Jebakan Cinta Asisten Gesrek

Jebakan Cinta Asisten Gesrek
Perhatian Untuk Si Putri Kecil


__ADS_3

Ketika sampai di depan kamar Gia, perlahan Vira memutar handle pintu. Dan terlihat Gusti yang sedang duduk di ranjang anaknya.


Pria itu lantas menoleh, dan menatap Vira yang masih berdiri di ambang pintu.


"Masuklah..." ucap Gusti.


Vira pun menutup pintu dan berjalan mendekati Gia yang sedang tertidur di atas ranjangnya.


Gusti segera berdiri, "Terima kasih kamu sudah mau datang kemari..."


Vira tersenyum dan duduk di tepian tempat tidur milik Gia.


"Gia sangat berkeringat, bisakah mas ambilkan baju yang tipis atau baju dengan bahan yang lbut dan dingin..." pinta Vira.


"Ada lagi?"


"Tidak ada, kebetulan aku bawa plester gel untuk membantu menurunkan demamnya, ini akan terasa dingin..." ucap Vira sambil mengambil 5 bungkus plester gel khusus untuk anak-anak dan menunjukkannya pada Gusti.


"Oh, ya ... aku akan menggunakannya, jadi lebih baik ini disimpan di dalam lemari pendingin dulu, paling tidak 10 menit. Sambil menunggu aku mengganti baju Gia..." lanjut Vira.


"Aku akan menyimpannya di kamarku, daripada harus turun ke bawah..." ucap Gusti sembari berjalan ke arah lemari Gia dan mengambil satu baju terusan yang berbahan lembut dan dingin dan tidak tebal.


"Ini bajunya..." ucap Gusti sembari menyerahkan baju anaknya.


"Tolong ya, Mas..." Vira menyerahkan 5 bungkus plester gel yang ada di tangannya.


"Baiklah, aku ke kamarku dulu. Aku akan kembali lagi nanti..." ucap Gusti yang berjalan dan hilang dibalik pintu.


Vira dengan perlahan membuka baju yang dipakai Gia.


"Ganti bajunya dulu ya, Sayang..." ucap Vira lembut.


Gia yang merasa tidurnya sedikit terusik pun akhirnya terbangun.


"Tante..." lirih Gia.


"Gia cantik ... maaf ya, ganggu bobonya Gia. Sekarang Gia ganti baju dulu, ya? biar nggak gerah dan lebih nyaman..." kata Gia sembari memakaikan baju pada Gia.


"Gia badannya lagi nggak enak, ya?" tanya Vira.


"Hu'um..." jawab Gia hanya dengan deheman.


Tak lama, Gusti mengetuk pintu kemudian masuk membawa satu bungkus plester gel yang sudah dingin.


"Gia sudah bangun?" tanya Gusti. Gia hanya diam, dia tidak ingin menjawab pertanyaaan papinya. Gusti menyerahkan plester pada Vira.

__ADS_1


"Gia, Sayang. Sekarang Gia di kompres dulu ya?" tanya Vira. Gadis itu mengedipkan matanya, sebagai pertanda kalau ia setuju apa yang akan dilakukan Vira padanya.


"Mungkin bisa bawakan sesuatu untuk bisa Gia makan sebelum Gia minum obat?" tanya Vira pada Gusti.


"Sebentar, saya telfon pelayan..." kata Gusti.


Gusti mengambil gagang telepon dan menelepon pelayan yang ada di dapur.


"Halo, bawakan makanan untuk Gia sekarang..." suruh Gusti. Sementara Vura sedang menempelkan plester gel di kening Gia.


"Baik, Tuan!" sahut seorang pelayan sebelum Gusti menutup teleponnya.


Gusti bergerak menuju ranjang Gia dengan menggeser satu sofa single yang ada di salah satu sudut kamar itu untuk ia duduki.


Gusti melihat dengan telatennya Vira memijat tngan dan kaki anaknya, terutama di bagian telapak kaki.


Tak lama, ada seseorang mengetuk pintu.


"Masuk!" seru Gusti.


Dan ternyata seorang pelayan yang datang dengan membawa beberapa makanan dengan menggunakan nampan. Ada bubur, air putih dan juga puding yaang sangat lembut dengan dilengkapi dengan vla vanila.


"Berikan padaku..." kata Gusti yang meminta nampan yang ada di tangan pelayannya.


"Ini, Tuan..."


"Baik, permisi, Tuan..." kata pelayan tersebut sopan.


Setelah pelayan itu pergi, Guati menaruh makanan tadi di atas nakas.


"Gia ... Sayang ... makan dulu, yuk sama tante..." bujuk Vira, dia mengusap lembut pipi gadis itu.


"Gia ... bangun duku sebentar, Sayang. Habis itu Gia boleh tidur lagi," lanjut Vira.


Dan Gia pun perlahan membuka matanya.


"Kita makan, ya? mau kan?" tanya Vira.


"Sedikit aja..." lirih Gia.


"Iya iya sedikit aja..." ucap Vira, wanita itu segera mengganjal punggung Gia dengan bantal agar anak itu makan dengan posisi setengah duduk.


"Tolong, Mas..." ucap Vira membuyarkan lamunan Gusti yang sedari tadi tak berkedip melihat perhatian Vira untuk Gia.


"Tolong apanya?" tanya Gusti gugup.

__ADS_1


"Buburnya..." Vira menunjuk bubur ayam yang ada di mangkok


"Oh, iya. Ini..." pria itu langsung memberikan apa yang Vira tunjuk.


"Makasih," kata Vira.


"Gia, cantik. Tante suapin, ya?" tanya Vira seraya mendekatkan sendok yang berisi bubur ke mulut Gia, gadis kecil itu mau membuka mulutnya. Gusti sangat lega, akhirnya Gia mau makan.


"Pinter ... kalau kayak gini kan, Gia bisa cepet sembuh, iya kan?" Vira terus saja mengoceh


"Satu suap lagi untuk Gia..." kata Vira saat melihat mulut Gia sudah selesai mengunyah, Gia mau membuka mulutnya untuk menerima suapan kedua.


"Udah..." lirih Gia.


"Satu lagi, ya? baru udahan terus abis itu Gia minum obat deh..." ucap Vira membujuk anak itu.


"Habis itu udah..." Gia berucap dengan lirih.


"Iya Sayang habis satu suap ini terus udah, mulut Gia lagi nggak enak ya?" tanya Vira, gadis itu mengangguk kemudian menerima satu suapan dari Vira.


"Minum air putih dulu sedikit, ya? abis itu, kita minum obat..." kata Vira yang menyerahkan satu mangkok pada Gusti dan meminta segelas air putih. Pria itu seperti asisten Vira, dia mengambilkan apa saja yang Vira tunjuk.


"Pelan-pelan minumnya, Sayang..." ucap Vira ketika Gia sedang minum dari gelas bening.


"Udah?" tanya Vira. Gia menyudahi minumnya.


"Tolong pegang sebentar, aku mau minumin Gia obat..." kata Gia pada Gusti.


Vira mengambil obat dan membukanya, ia menakar sesuai dengan resep dokter.


"Buka mulutnya, Sayang..." ucap Vira pada Gia. Beruntung Gia cepat membuka mulutnya dan menelan obat yang berbentuk cair itu, Vira segera menaruh obat di nakas dan mengambil gelas yang sedang Gusti pegang. Gia meminum air dari gelas yang Vira pegang.


"Mas..." Vira memberikan lagi gelas itu pada Gusti.


"Eh, iya..." kata Gusti yang sedaritadi melihat pemandangan indah di depannya. Gia mendapatkan kasih sayang sebagaimana mestinya.


Meskipun Gusti berusaha menjadi dua sosok untuk Gia, tapi tetap saja dimasa pertumbuhannya Gia membutuhkan sosok lain yang bisa memberikan kelembutan seorang ibu.


"Sekarang Gia boleh tidur, nggak apa-apa. Biar obatnya bekerja buat nangkepin virus-virus yang nakal," ucap Vira.


"Virus itu apa?"


"Virus itu apa ya, seperti makhluk yang sangat kecil, bahkan kita sendiri nggak bisa ngeliatnya. Tapi dia ada dan muncul kalau kondisi tubuh kita sedang melemah. Nah, biar obatnya lebih gampang dan cepat ngusir virus-virus tadi, Gia harus istirahat yang banyak. Dan tante Vira jagain Gia disini, oke?" ucap Vira.


"Aku pengen tante tidur disini..." ucap Gia, ia menginginkan Vira untuk tidur disampingnya. Vira sontak menoleh pada Gusti sekilas lalu menatap Gia lagi.

__ADS_1


"Tante Vira kan dari luar, ini baju tante abis buat ngajar dan habis dari luar juga, tante duduk disini aja, ya?" ucap Vira pada Gia, namun gadis kecil itu sepertinya kecewa dengan jawaban Vira.


...----------------...


__ADS_2