
Pagi menjelang, Vira perlahan membuka matanya karena gangguan alarm dari ponselnya.
"Brisik! hoaaaaaammmph..." Vira mematikan alarm yang sengaja ia setting supaya tidak bangun kesiangan.
Wanita itu mulai mengumpulkan nyawanya, ia duduk dan sedikit menyipitkan mata mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang ada di ruangan itu.
"Astaga, anak gadis papa baru bangun!" celetuk Raharjo yang datang dari arah luar bersama dengan Dewi. Sepertinya mereka habis jalan-jalan pagi.
"Papa sama Mama darimana?" tanya Vira yang menyibak selimutnya dan mulai meregangkan sendi-sendi nya.
"Habis cari udara pagi, jalan sampai ujung jalan sana," kata Raharjo.
"Cepat mandi, Sayang. Terus kita makan, mama sudah beli nasi uduk. Niatnya mau masak tapi dapur kamu bersih, nggak ada sayuran nggak ada bumbu dapur, cuma ada garem sama cabe aja..." celetuk Dewi.
Vira hanya garuk-garuk kepala, dia memang selalu beli di luar makanya di rumah dia tidak pernah menyetok bahan mentah seperti sayuran atau bumbu buat keperluan masak.
"Mama sama papa tunggu di meja makan," lanjut Dewi.
Vira segera beranjak dan masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya terlebih dahulu sebelum melenggang ke kamar mandi.
Wanita itu segera mandi untuk menyegarkan badannya dan juga mencuci rambutnya yang hanya sebatas bahu itu.
"Hari ini kan aku mau nganter mama sama papa pulang, aku hampir lupa..." gumam Vira sambil menikmati air yang membasahi kepalanya.
Vira segera mempercepat mandinya, dan segera keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya.
Wanita itu menutup horden di kamarnya sebelum berganti baju.
"Jeans sama baju ini aja kali ya," Vira memilih baju casual yang akan dipakainya.
"Nggak tau kak Firlan kesininya jam berapa, tapi mending aku siap-siap aja, kan dia orangnya nggak suka nunggu lama..." Vira segera memakai baju yang sudah dipilihnya. kemudian dia mulai mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Tok.
Tok.
Tok.
"Viraaa? kamu masih berapa jam lagi di dalam, Sayang?" seru Dewi.
"Ini udah selesai kok, Maaa!" sahut Vira yang langsung membuka pintu kamarnya.
"Mama kira kamu pingsan di dalam, ayo kita makan..." ucap Dewi.
__ADS_1
"Ya bentar lagi tancap lenongan dulu, Maa..." kata Vira menunjukkan lipstik yang ada di tangannya.
"Ya udah, cepat ya. Jangan lama-lama..." kata Dewi.
"Iya, Maaaa ... 5 menit lagi selesai," kata Vira nyengir.
"Ck ck ck anak gadis anak gadis, tadi katanya sudah selesai sekarang katanya 5 menit lagi. Ya sudah, mama ke belakang. inget jangan kelamaan," kata Dewi sebelum pergi meninggalkan kamar Vira.
"Iya, Maaa..."
Vira segera menepuk pipinya dengan cussion bedak dan juga memberikan warna pada alisnya. Sekarang tinggal mewarnai bibirnya dengan lipstik berwarna peach.
Setelah selesai merias dirinya, Vira keluar dari kamar menuju dapur.
"Loh, udah dateng? pagi amat? pasti mau numpang sarapan!" celetuk Vira saat melihat Firlan sudah duduk manis sambil menyeruput kopi susu nya.
"Viraaaa!" Dewi menyenggol lengan anaknya.
"Daripada pagi-pagi udah suudzon, mending duduk dan kita sarapan bareng, daritadi perutku udah kembung nungguin tuan putri keluar dari kandang kelamaan!" ucap Firlan.
"Nah, bener itu yang dikatakan Nak Firlan. Kita semua sudah kelaparan menunggu kamu keluar kamar. Jadi lebih baik kira mulai saja sarapannya," timpal Raharjo.
Dewi hanya menahan tawanya saat melihat calon mertua membela calon menantunya di depan anaknya sendiri.
"Jangan banyak bicara, sekarang nikmati saja sarapanmu..." kata Firlan seraya membuka bungkusan nasi uduk untuk Vira.
.
.
.
Sementara di tempat lain.
"Morning, princess!" ucap Gusti saat Gia sudah rapi dengan baju sekolahnya dan kini duduk di meja makan.
Tapi Gia diam saja. Dia duduk tanpa menjawab sapaan sang papi. Gusti sudah bisa menebak kalau Gia saat ini sedang marah padanya.
"Ehem, Gia mau makan apa? ada ayam goreng mentega kesukaan Gia, oh ya ada tumis daging dengan daging cincang juga loh," kata Gusti, namun Gia tetap bungkam.
"Ngomong-ngomong, papi punya dua tiket pesawat ke singapore, dan ada tiket untuk ke pusat permainan yang sangat terkenal disana," ucap Gusti sembari mengeluarkan tiket dan mendorongnya dekat dengan tangan Gia.
Gadis kecil itu melirik sekilas tiket yang sangat dekat dengan dirinya.
__ADS_1
"Wah, ternyata susah sekali ya membujuk anak papi ini..." kata Gusti yang ternyata tiket liburan tak juga membuat Gia senang apalagi berbinar.
"Penny ambilkan aku roti!" suruh Gia.
"Baik, Non..." kata Penny yang sedari tadi berdiri di samping nona kecil itu.
"Loh kok roti? Gia lagi nggak mau makan nasi? kenapa? hem?" tanya Gusti, tapi Gia masih menunjukkan ekspresi ngambeknya.
"Ini, Nona..." Penny meletakkan satu tangkup roti rasa strawberry diatas piring Gia.
Gusti menggerakkan kepalanya menyuruh pengasuh anaknya agar meninggalkan Gia agar Gusti bisa berbicara dua mata dengan Gia. Penny mengangguk patuh kemudian pergi menuju dapur. Gusti beranjak dari duduknya dan menarik kursi tepat disamping Gia.
"Gia, papi tahu kalau Gia masih marah sama papi, dan papi mau minta maaf. Kemarin papi pulang terlambat," kata Gusti.
"Bukannya setiap hari memang paoi selaku bekerja dan pulang malam," ucap Gia sembari mengunyah makanannya.
Gusti hanya bisa menghela nafasnya, putrinya semakin besar dan semakin bisa membuat jawaban yang menohok, dan bahkan membuatnya tak bisa berkutik.
"Ya, banyak pekerjaan yang harus papi selesaikan jadi semalam papi pulang sangat terlambat dan untuk tante Vira, papi sudah berusaha mengajak tante Vira untuk kesini tapi..."
"Tapi nggak bisa," serobot Gia.
"Iya, tapi tante Vira nya ada keperluan lain, jadi nggak bisa datang kesini. Papi kan sudah berkali-kali mengatakan ini, kalau kita nggak bisa memaksakan kehendak kita pada orang lain, Gia..."
"Ya," sahut Gia singkat.
"Papi minta Gia mau mengerti ketika tante Vira memang sedang ada keperluan yang mungkin sangat penting dan nggak bisa ditinggalin. Kalau tante Vira nggak ada acara, pasti tante Vira mau datang kesini..." ucap Gusti lembut.
"Gia anak yang baik, papi yakin Gia bisa ngerti. Makanya untuk menebus itu semua, hari ini papi sudah mengosongkan jadwal papi dan kita akan tetbang ke singapore untuk bermain disini," ucap Gusti menunjukkan sebuah tiket pusat permainan anak-anak yang sangat terkenal disana.
Gia menoleh dan menatap tiket yang ada di tangan sang papi.
"Lalu sekolahku?" tanya Gia.
"Papi akan telfon buat memberitahu kalau hari ini Gia nggak masuk ke sekolah, bagaimana?" tanya Gusti.
"Baiklah," kata Gia datar.
"Jadi, sekarang Gia udah nggak marah lagi kan sama papi?" tanya Gusti.
"Masih!" sahut Gia yang meminum susunya dengan tenang. Sedangkan Gusti hanya bisa menghela nafasnya, pasrah.
...----------------...
__ADS_1