Dewi pun duduk sambil melihat kontrakan yang disewa putrinya.


Firlan pun menurunkan koper milik calon mertuanya kemudian membawanya masuk ke dalam.


"Kopernya, Vir..." kata Firlan.


"Taruh situ aja, Kak. Nanti aku yang bawa masuk ke kamar," kata Vira menunjuk ruang tivi.


Firlan pun mendorong lagi koper itu masuk ke dalam. Dan kembali ke ruang tamu.


"Duduk dulu, Nak Firlan..." kata Dewi. Pria gagah yang hanya memakai kemeja tanpa jas itu pun mendudukkan dirinya di kursi single yang berhadapan dengan kedua orangtua Vira.


"Kak Firlan mau minum dingin atau panas?" tanya Vira.


"Dingin aja," jawab Firlan.


"Ya udah, aku buatin bentar..." Vira pun beranjak dari duduknya dan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Bagaimana pekerjaanmu di kantor, Lan? kamu pasti sangat sibuk, ya?" tanya Raharjo.


"Ya begitulah, Om. Nasib jadi asisten CEO, harus punya energi yang optimal, karena harus menghandle banyak pekerjaan dalam satu waktu," jawab Firlan.


"Kamu masih muda, pasti energimu masih menggebu untuk bekerja. Dulu saya juga begitu, bekerja tanpa kenal waktu. Hanya saja kita beda jalur, kalau Nak Firlan kan bekerja untuk orang lain, kalau saya bekerja untuk usaha saya sendiri. Nak Firlan bekerja di perusahaan yang besar, pasti tekanan pekerjaan lebih besar..." kata Raharjo.


"Setiap pekerjaan memiliki tantangan berbeda-beda, tapi kalau dipikir-pikir semuanya sama saja, sama-sama memiliki pressure nya sendiri-sendiri," kata Firlan.


"Tante ke dalam dulu ya, mau lihat Vira..." kata Dewi pada Firlan.


"Pa, Mama ke dalam dulu, liat anak gadis bener atau nggak bikin minuman," kata Dewi, Raharjo pun tertawa.


"Iya, Ma. Jangan sampai dia masukkan garam ke dalam teh," kata Raharjo yang ingat kalau Vira itu sangat ceroboh soal dapur.


Mengingat garam, Firlan pun ingat betul waktu itu dia pernah dia pernah disuguhi Vira kopi asin. Pria itu pun bergidig saat mengingat rasanya yang tidak enak.


Dewi masuk ke dapur meninggalkan Firlan dan Raharjo yang kini mengobrol santai.

__ADS_1


"Viraaa..." panggil Dewi seraya mendekat ke arah Vira yang sedang duduk di kursi meja makan menunggu air mendidih.


"Eh, Mama. Kok kesini, Ma?" tanya Vira.


"Nggak apa-apa, mau liat kamu bener apa nggak bikin tehnya, Sayang..."


"Aiiih, Mama ini. Masa iya Vira bikin teh aja nggak bisa?" ucap Vira.


"Mama duduk aja, Ma. Biar Vira yang bikinin," ujar wanita berambut sebahu itu.


Dewi pun menarik kursi dan duduk, melihat Vira yang kini mematikan kompor dan menaruh dua kantung teh ke dalam poci kemudian menuang air mendidih ke dalamnya.


Vira mengambil nampan dan menaruh dua cangkir diatasnya, lalu memindahkannya ke meja makan. Ia juga mengambil gelas bening yang tinggi dua buah.


"Mau bikin apa, Sayang?" tanya Dewi ketika melihat Vira menaruh dua gelas yang tinggi di atas meja makan.


"Es buah, Ma..." kata Vira.


Ia pun bergerak ke arah lemari pendingin dan mengeluarkan buah kalengan dan syrup rasa cocopandan. Tak lupa ia juga mengeluarkan es batu dari dalam freezer.


Vira membuat teh terlebih dulu, ia menaruh gula ke dalam cangkir dan menuabgkan air teh yang sudah ia seduh.


Dewi hanya memandangi Vira yang sedang mengaduk teh, tanpa sadar satu senyuman terukir di wajahnya.Dewi merasa waktu bergerak begitu cepat, putri kecilnya kini sudah menjelma sebagai wanita dewasa.


"Kenapa, Ma?" tanya Vira yang kini sudah selesai membuat teh dan beralih pada sebuah gelas bening dan mengisinya dengan syrup cocopandan, es batu dan buah leci.


"Nggak apa-apa," jawab Dewi.


Vira hanya mengendikkan bahunya heran. Dan kini wanita itu kembali membuka kulkas mengambil soda yang berwarna putih dan biji selasih.


Ia menyeduh biji selasih dengan sisa air panas yang ada di teko. Kemudian ia mengambil buah selasih yang dengan sendok dan menaruhnya di atas tumpukan buah leci. Terakhir dia menuangkan soda bening ke dalam gelas. Vira menaruh sedotan dan satu sendok kecil yang ia taruh di dalam gelas yang berisi es.


"Sini, biar mama bantu bawa keluar," ucap Dewi yang mengambil nampan berisi teh hangat.


"Kamu bawa gelas itu aja," Dewi menunjuk es buatan Vira.


Vira mengangguk, Dewi pun tersenyum dan mengangkat nampan itu. Wanita paruh baya itu berjalan diikuti Vira yang mengekor dibelakangnya dengan membawa dua gelas es yang sudah pasti sangat segar dan menggiurkan.


"Teh nya, Pa ... original buatan Vira ini," kata Dewi seraya menaruh satu cangkir untuk suaminya dan satunya lagi untuk dirinya.


"Minumnya, Kak..." kata Vira yang menaruh dua gelas diatas meja. Wanita itu duduk di kurai di samping Firlan yang berhadapan dengan kedua orang tua Vira.


"Wah, seger banget kayaknya..." kata Firlan melihat es yang dengan sedikit buble-buble soda.


"Segerlah orang aku yang bikin, gratis lagi," celetuk Vira.

__ADS_1


"Cobain," Vira mengangkat satu gelas es dan memberikannya pada Firlan.


Firlan pun mengaduk minumannya yang terlihat sangat cantik. Pria itu pun menyeruput minuman itu. Rasa segar dan juga manis bercampur dengan buah leci membuatnya ketagihan untuk meminumnya lagi.


"Tumben nih bener bikinnya," celetuk Firlan.


Raharjo dan Dewi pun tertawa.


"Memangnya dia pernah bikin nggak bener, Lan?" tanya Raharjo.


"Pernah dulu saya dibuatin kopi garam, Om. Sewaktu dulu, Vira masih menginap di apartemen Ricko, selepas Om operasi dan tinggal disana..." jelas Firlan.


"Hahahaha, kopi garam? ada-ada saja kamu, Vira..." Raharjo geleng-geleng kepala, kenapa bisa Vira bukannya memasukkan gula tapi malah garam ke dalam kopi yang disuguhkan untuk Firlan.


Padahal waktu itu Vira memang sengaja menaruh garam karena dia kesal dengan Firlan.


"Aiih, kenapa yang kayak begitu masih juga diinget? dasar nyebelin..." gumam Vira, Firlan hanya tertawa melihat wajah kekasihnya.


"Tapi ini enak kok, suwer!" Firlan menunjuk minumannya.


Vira pun mengambil dan mengaduk gelas miliknya yang juga berisi es. Wanita itu meminumnya perlahan, dan memang perpaduan rasanya sangat enak. Vira seketika bangga dengan pencapaian membuat sesuatu yang layak untuk dinikmati.


"Om, Tante ... sepertinya ini sudah sore. Saya pamit pulang dulu..." kata Firlan.


"Loh kok buru-buru?" tanya Raharjo.


"Besok saya kesini lagi, Tante. Kalau Om dan Tante perlu sesuatu, telfon saya saja ... nanti saya akan langsung datang kemari," kata Firlan yang berdiri dan menyalami kedua orangtua Vira.


"Hati-hati ya, Nak..." kata Dewi.


"Kalau begitu saya permisi, mari Om ... Tante," ucap Firlan.


"Vira antar Kak Firlan dulu ke depan ya, Ma..." ucap Vira yang kemudian mengikuti Firlan keluar.


Tin.


Tin.


Firlan membuka kunci mobilnya, "Aku pulang ya, Ay..." ucao Firlan.


"Hati-hati, nggak usah ngebut!"


"Siap," ucap Firlan seraya masuk ke dalam mobilnya. Pria itu menyalakan mesin dan pergi meninggalkan kontrakan Vira.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2