
Dan akhirnya para pria harus merelakan kalau mereka harus melunak pada wanitanya. Setelah berkeliling mencari kedai yang menjual martabak bangka, ternyata nasi baik masih berpihak pada pria itu. Beruntung kedai itu belum tutup, ia segera memesan martabak rasa keju dan cokelat. Sedangkan Vira ia suruh tetap menunggu di dalam mobil.
Dan Kini Firlan sedang berjalan ke arah mobilnya membawa satu keresek berisi dua kotak martabak bangka.
"Nih," Firlan menyodorkan kotak yang masih terasa panas, ia juga membeli air minum u tuk kekasihnya itu.
"Makasih ya, Ay..."
"Hemmmm..." ucap Firlan yang mulai melajukan mobilnya.
Bau martabak pun segera menyeruak ke seantero ruang setelah Vira membuka satu box.
"Mau Ay?" Vira menyodorkan satu potong martabak rasa cokelat keju pada Firlan yang sesang fokus menyetir.
Firlan hanya membuka mulutnya, kemudian menerima suapan itu.
"Enak?" tanay Vira.
"Enak," ucap Firlan dengan mulut penuh.
Vira pun memakan satu potongan yang sama yang tadi baru saja digigit oleh Firlan.
"Hmmmm, enak banget! rasanya beda, nggak kayak yang biasa aku beli sama Amartha dulu waktu kita masih kuliah..." kata Vira.
"Jauh amat, beli martabak waktu jaman kuliah? emang disini kamu belum pernah beli?" tanya Firlan penasaran.
"Belum, kan disini aku ngekos sendirian. Lagian aku kalau makan kayak gini harus ada temennya baru enak," ucap Vira yang memakan martabaknya dengan lahap.
"Astaga, makan martabak harus ada temennya. Kenapa nggak bilang sama aku? kan aku bisa beliin dan kita makan bareng-bareng?" tanya Firlan.
"Kan kita baru balikan juga baru kemarin-kemarin, banyak yang aku pikirin selain makan martabak bangka..." ucap Vira.
"Mau lagi?" tanya Vira yang mengambil potongan kedua.
"Aaaaa," Firlan membuka mulutnya lagi.
Vira pun memakan lagi disatu potongan yang sama dengan Firlan.
"Astaga, seret!" Vira mengambil air dan langsung meminumnya.
"Gimana nggak seret, kamu masukin potongan segede itu!" ucap Firlan tertawa kecil.
"Uhuk! iya aku pikir nggak akan seseret ini tau, nggak!" Vira meminum air botolan itu lagi.
__ADS_1
"Sini minta!" Firlan mengambil botol yang hampur ditutup Vira. Pria itu meminum air mineral itu membersihkan sisa manis di mulutnya.
"Ay, kok belinya dua box? kebanyakan tau," protes Vira.
"Lah, kalau aku beli satu takut kurang. Jadi aku beli dua box aja sekalian," kata Firlan tak mau disalahkan.
"Kebanyakan kalau aku makan sendirian,"
"Aku temenin makannya," ucap Firlan yang kemudian menepikan mobilnya di depan sebuah taman kota.
Pria itu mengambil satu potong martabak dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Kamu kuat makan juga ya ternyata? aku nggak pernah liat kamu makan sebanyak ini..." ucap Vira.
"Ya banyak mah bisa, cuma habis itu harus olahraga..." kata Firlan yang memang sangat menjaga bentuk tubuhnya.
"Emang harus?"
"Ya harus, kalau nggak apa yang kita makan ini ya tersimpan jadi lemak. Apa yang kita makan itu harus seimbang dengan aktivitas yang kuta lakukan. Makan dikit tapi aktivitas tinggi juga nggak baik, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik. Olahraga berlebihan juga nggak baik..." ucap Firlan sambil mengunyah sedikit demi sedikit makananya.
Vira pun melakukan hal yang sama, ia memakan sedikit demi sedikit makanan yang sangat ia sukai itu. Rasa keju dan cokelat yang melimpah membuat Vira ketagihan memakannya lagi dan lagi.
"Seperti mencintai seseorang juga nggak boleh berlebihan, kan?" celetuk Vira.
"Hey? kamu lagi mikirin apa sih? seribg banget ngelamun?" tanya Firlan.
"Emmmh? gimana?" Vira menengok dan kembali mengunyah makanannya.
"Mikirin apa?" tanya Firlan.
"Nggak, nggak lagi mikirin apa-apa..." kata Vira.
"Jangan bohong," ucap Firlan.
"Nggak bohong, tadi emang nggak sengaja ngelamun..." jawab Vira.
"Jangan suka ngelamun atau pikiran kosong, bahaya. Kalau ada orang yang tiba-tiba berniat jahat gimana? kita harus fokus dimana pun kita berada," Firlan mengingatkan.
"Iya iya mas asisten, hahahahaha..." Vira terkekeh.
"Aku akan perjuangin cinta kita berdua sampai titik akhir, aku nggak akan biarin kamu lepas lagi dari aku. Aku mau kita bersama, dan memang seharusnya seperti itu..." ucap Firlan seakan menjawab lamunan Vira.
"Dih, emang harus banget aku sama kamu ya?" ledek Vira.
__ADS_1
"Ya harus, kita kan memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh!" jawab Firlan dengan pedenya.
"Iya deh iya..." Vira tak mau berdebat.
"Tapi kalau ibu kamu aja nggak ngerestuin gimana kita mau jalan? kalau dipaksakan aku takut nasibku kayak Amartha dulu, yang akhirnya harus berpisah dengan orang yang dicintainya karena nggak ada reatu dari orangtua..." batin Vira.
"Kita menikah dengan restu, tenang aja. Aku nggak akan menikahi kamu secara diam-diam. Aku akan secara gentle memperjuangkan cinta kita..." ujar Firlan seraya mengecup punggung tangan Vira.
"Kamu cenayang ya? bisa banget baca pikiran orang!" seloroh Vira berusaha mencairkan suasana. Biarlah urusan restu urusan nanti, toh Vira tidak ingin terburu-buru menikah dengan Firlan. Dia masih menikmati masa lajangnya, sebelum nantinya akan menjadi seorang istri dan harus patuh terhadap aturan suami.
"Nih makan lagi, karena perjuangin cinta juga butuh tenaga," celetuk Vira sambil memberikan satu potong martabak lagi pada Firlan.
"Bisa aja!" Firlan tersenyum mendengar ucapan Vira.
"Astaga, perutku kenyang banget!" Vira meneguk air mineralnya. Satu box maryabak sudah berhasil ia habiskan bersama Firlan.
"Satu box kamu taruh aja di kukas, kan masih bisa dimakan buat besok. Tinggal angetin di teflon bentar," ucap Firlan yang kini mengambil alih botol dari tangan Vira dan meminumnya.
"Udah malem, kita pulang sekarang ya?" ucap Firlan.
"Iya, aku juga udah ngantuk!" kata Vira yang tak bisa menyembunyikan wajah lelahnya.
Baru juga 10 menit Firlan melajukan mobilnya, Vira sudah tertidur lelap.
"Astaga, dia cepat banget tidurnya. Mana pules banget lagi," ucap Firlan.
Firlan memutuskan untuk berkeliling kota, karena Vira baru saja terlelap. Setidaknya agar wanita itu bisa terlelap agak lama, jadi dia tidak akan merasa pusing kalau dibangunkan nanti.
Setelah 1 jam berlalu, akhirnya Firlan menutuskan untuk mengantar Vira ke kontrakannya.
"Ay ... Ayam, eh Ayang..." Firlan menggoyangkan badan Vira tapi wanita itu tak bergeming.
"Ayamkuu ... kukuruyuuuukkk!" ucap Firlan sambil menirukan suara ayam untuk membangunkan Vira, tapi cara itu juga tidak berhasil.
"Astaga, kebo banget nggak sih?" gumam Firlan.
"Ay, Ayang Viraaaaa!" seru Firlan. Barulah Vira mengerjapkan matanya.
"Emmmh, udah sampe?" tanya Vira dengan mata yang masih menyipit.
"Udah, tuh kontrakan kamu..." Firlan menunjuk ke depan.
"Emh, ya udah aku masuk, ya..." ucap Vira. seraya membawa tas dan box martabak dan keluar dari mobil. Firlan pun nerjalan mengekori wanita itu, ia ingin memastikan Vira masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
...----------------...