
Setelah makan malam dengan Firlan, Vira mendapat telepon dari Ricko.
"Maaf, Kak. Kakak sampai menelfonku lagi, aku jadi ngerasa nggak enak," kata Vira yang melypakan janjinya kalau dia akan mengatur wajtu untuk bertemu dengan Ricko.
"Santai aja. Aku ngerti, kok. Kamu kan lagi merintis usaha, jadi wajar kalau kamu sangat sibuk," ucap Ricko lembut seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dari lelaki itu, hanya saja mereka berdua yang tidak pernah bertemu lagi setelah sekian lama.
"Bagaimana? besok kamu ada waktu?" lanjut Ricko.
"Bisa, Kak. Jam berapa?"
"Jam 12, nanti aku share lokasinya..." ucap Ricko.
"Siap, Kak! sekali lagi maaf, ya?"
"Hahahaha, aku maafkan jika kamu datang besok, karena orang ini sangat penting buatku..." ujar pria yang
"Iya iya, Kak ... inshaa Allah, aku aku akan usahakan datang tepat waktu,"
"Bagaimana hubunganmu dengan Firlan? kapan aku dapat undangan pernikahan kalian? atau jangan-jangan kalian udah nikah dan nggak ngundang kakak?" Ricko mencecar Vira dengan pertanyaan.
"Pertanyaannya banyak sekali, Kak? lama nggak ngobrol kayaknya Kakak makin cerewet aja," kata Vira.
"Hei, jangan mengalihkan pembicaraan anak nakal! Hahahhaha, sebenarnya mama dan papa mu sudah ingin melihatmu menikah, Vira..." kata Ricko.
"Aku masih muda dan nggak ingin menikah terlalu cepat, hahahah. Kakak dulu saja, dan cetak banyak keponakan untukku..." kata Ricko.
"Kalau aku menikah mungkin aku akan menetap di negeri orang, Vira..." kata Ricko membuat awan mendung mengelilingi hati Vira.
"Nggak. Kakak pasti bercanda, kan? satu kota denganmu saja kita nggak bisa ketemu. Apalagi beda negara? bisa-bisa kita bertemu saat rambut kita sudah putih keabu-abuan?" Vira tertawa.
"Serius, aku nggak bercanda..."
Vira terdiam, ada rasa kehilangan yang menggelayuti hatinya. Bagaimanapun Ricko sudha ia anggap seperti kakak baginya, alasan mengapa ia tidak pernah bertemu karena Firlan selalu cemburu dengan Ricko terlebih saat dia pernah tinggal di apartemen Ricko bersama kedua orangtuanya paska transplantasi ginjal yang dilakukan Raharjo, ayah Vira dengan Ricko.
__ADS_1
Setelah Vira angkat kaki dari apartemen Ricko, orangtua Vira masih tinggal selama beberapa bulan disana. Ricko yang notabene yatim piatu dan akhirnya pernah diangkat anak oleh seorang pasangan yang ternyata orang kaya pun harus menghadapi kepahitan karena harus menjadi yatim piatu untuk kedua kalinya.
"Vira..." suara Ricko membuyarkan lamunan Vira.
"Ya,"
"Aku ingin mengakui sesuatu,"
"Apa itu, Kak?
"Kamu hanya perlu mendengarkan saja apa yang ingin aku sampaikan,"
"Ya, katakanlah..."
"Sebenarnya, aku mencintaimu. Bahkan dulu sewaktu aku bertemu denganmu di panti asuhan saat dibawa papa mu ke panti asuhan. Sejak permen warna-warni yang aku simpan tapi kamu tak pernh muncul dan saat kita bertemu kembali dalam ketidaksengajaan. Aku kira pertemuanku dengan pak jojo di rumah sakit waktu dia tak sadarkan diri, adalah cara tuhan untuk mnyatukan cintaku yang telah lama hilang. Tapi aku salah, gadis kecil itu, sudah memiliki tambatan hatinya. Dan aku hanya bisa menggenggamnya dalam angan..."
Vira hanya terpaku di tempat, mendengar Ricko mengutarakan perasaaannya.
"Jangan terbebani dengan ini, aku hanya ingin menyampaikan apa yang selama ini aku tahan sekuat tenaga, karena aku harus melupakan itu semua sebelum akhirnya bersatu dengan orang yang mencintaiku," jelas Ricko.
"Hey, kenapa kamu diam saja adik kecil?" Ricko berusaha mencairkan suasana kembali.
"Emhh, aku..."
"Jangan berubah, kamu akan tetap jadi adikku yang manis. Dan jika pacarmu itu menyakitimu kamu bisa mengadu padaku, biar aku yang mengurusnya," kata Ricko.
"Iya, terimakasih sudah begitu baik denganku maupun dengan orangtuaku,"
"Kalian sudah seperti keluarga, bahkan aku sangat senang karena aku boleh memanggil pak Jojo dengan sebutan papa," kata Ricko saat mengingat Raharjo yang bisa ia panggil dengan sebutan pak Jojo itu menyuruh memanggil dirinya papa.
"Aku merasa memiliki orangtua lagi," lanjut Ricko.
"Kakak pantas mendapatkan itu semua, bahkan kakak pantas mendapatkan seluruh kebahagiaan di dunia ini. Aku akan selalu mendoakan kebaikan untukmu," kata Vira yang menghapus air matanya yang tak kuasa untuk tidak jatuh.
__ADS_1
"Apa kamu menangis, Vira? apa aku membuatmu sedih?" tanya Ricko.
"Nggak, Kak. Nggak sama sekali, aku hanya terlalu senang, memiliki seorang kakak yang sangat perhatian padaku,"
"Aku sebenarnya ingin membuatkanmu makanan, tapi aku takut Kakak akan keracunan setelah makan makanan dariku," lanjut Vira membuat Ricko tertawa.
"Hahhahahah, sebenarnya rasanya nggak semenakutkan itu, hanya saja kamu belum pas menduetkan garam dan lada," ucapan Ricko disambut tawa Vira.
"Aku sebenarnya penasaran, waktu itu sebenarnya Kakak sakit perut atau nggak saat makan gongso buatanku waktu itu?" tanya Vira yang-tiba kepo.
"Kasih tau nggak, ya?"
"Kasih tau lah! aku kan penasaran juga," ucap Vira saat mengingat Ricko yang pernah makan gongso buatannya yang rasanya acakadul bin semrawud, tapi Ricko terlihat sangat menikmatinya. Bahkan Vira saja yang memasaknya tidak sanggup untuk mencicipi satu sendok makanan berkuah itu.
"Ayolah, Kak. Kasih tau..." Vira merengek pada Ricko.
"Hemmm, bagaimana ya? hahahaha,"
"Aiih, Kakak mulai ngeselin, deh!" Vira merajuk.
"Sebenarnya sehabis makan itu aku langsung kinum obat anti diare, hahhaha..." tawa Ricko mendadak pecah disusul dengan Vira yang juga tertawa mengingat kejadian ajaib itu.
Malam itu mereka melewatkan malam dengan tertawa dan bercerita tentang masa lalu. Vira sangat senang mengenal malaikat tak bersayap seperti Ricko. Yang dewasa dan tidak pernah sekalipun bersikap kasar terhadap dirinya. Ricko ingin melepaskan cintanya untuk Vira, tanpa mengatakannya dia akan sulit untuk bergerak maju. Dan rasanya sangat egois, jika dia menerima cinta dari wanita lain namun masih dibayangi oleh cinta di masa lalu. Wanitanya berhak mendapatkan seluruh hatinya, tanpa ada rasa yang tertinggal untuk yang lain.
Vira tak bisa banyak berkata, dia tidak bisa memutar waktu. Seandainya Vira dipertemukan dengan Ricko lebih dulu, mungkin dia bisa membalas perasaan pria itu.
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Ricko di telepon, Vira merebahkan tubuhnya pikirannya mengawang. Memikirkan apa yang harus dilakukannya terhadap Firlan.
Tidak bisa dipungkiri jika yang namanya cinta akan sulit dilupakan begitu saja, tapi dia belum siap untuk melangkah lebih jauh. Dia takut terluka, dia takut apa yang dilakukan Firlan saat ini hanya untuk mengambil simpati darinya saja.
"Apa aku harus memberinya satu kesempatan?" gumam Vira seraya memejamkan matanya.
"Nggak tau, ah! aku males kalau harus mencintai laki-laki yang juga dicintai oleh perempuan lain, kayak stok cowok udah habis aja di dunia ini," Vira bergumam kembali.
__ADS_1
...----------------...