Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Sama Sekali Nggak Repot!


__ADS_3

Beruntung sebelum membuka pintu untuk Gusti, Vira sudah mebgganti crlananya dengan celana yang lebih sopan. Sehingga ia bisa dudum dengan nyaman di depan pria itu.


Vira mengernyitkan dahinya, karena banyak sekali makanan yang ia daparkan dari Gusti. Dari mulai minuman sampai pencuci mulut pun ada.


"Apakah aku harus menghabiskan semuanya?" tanya Vira polos.


"Tentu saja nggak, kamu bisa pilih makanan yang kamu suka. Sisanya kamu bisa simpan..." ucap Gusti.


"Kamu suka bubur?" tanya Gusti.


"Suka suka aja sih aku mah..."


"Makanlah, selagi masih hangat..." ucap Gsuti yang membukakan bubur yang dipack ditempat seperti mangkok.


"Makasih, padahal nggak usah repot-repot, karena aku bisa pesen lewat deliverry order..." ucap Vira.


"Aku sama sekali nggak repot," ucap Gusti.


"Aku makan..." ucap Vira yang membuka sendok yang dibungkus di dalam plastik laku mulai menyuapkan bubur ayam dengan topping melimpah namun tanpa kuah itu ke dalam mulutnya. Walaupun tidak ada kuahnya, rasa bubur itu sangat gurih dan lezat, membuat gadis itu ingin memakannya terus.


Gusti juga membukakan minuman teh hangat yang ditaruh di papper cup.


"Pelan-pelan aja," ucap Gusti.


"Mas nggak makan?" tanya Vira, karena ia membelikan begitu banyak makanan tapi tak satupun ia sentuh.


"Baiklah aku juga ikut makan," Gusti membuka sebuah bakmi goreng, pria itu memakannya dengan menggunakan sumpit.


Vira tidak tahu kalau makanan yang dimakannya saat ini dibeli Gusti dengan harga yang cukup mahal, karena itu rasanya sangat otentik dan tak akan ada yang bisa menyamai.


"Perut kamu sakit?" tanya Gusti karena saat ini satu tangan Vira memegangi perutnya sendiri.


"Iya,"

__ADS_1


"Kamu nggak mau periksa?" tanya Gusti disela makannya.


"Nggak, ini udah biasa tiap bulan..." jawab Vira enteng. Dia kini meneguk minuman hangatnya.


"Kamu sakit seperti ini setiap bulan? kenapa kamu nggak bilang? ini bisa menjadi hal yang serius kalau nggak cepat ditangani..." kata Gusti cemas, mungkin jawaban Vira yang ambigu mrmbuat Gusti berpikir jika Vira mempunyai penyakit yang serius.


"Maksudku, ini wajar terjadi pada wanita. Dan bukan sesuatu yang serius, hanya kadar sakit setiap orang yang berbeda..." jelas Vira.


"Astagaaaa, ternyata sakit itu. Aku kira kamu sakit usus buntu atau infeksi lambung atau semacamnya..." Gusti menepuk jidatnya sendiri, karena berpikir terlalu jauh.


Sedangkan Vira hanya bisa tertawa melihat ekspresi duda beranak satu itu. Wajahnya yang ramah membuat pria itu semakin menarik. Namun, hati Vira sudah dimiliki Firlan, Vira hanya menganggap Gusti hanya sebatas teman.


"Ya, jadi nggak harus sekhawatir itu," kata Vira.


"Tapi tetap saja, sakit ya sakit, Vira. Nggak bisa diremehkan begitu saja, apalagi kalau sampai menganggu aktivitas sehari-hari. Beruntung sekali ya para pria yang tidak perlu merasakan sakit seperti yang perempuan rasakan..." kata Gusti.


"Iya, karena mereka nggak pernah ngerasain sakit jadi mereka bisa tega nyakitin..." celetuk Vira.


"Masa, sih? tapi nggak semuanya seperti itu, Vira. Karena di luar sana, banyak kok pria yang setia dan sayang dengan pasangannya. Bahkan mereka rela melakukan apa saja demi wanitanya..." ucap Gusti.


"Kamu mau ini?" tanya Gusti yang menunjukkan udang krispy.


"Aku bisa sendiri, kok ... tenang aja," kata Vira.


Gusti merasa senang akhirnya makan siang jya berhasil dengan Vira, ya walaupun makan siang dengan situasi yang seperti ini. Tapi lumayan, daripada tidak sama sekali. Banyak hal yang mereka bicarakan, tanpa sadar mereka menghabiskan 1 jam untuk makan sambil mengobrol sampai akhirnya ada sebuah panggilan dari ponsel Gusti.


"Ya? saya masih diluar, tunda meeting 15 menit lagi, saya akan segera kesana..." perintah Gusti pada asistennya.


"Kalau bos enak ya, dia lagi ada perlu dia bisa tunda kerjaan sekian menit. Akubjadi bersyukur nggak kerja sama orang tapi punya usaha sendiri, jadi aku ngerasain juga pegang kendali saat aku butuh waktu buat libur atau ada perlu..." batin Vira saat mendengarkan percakapan Gusti dengan seseorang di telepon.


"Ehm, Vira. Saya harus pergi sekarang. Kamu cepat sembuh..." ucap Gusti yang kini meminum jus jambunya.


"Aku yang makasih, udah dibawain banyak makanan..." kata Vira yang berdiri ketika Gusti sudah beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Padahal aku ingin mengobrol lama dengan kamu, tapi ya ada meeting yang harus aku pimpin sendiri..." ucap Gusti dengan wajah yang menyesal.


Vira hanya tersenyum tipis, dia bingung harus menjawab apa.


"Aku pergi..." ucap Gusti yang berjalan ke arah pjntu dan memakai alas kakinya lagi.


"Hati-hati..." lirih Vira saat pria gagah itu berjalan dan masuk ke dalam mobilnya. Vira pun segera menutup pintu dan menguncinya.


"Tapi darimana dia tau kalau aku tinggal disini?" tanya Vira semvari membereskan bekas makannya.


"Kenapa juga aku pusing-pusing mikirn itu, dia orang kaya, dia bisa tau alamat ini tanpa harus mencari tau sendiri. Kan banyak yang bisa disuruh, Vira ... Vira ... pertanyaan macam apa itu!" Vira menoyor kepalanya sendiri.


Wanita itu memasukkan cake dan puding ke dalam lemari pendingin.


"Lumayan aja, daripagi ada aja rejeki makanan. Disyukuri aja rejeki dari tuhan..." ucap Vira yang kini masuk ke dalam kamarnya, sambil memegangi perutnya yang nyeri.


"Ah, Kak Firlan ufah makan belum, ya? daripagi dia belum ngabarin aku, sesibuk itu ya awal pekan bagi para asisten?" gumam Vira.


"Kalau nelfon sekarang takutnya ganggu. Aku tunggu dia yang nelfon ajalah..." ucap Vira yang mengganjal perutnya dengan bantal.


"Astaga, sakitnya nggak main-main..." Vira merintih kesakitan.


"Ssshhh, rasanya perutku kayak diperes kayak baju yang abis dibilas air. Sesakit ini, ya ampuuuun..." Vira terus saja bicara, ia meraih botol minyak kayu putih yang ada di atas ranjangnya. Ia oles di area perutnya, untuk mrmberikan rasa hangat dan mengurangi nyeri yang menyerangnya.


Wanita itu juga memijit sendiri kepalanya, ia sangat pusing. Vira menarik selimut untuk menutup sebagian tubuhnya.


Karena sakit yang teramat sangat, Vira pun akhirnya memilih untuk memejamkan matanya. Dia berusaha untuk tidur, walaupun rasanya sangat sulit.


Dengan segala kekuatan yang ada, akhirnya wanita itu akhirnya terpejam juga. Dia mulai tertidur, sementara banyak chat yang masuk dari Firlan.


Sementara, Firlan yang kini baru bisa menikmati makan siangnya diatas jam dua siang pun mengernyit heran saat chat nya tak satu pun dibalas oleh Vira.


"Tumben dia balesnya lama? apa dia lagi istirahat?" gumam Firlan. Pria itu sedang duduk di sebuah cafe dekat dengan kantornya.

__ADS_1


Namun tak disangka-sangka disana ia bertemu dengan seseorang yang cukup familiar.


...----------------...


__ADS_2