Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Jangan Bahas Itu


__ADS_3

Tidak butuh banya waktu untuk menunggu petugas itu mengambil sampel darah milik Alia.


"Sekarang Nona Alia akan kami pindahkan ke ruang rawat," kata salah seorang perawat.


"Silakan, Sus..." ucap Firlan yang mundur beberapa langkah menjauh dari brankar Alia. Wanita itu sudah di pasang selang infus di tangannya.


Setelah mengantar Alia ke kamar rawat, barulah Firlan akan berpamitan. Sepertinya sangat jahat kalau dia hanya meninggalkan Alia di ruang IGD.


"Mari Tuan..." ucap perawat itu seraya mendorong Alia yang kini berada di kursi roda.


Pria itu berjalan beberapa langkah di belakang Alia, wanita itu nampak sesekali menoleh memastikan keberadaan Firlan.


Mereka pun menaiki lift untuk sampai di lantai 3, tempat dimana ruangan Alia berada.


Dan Ting!


Pintu besi pun terbuka. Suster mendorong kursi roda diikuti oleh Firlan berjalan menyusuri lorong panjang dan mereka berhenti di kamar nomor 221.


Ceklek.


Pintu dibuka, suster membawa Alia masuk ke dalam.


"Mari saya bantu, Nona..." suster itu membantu Alia untuk berpindah dari kursi roda ke temoat tidur.


"Kalau butuh sesuatu, silakan tekan emenergency call. Kalau begitu saya permisi," ucap suster tadi meninggalkan Alia dan Firlan berdua di ruang rawat itu.


"Okey, sepertinya kamu garus istirahat supaya cepat sembuh. Itu artinya aku harus pulang sekarang," kata Firlan yang sangat to the point.


"Menginaplah, ini sudah malam..." kata Alia.


"Ada seseorang yang menungguku, Alia. Oh ya, lain kali mungkin aku tidak bisa membantumu seperti ini lagi. Jadi, jika kau membutuhkan bantuan mungkin kamu bisa menghubungi temanmu yang lain," ujar Firlan.


"Maksud kamu?"


"Aku sudah berbaikan dengan Vira, kami sudah bersama. Dan sebentar lagi kami akan menikah," kata Firlan.


"Oh, begitu? j-jadi kalian sudah..."


"Ya, dan aku minta kau bisa memaklumi itu. Bukankah para wanita sangat mempersoalkan soal pertemanan antara pria dan wanita? jadi, maaf untuk lain kali mungkin kamu bisa menghubungi orang lain jika kamu memerlukan bantuan seperti ini. Atau lebih baik kamu juga memiliki pasangan, supaya ada orang yang memperhatikan kamu..." ucap Firlan sambil tersenyum.


"Pasti, aku juga akan memiliki pasangan seperti kamu," kata Alia.


"Baiklah, Alia ... sudah malam, aku pamit. Semoga lekas sembuh..." Firlan kemudian berbalik dan berjalan membuka pintu, dan kini tinggalah Alia sendirian di ruangan perawatannya.


"Aku juga ingin memiliki pasangan seperti kamu, Firlan..." lirih Alia.


.


.

__ADS_1


.


Firlan terburu-buru untuk kembali ke hotel. Dia berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya.


"Pasti Vira masih nungguin," ucapnya seraya menyalakan mesin mobil.


Sembari menyetir, Firlan berusaha menghubungi kekasihnya. Namun tidak diangkat.


"Apa dia sudah tidur?" ucap Firlan seraya melirik jam yang ada di tangannya.


"Aku harus cepat sampai," kata Firlan yang semakin menambah kecepatan mobilnya.


Kebetulan jarak antara rumah sakit dan hotel lumayan jauh. Jadi cukup lama waktu yang dibutuhkan Firlan untuk sampai di hotel tempat dia menginap.


"Udah malem, kayaknya aku beli burger dulu aja," Firlan memilih untuk melambatkan mobilnya dan masuk ke dalam antrian drive thru.


Firlan memesan beberapa makanan dan minuman untuknya dan Vira. Saat ini perutnya sudah berisik sejak keluar dari rumah sakit.


"Silakan pesanannya, Tuan..." ucap pramusaji yang memberikan pesanan Firlan.


"Terima kasih..." kata Firlan singkat lalu pergi memacu kembali kendaraannya menuju hotel.


"Semoga aja Vira nggak marah karena aku kelamaan. Lagian nggak etis juga ninggalin Alia gitu aja di IGD," gumam Firlan seraya tetap fokus menyetir.


Akhirnya setelah perjalanan yang ditempuh selama berpuluh-puluh menit, Firlan sampai juga di basement hotel. Dia memarkirkan mobilnya.


Pria itu mematikan mesin dan membuka seat belt sebelum kelyar dari mobil. Tak lupa ia membawa makanan yang dia pesan di salah satu makanan cepat saji.


Firlan memencet tombol lift. Pria bertubuh tegap itu masuk dengan tangan yang kerepotan membawa makanan.


Ting.


Pintu lift terbuka saat sudah berhasil mencapai lantai 5. Firlan segera keluar dari kotak besi itu dan dia berjalan menuju kamar Vira.


Ting tong.


Ting tong.


Ting tong.


Firlan memencet bell dengan sangat tidak sabaran.


Ceklek.


Vira muncul dibalik pintu dengan wajah yang seperti orang baru mandi.


"Astaga kamu mandi malam-malam begini?" Firlan menerobos masuk.


"Iya, kenapa?"

__ADS_1


"Kamu tidak takut masuk angin? kulitmu sangat tipis, aku takut kamu jatuh sakit..." Firlan meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja. Sedangkan Vira menutup pintu dan menyusul mendekati Firlan yang duduk di sofa.


"Udah selesai?" tanya Vira.


"Udah, tapi jangan bahas itu sekarang. Aku laper aku pengen makan," kata Firlan yang melepas jasnya dan kemudian bergerak ke kamar mandi.


Tak lama pria itu datang kembali dengan tangan yang sudah ia cuci bersih.


"Duduklah, kita makan bersama, Ay..." kata Firlan.


Vira yang sudah cantik dan segar, memakai dreaa yang dibelikan Firlan yang sangat pas di badannya.


"Rambut kamu masih sedikit basah," kata Firlan yang melihat rambut Vira yang masih lembab dengan handuk yang menyampir menutupi kedua bahunya.


"Ya kan tadi aku lagi ngeringin rambut, tau-tau ada yang mencetin bell nggak sabaran. Masih untung nggak aku siram pakai air," sindir Vira.


"Maaf, maaf aku kira kamu tidur atau marah. Karena kamu aku telfonin tapi nggak diangkat-angkat," Firlan membela diri.


"Ya sorry, aku lagi mandi jadi nggak denger kalau Kakak nelfon," kata Vira.


"Ya udah sekarang kita makan, perutku udah nggak tahan," ucap Firlan.


"Nggak tahan, kayak apa gitu nggak tahan," Vira menahan tawanya.


Vira dengan cekatan menyumpal mulut Firlan dengan beberapa kentang goreng.


"Kamu juga makan, jangan cuma aku..." Firlan kini mengarahkan satu burger berbentuk lonjong dengan isian daging steak ke mulut Vira.


Dan sekarang Vira mengarahkan burger yang tadi digigitnya ke mulut Firlan, dan sekarang mulut mereka berdua menggembung. Vira yang melihat Firlan tak bisa bicara pun hanya bisa tertawa.


"Jangan tertawa nanti kamu bisa tersedak," ucap Firlan yang tak begitu jelas.


Pria itu membuka minuman sodanya dan menegukknya.


"Astaga, jangan tertawa..." Firlan mencubit pipi Vira yang sedari tadi masih menyimpan makanan.


Firlan hanya pura-pura marah, padahal dia senang melihat Vira yang kini perlahan berubah menghangat padanya. Vira tidak lagi menolak sentuhan yang ia berikan, membuat Firlan semakin yakin kalau Vira perlahan telah mencoba menerimanya kembali seperti dulu.


"Senyam senyum sendiri, aneh!" celetuk Vira yang kemudian akan meminum sodanya yang tiba-tiba dicegah Firlan.


"Eeitsss, ini minumanku. Tuh minuman kamu yang itu..." ucap Firlan menunjuk botol mineral kecil.


"Minta dikit," ucap Vira yang tidak tahan melihat soda yang ada di papper cup jumbo.


"Oke deh, boleh. Tapi ada syaratnya..."


"Apa?" tanya Vira.


Firlan menepuk bibirnya sembari menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2