Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Melamar


__ADS_3

Tiba-tiba ponselnya berdering. Membuat Vira yang hampir tertidur kini terpaksa bangun.


"Ya ampun siapa sih yang nelpon!" Vira bersungut-sungut sambil bangit dengan mata yang masih merem.


Wanita itu beranjak dari ranjangnya dan merogoh ponsel dalam tasnya.


"Ya ampun, nggak sabaran banget dah!" Vira kesal karena ponselnya terus saja berdering.


Setelah mendapatkan benda itu, dia kembali menghempaskan tubuhnya dia atas ranjang sambil menerima panggilan itu.


"Halo?" sapa Vira agak malas.


"Halo, Vira..." ucap seorang pria dengan lembut. Sontak Vira membuka matanya lebar dan melihat nama si penelepon.


"Mas Gusti?" cicit Vira.


"Hem, ada apa ya, Mas?" tanya Vira.


"Nggak apa-apa. Aku cuma mau nanya, kamu ada waktu nggak malam ini?"


"Malam ini?" Vira mengerutkan keningnya.


"Iya, malam ini aku ingin meminta bantuan kamu untuk memilihkan hadiah untuk seseorang," ucap Gusti.


"Maaf, Mas. Saya nggak bisa..." ucap Vira sambil menguap, ia memang sedang mengantuk sekarang.


"Ehm, kamu kayaknya lagi ngantuk berat ya?" tanyq Gusti.


"Iya," jawab Vira singkat.


"Ya sudah, lain kali saja. Kamu istirahat aja kalau gitu..." ucap Gusti yang kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Sedangkan Vira kini meletakkan pknselnya begitu saja, sedangkan kepalanya langsung menempel pada bantal.


"Tidur bentar lah, 5 menit..." gumam Vira, dan satu detik kemudian wanita itu sudah tertidur begitu saja.


.


.


Di apartemennya Firlan kini sudah memakai kemeja casual yang ia padukan dengan celana denim, ia melihat pantulan dirinya di cermin.


"Perfect!" pria itu memuji diri sendiri.


"Hem, bagaimana kalau..." Firlan mengucapkan sebuah kalimat menggantung.


"Jadi ... kau menerimaku kan?" ucap Firlan dengan mata penuh cinta.


"Aaah, nggak bener!" Firlan mengumpat dirinya sendiri.


"Aku ingin menjadi suamimu!"

__ADS_1


"Aaiiishhh! kenapa susah sekali!" Firlan mulai frustasi.


"Aku sudah lama menantikan hari ini dan aku harap kamu menerimaku, bukan hanya hari ini tapi selamanya..." kata Firlan.


Akhirnya Firlan menemukan satu kata yang walaupun kurang manis dan kaku tapi masih lumayan untuk ukuran pria seperti dia yang memang tidak bisa berkata romantis.


"Sudahlah, aku jalan sekarang!" ucap Firlan.


Sedangkan Vira yang sempat terlelap kini sudah bangun dan mencuci mukanya lagi. Dia tidak mau Firlan melihat muka bantalnya.


"Untung aja, aku bangun disaat yang tepat, coba kalau nggak? nggak bisa dibayangkan apa yang terjadi..."


Vira hari ini memakai dress berwarna hitam. Entahlah, dia rasanya ingin tampil feminim untuk malam ini.


Wanita itu segera memoles wajahnya dengan sangat apik. Dan terdengar suara ketukan pintu di luar, beruntung Vira telah menyelesaikan acara poles memoles wajah.


"Yaaaaaaa sebentaaaaaaar!" teriak Vira.


Vira menyambar tasnya dan segera melesat menemui orang yang sedari tadi mengetuk pintu dengan tidak sabaran.


Ceklek.


Vira memutar handle dan melihat sosok pria gagah berdiri di hadapannya saat ini.


"Ayang? kok udah dateng, sih? kan belum jam 7..." ucap Vira.


"Aih, jam 7 nya juga kurang 5 menit jadi nggak usah berlebihan..." kata Firlan seraya menjawil pipi Vira.


"Udah siap?" tanya sang pria.


Dan sekarang mereka berdua berjalan menuju mobil Firlan.


"Ay, kenapa sih nonton harus malem ini? kayak nggak ada malam-malam selanjutnya..." kata Vira ketika mereka berada di dalam mobil.


"Kan aku udah bilang, biar horornya dapet banget..." ucap Firlan seraya menekan pedal gasnya meninggalkan kontrakan Vira.


"Aiih, menyebalkan!" gerutu Vira, namun Firlan yang mendengar itu tersenyum penuh arti.


.


.


.


Setelah menemouh perjalanan selama 30 menit akhirnya mereka sampai di tpat yang mereka tuju.


"Aku kira nontonnya di mall..." tanya Vira ketika melihat sebuah gedung bioskop.


"Nggak. Aku lagi males ke mall..." ucap Firlan.


"Ya udah yuk, turun..." kata Firlan yang melepaska. sabuk prngaman miliknya.

__ADS_1


"Rame banget, Ay! kebagian tiket nggak nih?" tanya Vira setelah keluar dari mobil.


"Tenang aja, aku udah ada tiketnya..." Firlan menunjukkan dua buah tiket yang ada di tangannya.


"Beuuuh, niat banget ya?" Vira menoleh pada Firlan yang kini merangkul bahunya.


"Ya nggak juga..." sahut Firlan.


Firlan mengajak Vira untuk masuk, sejujurmya hatinya sangat berdebar tapi dia harus menyembunyikannya dari wanita di sampingnya ini.


"Mau beli popcorn?" tanya Firlan setelah masuk ke dalam gedung itu.


"Iya lah!"


"Tumben nggak antri? biasanya kan kalau beli popcorn antriannya panjang banget ya, kok ini nggak ada yang beli sih?" Vira celingukan.


Sedangkan Firlan sudah membawa satu pop corn dan dua minuman di tangannya.


"Sini aku bantu," Vira mengambil pop corn yang Firlan bawa dengan susah payah.


Dan kebetulan tak lama setelah itu pintu theater dibuka. Kedua pasangan kekasih itu mengantri untuk masuk ke dalam.


"Disana..." ucap Firlan sembari menggandeng tangan Vira.


Dan mereka berdua pun duduk. Cahaya dipadamkan, hanya ada sinar dari layar besar yang terpampang nyata di depan mata.


"Kenapa tanganmu sangat dingin?" tanya Vira saat memegang menautkan tangannya dengan tangan Firlan.


"Nggak apa-apa, tadi kan aku bawa minuman dingin. Jadi tanganku ikutan dingin..."


"Oh, iya yah! sebentar lagi filmnya akan diputar, jadi jangan berisik atau kita akan dikelyarkan dari tempat ini..." ucap Firlan.


"Iya iya lupa..." bisik Vira.


Namun aneh, yang ditampilkan dilayar bukan film horor yang akan mereka tonton hari ini. Tapi potongan, cuplikan vidio tentang dirinya. Vira pun sontak menengok ke arah Firlan.


"Itu kan aku," Vira menunjuk layar besar di depan.


"Hey ... kenapa ada foto dan vidioku disana," Vira menyenggol Firlan, dia melihat vidio yang mrmperlihatkan senyum manisnya saat berangkat ke kantor maupun sedang bersama anak-anak.


"Kapan dia mengambil foto-foto dan cuplikan vidio itu?" batin Vira.


"Tonton saja sampai selesai..." bisik Firlan, ia mengecup punggung tangan Vira. Dan tengah ruangan yang remang-remang itu munculah satu persatu cahaya yang berasal dari sebuah stick yang dipegang oleh semua penonton yang ada di gedung theater itu.


"Hai, ehm ... ini aku, Firlan. Kekasihmu yang luar biasa. Aku tau di tayangan ini hanya ada foto dan vidio tentangmu. Aku memang sangat sibuk, jadi kita hampir tidak pernah membuat suatu kenangan yang manis. Tapi setelah hari ini, aku janji aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat kenangan yang indah bukan hanya untukmu tapi untuk kita. Vira Anugrah, will you marry me?" ucap Firlan seraya berlutut, dan lampu pun menyala. Ada seseorang yang menyerahkan satu buket bunga casablanca lily pada Firlan.


"Will you marry me?" Firlan memberikan bunga itu pada kekasihnya dan mengeluarkan sebuah cincin, Vira hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Yes, I will!" Vira meraih bunga itu. Semua orang pun bertepuk tangan.


Firlan pun menyematkan cincin itu di jari manis Vira, "Aku akan berusaha membahagiakan kamu," ucap Firlan seraya mengecup punggung tangan wanitanya. Vira mengangguk

__ADS_1


Firlan segera mengajak Vira bangkit dan berjalan keluar gedung. Dengan jari jemari yang saling bertaut.


...----------------...


__ADS_2